Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
-
Saat-Saat terakhir bertemu Sang Khalik
Posted on February 6th, 2007 No comments{mosimage} Kamis 18 Agustus 2005Pagi ini Pukul 06.30 Tjitjih berubah pikiran tidak jadi pergi ke Rumah Sakit. Paru sebelah kanan sudah penuh terisi cairan.Sementara Paru sebelah kiri sudah mulai terisi.Pada pagi ini telah dijadwalkan untuk pemasangan drainage di paru.Diharapkan cairan paru akan keluar sendiri tanpa disedot. Sehingga ia mudah bernafas Tjtjih sudah merasakan panggilan Sang Kholik sudah semakin dekat.Ia minta dikumpulkan seluruh sanak famili secepatnya. Ia ingin meminta maaf kepada seluruh famili sebelum menghadap Sang Kholik.Keadaannya tidak setabil, nafasnya sangat berat dan tidak teratur. Kata-kata yang keluar adalah Istifar, salawat dan pujian kepada Allah. Satu satu sanak familinya berdatangan, Tjtih tidak membuang waktu lagi. Tjttjih langsung meminta maaf setutlus-tulusnya, sehingga suasana menjadi sangat mengharukan.Semua yang hadir membantu Tjitjih untuk Istifar, salawat dan memuji Allah, walaupun sambil menitikan air mata Akhirnya pada pukul 14.30, semua saudara yang diharapkan hadir sudah berkumpul. Dan yang terjadi adalah, Tjitjih menjadi segar kembali, bertenaga dan sesak nafasnya berkurang.Malah ia bisa menikmati hidangan makan siangnya, walaupun hanya beberapa suap. Saat ini anak-anaknya memperhatikan tubuh ibunya, diantaranya rambut kepala yang sudah mulai tumbuh. Alis mata yang sudah mulai menghitam ditumbuhi bulu-bulu baru. Amir bilang bahwa ini tanda kesembuhan, Tjitjih menanggapinya dengan senyum hambar.Tjtjih sangat paham akan ilmu anatomi, sehingga ia dapat mengetahui bahwa kondisi kesehatannya makin buruk. Sehingga ketika ia sesak, ia merasa bahwa fungsi parunya sudah burang berfungsi, dan ia merasa ajal sudah mendekat.Itu yang saya perkirakan apa yang sedang terjadi pada Tjtjih, tetapi saya masih melihat adanya tanda kesembuhan. Tetapi penderitaan karena rasa sakit yang sangat hebat karena sel kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat Tjitjih begitu kesakitan dan kelelahan Tjitjih minta dibelikan tempat berbaring yang baru, yaitu sofa untuk berbaring diluar kamar tidur.Langsung permintaannya dipenuhi, dan Tjitjih merasa nyaman berbaring di sofa baru.n>
Jumat 19 Agustus 2005Dari semalam Tjijih lebih memilih tidur di Sofa diluar Kamar tidurnya, bersama saudaranya. Sampai pagi ia tenang, seperti semua keinginannya sudah terpenuhi. Ketika hari sudah siang ia mengingatkan saya untuk sholat Jum’at.Ketika saya tiba di Mesjid saya merasakan firasat bahwa akan terjadi sesuatu dengan Tjitjih. Apalagi setelah selesai shalat Jumat, pengurus mengumumkan akan dilanjutkan dengan sholat ghaib untuk keluarga Jamaah yang meninggal.Sesusai shalat Jumat dan Sholat Ghaib, saya mencoba berzikir dan berdoa.Saya mohon kepada Allah agar istri saya ini diberi keringan dari penderitaannya. Pertama saya masih memohon kesembuhannya, tetapi saya juga memohon jika memang Allah berkehendak lain kami sudah ikhlas.Saya merasa zikir saya di Mesjid Nurul Iman Departemen Pertanian Ragunan begitu khusyu, sangat khusu. Setelah saya selesai berzikir, Mesjid yang begitu besar sudah sepi, hampir semua Jamaah sudah kembali menjalankan aktifitasnya. Saya tidak tahu berapa lama saya berzikir, tetapi saya merasa mendapat ketenangan.Setiba saya dapati istri saya Tjitjih dalam keadaan tenang. Sampai larut malam ia beberapa kali gelisah, tetapi ia dapat tenang setelah diberi minum air zam zam. Tjitjih sudah sangat sulit menerima makanan, tetapi ketika diberi air zam zam ia tidak pernah menolak. Air zam-zam ini ia sendiri yang mengambilnya dari Masjid al Haram ketika kami menuaikan Ibadah Haji 1425 H ini.n class="SpellE">dirumah
