indo-emirates

Sisi Lain dari Perjalanan Haji (1) @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • Sisi Lain dari Perjalanan Haji (1)

    Posted on February 6th, 2007 admin No comments

    Orang Indonesia Dikenal Senang Belanja

    Hampir 40 hari Wartawan Suara Merdeka Hermanto, Trias Purwadi, dan Fauzan Jayadi berada di Tanah Suci. Di sela-sela menjalankan ibadah, mereka juga melihat Iingkungan Masjidil Haram, yang sebagian besar untuk tempat berjualan. Berikut laporannya.

    BEGITU mendengar akan menjalankan ibadah haji, yang ada di benak tentunya hanya ibadah. Namun demikian ada sela-sela waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan lain.

    Misalnya berbelanja. Jamaah Indonesia memang terkenal senang belanja. Buktinya, mereka gampang ditemui di tempat-tempat berjualan.

    Tengok saja Pasar Seng. Begitu berada di tengah-tengah pasar itu, bisa lupa kalau sedang berada di negara lain. Soalnya, sebagian yang ada di sana orang Indonesia.

    Bahkan dari logat bahasanya, kalau benar-benar memperhatikan, bicara orang Makkah berkesan seperti orang Indonesia. "Hayo Pak, di sini harga murah dan baik,'' kata Husein, pedagang karpet asal Makkah. Hanya yang mengingatkan berada di negara orang, hampir semua penjualnya berjenggot lebat.

    Mendengar nama Pasar Seng, rasanya tak asing lagi dengan telinga orang Indonesia. Seng adalah Iogam yang biasanya untuk atap rumah dan pagar pada zaman dulu. Juga banyak digunakan untuk atap kandang ayam atau menutup lokasi yang sedang dibangun.

    Mengapa diberi nama Pasar Seng yang begitu akrab dengan telinga orang Indonesia? Menurut Suratman, pemandu haji dari Muhammadiyah, nama itu yang memberikan orang Indonesia. Saat itu, katanya, semua kios pasar dibuat dari seng. Untuk memudahkan orang Indonesia mengingat lalu dinamakan Pasar Seng. Nama itu tersiar dari mulut ke mulut. Kendati sekarang sudah tak ada kios yang dibuat dari seng, sebutan itu tetap melekat.

    Ada pula yang menyebutkan pasar itu selalu dipadati pengunjung dan bersenggol-senggolan. Dari kata senggol-senggolan itu, kemudian disingkat menjadi seng.

    Di tempat itu juga terdapat rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tempat itu masih terlihat terawat, meski usianya mencapai ratusan tahun. Biasanya, pemandu haji akan menunjukkan tempat kelahiran Rasul itu.

    Ingat Rumah

    Mengenai banyaknya orang Indonesia yang berada di pasar, muncul sejumlah anggapan. Orang luar menganggap, bangsa Indonesia termasuk kaya, karena selalu banyak belanja dibandingkan dengan warga bangsa lain.

    Ada pula yang memandang, hal ini berkaitan dengan budaya ''ingat rumah''. Orang Indonesia jika pergi jauh, selalu ingat rumah. Tidak hanya anak, tetapi juga tetangga, saudara juga teman kantor.

    Hal inilah yang menjadikan Pasar Seng dipadati orang Indonesia untuk membeli oleh-oleh. Saking asyiknya membeli barang, terkadang lupa bahwa berat barang bawaan dibatasi oleh maskapai penerbangan.

    Akibatnya, ketika berada di bandara, setelah ditimbang petugas, ada sebagian yang terpaksa ditinggal.

    Namun demikian, ada sedikit kebaikan dari petugas, yaitu barang tetap sampai di Tanah Air meski harus dikirim lewat kargo. Ini berarti sampai di Indonesia tidak berbarengan dengan pemiliknya. Biasanya, yang dilarang dibawa adalah tas selain yang sudah ditentukan.

    Soal harga, hampir sama dengan Indonesia. Penjual biasanya menawarkan h

    arga cukup tinggi. Karena itu kita harus pandai menawar.

    Informasi harus menawar ini jauh-jauh hari sudah diberitahukan kepada para jamaah saat di Tanah Air. Sehingga ketika belanja di Makkah, orang Indonesia langsung menawar harga.

    Karena khawatir keblondrok, biasanya tawaran terlalu rendah. Misalnya harga sajadah 20 Real ditawar 10 real, tasbih 10 Real dapat tiga ditawar 10 Real dapat enam buah. Meski tawaran rendah, pedagang tidak marah, bahkan sebaliknya tersenyum sambil mengatakan haram. Itu artinya harga belum disepakati.

    Setelah ditinggal pergi, tak berapa lama penjual akan memanggil lagi dan meminta agar tawaran dinaikkan. Kalau kita tak mau menaikkan tawaran, maka cepat-cepat pedagang itu mengatakan Indonesia pelet.

    Awalnya kami tak tahu apa yang dimaksud. Setelah dijelaskan pelet sama dengan kikir, baru mengetahui kalau yang dimaksud adalah pelit.

    Biasanya, setelah itu terjadi tawar menawar yang akhirnya terjadi kesepakatan harga.

    Setelah pedagang itu mengatakan halal, yang pertanda barang diberikan, terjadilah transaksi.

    Menurut Munadji, seorang jamaah, transaksi di Makkah hampir sama dengan di Indonesia. Bedanya, di Makkah tak ada orang marah, meski tawaran terlalu rendah. Selama menunaikan ibadah, tak melihat ada orang bertengkar adu jotos.

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.