-
Banjir
Posted on March 11th, 2007 No commentsRARA terbangun ketika air mulai menggenangi kasur. Mulanya ia mengira, tanpa disengaja karena terlalu jauh berjalan kaki siang tadi, kencing di celana. Apalagi ia bermimpi buang air kecil di sungai. Ah, ternyata air terus masuk dan meninggi. Barulah ia sadar. Ini banjir?
Di luar rumah, terdengar gaduh. Orang-orang mulai berteriak-teriak seperti mengingatkan yang lain yang masih terlelap. "Banjir! Banjir!" berulang-ulang suara itu. Amatlah gaduh. Rara bangkit dari tempat tidurnya. Mengintip dari jendela. Ia ternganga: seratusan, barangkali seribuan warga berlarian menyelamatkan diri sambil membawa beberapa barang yang dapat diangkut. Mencari tempat tinggi, tempat pengungsian.
Rara segera keluar. Tanpa sempat membawa apa pun, kecuali pakaian yang menutupi badannya. Juga tak bisa menyelamatkan dompet berisi uang, kartu ATM, KTP, dan surat-surat berharga lain. Karena ia hidup sendiri?setelah bercerai dua tahun lalu dan anaknya yang kini berusia 10 tahun dibawa ayahnya. Maka tak perlu ia menarik-narik lengan seorang bocah. Tetapi, tetaplah ia waswas. Air terus meninggi. Kini air sudah menutupi perutnya. Sebentar lagi dada, sekejap lagi leher, dagu, mulut, hidung, mata, dan kepala.
Ah, ia tak pernah membayangkan jika air dapat menenggelamkan seluruh dirinya. Ia juga tak mau membayangkan jika air sudah menutup rumahnya. Di dalam rumah kos itu, ada teve, magic jar, dan telepon seluler yang sempat dikantongi. Ia segera berlari, sekencangnya, menaiki tembok pagar. Berkelimun bersama warga lain di tikungan jalan. Tak tahu harus ke mana dituju. Air seakan tak surut.
Seorang ibu memanggil-manggilnya dengan suara parau dan ketakutan. Rara menengok dari mana suara itu. Ya! Ibu Pranita. Istri Gondokusumo, pengusaha kaya, berumah mewah, dan mempunyai tiga anak. Ibu Pranita menggamit dua anaknya, sedang yang seorang – baru berusia 9 tahun- berlari di belakangnya. Ia paham alasan apa Ibu Pranita memanggilnya. Segera ia mendekati, menarik lengan Kurnia, anak Ibu Pranita. Lalu membawanya lari mencari perlindungan.
Kota ini memang jadi langganan banjir setiap tahun. Namun, kali ini tidak seperti biasanya. Layaknya air tumpah dari laut, dari sungai, dari pegunungan. Meski tak sama dengan tsunami, tetaplah mengkhawatirkan. Tetap menelan korban. Banjir juga menenggelamkan ribuan rumah, sawah, jalan, dan mobil-mobil mewah. Sungguhlah, ini sebuah bencana besar.
Petaka? Rara tak mampu mengartikan seperti itu. Apakah ada petaka di dunia ini? Mungkinkah Tuhan menurunkan petaka sebagai azab? Bagaimana pula zab itu, mengapa harus ada azab? Ia tak berani gegabah menjawab. Sungkan.
Ia hanya menyelamatkan diri. Menyelamatkan Kurnia, bocah yang nyaris terlepas dari ibunya kalau tidak ia segera mencekal kuat-kuat. Cuma ia belum menemukan dataran tinggi. Belum pula mendapati tempat persinggahan. Rara benar-benar lelah. Hanya kekuatan hati, tekad untuk tak mau mati ditelan air, membuatnya masih tetap berlari sambil memanggul Kurnia di pundaknya. Entah kenapa dan dari mana kekuatan ia datang, tubuhnya begitu kuat walaupun sudah dua ribu meter ia berlari.
"Kamu harus tahan, kamu mesti kuat. Sebentar lagi kita sampai?" katanya memberi semangat Kurnia yang mulai merengek kesakitan karena tak sedap duduk di pundak Rara.
"Ya, tante? ya?"
