indo-emirates

TPI, PANADOL & TKW, HIJRAH @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • TPI, PANADOL & TKW, HIJRAH

    Posted on January 18th, 2007 admin No comments

    Saat dunia semakin menyempit dengan kemajuan teknologi maka apalah artinya jarak ribuan kilometer. Kemarin sebelumnya saya masih menikmati hangatnya chay di Gayathi dengan Boim Baang & mantan presiden dan sekarang malah asik belah duren. Durennya asli! Duren Padarincang. Ada si Kunir, yang dagingnya kuning dan manis, ada si kancil, kecil-kecil isinya wow! mantep. Musim kemarau di Banten membawa berkah pada buah Duren. Begitulah sang Pencipta. Tiada satu pun yang tidak memberi manfaat. Mungkin makan duren kali ini akan lebih mantap kalau nongkrongnya depan TPI. :)


    TPI
    Ada kabar TPI sudah masuk Ruwais. "Saya merasa seperti di Indonesia! Minum kopi sambil lihat TPI!", ujar seorang warga berseloroh. Saya tidak ingin mengajak ke wilayah pro dan kontra mengenai TV. Semua pendapat masing-masing sudah dipertanggungjawabk an. Saya ingin melihat dari kacamata bahwa diakomodirnya TPI oleh Ruwais Housing sebagai bentuk pengakuan adanya komunitas warga indoemirat. TPI sebagai entitas sebuah bangsa terlepas dari isinya yang masih diperdebatkan. Selanjutnya pihak housing pun sebaiknya segera merilis TV Manila, Thailand, dll. Artinya mereka sadar betul bahwa yang berhak hidup dan menikmati hiburan dengan bahasa ibu dari masing-masing negara mesti diakomodir. Mungkin saya terkesan cari identitas, tapi YA! jujur saya katakan bahwa setiap kali saya ke bandara Internasional Abu Dhabi dan melihat TKW yang digiring seperti (maaf) budak, saya merasa perih dan identitas Indonesia saya di mata warga dunia menjadi sebuah tanda tanya besar!.

     PANADOL  & TKW

    Bagi sesama pekerja imigran di kawasan timteng cerita kelam para TKW mungkin sudah tidak menimbulkan empati. Mungkin karena sudah biasa dan basi, sementara lainnya berujar "emang TKW kitanya suka cari masalah", atau alasan lainnya. Sementara warna kulit dan ras seperti sebuah stempel yang tidak bisa dibohongi bahwa kita adalah bagian dari mereka. Tak perlu malu dengan memisahkan barisan saat kita antri di imigrasi kala bertemu rombongan TKW. Bagi saya, mereka pejuang hidup yang rela mencampakkan diri di tengah belantara kehidupan. Keberanian para lelaki Indonesia tak seberapa dibanding nyali mereka. Sayangnya semua tidak didukung secara patut oleh negara. Namun ke depan mestinya digantikan oleh para lelaki yang merantau dan wanita bisa tinggal dirumah. Bukan bermaksud bias gender. Tetapi selama persoalan masih belum bisa teratasi dan rentannya nasib bekerja sebagai pembantu sebaiknya semua dihindari.

    Ada yang menarik ketika saya tanya sana sini mengenai persoalan kesehatan. Umumnya mereka memberikan jawaban yang sama bahwa berobat dimanapun pasti obatnya PANADOL. "Ya mas.., wong namanya pembantu! obatnya cukup Panadol saja", Ujar istiqomah wanita imut mirip cina asli dari Kendal ini menjawab. Ada lagi sebut saja Tuti, yang menurut saya tak pantas jadi pembantu. "Muhun, dicandak ka rumah sakit ge, dipasihanna Panadol wungkul" (Iya, dibawa ke rumah sakit juga obatnya panadol saja). Saya masih berpikir ada apa dengan Panadol? sebegitu dekatnya dengan mereka. Saya tidak mempersoalkan merek hanya saya menduga perlakuan yang diberikan memang seadanya. Hal itu tersirat dari cerita selanjutnya. Kalo para pemimpin Indonesia sedang sibuk dengan politik pencitraan mungkin setelah mereka tahu bahwa Panadol obat yang biasa diberikan untuk para TKW apapun sakitnya, hmm…pasti mereka cari obat merek lain.

     HIJRAH

    Tahun baru masehi lewat. Diskusi soal waktu akan memakan waktu panjang yang sama halnya dengan umur waktu itu sendiri. Tidak ada jeda sepersejuta detik pun ruang kosong untuk waktu karena semua akan mengakibatkan berakhirnya kehidupan. Semua hanya berganti angka. Dalam Islam penandaan waktu tahun dihitung dengan peristiwa Hijrah. Sebuah peristiwa yang mengubah jalan cerita sejarah. Dan Sabtu lusa, kembali angka tahun hijrah kembali berganti.

    Sebenarnya setiap bulan berganti tahun pun tidak masalah! atau bahkan setiap minggu dan lebih ekstrim lagi setiap hari!. Semua hanya penanggalan untuk kebutuhan admistrasi normatif belaka. Eksistensinya justru terletak pada makna sebenarnya dari cara pandang kita terhadap waktu. kemarin, hari ini, dan esok adalah sebuah goresan akan nilai diri kita sebagai manusia. Saya masih mencoba memahami nilai kemanusiaan saya sendiri. Sebuah perbuatan yang memang teramat membosakan. Akan tetapi akan lebih membosankan lagi memahami manusia yang tidak mau mengenal nilai kemanusiaanya sendiri.

    Hijrah sebuah pesan untuk memaknai berbagai peristiwa hari ini dan kemarin. Hijrah saat lorong waktu masih belum terlihat ujung serta pangkalnya.

    so, hijrah yuk..!

    Serang, 18 jan 07

    Wassalam

     Howgh!

    lawang Bagja; Mensos. Indoemirat

     

     

     

     

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.