-
Komentar Tentang Sekolah Swasta Di DKI
Posted on March 17th, 2007 No commentsAssalamu’alaikum wr.wb.,
Bismillah hirrahman nirrahim.
Di dalam sebuah ceramah, saya pernah menyatakan bahwa saya belum
menemukan sekolah Islam yang bagus di Indonesia. Seorang ibu kirim
email kepada saya dan menyatakan kaget. Dia minta saya menjelaskan
kenapa pendapat saya seperti itu.Artikel ini saya buat untuk menjelaskan pandangan saya terhadap
sekolah swasta di Jakarta, Islam dan sekular, yang didasarkan
pengalaman pribadi saya. Maaf, artikel ini agak panjang, tetapi saya
sengaja membuatnya begitu supaya menjadi referensi yang lebih jelas
dan akurat bagi para orang tua.Kualifikasi saya
Supaya percaya dengan apa yang saya katakan, saya mau jelaskan
kualifikasi saya dulu:Saya seorang guru bahasa dan sejarah (Language and History teacher)
dengan gelar Bachelor of Arts dan Graduate Diploma of Education dari
Universitas Griffith di Brisbane, Australia. Sekarang saya sudah
berpengalaman 10 tahun mengajar di kelas, baik di kursus bahasa
Inggris maupun di sekolah swasta, juga les privat dan bentuk training
yang lain. Sebagai pengamat pendidikan (hobi saya), saya sering
membaca artikel dan berita tentang pendikikan, baik dari Indonesia
maupun dari manca negara. Sudah beberapa kali saya melakukan
kunjungan sekolah di DKI untuk menganalisa sekolah tersebut, baik
karena ada permintaan dari orang tua atau teman, atau karena ada
permintaan dari yayasan, atau karena saya sendiri ingin melihat
sekolah itu. Hasilnya (laporan) biasanya diberikan secara lisan, tapi
juga ada yang secara tertulis untuk anggota yayasan. Saya sudah
melakukan Teacher Training untuk beberapa sekolah, dan juga untuk
Pusdiklat DKI (melatihkan guru-guru SD) dan sedang menunggu undangan
lagi dari DKI.Yang pernah saya lakukan sebagai seorang guru:
Mengajar bahasa Inggris di semua tingkat dari TK sampai dewasa, dari
Foundation sampai TOEFL dan FCE.; melakukan Teacher Training;
membimbing guru junior; menasihati kepala sekolah tentang masalah
pendidikan dan masalah karyawan; membuat kurikulum bahasa Inggris
untuk kursus bahasa Inggris dan sekolah swasta; membuat bahan dan
ujian untuk murid di kursus dan sekolah swasta; melakukan
Motivational Training untuk guru dan murid; membuat program Academic
Writing untuk beberapa universitas di Indonesia dengan funding dari
Ford Foundation; dan memeriksa dan menganalisa sekolah untuk menilai
kualitasnya, termasuk “interview” para guru.Saya pernah ditawarkan posisi sebagai: guru bahasa Inggris di
beberapa sekolah swasta dan kursus; Kepala Sekolah di beberapa
lokasi; Head of English Department (Binus High School, Simprug);
Manager of English Services (Bina Nusantara University); dosen bahasa
Inggris (Swiss German University, Serpong).Sebagian besar dari tawaran ini tidak diterima karena beberapa alasan
(gaji, lokasi, masalah dengan managemen, atau masalah dengan “job
description” ).Insya Allah, semua pengalaman ini menjadi landasan yang cukup baik
bagi saya untuk menganalisa sebuah sekolah dengan cara profesional.Masalah Dengan Sekolah Di Indonesia
Masalah utama dengan sekolah swasta adalah tujuannya. Kebanyakan
adalah bisnis yang dibangun oleh pengusaha yang tidak memiliki latar
