-
Para Lelaki Jantan itu …
Posted on February 6th, 2007 No comments{mosimage} Kisah teladan ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khatab ra. Ada seorang pemuda kaya, hendak pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya. Setelah semua dirasanya siap, dia pun memulai perjalanannya.
Ditengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti ditempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk dibawah pohon. Akhirnya, dia terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.
Saat dia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi kesana-kemari. Akhirnya, unta itu masuk kekebun yang ada didekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan didalam kebun. Dia juga merusak segala yang dilewatinya. Penjaga kebun itu adalah seorang kakek yang sudah tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Namun, dia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, lalu sang kakek membunuhnya.
Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya, ternyata, dia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga didalam kebun. Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu lalu bertanya, “ Siapa yang membunuh unta ini ?” Kakek itu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, terpaksa dia membunuhnya.
Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah hingga tak terkendalikan. Serta merta, dia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang diperbuatnya. Dia berniat kabur. Saat itu, datanglah dua anak sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya.
Kemudian, keduanya membawa pemuda itu untuk menghadap Amirul Mukminin. Khalifah Umar bin Khatab ra. Mereka berdua menuntut dilaksanakan Qishash (hukuman bagi orang yang membunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka.
Lalu, Umar bertanya kepada pemuda itu. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya.Umar berkata,”Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah.”
Seketika itu, sang pemuda meminta kepada Umar, agar dia diberi waktu dua hari untuk pergi kekampungnya, sehingga dia bisa membayar hutang-hutangnya. Umar bin Khatab berkata,”Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishas sebagai ganti dirimu.”
Pemuda itu menjawab ,”Aku orang asing dinegeri ini, Amirul Mukminin, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin.”
Sahabat Abu Dzar ra yang saat itu hadir disitu berkata ,” Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari”.
Dengan terkejut, Umar bin Khatab berkata, “ Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar….…wahai sahabat Rasulullah ?”“Benar, Amirul mukminin,” jawab Abu Dzar lantang.
Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishash, orang-orang menantikan datangnya pemuda itu. Sangat mengejutkan!!! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia sampai ditempat pelaksanaan hukuman. Orang-Orang memandangnya dengan takjub.Umar bertanya kepada pemuda itu,”Mengapa kau kembali lagi kesini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan dirimu dari maut ?”
Pemuda itu menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, aku datang kesini agar jangan sampai orang-orang berkata,”Tidak ada lagi orang yang menepati janji dikalangan ummat Islam”, dan agar orang-orang tidak mengatakan “ Tidak ada lagi lelaki sejati, kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya dikalangan ummat Muhammad SAW “
.Lalu, Umar melangkah kearah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata,” Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?”.
Abu Dzar menjawab, ”Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa : Tidak ada lagi lelaki jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat Muhammad SAW.”
Mendengar itu semua, dua orang lelaki anak kakek yang terbunuh itu berkata ,” Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi dihadapanmu bahwa pemuda ini telah kami ma’afkan, dan kami tidak meminta apa-pun darinya. Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf dikala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang berjiwa besar, yang mau mema&
rsquo;afkan saudaranya dikalangan ummat Muhammad SAW.”










Komentar Pengunjung