-
Warga Desa Kendal Makan Nasi Aking
Posted on February 22nd, 2007 No commentsCIREBON, (PR).-
Melambungnya harga beras belakangan ini menyebabkan jumlah warga Kab. Cirebon yang makan nasi aking semakin bertambah. Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan kepala keluarga di Desa Kendal Kec. Astanajapura Kab. Cirebon terpaksa mengonsumsi nasi aking (nasi basi yang dikeringkan.-red).

Ny. Kasni (55) warga Blok Pon, Desa Kendal, Kec. Astanajapura, Kab. Cirebon tengah menyiapkan nasi aking untuk ditanak, Rabu (21/2). Sudah tiga tahun janda tiga anak itu hanya sanggup memberi makan tiga anaknya dengan nasi aking yang dibelinya seharga Rp 1.500,00 per kg ditambah lauk garam.*ANI NUNUNG/"PR" Menurut Ny. Ganggeng (65), sejak harga beras melonjak lebih dari Rp 3.500,00/kg, dirinya tidak sanggup lagi membeli beras. Suaminya, Misna (70) yang sudah tua tidak mungkin lagi mencari nafkah.
Meski belakangan ini harga beras sudah mulai turun, warga Desa Kendal masih harus membeli beras seharga Rp 6.500,00/kg di warung-warung desa setempat. "Satu-satunya gantungan hidup saya adalah anak saya yang bekerja
sebagai buruh nyuci. Namanya numpang hidup, kami tentu harus menerima apa adanya, yang penting tidak kelaparan," katanya, Rabu (21/2).
Kondisi serupa juga dialami keluarga Ny. Aliyah (68) serta tetangganya, seperti Wartini (75), Wartem (65), dan lainnya, yang terpaksa mengonsumsi nasi aking. Nasi aking dibelinya dari pedagang keliling seharga Rp 2.500,00/kg yang kualitasnya agak lumayan.
"Kami menganggap ini sebagai cobaan, makanya kami berusaha tetap sabar. Kalau saja tenaga saya laku untuk dipake nyangkul sawah atau ngebecak, mau rasanya menggantikan posisi suami dalam mencari nafkah," katanya.
Kondisi lebih parah dialami Ny. Kasni (55) warga Blok Pon yang sudah makan nasi aking selama tiga tahun ini sejak ditinggal mati suaminya. Kalau Ny. Ganggeng masih sanggup membeli nasi aking yang kualitasnya lebih bagus seharga Rp 2.500,00, Kasni hanya sanggup membeli nasi aking yang harganya Rp 1.500,00/kg.
Belum terima laporan
Bau nasi basi yang menyengat langsung tercium ketika Ny. Kasni menuangkan nasi aking tersebut ke atas tampi untuk dibersihkan. Menurut Kasni, dalam sehari ia hanya sanggup membeli nasi aking 1 kg untuk dimakan berempat. "Kalau ada rezeki, bisa membeli sampai 2 kg untuk sehari," kata Kasni saat ditemui di rumahnya yang berdinding bilik dan berlantai tanah.
Tidak jarang, Kasni puasa tanpa buka dan sahur karena tidak punya uang sama sekali untuk membeli nasi aking. Kasni mengaku, setiap bulan memang menerima jatah beras untuk rakyat miskin (raskin). Namun, raskin itu hanya diperolehnya 2 kg/bulan. "Beras dua kilogram itu paling hanya cukup untuk makan dua hari. Tapi kalau diirit-irit bisa juga untuk empat hari," tutur Kasni.
Kuwu Kendal H. Abdul Rouf, saat dikonfirmasi, tidak berada di kantor maupun rumahnya. Namun Camat Astanajapura, Doddy Mulyono yang dikonfirmasi mengaku belum mendapat laporan ada warga di wilayahnya yang makan nasi aking.
"Kemarin kami rapat dengan para kuwu se-Astanajapura dan sempat menanyakan kalau-kalau ada warga yang makan nasi aking. Namun menurut para kuwu sejauh ini tidak ada," ujar Doddy, saat dihubungi melalui telefon selulernya.
Namun Doddy berjanji akan langsung meninjau ke lokasi untuk melihat kondisi warganya. "Besok (hari ini-red.) saya akan langsung ke lokasi untuk mengecek sendiri," katanya seraya menyatakan akan segera mengajukan surat permintaan operasi pasar khusus (OPK). (A-92)***










Komentar Pengunjung