Indo-Emirates
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
-
Sebuah Renungan
Posted on March 17th, 2007 No comments{mosimage}Cermin PositifMengkritik itu mudah, karena melihat kesalahan orang lain itu gampang. Namun kritik yang didasari oleh "mencari-cari kesalahan orang lain", tak mungkin dapat mempermudah keadaan. Anda tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga anda untuk menilai apakah orang lain telah berbuat salah atapun benar, karena itu sangatlah mudah. Yang susah adalah melihat "kesalahan pada diri sendiri". Berwaspadalah ketika anda pandai mengkritik, jangan-jangan anda tidak mampu lagi melihat kebenaran, dan tidak mampu melihat kesalahan anda. Dan sebuta-buta orang ialah mereka yang tidak bisa menangkap cahaya suatu kebenaran. Sekali anda gembira menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, anda tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil. Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar anda telah menciptakan gunung kesalahan orang lain.Orang tidak pernah suka berkaca pada cermin yang memantulkan kekurangan wajah dirinya sendiri. Maka dari itu janganlah anda menjadi bayangan atas kesalahan orang lain. Bantulah mereka menemukan sisi positif dan cermin positif pada mereka.
Peduli, Percaya dan SukaMengatakan memang sangatlah mudah, akan tetapi membentuknya sangatlah susah. Membuat orang peduli, mempercayai dan menyukai tentang kamu, dalam satu kondisi, sangatlah susah. Makanya kadang kita menemukan seseorang yang kita pedulikan, akan tetapi tidak kita percayai, kadang kita dipercaya, namun kita tidak disukai, atau bahkan dia disukai namun tidak dipedulikan dan tidak dipercaya. Begitu banyak kondisi yang memang susah menyatukannya dalam satu komponen. Dan yang berhasil dalam lingkungannya adalah jika kita menghadirkan antara ke tiganya sekaligus, yaitu dipedulikan, dipercayai dan di sukai oleh orang lain. Akhirnya Semoga kita dapat meraih dan dapat menyatukan ketiga komponen tersebut dalam diri kita.Tindakan dan PrioritasMemang kita harus bijak dalam menentukan suatu keputusan. Karena kesalahan menetukan keputusan kerap kali menimbulkan masalah baru dan berbagai penyesalan, bahkan berakibat fatal. Banyak sekali kita jumpai dalam masyarakat sebagai bentuk dari salahnya menentukan suatu prioritas. Orang bijak kerap berkata, tindakan yang kita lakukan harus terdiri atas dua komponen yaitu kerja keras dan kerja cerdas. Bagaimana bentuk komkretnya? Menurut saya ada beberapa unsur dalam sebuah tindakan yang akan membuahkan hasil. Apakah itu??? yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan prioritas. Tidak semua hal yang kita kerjakan adalah hal yang penting atau yang seharusnya kita lakukan. Para pemimpin kita misalnya mereka benar-benar efektif dalam memimpin. Biasanya mereka hanya mengejar hal-hal yang telah menjadi prioritas mereka dan selebihnya mereka delegasikan. Kita dapat menentukan prioritas tindakan kita berdasarkan beberapa pertanyaan berikut: apakah tindakan kita akan membawa manfaat bagi peningkatan kualitas hidup kita? Apakah tindakan kita mendekatkan kita kepada impian kita? Apakah tindakan kita membawa manfaat bagi kehidupan orang lain?. Dan masih banyak pertanyaan-pertanya an lain yang ada pada diri masing-masih. Semoga kita dapat memilah dan memilih "tindakan dan prioritas" kita sehari-hari, untuk menunjang kehidupan yang haqiqi.Sebuah KeseimbanganSangat disayangkan negara yang tadinya Gemah Ripah Loh Jinawi, menjadi sebuah negara yang meng impor beras. Negara yang tadinya hanya menancapkan pohon dan batu menjadi tanaman (begitu kata syair lagu). Kesalahan apa yang dilakukan bangsa ini sehingga bencana bertubi-tubi pada saudara-saudara kita. Tapi anehnya disaat kita dilanda bencana terkadang pikiran tidak rasional kita, kita hadirkan. Kita menghadirkan para dukun dan paranormal untuk menyelasaikan masalah tersebut, bahkan kita bertanya kepada dukun, apakah masih ada bencana lain atau tidak? kita selalu menyalahkan angin disaat ada pesawat jatuh, kita selalu menyalahkan alam ketika banjir datang. Kondisi alam adalah bukti konkret ketaatan mahluk pada rabb Nya, maka manusia yang berimanlah yang tidak pernah menyalahkan alam ketika diterpa musibah dan bencana. Kita telah membuat alam jauh dari keseimbangan. Saya yakin bahwa tangan-tangan manusialah yang menyebabkan malapetaka tersebut…. .Dipenghujung renungan ini, saya mempunyai sebuah analogi sebagai berikut: kisah seorang penebang kayu yang begitu bersemangat dalam bekerja, namun hasil tebangannya dari bulan ke bulan semakin sedikit, meski ia telah bekerja dengan lebih giat, hasil yang diperolehnya tidak juga meningkat bahkan semakin sedikit. Mengapa? karena ia tidak punya waktu untuk mengasah kapaknya. Tidak heran bila ada pepatah orang bijak berkata: Kehidupan yang tidak dievaluasi sebenarnya tidak layak untuk dijalani. Bagaimana dengan pengalaman anda???Selamat merenung ………… ..









Komentar Pengunjung