indo-emirates

Indo-Emirates – Ruwais

Indo-Emirates – Ruwais

Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • ijin share pembahasan soal KTKLN … bgmn caranya … trm kasih

    Posted on January 23rd, 2012 Ayu Rusdianto No comments
  • Video Cultural Performance Indonesia di Borouge International Day 2011

    Posted on January 11th, 2012 admin No comments

  • Selamat Kepada Tito Taufik dan Wawan Ruswandi, Pemenang Tiket Garuda Indonesia

    Posted on January 10th, 2012 admin No comments

  • Erythros dan Lelang Amal Buku “Balada si Roy” (terjual seharga 3.6Juta!)

    Posted on December 26th, 2011 admin No comments

    Erythros dan Lelang Amal Buku “Balada si Roy”

    oleh Lawangbagja

     

    Pantai di salah satu ceruk jazirah Arabia di tepian teluk persia pagi ini, Sabtu 24 Desember 2011 tampak tenang dan nyaman. Beberapa kapal tanker sedang membuang jangkarnya. Tempat ini memang tidak pernah sepi dan merupakan wilayah yang sangat penting semenjak ribuan tahun silam. Halford Mackinder-1904, seorang pakar geografi dan teorisian terkenal Inggris di bidang ilmu geo-politik bahkan menyebut Teluk Persia sebagai heartland atau jantung dunia.

     

    Erythros

    Pada masa kekuasaan emperium Median, Teluk Persia dikenal dengan sebutan laut Erithrea atau laut Persia. Nama itu Erithrea diambil dari nama laksamana Iran, Erythros yang berhasil menguasai seluruh kawasan Teluk Persia. Di tempat yang sangat tua ini dan merupakan cikal bakalnya peradaban manusia mengenal perahu dan kami ikut menorehkan catatan sejarah yang tidak kalah penting dan menggelegarnya dari sekedar mitos seorang Erythros.

    Jika dahulu Erythros  menguasai kawasan teluk karena ‘literasi’ yaitu membaca dan memahami betul strategisnya kawasan ini maka apa yang sedang kami lakukan tidak jauh berbeda. “Membaca Indonesia dari Timur tengah”  menjadi tema sentral  yang terus bervibrasi bahwa mengubah wajah Indonesia tidak hanya dengan mengirimkan delegasi pentas tari di setiap event internasional atau mensosialisasikan batik menjadi aset dunia namun ada sesuatu yang jauh lebih penting dari itu semua yaitu menghentikan pengiriman para tenaga kerja nonskilled labour dan menghapus cemoohan ‘housemaid country’ bagi republic Indonesia.

     

    Siapa sangka di kota kecil, di tepian teluk Persia banyak dihuni para pekerja professional yang suka atau tidak memberikan warna sangat positif bagi nama bangsa Indonesia. Kota kecil yang agak sulit ditemukan di peta ini bernama Ruwais. Sebuah kota industri tempat bermukim ratusan pekerja terdidik nan professional. Lambat laun di kota kecil ini nama Indonesia sudah tidak asing lagi. Di kota kecil ini pula rangkaian kegiatan gempa literasi secara resmi ditutup. Ada yang berbeda antara hari ini dengan hari-hari kemarin. Jika sebelumnya hanya sebatas penonton namun hari ini justru sebagai aktor. Gola Gong telah membuka pentingnya literasi bagi setiap anak bangsa. Workshop be A Writer bukan sekedar mengajak para peserta menjadi seorang pengarang tapi membuka hati dan mengisi ceruk-ceruk jiwa dengan  kecintaan pada budaya membaca hadir di setiap keluarga. Bapak Wisnu selaku plt. Dubes Indonesia untuk Abu Dhabi pun berkenan hadir sekaligus menutup rangkaian kegiatan ini. 

     

    Lelang Amal Buku “Balada si Roy”  (sold 3.6juta!!)

     

    Sudah 9 hari Gola Gong berada di Uni Emirat Arab, sejak 16 Desember 2011. Kedatangannya untuk membuka dan berbagi cakrawala khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang kepenulisan serta berbagi informasi seputar kegiatan taman bacaan masyarakat di seluruh Indonesia membuka mata dan hati para peserta. Bukan hanya kepada para pekerja yang bermukim di Abu Dhabi saja akan tetapi juga para para nakerwan yang berada di penampungan.