"Kamu harus selamat. Kamu harus bisa sekolah, kalau banjir sudah surut nanti! Harus jadi orang?"
"Ya, tante. Ya?"
"Jangan pikirkan ibumu. Mereka semoga selamat."
"Ya, ya tante?"
Tak urung Kurnia juga menangis. Minta tolong. Tetapi, siapa yang bisa menolongnya? Semua orang juga sedang menolong dirinya sendiri dan keluarganya. Pada saat kacau seperti ini, sulit sekali meminta pertolongan orang lain. Bukan karena individualistis, bukan pula telah lenyapnya rasa sekawan-senasib. Semata-mata lantaran sama-sama disergap ketakutan. Mau hidup. Tak mau mati ditelah banjir.
"Usah hiraukan orang lain. Kita harus bisa sampai di tempat yang aman. Kurnia harus selamat. Kita harus pergi secepatnya dari jebakan banjir ini!" Rara terus menyemangati bocah yang ada di pundaknya.
Kurnia mengangguk. Terus mengangguk. Kini ia merasakan betapa tulus Rara untuk menolongnya dari ancaman air yang terus meninggi itu. Ia tak lagi berpikir – sepertinya sudah melupakan – di mana ibu dan kedua adiknya. Kelimunan orang yang sama-sama cemas, membuat suasana jadi kacau dan semrawut. Saling lepas. Berlari tak teratur. Gaduh.
Suasana seperti itu, bisa saja ibu lepas dari anak. Suami kehilangan istri. Abak mencari-cari ibu dan ayahnya. Pendek kata, ricuh dan rikuh.
* * *
RARA sudah tak tahan. Kurnia tak berani turun dari pundak perempuan itu. Untunglah pada saat tak lagi sanggup berjalan, ia melihat rumah mewah di seberang jalan yang agak tinggi tak tersentuh air. Ia segera menyeberang. Memasuki gerbang rumah yang sengaja di buka. Seorang lelaki bule dan tampan melambaikan tangan 1), menyilakan keduanya masuk ke rumah mewah itu.
Segera lelaki itu menurun Kurnia. Membawanya ke sofa yang amat empuk. Memberi segelas air. Kemudian menyilakan Rara duduk di kursi itu juga, dan seorang pembantu memberinya air kemasan.
"Ini anak ibu?"
Rara menggelang pelan. Ia benar-benar letih. Kalau saja dipersilakan istirahat, ia ingin segera merebahkan tubuhnya. Tentu dengan Kurnia.
"Ibu mau istirahat?"
Rara mengangguk cepat. Segera ia bawa Kurnia, ingin menuju kamar yang ditunjuk pemilik rumah.
"Silakan ibu ganti pakaian dulu di kamar, baju sudah disiapkan di sana," ujar lelaki itu sambil membelai rambut Kurnia. "Maaf saya tak punya baju ukuran anak-anak, tapi bisa pakai kaus dan celana pendek saya. Juga sudah disediakan di kamar?"
Rara kembali mengangguk. Ia sudah tak mampu mengeluarkan kata, bahkan hanya untuk "ya" dan "terima kasih". Sebab, yang ada di benaknya kini, hanyalah istirahat dan lelap.
Lelaki itu masih penasaran, ia belum mendapat jawaban tentang bocah bersama perempuan muda itu.
Jelang fajar Kurnia terjaga. Ia tersedu. Ingat pada ibu dan kedua adiknya, juga ayahnya yang masih bertugas di luar kota. Rara membawa Kurnia ke luar kamar. Keduanya terkejut karena di ruang tamu tak kurang 50 orang sebagai pengungsi banjir berada di situ. Tetapi, tak ada Ibu Pranita dan kedua anaknya. Rara bertanya, semua menggeleng.
"Mudah-mudahan ibu dan adikmu selamat?"
"Ya tante, ya?"
"Jadi, ini anak tetangga?" Lelaki bule tampan itu kini baru tahu. Ia lalu berdecak. "Ibu amat mulia. Mulia sekali?"
"Tuan juga. Mau menampung kami, sebanyak ini. Bahkan memberi kami makan. Sudah tiga hari ini?" sambut Rara.
"Sudah kewajiban. Sesama manusia, saling?"
"Padahal, Tuan bukan bangsa kami. Tuan?"