belakang pendikikan. Pada saat mereka mendirikan sekolah, mereka
melihat bahwa orang lain sudah mendirikan sekolah dan menghasilkan
profit besar, sampai ada yang membuat franchise sekolah (bukan
cabang). Dengan demikian, sekolah menjadi sama dengan Starbucks atau
Breadtalk: hanya sebuah bisnis yang menghasilkan profit bagi
pemiliknya. Saya pernah mendengar seorang pemilik sekolah menyatakan
dengan senyuman lebar dan dengan rasa bangga bahwa dia sudah break
even (balik modal) dalam 4 tahun saja! Saya tidak paham kenapa hal
itu membuatnya bangga.Saya tidak berniat menjelekkan nama semua sekolah swasta atau semua
guru yang kerja di sekolah itu. Ada masalah yang prinsip, dan ada
masalah biasa. Semuanya memberi tanda bahwa sekolah tersebut tidak
terfokus pada pendidikan seperti semestinya, dan bisa diperbaiki
lagi, akan tetapi hal itu jarang terjadi, karena si pengusaha sebagai
pemilik tidak melihat ada masalah sama sekali (“Profit tetap tinggi
kok! Berarti orang tua puas! Kenapa harus diubah?”)Sekolah Islam
Sekolah Islam tidak lepas dari masalah binis ini. Seringkali, yang
diutamakan adalah profit untuk yayasan dan bukan kualitas guru atau
kualitas pendidikan. Karena stok murid besar, sekolah bisa cuek pada
kualitas sekolah dan tetap ada orang tua baru yang mau bayar mahal
untuk daftarkan anaknya pada tahun berikut.Yang sering terjadi, orang dewasa yang menjadi guru bukan orang yang
kuliah pendidikan (lulusan IKIP, misalnya) tetapi orang mana saja
yang bisa berbahasa Inggris karena ini yang dijual kepada orang
tua: “Kita sekolah bilingual lho!” Saya pernah menemukan orang dengan
gelar ekonomi, akutansi, finance, psikologi, hukum, sastra,
linguistik, dan lain lain yang bekerja sebagai guru di sekolah swasta
di Jakarta. Bahkan ada seorang apoteker. Saya bertanya kenapa dia
bisa masuk sekolah, dia menjawab karena tidak ada pekerjaan lain, dan
karena dia bisa berbahasa Inggris. Ini merupakan kegagalan sekolah
untuk mendapatkan ahli pendidikan yang profesional.Mungkin semua orang senang dengan al Azhar: sekolah Islam terkemuka
di Indonesia. Sekarang, ada anak teman yang masuk TK Al Azhar. Guru
anak itu membuat ibunya stres karena selalu mengeluh bahwa si
anak “tidak bisa menulis dengan rapi”.Pada umur 5,5 tahun tidak ada kewajiban untuk menulis dengan rapi!!!
Seharusnya guru senang bahwa seorang anak laki-laki mau menulis
daripada lari-lari terus. Ini sangat aneh. Pada umur ini, kemampuan
motorik halus sedang berkembang. Sangat gila mewajibkan anak menulis
dengan rapi pada umur ini. Dan seharusnya hal ini tidak menjadi salah
satu hal yang dicermati guru, apalagi mengeluh kepada orang tua. Pada
umur 7-9 ke atas, baru perlu dicermati.Dan kalau kita jujur, apakah tulisan tangan yang rapi pernah ada
pengaruh besar di dunia? Contoh: “Maaf, Mr. Einstein, Piagam Nobel
anda harus dikembalikan karena anda menulis E = MC2 dengan tulisan
yang tidak rapi. Maaf ya!” Konyol benar! Para dokter di dunia
terkenal dengan tulisan tangan yang tidak rapi. Apakah seharusnya
tidak boleh menjadi dokter sampai bisa menulis dengan rapi?Anak di Al Azhar itu lapor kepada saya bahwa di sekolah dia main
dengan Lego juga (karena saya belikan dia Lego) tapi Legonya besar,
