Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
-
SEBULAN MENJADI KELUARGA IMIGRAN
Posted on March 3rd, 2007 No comments{mosimage}Bulan seperti potongan semangka. Menggantung di atas kota kecil yang terendam dalam butiran pasir yang berubah seperti koloid. Cahayanya redup seperti lampu badai. Warna cahayanya agak kemerahan. Mungkin badai pasir yang menjadikan cahaya bulan terserap dalam setiap butir pasir yang menggantung di langit kota Ruwais. Angin begitu kencang bertiup. Dari balkon kulihat udara semakin pekat oleh Bulir-bulir pasir. Sambil menggendong si kecil yang demam aku kembali memeriksa barangkali ada jendela yang kurang rapat. Debu pasir biasanya mudah menyelusup ke sela-sela
Genap Satu Bulan.Tanpa terasa satu bulan sudah saya boyong keluarga ke Ruwais. Tapi waktu terasa amat lambat bagi kami. Proses adaptasi sosial, lingkungan, serta cuaca adalah tantangan psikologis yang mesti kami hadapi. Belum lagi demam yang tak bosan menghampiri putra kami.Sesekali pikiran kami menerawang pada rumah kecil di antara padatnya gang. Dengan warna cat orange, biru, dan hijau. Warna yang sengaja dipilih agar memberikan kesan keceriaan bagi kami sekeluarga. Biar tinggal di dalam gang tapi keceriaan milik siapa saja. Dan sekarang kami pun sedang berusaha membangun keceriaan itu tetap hadir di tengah-tengah kami. Flat ini kami jadikan dunia kecil walaupun dalam warna-warna yang berbeda..Para Tetangga Building 27.Beruntung gedung tempat flat kami tinggal dihuni oleh beberapa orang Indonesia. Mereka tetangga yang sangat baik. Di lantai 2 ada keluarga Pak Syaiful, wapres Indoemirat. Reuni sahabat lama kalau boleh saya bilang. Kebetulan dulu beliau satu pekerjaan sebelumnya di Indonesia. kemudian ada keluarga pak Aji. sayang keluarga beliau masih di Indonesia. Tepat di bawah flat saya tinggal ada keluarga Pak Rudi. Mungkin beliau yang paling terganggu jika saat pulang shift malam tidak bisa tidur karena anak-anak saya loncat-loncat di dalam flat. Saking baiknya beliau tidak pernah komplain sampai saya coba tanya-tanya apa pernah terganggu kalau anak-anak berisik di atas. tetap saja jawabnya tidak. Nah, satu lantai dengan pak Rudi ada keluarga Pak De Agus pramono. Mantan presiden Indo Emirat yang pertama. Hadirnya mereka di tengah-tengah kami membantu kami untuk merasa kerasan tinggal di tempat baru. Ya, mereka tetangga kami yang baik hati..Si Kecil Demam.Kehidupan seperti deja vu tiada henti. Sebelum berangkat ke Ruwais si Kecil demam tinggi. Sampai harus nginap di 'hotel bu Dokter' segala. Saya sendiri merasa demam ini sebagai proses lepasnya energi. Jika atom dalam sebuah molekul ingin dipisahkan tentu harus ada energi yang dilepaskan..Memang tidak mudah bagi sang kakek dan nenek melepas cucu yang sudah menjadi 'biji mata'. Ungkapan biji mata diutarakan mertua lelaki saat hendak melepas keberangkatan kami. Sampai-sampai Mbak yu penjual jamu yang menjadi langganan ibu mertua saya bertutur, " Mas, Ibu (mertua perempuan) setiap beli jamu selalu nangis di depan saya. Cerita kalau sebentar lagi 'biji mata'nya mau pergi jauh ke Abu Dhabi". Dalam benak saya memang tidak bisa dipungkiri. Bahwa kedekatan sang cucu dengan kakek dan neneknya memang sengaja saya bangun. Saya lakukan agar di usia senja mereka tetap bisa merasakan kehangatan. Konon, dari sebuah artikel yang saya baca menginformasikan bahwa setelah anak-anak besar dan menikah biasanya orang tua akan mengalami 'kevakuman' kebahagiaan. Dulu, anak-anak masih kecil dan orang tua kita masih 'merasa memiliki' tapi setelah besar dan menikah mereka biasanya merasa kehilangan. Nah, kehadiran cucu lah yang akan menyegarkan lagi udara mereka..Kondisinya memang dari awal tidak begitu fit ketika menginjak negeri angin, pasir, dan matahari ini. Orang tua kami terus mewanti-wanti agar si kecil close monitoring. Sekalipun aktivitasnya hanya sekitar gedung namun tak urung kondisinya memang jatuh bangun. Demam sebentar terus normal lagi. Saya sendiri berharap-harap cemas akan kondisinya. Semoga tak sampai mampir ke klinik. Obat yang dibawa dari Indonesia masih cukup banyak. Mudah-mudahan tetep ces pleng. Namun genap sebulan di Ruwais demamnya makin lengket. Saya coba tanya Pak sugi, kawan yang bekerja di klinik. Tanya-tanya soal dokter anak. Paling tidak, tips dari pak Sugi semoga bisa menahan laju demam si kecil..to be continue…tetangga kami yang baik, teman baru, dll










Komentar Pengunjung