indo-emirates

SEJARAH LETUSAN GUNUNG CIREMAY @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • SEJARAH LETUSAN GUNUNG CIREMAY

    Posted on January 16th, 2007 admin No comments

    Letusan G. Ciremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 denganb selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga  letusan  1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Hingga saat ini G.

    Ciremai telah beristirahat selama 61 tahun dan selang waktu tersebut  belum melampaui waktu istirahat terpanjang.  Pada tahun 1947,  1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – baratlaut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ciremai tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga desa Cilimus di timur G. Ciremai.    

    Karakter Letusan

    Karakter letusan G. Ciremai adalah  berupa erupsi ekplosif bersekala menengah (dimanifestasikan    oleh sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik). Secara berangsur kekuatan erupsi melemah dan cenderung menghasilkan erupsi magmatik.  

    Periode Letusan

    Selang waktu istirahat  aktivitas G. Ciremai  terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun   

    GEOLOGI

    Foto Udara Foto udara yang tersedia hitam putih, rekaman th. 1990, skala  ! : 20.000, dan kwalitas cukup baik. Peta Geologi Batuan yang mendasari  komplek G. Ciremai adalah batuan sedimen Tersier, sebagian dapat dijumpai dalam komplek G. Ciremai di bagian kaki baratlaut. Disamping itu juga dijumpai beberapa intrusi berkomposisi andesit seperti di daerah Maja, Kab.Majalengka,serta di utara komplek G. Ciremai, yaitu pada daerah G. Kromong. Pertumbuhan aktivitas vulkanik di sekitar G. Ciremai diawali oleh kegiatan G. Putri dan disusul oleh kegiatan G. Gegerhalang, kemudian kegiatan G. Ciremai hingga saat ini yang diduga masih aktif dan dikatagorikan sebagai gunungapi tipe A.  Pada kegiatan G. Putri menghasilkan aliran lava porfiritik, sedangkan kegiatan vulkanik G. Gegerhalang menghasilkan aliran lava dan awan panas serta jatuhan piroklastik. Setelah kegiatan vulkanik Gegerhalang disusul oleh kegiatan  G. Ciremai yang menghasilkan beberapa aliran lava serta endapan awan panas, dan jatuhan piroklastika. Selain itu juga menghasilkan endapan sekunder berupa endapan lahar yang menyebar di kaki sebelah timur G. Ciremai. Disamping itu dijumpai juga beberapa erupsi samping yang menghasilkan  aliran lava berkomposisi andesit diantaranya erupsi Sukageri, erupsi buntung, erupsi pucuk dan erupsi  Dulang.     



    AcuanPeta Geologi  G.  Ciremai , Situmorang T. dkk., 1995  

    GEOFISIKA



    Gaya Berat   Penyelidikan  gaya berat yang dilakukan di G. Ciremai adalah untuk mengetahui pola penyebaran anomali gaya berat yang ada di daerah tersebut atas dasar kemungkinan memberi petunjuk tentang kondisi struktur geologi  di bawah permukaan atau hal lain yang dapat di kaitkan dengan aktivitas gunung itu. Penyelidikan telah dilakukan Januari 1990 dan menyimpulkan pada daerah penyelidikan cendrung adanya anomali positip di sektor utara dan selatan puncak yaitu di daerah Pasir Dokom, Gunung Argapura, Karang Dinding dan Gunung Sunagar, sedang anomalinegatif terdapat di sektor bagian timurlaut dan tenggara yaitu di daerah  Cibeureum, Pasir Tamiang dan Tegal Bagawat. Untuk mengetahui lebih  jauh tentang penyebab anomali tersebut diperlkan penelitian lanjutan yang lebih detail.  

    Seismik  Sejak tahun 1985 kegiatan kegempaan  G. Ciremai diamati menggunakan seismograf Hosaka, trandusernya terpasang lebih kurang 10 km dari puncak. Tanggal 21 Oktober 1988 dilakukan pemasangan seismometer Kinemetric PS2 sistem telemetri di bukit Masigit berjarak 4 km dari puncak di sebelah timurlaut. Dilihat dari jumlah gempa vulkanik harian, kegiatan seismik G. Ciremai masih dalam batas normal.  