Saptu 20 Agustus 2005Kira-kira pukul 02.00 Pagi Tjitjih sudah terbangun rasa sakit kembali menyerang. Obat-obatan sudah tidak mampu mengurangi rasa sakitnya. Ketika diberi Madu dan Air Zam-zam tjitjih agak sedikit tenang. Pukul 03.00 pagi saya minta izin padanya untuk shalat tahajud. Tjitjih tidak keberatan saya tinggal untuk shalat, dan saudara nya yang mendampinginya.Selama shalat tahadjud saya tidak mendengar Tjitjih kesakitan. Shalat sunat 4 kali 2 rakaat setiap rakaat pertama saya baca surat Al Baqarah ayat terakhir. Kemudian saya selesaikan dengan shalat witir 3, rakaat. pertama saya baca surat Al Baqarah ayat 255 (ayat kursi) </span>
Kemudian rakaat kedua saya baca surat Al Kafirun dan saya tutup dirakaat ketiga dengan bacaan Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nass. Kemudian saya berzikir dan berdoa seperti yang saya lakukan di mesjid Nurul Iman siang tadi.Pukul 04.00 saya mendekati Istri saya, dan ia minta supaya saya mendekat dan ia minta didampingi. Kemudian ia memanggil anak perempuan saya, minta pakaiannya diganti dan minta dibersihkan untuk shalat subuh. Tetapi Tjitjih sudah sangat lemah, kemudian bacaan istifar, salawat dan Pujian kepada Allah ia terus ucapkan. Ketika waktu Subuh saya permisi lagi untuk shalat, ia pun tidak keberatan. Setelah shalat subuh ia sudah lemah. Nafasnya tidak stabil, diberikan oksigen ia tidak mau. Kemudian ia minta posisi berbaringnya dirubah supaya lebih enak. Berkali kali kami posisikan tetapi ia tidak merasa enak, rupanya ada alas handuk dibawah punggungnya sejak semalam.Setelah handuk diganti bersih ia merasa lebih enak dan ia mendapat posisi yang nyaman. Kemudian ia kembali mengucapkan bacaan istifar, salawat dan Pujian kepada Allah. Nafasnya kembali sangat tidak stabil
, ketika kami pasang oksigen ia tidak menolak. Semakin lama frekwensi nafasnya menurun, tetapi masih bisa menyebut nama Allah. Saya membisikan Allah ditelinga kanannya, sementara Amir Anak laki kami membisikan di telinga kirinya.Saya basuh mukanya dengan air zam-zam ia kelihatan pasrah walaupun masih terdengar nafasnya yang sudah sangat jarang. Kakak laki-lakinya menyarankan saya untuk membisikan bahwa saya sudah ikhlas saya redha, Tjitjih memenuhi panggilannya. Begitu juga denga Amir dan Nadya anak perempuan kami. dan juga dengan Ayah kandung nya.Tepat Jam 08.10 sudah tidak ada nafas nya lagi, untuk memastikan dipasang cermin dibawah lubang hidungnya. Tidak ada kabut akibat nafasnya, tubuhnya lemas, tetapi dingin, kelihatanya Tjitjih sudah menghadap Sang Khaliq.Dokter datang pukul 8.30, ia masih merasakan adanya denyut nadi melalui stateskopnya, tetapi sangat lemah. Tetapi ia memutuskan bahwa sudah tidak ada harapan, dan memang benar jasadnya mulai kakuSelama 25 Tahun lebih ia mengabdi pada dunia medis.Saudara, teman dan handaitolan berdatangan kerumah duka.Semua merasa kehilangan, karena Tjijtih merupakan
sosok yang amat sangat suka menolong orang.Sekarang Jasad Tjitjih sudah beristirahat dengan tenang di pemakaman Jeruk Purut.Tulisan ini saya maksudkan untuk mengingatkan kepada kita semua yang masih hidup.Pada saatnya nanti kita akan mengalami hal yang sama, tidak ada yang tahu kapan akan terjadi pada kita.Hanya Allah yang tahu, seperti dalam firmannya di Surat al Baqarah ayat 255 :Tiada tuhan melainkan Allah, Dia Hidup kekal, berdiri sendiri mengurus (alam semesta). Tidak mengantuk tidak pula tidur, kepunyaanyalah seluruh isi ruang angkasa dan bumi. Tidak ada yang memberikan pertolongan melainkan seizinnya. Dia mengetahui (apa yang akan terjadi) dan apa yang sudah terjadi. Mereka tidak mengetahui (ilmu Allah) kecuali dengan kehendaknya. Kursi (ilmu/kekuasaan) Allah meliputi ruang angkasa dan bumi.Dan tidaklah susah bagi-Nya memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi dan Maha Besar










Komentar Pengunjung