"Apakah karena bangsa dan warna kulit berbeda, tak boleh saling menolong?" ucap lelaki itu tenang. "Saling membantu tak harus sama warna kulit dan keyakinan," lanjutnya.
Lelaki itu fasih sekali berbahasa Indonesia. Sehingga arus percakapan tidak terhambat. Entah sudah berapa juta rupiah ia keluarkan untuk pengungsi di rumahnya selama 3 hari ini. Setiap makan, 80 kotak nasi ia sodorkan. Belum lagi kopi, gula, dan seterusnya. Kecuali Rara, Kurnia, dan beberapa keluarga yang memiliki anak kecil, disilahkan tidur di kamar: lantai 1 2, dan
3. Sedangkan pengungsi lain, cukuplah di ruang tamu.
* * *
BANJIR belum surut sampai hari ke lima. Pengungsi belum berani kembali ke rumah masing-masing. Kurnia belum pula jumpa ibu dan kedua adiknya, juga ayahnya: apakah sudah kembali dari dinas di luar kota? Meski mulai tenang, tapi sesekali ia tersedu. Barangkali saat itu ia teringat keluarganya. Rara tak jenuh membimbingnya, juga mengurusnya. Rara amat senang, karena ia memang ikhlas direpotkan Kurnia.
Dalam hati ia berujar, bule yang bukan sebangsa dan seagama saja, ikhlas menolong korban banjir. Apatah lagi ia yang setetangga dengan Kurnia? Apalagi, setiap ia menatap wajah Kurnia, terkenang ia pada anaknya yang kini dibawa ayahnya ke Kalimantan. Pastilah Obi saat ini sedang menonton televisi, menyimak setiap berita banjir di kota ini. Seperti dirinya, mungkin pula Obi sudah bosan mendengar pernyataan-pernyataan para pejabat, yang selalu siap mendistribusi makanan dan obatan. Namun, kenyataannya selalu terlambat sampai ke pengungsi.
Para pejabat hanya bisa bikin pernyataan. Janji dan janji. Mereka juga tega-teganya buat statemen, banjir ini hanya persoalan alam, atau soal langganan saja. Padahal bukan statemen yang dibutuhkan pada saat-saat seperti ini, melainkan tindakan konkret. Rara bergumam. "Mengapa tak ada upaya memperkecil arus banjir. Mengapa tak dipikirkan tahun-tahun lalu, kalau memang banjir ini langganan bisa dialihkan ke tempat lain. Memangnya tak ada anggaran. Memangnya?" Rara lelah setiap memikirkan cara kerja pejabat.
"Banjir selalu datang setiap tahun, tapi selalu saja pemerintah kebobolan. Banjir besar seperti ini sudah pernah terjadi pada 2002. Masak harus terulang lagi?" timpal pengungsi lainnya.
"Maafkan pemerintah Anda. Banyak yang mesti dikerjakannya?"
"Ah, sebanyak mana pekerjaan mereka? Korban banjir kali ini melebihi banyaknya pekerjaan pemerintah, Tuan?"
"Maafkan?"
"Kami selalu memaafkan," tukas Pak Nanang. "Namun, saya tak bisa memaafkan matinya anak saya karena terhanyut air!" lanjutnya tegas, bergetar, dan tersedu.
"Ya!" serentak yang lain bersuara.
Rumah mewah itu jadi gaduh. Para pengungsi terus bertambah. Lantai keramik berwarna putih mulai kecokelatan. Lumpur di mana-mana. Pakaian, selimut, dan barang-barang bertumpuk di setiap ruang. Bagai layar, pakaian para pengungsi berkibar di tali jemuran samping rumah mewah itu. Pemiliknya hanya senyum-senyum setiap memandang kibaran pakaian. Setiap mengendus aroma tak sedap yang menguar dari tubuh para pengungsi itu.
"Ia cantik?" gumam lelaki bule tampan itu begitu pandangnya jatuh ke Rara.
Perempuan itu menunduk. Hatinya bergolak. Ada getar di sana…***
Jakarta 10 Februari 2007–Lampung 13 Februari 2007
1) teringat cerita wakil dubes Swedia dalam Republik Mimpi Metro TV










Komentar Pengunjung