     

    Workshop kepenulisan memang baru kali pertama di gelar di negeri para syeikh ini. Sebuah kegiatan  yang mengasyikan sebenarnya. Bagaimana merubah gurun pasir, angin, matahari, pohon kurma, unta liar, chay, pharattha, biryani, makboush, burj khalifa, semuanya menjadi samudera ide yang tak pernah habis untuk digali.

     

    Link-kita, sebuah kumpulan para professional yang peduli dengan peningkatan sumber daya manusia mencoba menghadirkan semangat dan jargon bahwa ‘literasi adalah kunci’ untuk kemudian berdiri tegak dan menjadi bermartabat. Dalam sebuah sesi workshop di penampungan diketahui bahwa masih ada  tenaga kerja perempuan Indonesia yang bisa lolos bekerja di luar negeri padahal yang bersangkutan tidak mampu membaca. Bisa kita bayangkan jika sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi kepadanya.

     

    Pada kesempatan ini pula Gong bersosialisasi tentang Taman Bacaan Masyarakat yang dikelolanya, yaitu Rumah Dunia. Di penghujung tahun 2011 Rumah Dunia terpilih menjadi salah satu lembaga yang berhak mendapatkan bantuan pemerintah dalam pembangunan gelanggang dan sarana olah raga. Hanya memang biaya pembebasan tanahnya masih sedikit terkendala, belum lunas. Maka dalam kesempatan rangkaian kegiatan ini pula Indo-Emirates sebagai wadah para pekerja mensosialisasikan pengumpulan donasi pada peserta workshop.

     

    Hal yang mengasyikan adalah saat dilakukan pelelangan amal untuk pembebasan tanah Rumah Dunia lewat buku  “Balada si Roy” edisi bundel. Buku ini milik Lawangbagja kemudian diserahkan untuk dilelang sebagai bentuk solidaritas untuk membebaskan tanah Rumah Dunia. Harga pembukaan ditawarkan senilai100 dirham (225 ribu rupiah)  kemudian naik menjadi 200 dirham oleh penawaran Lukman Setiawan (440 ribu) . Tidak lama Dicky Supiandi menawar seharga 500 dirham (1,2 juta). Perlahan naik ke 520 dirham (Partondo) kemudian  bertengger ke nilai 550 dirham (Rosili Awaludin) tapi kemudian melonjak ke 700 dirham (Dicky Supiandi).

    Proses ini begitu seru dan mengasyikan. Gong sendiri teringat saat ransel ‘Balada si Roy’ yang bersejarah karena pernah menemaninya berkeliling dunia ditawar dengan harga kurang lebih 2 juta untuk lelang amal korban gempa Aceh.

    “Ini Dejavu!”, seru Gong.

    Panitia memberikan keistimewaan bahwa pemenang lelang berhak mendapatkan asistensi kepenulisan secara privat jarak jauh dengan Gola Gong. Akhirnya buku edisi bundel “Balada si Roy”  menjadi milik Irwan Nurcahyadi setelah memberikan penawaran tertinggi sebesar 1500 dirham (4 juta rupiah).  Bukan semata lelangnya tetapi lebih dari itu bahwa semangat literasi dalam bentuk solidaritas pada taman bacaan masyarakat yang menjadi agent of change sudah tumbuh dan bersemi di hati kami. 

  • Kado Teristimewa di Hari Ibu

    Posted on December 22nd, 2011 admin No comments

    Kado Teristimewa di hari Ibu

    ( Rangkaian gempa literasi-mengguncang Timur Tengah)

     

    Ditulis oleh Julaeha, salah satu peserta workshop.

    Editor; lawangbagja

    Foto: peserta workshop

     

    Penulis populer Gol A gong akhirnya mampir ke Ruwais Abudhabi, Jika sebelumnya para ibu hanya bisa menikmati rangkaian serta gelegar gempa literasi lewat berita-berita di Antaranews atau Kompas.com, kini tiba-tiba “Balada si Roy” hadir dalam rangka kegiatan workshop be a writer yang dikelola oleh Linkkita dengan dukungan KBRI Abu Dhabi, Garuda Indonesia dan Bank Mandiri perwakilan timur tengah.