bukan dengan batu-batu kecil seperti yang saya belikan. Tanpa
melihatnya, saya tahu Lego yang dia maksudkan: Lego besar untuk anak
berumur 2-4 tahun. Baca saja di kotaknya (ada batas umur). Berarti,
Lego yang dia dapat di sekolah adalah mainan untuk anak balita
berumur 2-4 tahun, padahal umur dia 5,5 tahun. Berarti yang beli
mainan untuk anak di sekolah itu tidak mengerti mainan yang mana yang
cocok dengan umur anak, dan dia tidak mengerti kenapa Lego kecil
lebih bermanfaat dari Lego besar pada umur ini: untuk melatihkan skil
motorik halus yang juga digunakan untuk menulis!!! Kalau sekolah
menuntut tulisan yang rapi, coba berikan mainan yang cocok dulu!Saya juga dengar bahwa untuk masuk SD al Azhar ada tes membaca dan
menulis. Kalau tidak bisa membaca dan menulis, maka tidak bisa atau
susah masuk (harus bayar lebih mahal kali?). Bukannya sekolah itu
tempat belajar? Buat apa kita kirim anak ke SD kalau SD menuntut
anak2 mendapatkan skil membaca dan menulis di luar sekolah? Kalau
memang diajarkan di sekolah, kenapa harus dites untuk masuk? Kalau
tidak diajarkan, emang siapa yang bertanggung jawab untuk
mengajarkannya?Bagaimana kalau rumah sakit ikut-ikutan menerapkan teori seperti ini:
mau masuk rumah sakit, tes kesehatan dulu. Kalau ternyata tidak
sehat, disuruh pulang dulu dan kembali kalau sudah sehat. Gila
benar!!Bukannya masuk RS untuk menjadi sehat? Dan bukannya kita kirim anak
ke SD untuk belajar membaca dan menulis? Kok sekolah bisa mewajibkan
anak mendapat skil itu di lain tempat sebelum masuk?? Sungguh tidak
masuk akal!Pada saat saya diundang untuk menjadi juri di sebuah Lomba Bahasa
Inggris di al Azhar Pusat, untuk anak2 dari al Azhar se-DKI, saya
kaget pada saat setiap anak dari sekolah yang sama membaca teks yang
sama. Ini bukan lomba “membaca”, tapi lomba bahasa (bicara). Dari
kosa kata yang digunakan, saya tahu bahwa orang dewasa yang
menulisnya (gurunya barangkali?) dan bukan anak itu. Jadi piagam
seharusnya dikasih kepada gurunya, bukan anak itu. Ini kegagalan dari
pengurus lomba (para guru) untuk membuat peraturan yang jelas dan
saya merasa bahwa seluruh hari itu sia-sia untuk anak2 dari sisi
pendidikan. Tapi saya tidak heran bahwa lomba menjadi kacau.
Seseorang melaporkan kepada saya bahwa pada tahap “planning” para
guru itu menghabiskan 2 jam untuk membahas seragam apa yang akan
dipakai pada hari lomba. Setelah itu, mereka membahas lomba untuk
sebentar sebelum bubar. Kalau bukan kenalan saya yang lapor begitu,
saya tidak akan percaya. Guru itu sibuk memikirkan diri sendiri dan
bukan lomba untuk kepentingan pendidikan anak.Saat saya kunjungi Global Islamic School di Condet Raya, saya kaget
melihat bahwa papan putih ditempatkan di atas jendela. Kalau tutup
pintu, kelas menjadi seperti gua, dan harus nyalakan lampu. Saya
bertanya kenapa: katanya karena setiap kali ada orang yang lewat,
anak tengok ke belakang. Jadi jendela harus ditutup. Ini kegagalan
guru untuk mengendalikan anak (classroom management). Seharusnya,
seorang guru profesional sudah tahu trik untuk membujuk anak fokus ke
depan, dan tidak lihat ke belakang.[Satu Contoh: "PR malam ini tidak ada anak-anak, tapi kalau ada yang
melihat ke belakang pada saat orang lewat, PR menjadi 1 halaman.
