indo-emirates

Lancar Usaha karena Zakat @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • Lancar Usaha karena Zakat

    Posted on January 28th, 2007 admin No comments

    Tak berlebihan jika Umar Basyarahil, Direktur Utama PT Gema Insani Press mengingatkan kita untuk tidak "bermain-main" dengan zakat. Bagi pria kelahiran Pekalongan 17 Februari 1954 ini, zakat adalah kunci kesuksesan usahanya. "Zakat membuat omzet kita semakin meningkat," ujarnya.

    Ia menceritakan awal usahanya. Tahun 1986, ia meluncurkan satu buku berjudul "Perang Afganistan". Di luar dugaan, buku yang dipasarkan oleh beberapa orang ini laku keras. Menyusul kemudian buku-buku Islam yang lahir berikutnya.

    Setiap keuntungan yang masuk, pengeluaran zakat perusahaannya adalah prioritas pertama. Gaji karyawannya pun, dipotong untuk berzakat. "Tak akan pernah kita merugi hanya karena membayar zakat," ia selalu mengingatkan.

    Kini, dari sekadar penerbit "rumahan", GIP menjadi penerbit buku-buku Islami papan atas. Karyawannya berjumlah 200 orang. Dari tak memiliki peralatan usaha apapun, GIP kini memiliki enam alat cetak sendiri, lengkap dengan peralatan pracetak dan pascacetak.

    Tak percaya? Inilah pengakuan pengusaha yang mengawali usaha bukunya dengan judul 'Perang Afghanistan' tahun 1986 dengan satu karyawan kini lebih dari 200 karyawan bersamanya. Mulai nol, kini ada enam alat percetakan yang harganya lumayan mahal plus peralatan pra cetak dan pasca cetak.

    ''Zakat itu kunci keberhasilan usaha kita. Jangan pernah main-main dengan zakat,'' Umar Basyarahil yang kini menjadi Ketua Majelis Pendidikan dan Pengkaderan Al-Irsyad ini mengingatkan. "Masak kepada Allah 2,5 persen kita berat, tetapi kepada pelanggan kita berani ngasih diskon 40 persen?"

    Menurut dia, manfaat zakat yang tujuannya adalah untuk kemaslahatan para dhuafa dan orang-orang lemah tak hanya bagi penerimanya, tapi juga para muzaki. Berzakat membersihkan harta yang akan dikonsumsi. "Justru, banyak kasus orang yang bermain-main dengan zakat, usahanya malah jadi anjlok.''

    Umar lalu mencontohkan, tanah seluas satu hektar di kawasan Depok Jawa Barat yang kini ditempati sebagai kantor pusat PT GIP dan rumah sejumlah karyawan PT GIP, tahun 1996 ia beli seharga Rp 60 ribu per meter. Tahun 1999, sebanyak 2.500 meter dibebaskan Pemda Depok untuk jalan. Tanah itu dibayar Rp 300 ribu per meter, sehingga totalnya mencapai Rp 750 juta. "Padahal seluruh tanah seluas satu hektar tahun 1996 saya beli seharga Rp 600 juta. Terus terang, saya tidak pernah punya bayangan sebelumnya. Ini barokah dari Allah SWT,'' ujarnya.

    Ia sendiri merasa bersyukur, Gema Insani Press yang dirintisnya 20 tahun lalu, hingga kini masih tetap eksis. Dari segi pemasaran, kata Umar, juga cukup baik.

    Padahal, Umar yang mengaku tak memiliki pengalaman bisnis di bidang buku. Dengan modal keberanian dan kepercayaan dari orang lain, ia menerjuni bisnis itu. Kuncinya, usaha, istikamah, ikhlas, serta mengikuti rambu-rambu Allah. "Dari apa yang kita ikuti itu dan kita usaha, itu selalu dipermudah oleh Allah."

    Islam, misalnya, mengajarkan untuk memuliakan para pekerjanya. Bahkan ada hadis Rasulullah yang mengingatkan para majikan untuk membayar karya buruhnya sebelum keringatnya mengering. Ia mencoba mengaplikasikannya.

    Keuntungan perusahaan dibagikan untuk kesejahteraan karyawan. Misalnya, penyediaan perumahan bagi karyawan yang sudah bekerja lebih dari 15 tahun. Selain itu, pihaknya juga menyediakan sarana transportasi dalam bentuk mobil bagi mereka yang sudah bekerja di atas 5-10 tahun dengan jabatan manajer. ''Sedangkan untuk mereka yang tidak menjadi manajer, mendapatkan fasilitas kendaraan motor dengan cara mencicil tanpa bunga," ujarnya. Tiap tahun, ia "memborong" sepeda motor, kemudian karyawan mencicil tanpa bunga selama empat tahun.

    Filosofi berbagi ini, kata Umar, karena ia sangat menyadari apa yang telah diraihnya bukan atas keberhasilan seseorang, melainkan karena hasil usaha bersama. ''Karena itu, hasilnya pun harus dinikmati bersama seluruh karyawan walaupun mungkin level antara si A dengan si B beda."

    Bagi perusahaan, langkah ini juga membuahkan hasil positif. Karyawan di semua lini menyadari kerja baginya adalah ibadah. Rezeki yang telah dilimpahkan dari Allah melalui lembaga tempatnya bekerja, tak seharusnya disyukuri dengan bermalas-malas kerja. Barangkali teori Umar ini tidak akan dijumpai di buku-buku manajemen modern! dam

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.