    Sungguh!, sebuah obat mujarab nan ajaib dengan hadirnya “Si Roy” di tengah-tengah kami. Pastinya ia tidak membawakan lagi cerita balada akan tetapi lagu-lagu ceria yang membahagiakan kami semua lewat huruf dan kata.

     

    Kado Teristimewa di hari Ibu

     

    Sudah lama kegiatan seperti ini dinantikan. Jaya Komarudin, penangung jawab kegiatan memaparkan bahwa gempa literasi dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur Tengah” adalah sebuah momentum untuk mengubah wajah Indonesia di timur tengah. Sebuah langkah kecil untuk mengubah dunia. Gempa literasi sudah menjadi bola salju yang bukan sekedar think global, act local akan tetapi think global-act global!.

    Bahwa membaca akan mengakselerasi para manusia Indonesia menjadi manusia-manusia unggulan dari desa hingga ke kota. Jika gempa literasi ini mampu menjungkirbalikan kebodohan maka tidak akan ada lagi manusia Indonesia yang harus menjadi tenaga kerja tidak terdidik di timur tengah dan seluruh dunia. Manusia Indonesia unggulan dan bermartabat akan menyerbu belahan dunia lain lewat literasi..

     

    Kegiatan ini dibagi dua sesi, tanggal 20-21 Desember untuk  para ibu dan remaja putri, Kegiatan yang dilaksanakn menjelang perayaan hari ibu ini membuat hati kami berbunga. Ini sebuah kado teristimewa yang pernah kami terima sebagai ibu dengan menerima sebuah enlighment, yang kemudian akan kami declare kan pada dunia bahwa para ibu mampu bersuara menyampaikan hak dan suara hatinya agar didengar oleh dunia.

     

    Ibu-Ibu menulis?

     

    Kesempatan langka ini di pergunakan dengan baik oleh warga Ruwais, terutama untuk ibu-ibu dan remaja putri, Ruangan selalu penuh sesak dari 2 hari kegiatan. Mereka bersemangat  mengikuti workshop ini walaupun sibuk dengan anak-anaknya yang masih balita. Tentunya di tengah kesibukan rutinitas, antusiasme para peserta ini sungguh di luar dugaan.

    Pertemuan  ke-2 workshop berpindah ke Recreation Centre (RC), sebuah pusat kegiatan bagi para warga di Ruwais. Ibu-ibu dan remaja putri yang hadir di hari ke-2 ini ternyata lebih banyak dari hari pertama. Tampil lebih kritis dan tanpa segan bertanya kepada Gol A gong.

     

    Ruangan memang penuh sesak dan riuh rendah oleh anak-anak yang bermain di dalam  ruangan workshop. Mereka seperti merayakan kegembiraan bahwa kelak ibu-ibu akan membuat anak-anaknya tumbuh dan besar oleh literasi yang dimulai dari setiap keluarga.

     

    Hal yang menarik adalah ketika para ibu ditantang untuk mampu melahirkan sebuah buku. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ditengah belitan  aktifitas keseharian di dapur dan mengasuh anak, SWaktu serta pernikahan sepertinya tidak memberikan harapan karena semuanya habis dilahap dengan urusan keluarga.  

     

     Saat Gol A gong memberikan pemaparan yang mudah di cerna oleh para peserta, ternyata menulis buku begitu mudah!. Kami bersemangat untuk mampu menghadirkan suara hati kami di negeri ini. Bayangkan, dari sebuah tema sederhana tentang curhat para ibu mampu melahirkan warna baru serta letupan semangat yang menghadirkan oase di ceruk-ceruk jiwa para pembaca dari cerita sederhana di meja makan, di ruang tivi, di dapur dan di antara semilir angin yang menelisik jendela-jendela rumah kami.  Maka kelak dunia akan menyadari bahwa para ibu mampu menjadi sebuah direktur, pengusaha, pendidik, penulis dan lain sebagainya. Super talented! Bukankah itu yang dibutuhkan oleh para ibu masa kini?

    Literasi di hari ibu memang benar-benar kado teristimewa untuk kami. Terimakasih untuk semuanya..terimakasih untuk memberikan satu hari kepada kami sekedar mengingat-ingat bahwa tanpa ibu tak ada kata huruf untuk sebuah makna kebahagiaan.