Kalau terjadi lagi, 2 halaman, dan seterusnya. Tapi kalau kalian baik
selama 30 minit, dan konsentrasi, 1 halaman dihapus, dan dihapus lagi
sampai menjadi nol. Kalau kamu mau kerjakan PR, silahkan lihat ke
belakang terus. Kalau tidak mau PR, lihat ke depan. Silahkan pilih
sendiri."]Selain dari masalah itu (kegagalan managemen kelas), juga makan biaya
untuk listrik. Dan juga, cahaya matahari adalah suatu zat yang
penting untuk perkembangan dan kesehatan anak. Juga ada pengaruh
psikologis bagi anak bisa merasa “terkurung” di dalam sebuah kelas
yang gelap. Cahaya alamiah adalah hal yang baik yang seharusnya
ditambahkan bukan dikurangi.Saat kunjungi Jakarta Islamic School di Kalimalang, saya kaget
melihat batang2 kayu di belakang sekolah dengan paku bangunan berdiri
di tengahnya, seperti kayunya berduri. Ada tumpukan kayu (mungkin 70-
100 batang) semuanya dengan paku yang berkaratan. Di depannya, 8 anak
lari-lari main bulu tangkis tanpa memakai sepatu. Kalau ada yang
injak ke samping, kaki akan kena. Kalau ada yang terdorong ke
samping, kaki, paha, perut, dada, tangan dan mata bisa kena paku
sekaligus. Saya panggil seorang pengurus karena melihat itu sebagai
sesuatu yang berbahaya sekali. Seharusnya kayu itu tidak ada di
sekolah. Komentar dia: “Wah, anak2 seharusnya tidak berada di situ.
Kok pintu tidak dikunci.” Itu saja. Seharusnya kayu itu disingkirkan,
atau ditutup, dana pintu ke belakang harus dikunci dan dicek setiap
jam, dan seharusnya ada pengumuman di pintu yang melarang anak2 ke
belakang dengan menyebutkan sangsi bila melanggar.Di kantin, anak anak berjalan tanpa sepatu (karena semua anak
lepaskan sepatu di pintu masuk sekolah � lebih Islamiah kali?) dan
menginjak tomat, daging, nasi, tulang ayam, sosis, saus tomat dan
yang lain yang ada di lantai. Saya lewat kantin untuk mencapai
ruangan kepala sekolah dan mencermati lantainya yang kotor karena
anak2 baru selesai makan siang. Jadi, lepas sepatu lebih Islamiah,
dan … menginjak sosis adalah hal yang Islamiah juga? Dengan melihat
kondisi sekolah, lebih baik anak2 pakai sepatu terus. Setelah melihat
kayu yang penuh paku, saya sangat meragukan kemampuan dari pengurus
sekolah untuk menjaga kualitas pendidikan, karena sudah jelas mereka
tidak bisa menjaga ruang fisik dari acaman dan bahaya terhadap anak
(padahal itu jauh lebih utama).Saya kunjungi sebuah sekolah SD kecil di sebelah sebuah masjid (saya
lupa namanya). Kata salah satu orang tua saat bicara dengan saya,
sekolah ini sangat bagus. Masa? Saya minta melihat kurikulum. Kepala
sekolah mencari tapi tidak menemukan. Saya melihat daftar kelas2.
Kurang lebih, yang saya ingat begini:Menghafal al Qur’an.
Bahasa Arab
Bahasa Arab 2
Membaca Al Qur’an
Sejarah Islam
Bahasa Inggris
Matematika
IPA
(ada dua atau tiga lagi tapi saya lupa)
Tidak ada Kesenian. Tidak ada Olahraga. Tidak ada musik. Tidak ada
Ekskul. Saya bertanya kenapa? Katanya: 1) tidak ada waktu lagi. 2)
Musik tidak boleh dalam Islam, katanya. 3) Kesenian tidak perlu. 4)
Olahraga: mereka bisa main bola dengan teman2 setelah sekolah.Luar biasa.
Kesenian: melatihkan motorik halus dengan menggambar, melukis, dsb.
Melatihkan koordinasi tangan dan mata. Mempelajari warna dan campuran
warna. Tidak semua orang menjadi ustdat, ada yang menjadi designer,
berarti warna dan skil untuk membuat kombinasi warna perlu. Dari
kebiasaan menggambar, ada yang menjadi artis, arsitek, designer, dan
bahkan insinyur: rata-rata, insinyur membuat gambar mobil dulu dan
dari itu lari ke Autocad, membuat design, lalu membuatnya secara
nyata. Kalau anak2 main dengan warna, ketahuan kalau ada anak yang
sering bermasalah dengan warna: salah pilih atau salah menyebutkan.