    GeomagnetPenyelidikan geomagnet di G. Ciremai dilakukan untuk memperoleh gambaran  kemagnetan dasar, guna mengetahui penyebaran anomali yang diakibatkan oleh adanya suatu masa magnetis di bawah permukaan. Analisa kemagnetan untuk G. Ciremai masih merupakan analisa kualitatif, untuk analisa kuantitatif masih dalam proses. Dari hasil penyelidikan dapat disimpulkan :

    ·                         Diperoleh anomali-anomali positip di bagian barat, utara dan tenggara  dari G. Ciremai ·                         Diperoleh anomali rendah atau negatif untuk puncak G. Ciremai/kaldera G. Ciremai ·                         Anomali negatif tersebut dikelilingi oleh anomali positif.  Secara keseluruhan, dari bentuk kontur anomali diperoleh gambaran penyebaran anomali terlihat tertutup melingkari G. Ciremai. Anomali ke bagian utara terlihat mangkin melandai, sedangkan di bagian timur dan tenggara bentuk anomali agak rapat. Bentuk pola anomali tersebut memberikan gambaran pola anomali magnet untuk Kaldera, sehingga terlihat jelas adanya depresi dibagian kaldera tersebut.   Deformasi  Terhadap G. Ciremai telah dilakukan  beberapa kali Penyelidikan deformasi, dengan tujuan untuk mengetahui gambaran yang jelas,dengan asumsi bahwa kalau ada suatu aktivitas gunungapi maka aktivitas tersebut akan menimbulkan perubahan pada  bentuk tubuh gunungapi  tersebut dengan ukuran mikron s/d meter. Dari hasil  penyelidikan tersebut tidak menunjukan adanya perubahan  deformasi yang berarti.Pengukuran dilakukan pada periode tenang dan hasilnya ini dapat merupakan nilai dasar aktif normal untuk G. Ciremai.    



    Acuan·                  Laporan Pengamatan visual dan seismik G. Ciremai, Estu Kriswati dkk. 1998.   ·                  Penyelidikan Gaya berat G. Ciremai,  Hassan Husein dkk.,  1990) ·                  Pengukuran  deformasi G. Guntur dan G. Ciremai, M. Hendrasto dkk. 1992.      

    GEOKIMIA

    Jenis Batuan Produk G. Ciremai cenderung dominan bersusun andesit sampai andesitis yang bersifat lebih klasik dari seri alkali  kapur. Batuan dimaksud disebut pula kerabat batuan dari seri magma kaya kandungan alumina.  Berdasarkan pemeriksaan petrografi terhadap beberapa lava G. Ciremai yang di ambil secara selektif dapat di bedakan atas 4 macam lava andesit yaitu; Andesit hipersten aegirin-augit,  andesit hipersten aegirin agit antofilit, andesit antofilit augit dan andesit horblende.Batuan di daerah puncak dan kakinya  terdiri dari  andesit hipersten augit yang mengandung olivin. (Petrokimia Gunungapi G. Ciremai, Rakimin II dkk. 1984). 

    "3"> 

    Analisis Gas  Analisa  gas yang pernah dilakukan di G. Ciremai adalah pengukuran COSPEC Yang dilakukan di Pos Pengamatan G. Ciremai dengan hasil menunjukan  kecepatan emisi gas SO2 di G. Ciremai rata-rata 15 ton/hari, dengan angka emisi minimum 13,55 ton/hari dan maksimum 17,25 ton/hari SO2. Pengukuran dilakukan pada saat gunung dalam keadaan tenang. Angka yang demikian mungkin merupakan batas-batas normalnya bagi G. Ciremai.  

