indo-emirates

Menengok Mumi Tua di Pedalaman Wamena @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • Menengok Mumi Tua di Pedalaman Wamena

    Posted on January 7th, 2007 admin No comments

     Karnoto Mohamad - Infobank

    Jakarta, Embun pagi yang menggelayut di dedaunan mulai jatuh ke tanah. Matahari beranjak naik dari balik punggung pegunungan Jaya Wijaya pertanda hari baru mulai membentang. Sebagian cahaya mentari terhalang kabut yang membalut pegunungan itu. Kampung Sumpaima yang begitu asri di Kecamatan Kuruku, Kabupaten Wamena, Papua, yang dikelilingi dataran tinggi, masih tampak membeku bak potret hitam putih yang telah usang. Kicauan burung mulai terdengar seolah membangunkan keluarga suku Mabel yang masih pulas tertidur di honai-honai (rumah tradisional).


    Komunitas asli penghuni kampung itu menampakkan tubuhnya dari honai dan menyambut pagi yang cerah. Para prianya nyaris telanjang bulat, kecuali sebatang koteka yang melindungi kemaluannya. Penutup kemaluan kaum wanita tampak lebih lebar karena terbuat dari anyaman kulit pohon.

    Lapangan seluas dua kali lapangan bola voli di tengah lingkaran honai-honai mulai hidup. Seiring dengan berlalunya kabut yang menutupi sinar mentari, suasana pagi kian semarak oleh teriakan dan celotehan anak-anak kecil bertelanjang bulat yang berlarian di halaman itu.

    Citra primitif begitu melekat di komunitas yang beranggotakan sekitar 100 jiwa ini. Tapi, justru, dengan keaslian budaya mereka, komunitas suku Mabel di kampung Sumpaima menjadi objek yang menarik bagi para pelancong, terutama wisatawan asing. “Justru, dengan keaslian ini, tempat ini menjadi sangat menarik,” ujar seorang wisatawan yang bertemu InfoBank, di Sumpaima, beberapa waktu lalu.

    Kampung Sumpaima bisa ditempuh dengan kendaraan darat sekitar 30 menit dari Bandar Udara (Bandara) Wamena. Kota Wamena sendiri lebih mudah dicapai dengan pesawat jenis Fokker dari Bandara Sentani, Jayapura. Jika harus menempuh jalan darat melalui Trans Wamena-Jayapura, jaraknya mencapai 600 kilometer dan membutuhkan waktu dua hari satu malam. Bahkan, jika jalan utama yang menghubungkan dua kota tersebut longsor dan jembatannya rusak, maka waktu tempuh bisa lebih lama.

    Meski lokasinya cukup terpencil, Sumpaima tersohor sebagai kampung wisata. Bahkan, banyak masyarakat Wamena mengatakan, jika orang dari luar Papua pergi ke Wamena tapi belum mampir ke kampung itu, dia dianggap belum ke Wamena. Yang lebih menarik lagi, kampung ini menyimpan mumi tua dan siap dipertontonkan kepada para wisatawan. Menurut Konono Mabel, kepala suku Mabel saat ini, mumi itu telah berusia sekitar 400 tahun. “Dulu, dia adalah kepala suku. Namanya Mimindo Mabel. Artinya suka berperang,” ujar Konono kepada InfoBank.

    Meski keterbelakangan membalut kehidupan mereka, anggota suku Mabel telah mengenal uang sebagai alat tukar. Tak heran, pengunjung yang ingin berfoto atau mengambil gambar di tempat ini dikenai biaya Rp1.000 hingga Rp3.000 sekali jepret. Bahkan, di pojok halaman, dekat dengan honai yang menjadi tempat mumi bersemayam ada kios kecil yang menjual suvenir.

    Tak jarang, untuk menyambut pengunjung, komunitas suku Mabel terkadang sengaja menggelar pesta bakar batu. Tatkala pesta rakyat ini diadakan, suasana kampung Sumpaima tampak semarak. Asap tebal membubung tinggi yang menandakan batu-batu untuk memasak telah dibakar. Para wanita sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan memasak, sementara kaum pria menggali liang setinggi lutut yang akan digunakan sebagai tempat memasak

    Liang yang telah digali tersebut dialasi rumput-rumputan dan kemudian dilapisi dengan daun pisang berlapis-lapis. Setelah batu-batu cukup panas untuk memasak, para pria bahu-membahu memindahkan batu panas tersebut ke dalam liang menggunakan apando, penjepit yang terbuat dari kayu khusus. Di atasnya, kemudian diletakkan ubi, sayuran, dan daging yang dilapisi dengan daun pisang. Rumput dan daun pisang yang menjadi alas liang kemudian diangkat pada ujung-ujungnya dan ditutupi hingga bentuknya setengah lingkaran di atas permukaan liang. Liang tersebut kemudian ditindik kembali dengan batu panas, sehingga uap panas dari batu dalam liang tetap konstan dan bertahan hingga masakan siap disantap.

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.