Bisa jadi ada masalah dengan matanya, atau dia buta warna. Lebih
cepat terdeteksi, lebih baik.Olahraga: dengan lari-lari dan bermain, kelihatan perkembangan
motorik kasar, dan koordinasi tangan dan mata. Anak yang sering jatuh
bisa ada masalah dengan telinga dalam (keseimbangan) , atau dengan
matanya (minus, silinder). Masalah dengan mata penting untuk
terdeteksi dengan cepat karena bisa menggangu pelajarannya. Anak
tidak tahu bahwa matanya bermasalah. Dia menanggap semua
orang “melihat” seperti itu, jadi dia tidak akan komplain bahwa
tulisan guru samar-samar.Dengan main game di luar, anak belajar untuk membagi, berkompetisi,
berlomba, menerima kekalahan dengan lapang dada, menang tanpa menjadi
sombong, bekerja di dalam tim, bernegosiasi, bekerja cepat, berfikir
cepat, ambil keputusan dengan cepat, dsb.Musik: memainkan alat musik merupakan skil yang sulit. Mengembangkan
motorik halus, gerakkan jari dengan cepat (seperti ketik), belajar
mengikuti irama, menari, dan belajar puisi (lirik lagu sama dengan
puisi) yang membantu perkembangan bahasanya dan kosa kata. Anak yang
sulit mengikuti irama bisa ada masalah dengan pendengaran, bisa jadi
dia kurang percaya diri, atau ada gangguan dengan koordinasi kakinya.
Kalau dia tidak bisa menari, bisa ada gangguan telinga dalam, atau
gangguan syaraf sehingga kakinya tidak bertindak sesuai dengan
keinginannya.Pemantauan seperti ini termasuk apa yang dikerjakan guru profesional,
beda halnya dengan
seorang lulusan ekonomi yang bisa bahasa Inggris
dan menjadi “guru”. Saya pernah memberi tes bahasa Inggris kepada 100
anak SD dan dari 100 anak itu, saya menemukan satu anak yang
bermasalah: dia tidak mau memandang mata saya. Mungkin orang lain
(seperti si lulusan ekonomi) hanya akan mengatakan bahwa dia seorang
pemalu dan melupakannya. Tetatpi saya langsung telfon bapaknya. Dia
menyatakan bahwa setelah saya berkomentar begitu, dia baru sadar
bahwa anaknya memang suka begitu dengan orang lain (selain orang
tua). Berarti bukan diri saya (sebagai bule) yang membuat dia
takut/malu. Dia memang tidak suka memandang mata orang dewasa. Saya
hubungi seorang psikolog dan minta anak ini diobservasi. Tidak
memandang mata orang lain bisa berarti dia malu sekali, dan juga
merupakan salah satu gejala Autis dan Asperger Syndrome (tipe Autis
juga). Dari melihat anak itu dan setelah bertanya2 kepada bapaknya,
saya menduga bahwa anak itu menderita dari Asperger Syndrome yang
sangat ringan sehingga hanya ada satu gejala yang tampak: tidak suka
memandang mata orang yang tidak dikenal! Untuk mengetahui kalau ada
gejala yang lain, perlu dianalisa secara lengkap oleh seorang ahli.
Saya serahkan kepada psikolog untuk melakukan diagnosis secara
profesional.Kalau saya bukan seorang guru, dan kalau saya tidak belajar tentang
gejala penyakit yang diderita anak, dan kalau saya tidak memilih
untuk melakukan investigasi (padahal tidak ada yang mewajibkan saya
begitu), maka anak itu belum tentu terdeteksi sebagai penderita AS
sampai umurnya sudah terlalu tua. Untuk masalah seperti itu, lebih
cepat ditangani, lebih baik hasilnya, terutama dari sisi pendidikan.
Seringkali, anak sudah besar, dan nilai sekolah makin buruk terus,
baru ketahuan ada masalah yang mengganggu proses belajarnya.Ada seorang teman yang memberitahu saya bahwa di sekolah dia ada guru
yang menutup mulut anak TK dengan lakban (duct tape) karena… anak
itu bicara terlalu banyak! Masa? Anak TK suka bicara? Dari kapan anak
TK menjadi senang “bicara” di kelas? Bukannya semua duduk diam dan
selalu nurut dengan gurunya? Ampun!!!!Setelah diperiksa, inilah salah satu guru itu yang bukan guru, tapi
orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris, karena ini
sekolah “Bilingual”. Selamat kepada pemilik sekolah.Saat saya periksa sebuah sekolah Islam di Jakarta Timur (saya lupa
namanya) saya mengecek perpustakaan. Buku tidak banyak tapi cukuplah.