    Analisis Air Ada  dua  lokasi air panas yang terdapat dekat  G. Ciremai yaitu; air panas Ciniru  dan   Air panas Sangkanurip, Kecamatan Cilimus. Air panas Ciniru,  terdapat di Kp. Ciniru, Desa Jalaksana, pada elevasi 510 m dpl.     Suhu udara pada waktu pengukuran  30°C,      Suhu air  43°C,     Ph.   7.33,  dan airnya agak asin.     Hasil analisa : 

    Cl/SO4 : 4.200
    Cl/B : 38,1
    SiO2 : 79,7°C  
    NaK-Ca : 151,3° C  
    Na/K  : 200° C  

      Air panas Sangkanurip, lebih kurang 1 km sebelah utara Ciniru dengan elevasi 470 m dpl.     suhu udara pada waktu itu 29°C,      Suhu air 49°C,     Ph.   7.70, dan   airnya agak asin.     Hasil analisa : 

    Cl/SO4 : 3,880

    >

    Cl/B : 70,5
    SiO2 : 97,7° C  
    NaK-Ca : 168,4° C  
    Na/K  : 180° C  

     Jenis  air panas  ini bikarbonat dan kadar khlorida yang tinggi disebabkan oleh adanya endapan marin. Disimpulkan air panas tersebut tidak ada hubungan dengan  kegiatan G. Ciremai.  



    AcuanLaporan penelitian Kimia Panas bumi sekitar G. Tampomas dan Ciremai, Wisnu dkk., 1983  

    MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI 

    Sistem Pemantauan Kegiatan G. Ciremai dipantau secara sinambung oleh Dit. Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Gunungapi, di Pos Pengamatan G. Ciremai, di Desa Sampora Kec. Cilimus, Kab. Kuningan, dengan metoda: visual dan seismik.   

    Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Daerah Kawasan Rawan Bencana adalah daerah yang letaknya  terdekat dengan sumber bahaya, dalam hal ini titik letusan di daerah puncak atau kawah utama, sehingga kemungkinan untuk dilanda oleh bahaya aliran seperti aliran lava, awan panas dan aliran lahar letusan, sangat besar.  Daerah Kawasan Rawan Bencana ini  pada umumnya di kelompokan ke dalam 3 kawasan yaitu Kawasan Rawan Bencana III, Kawasan Rawan Bencana II, dan Kawasan Rawan Bencana I.  Daerah Kawasan Rawan Bencana II adalah daerah lontaran dan daerah bahaya  terhadap lahar hujan. Dengan perkiraan lontaran kira-kira 5 km dari pusat letusan, kecuali pada aliran yang curam akan lebih 5 km dan topografinya tinggi akan kurang dari 5 km tergantung keadaan lapangan.  Daerah Kawasan Rawan Bencana I adalah daerah yang kemungkinan bakal  terlanda oleh lahar, daerah ini meliputi tempat-tempat sepanjang lembah sungai yang berhulu disekitar puncak kemungkinannya akan lebih besar dilalui lahar.  

    Peta Zona Resiko  Berdasarkan penentuan tingkat nilai risiko objek bencana di kawasan Gunungapi Ciremai dan sekitarnya dapat dikelompokan menjadi 3 zona risiko, yaitu Zona Risiko Tinggi, Zona Risiko Sedang,dan Zona Risiko Rendah.  Zona Risiko Tinggi; Kawasan yang memiliki tingkat risiko tinggi adalah kawasan yang ditempati jenis tutupan lahan pemukiman dengan tingkat kepadatan/jumlah penduduk tinggi hingga sedang. Jenis potensi bahaya yang mengancam kawasan ini adalah aliran piroklastik kuat dan sedang, lava dan jatuhan piroklastik kuat. Di k

    awasan G. Ciremai, zona risiko tinggi memiliki nilai risiko relatif antara 120 –90. Berdasarkan hasil analisis risiko, unit pemukiman yang termasuk ke dalam zona risiko tinggi yaitu Pejambon, Sangkanerang, dan Cibuntu.  Zona Risiko Sedang; kawasan yang berada dalam zona risiko sedang adalah unit-unit pemukiman dengan tingkat kepadatan/jumlah penduduk tinggi, sedang dan rendah. Potensi bahaya yang mengancam kawasan tersebut adalah aliran piroklastik rendah, lahar kuat, dan jatuhan piroklastik sedang. Nilai risiko relatif zona 
    ini berkisar antara  89 hingga 40. Unit pemukiman yang berada dalam zona risiko adalah:  
    ·                         Unit pemukiman di lereng tenggara, yaitu Palutungan, Sawah bera, Cipanas, Lamping, Cibentang, Tegaljugal dan Jalaksana.