Saya mengambil satu: ternyata buku teks matematika. Yang lain juga
buku teks. Setelah saya bertanya pada Librarian (penjaga
perpustakaan) , dia memberitahu saya bahwa hanya ada buku teks di
perpustakaan. Tidak ada buku cerita. Ada sedikit di dalam kelas saja.
Seharusnya, setiap minggu setiap kelas dapat waktu di perpustakaan.
Selain dari mendengar guru baca buku, anak2 harus diberi kebebasan
untuk memilih dan membaca buku sendiri. Bagaimana anak2 bisa
mencintai buku kalau tidak ada pengalaman baca buku selain buku teks
di sekolah?Selandia Baru (New Zealand) adalah salah satu negara dengan tingkat
kemampuan baca tulis (literacy rate) yang paling tinggi di dunia �
sekitar 99% dari penduduk bisa membaca dan menulis. Perpustakaan di
SMP saya di Selandia Baru sebesar dua lantai dengan jumlah buku
mencapai puluhan ribu. Waktu di SD, perpustakaan lebih besar dari
satu kelas, dan penuh juga dengan buku. Kalau anda menyatakan bahwa
buku mahal sehingga tidak bisa begitu di Indonesia, saya menyatakan
bahwa ada cara untuk mendapatkan buku. Kita yang harus kreatif untuk
mememukan caranya.Satu contoh: daripada memberikan piagam setelah setiap lomba, beli
satu buku dan pasang stiker di halaman depan dengan tulisan “Buku ini
diberikan kepada Budi Santosa sebagai Pemenang Pertama pada lomba…
dst.” Dan semua buku itu menjadi sumbangan buat perpustakaan sekolah.
Setiap kali ada yang pinjam buku itu, kelihatan nama si Budi di
depan. Bukan saja dia menjadi pemenang lomba, tapi juga dermawan yang
membantu membangun sekolah dan masa depan adik kelas!! Bukanlah itu
lebih baik dan lebih bermanfaat daripada setiap anak yang lulus SD
mendapat sekotak piagam murahan yang sudah pecah atah plastiknya
rusak dan perlu disimpan atau dibuang?Saat saya kunjungi Sekolah Citra Alam di Jl.Damai II Ciganjur, saya
menjadi kaget melihat tempat yang begitu berbahaya, saya heran ada
orang tua yang mau masukkan anaknya ke sana. Di belakang sekolah ada
jurang tanpa pagar di atas. Pada saat saya ada di sana untuk Open
Day, seorang anak mengejar bola dan berhenti sekitar 2 meter dari
pinggir jurang itu.(Kunjungan saya ke sana sudah beberapa tahun yang lalu. Kalau kondisi
sekolah sekarang, saya sama sekali tidak tahu. Bisa jadi ada
perbaikan. Dan ternyata sekolah ini berbeda dengan SEKOLAH ALAM yang
juga terletak di Ciganjur).Perlu dipahami bahwa anak kecil tidak bisa mengukur jarak karena
matanya dan persepsi jaraknya masih berkembang. Oleh karena itu, anak
sering jedot kepala di meja makan karena dia tidak bisa melihat ujung
meja yang menonjol itu. Menurut mata, masih jauh. Lalu jedot. Kalau
ada jurang tanpa pagar, dan dia sedang lari mengejar bola, mata dia
menyatakan jurang masih jauh maka dia kejar bola terus. Lalu
tergelincir. Juga benar bahwa anak belum pintar mempertimbangkan
risiko seperti orang dewasa. Orang dewasa melihat jalan yang ramai
dan menyeberang dengan hati-hati. Anak melihat jalan dan melintas
saja karena bahayanya tidak langsung masuk pikirannya.Jalan masuk sekolah itu dibuat dari batu kali yang bulat dengan
ukuran 5-15 senti. Jalan tidak datar dan kita harus berjalan dengan
pelan dan hati-hati. Saya yang dewasa hampir kena kaki terseleoh
karena kaki saya injak batu besar dan tergelincir ke samping. Buat
apa batu itu?Pagar di sebelah jalan itu dibuat dari kayu bambu yang bagian atasnya
ditajamkan, menjadi berbentuk seperti panah. (Tidak ada alasan untuk
ditajamkan begitu). Tingginya sekitar 50-60 senti. Saya bisa
bayangkan seorang anak mendorong temannya, dan pada saat dia jatuh ke
atas pagar itu, dadanya bisa ketusuk.Ada seekor rusa di dalam kandang. Tembok kandang dibuat dari kawat
ayam. Karena mengunakan kawat ayam yang kurang panjang, dua lapis
diikat sehingga ada bagian atas dan bagian bawah dengan ikatan di
tengah. Ikatan juga menggunakan kawat yang kuat, tetapi tidak diikat
dengan rapi. Ada banyak bagian yang menonjol keluar sekitar 10-15
senti. Artinya, tembok kandgan itu menjadi “berduri” karena ujung2
kawat yang menonjol. Kalau ada anak lari ke sana, dan mendorong
temannya, pada saat anak itu hajar kawat ayam, dia bisa ditusuk oleh
kawat yang menonjol. Tingginya duri kawat itu sekitar 1 meter dari
tanah, atau setinggi mata anak. Kalau mata anak ketusuk, orang tua
tidak bisa beli yang baru di Hero.Artinya semua ini, Sekolah Citra Alam ini penuh dengan hal-hal yang
berbahaya untuk anak. Di Australia, tempat seperti ini tidak akan
mendapat izin menjadi sekolah. Untuk membangun sekolah, keamanan dan
keselamatan adalah nomor satu. Selalu. Bayangkan kalau anda terima
telfon seperti ini: “Maaf, Ibu. Anak anda menjadi buta karena matanya
ketusuk kawat saat dia main di samping pagar… tapi nilai bahasa
Inggrisnya tinggi. Bagus kan?”Kalau anak berada di dalam keadaan yang berbahaya, apakah mungkin
orang tua tidak akan peduli karena kurikulum di sekolah itu bagus?Pada saat ada informasi (iklan 1 halaman) tentang Sekolah Citra Alam
di sebuah koran, saya membaca suatu pernyataan yang paling konyol
yang pernah saya baca berkaitan de
ngan pendidikan. Kata Pengurus
(seingat saya) “Kalau anak mau belajar tentang daun, maka dia harus
memegang daun. Berarti harus ada hutan di depan sekolah.”Masa? Kalau teori pendidikan ini benar, coba kalau kita kembangkan:
Kalau anak mau belajar tentang buaya, mereka harus memegang buaya.
“Nah, Budi, yang sendang gigit kaki kamu itu, namanya buaya! Lihat
giginya yang besar. Jangan teriak. Kamu masih punya kaki satu lagi.”Apakah begitu pendidikan? Kalau anak mau belajar tentang sesuatu,
mereka harus mengalaminya secara langsung? Kalau belajar tentang alam
semesta bagaimana? Atom? Pesawat? Piramida? Virus? Peredaran darah?
Ledakan bom? Berapa banyak hal selain daun dan bunga yang bisa
dihadirkan di sekolah? Dan pada saat saya melihat jendela kelas tidak
ada kacanya (supaya dekat dengan alam) saya menjadi kuatir dengan
Demam Berdarah. Nyamuk diberi akses penuh terhadap anak.Saya mencari alat pemadam kebakaran (karena gedung dibuat dari kayu)
tapi tidak menemukannya (mungkin ada, tapi disimpan supaya tidak
kelihatan). Tapi karena tidak ada kaca di jendela, anak bisa loncat
keluar dari kelas dengan mudah kalau terjadi kebakaran.Intinya, orang yang membangun sekolah ini seakan-akan inginkan anak
kembali hidup di tengah hutan seperti orang Mentawai. Saya bingung
tentang kenapa ini menjadi idaman orang tua dan pemilik sekolah.Sudah berkali-kali saya mengunjungi sebuah sekolah di DKI dan minta
melihat kurikulum. Sering kali, kepala sekolah sulit menemukannya
karena tidak tahu ada di mana. Lebih parah, sering ada yang
menyatakan “Kita sedang menulisnya”. Dan “Kita” di sini adalah kepala
sekolah dan para guru yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan.