    ·                         Unit pemukiman di lereng timur yaitu, Sangkanerang, Sembawa, Sajana, Peusing, Tembangrea, Bandorasa kulon, Linggasana, Linggajati, Gunung Deukeut, Ragasaleh dan Kaliaren.

    ·                         Unit pemukiman di lereng timurlaut yaitu Paniis, Singkup dan Cimara.

    ·                         Unit pemukiman di lereng baratlaut yaitu, Lebak Bitung dan Cikaracak.

    ·                         Unit pemukiman di lereng barat  yaitu, Argalingga, Cipanas, Apuy dan Tegalcawel. ·                         Unit pemukiman di lereng barat yaitu, Legok, Pendetan, Barjaksi dan Citaman. Zona Risiko Rendah; daerah yang berisiko rendah adalah unit-unit pemukiman yang mempunyai tingkat kepadatan/jumlah penduduk sedang hingga rendah. Sedangkan jenis potensi bahaya yang mengancamnya berupa aliran lahar rendah dan jatuhan piroklastik rendah. Relatif nilai risikonya berkisar antara 39 hingga 1. Pemukiman tersebut tersebar diseluruh daerah penelitian di kawasan G. Ciremai dan sekitarnya yang berada di luar zona risiko bahaya tinggi dan sedang.   



    AcuanLaporan Pemetaan Zona Risiko G. Ciremai, Rivai dkk, 1999

    DAFTAR PUSTAKA

    ·                  P.J. Maier, 1861, Pemeriksaan Kimia dua sumber mineral di kaki timur Cereme, Desa Sangkanurip, Cirebon ·                  K. Kusumadinata, 1979, Data Dasar Gunungapi, Direktorat  Vukanologi·                  Wisnu S.K. dan Abdul Somad, 1983, Laporan Penelitian kimia Panasbumi sekitar G. Tampomas dan  G. Cireme, Kab. Sumedang dan Kab. Cirebon, Jawa Barat·                  Harun Said dkk. , 1984, Laporan pendahuluan Penyelidikan kemagnetan G. Ciremai dan sekitarnya ·                  Sumarna Hamidi dkk., 1989 Pemetaan Daerah Bahaya G. Ciremai

    pan style="font-size: 10pt; color: #405090; line-height: 150%; font-family: Symbol">·                  M. Badrudin , 1989,  Penyelidikan Geokimia/Pengukuran COSPEC di G. Galunggung, G. Tangkubanparahu, G. Tampomas Dan G. Ciremai, Jawa Barat, Dit. Vulkanologi ·                  S. Hassan Husen, dkk. 1990, Penyelidikan Gaya Berat G. Ciremai, Dit. Vulkanologi·                  Tumpal Situmorang, 1991, Berita Berkala Vulkanologi, Edisi Khusus ·                M. Hendrasto dkk.  1992, Laporan Perubahan Deformasi G. Guntur dan G. Cereme, Jawa Barat, Pengukuran Deformasi Metode Ungkit Kering Desember 1992 ·                  M. Hendrasto dkk. Laporan Pengukuran Deformasi G. Guntur dan G. Cereme, Jawa Barat dengan metoda ungkit kereing dan EDM Mei 1993 ·                  T. Situmorang dkk.,  1995,  Peta Geologi G. Cereme, Jawa Barat, Dit. Vulkanologi ·                  Mawardi dkk. 1999, Laporan Pengumpulan data bahan Imformasi G. Ciremai, Jawa Barat ·                  Kriswati dkk., 1998 Pengamatan visual dan seismik  G. Ciremai, september 1998 ·                  Ervan R.D. dan D. Mulyadi, 1999, Laporan Potensi Bahan Galian Gunungapi Ciremai, Jawa Barat

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.