Pernah ada kepala sekolah menyatakan kepada saya: “Kita sudah membuat
kurikulum untuk 6 bulan ke depan.”Coba kita aplikasikan logika ini pada tempat yang lain: Kita naik bis
dan pengemudi menyatakan “Saya ada peta untuk 6 kilo ke depan.
Sisanya akan saya tulis dalam perjalanan kita ke Bali.” Apakah anda
mau naik bis itu? Yakin bisa sampai ke tujuan?Kalau kurikulum tidak dibuat dari K-6 dari awal sekolah, dan hanya 6
bulan di depan murid, bagaimana kalau sampai ke Kelas 6 dan para guru
baru sadar ada banyak yang belum sempat diajarkan? Dari ilmu 100%,
baru 60% yang diajarkan dari K-5. Apakah 40% yang tersisa bisa
diberikan dalam 1 tahun terakhir? Seperti apa kelasnya nanti?Kayanya ada banyak sekolah seperti ini, dan mayoritas dari orang tua
tidak sadar bahwa sekolah tanpa kurikulum adalah masalah besar.Ada sebuah sekolah yang mendapat “guru bahasa” dari negara Inggris
untuk menyusun program bahasanya. Masalahnya adalah di Inggris dia
bekerja sebagai DJ (Disc Jockey) di sebuah klub malam, tidak ada
latar belakang pendidikan, dan juga tidak lulus kuliah. Program
bahasa yang dia susun itu diambil dari Amerika. Setelah diselidiki,
ternyata program itu diciptakan untuk anak di Amerika yang cacat
mental dan sama sekali tidak cocok untuk mengajar bahasa di sekolah
di Indonesia.Tetapi orang tua datang ke sekolah (“Kita sekolah bilingual lho!”)
dan melihat bule, jadi mereka tidak bertanya tentang latar
belakangnya. Yang penting bule.Kalau mau tahu kalau sekolah bermasalah, coba cek kalau para guru
sering diganti. Kalau setiap tahun ada banyak yang mengundurkan diri
dan guru baru masuk, biasanya berarti ada masalah dengan managemen
sekolah. Kalau gurunya bagus, dan kurikulum oke, tapi managemen
sekolah tidak baik, maka guru akan keluar mencari kesempatan di lain
tempat. Biasanya guru yang baik menjadi jenuh kalau kerjanya diganggu
dan di otak-atik oleh pengusaha yang ingin mengatur sekolah sesuai
dengan kemauan sendiri. Kalau guru sering diganti, dan
kurikulum “sedang ditulis” maka jangan masukkan anak anda ke sekolah
itu.Semua masalah yang disampaikan di atas bisa diatasi. Tapi karena
pemilik sekolah tidak mengerti pendidikan, hal seperti ini dianggap
masalah kecil dan bukan utama. Dan sayangnya, orang tua tidak sadar
bahwa sekolah anak mereka adalah tempat yang tidak ideal.Mohon diingat bahwa saya tidak membuat artikel ini dengan niat
menjelekkan nama sekolah yang saya sebutkan di atas. Tetapi sebagai
seorang guru, saya merasa ada tanggung jawab untuk menyampaikan
kritikan sekolah kepada para orang tua secara jujur. Kalau guru dari
salah satu sekolah tersebut membaca artikel ini, mungkin dia
tersinggung karena merasa sekolah dia oke-oke saja. Dan perlu
dipahami, bahwa saya membandingkan sekolah di atas dengan sekolah
ideal yang teratur secara baik.Insya Allah pada suatu saat semua sekolah negeri di Indonesia bisa
berubah menjadi sekolah ideal, dan sekolah swasta bisa dijaga secara
ketat supaya tidak bisa menyimpang.Masih ada banyak hal lain yang bisa saya sampaikan, tapi saya rasa
sudah cukup untuk saat ini. Siapa saja boleh hubungi saya di
genenetto@gmail. com bila masih ada pertanyaan tentang pendidikan.Bisa jadi ada sekolah Islam yang bermutu di DKI, cuma saya belum
mendengar tentang sekolah itu dan belum mengunjunginya.Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto









Komentar Pengunjung