-
ADA SURGA DI RUMAH KITA
Posted on March 24th, 2007 No comments{mosimage}Rumah Kita Di perapian manakah kan kau temukan kehangatan cinta,
Di puncak manalakah kau rasakan sejuknya hawa kasih dan sayang,
Dari oase manakah dahaga dan kegersangan hatimu terobati,
Di indah mimpi yang manakah pelangi harmoni kan kau jumpai,
Segalanya kan menyapamu di sini…
Di rumah kita, sayang…
(Tias Tatanka)***
Rumah adalah bentuk fisik bangunan yang lazim sederhananya terdiri dari pintu, dinding, dan atap.
Namun selain itu, rumah juga mempunyai gejala psikis yang disebut dengan home. Bukan house. Oleh kerana itu jarang sekali ungkapan Go House untuk sebuah kata yang bermakna pulang, melainkan Go Home. Pulang adalah gejala psikologis. Home Sweet Home: kediaman adalah rumah yang tenang. Juga ungkapan Nabi Muhammad SAW, Bayti Jannati: Rumahku adalah surgaku.
Bila rumah adalah surga, maka setiap orang akan mendambakan pulang untuk merendanya. Proses marajut renda akan selesai dengan indah dan rapih, manakala dikerjakan penuh ketekunan, juga kesabaran. Pun demikian halnya usaha menggapai surga dalam rumah tangga. Tak ada kebahagiaan yang bisa diraih dengan gratis. Semuanya selalu melewati proses panjang dengan onak dan durinya. Kualitas bahagia akan berbanding lurus dengan pahit getir usaha ketika hendak merangkulnya. Menyatukan dua kepala yang berbeda latar belakang dan pengalaman, lumrah dan lazim menimbulkan percikan-percikan konflik hingga kobar bara perpecahan dalam rumah tangga. Terutama pada masa-masa awal sebuah keluarga terbentuk lewat tali pernikahan.
Pasangan pengarang, Gola Gong dan Tias Tatanka, dalam buku teranyarnya yang berjudul “Ini Rumah Kita Sayang…” berbagi pengalaman dalam memandang dan menyikapi percikan konflik hingga bara kehancuran berumah tangga, agar menjadi sebuah pemandangan yang indah dengan menggunakan sudut pandang bijaksana. Kebijakan suami membuang 50% ego sendiri dan menyediakan tempat yang nyaman untuk 50% ego sang istri, adalah usaha dalam menyikapi berbagai konflik agar menjadi warna-warni keluarga yang indah dan menarik. Begitu pula dengan bijak bestarinya sang istri. Buku yang diterbitkan pada Oktober 2006 oleh penerbit Nasional GIP (Gema Insai Press) dengan jumlah halaman sebanyak 168 ini memaparkan pengalaman kedua penulis ketika hendak dan sesudah memasuki jenjang rumah tangga dengan posisinya masing-masing.
Gola Gong dalam buku memoarnya ini dengan Sang istri, memulainya dari kesiapan menjadi suami yang mau berbagi rasa dengan istri, orangtua teladan bagi anak-anak kelak, hingga menempatkan keluarga di tempat tinggal dan lingkungan yang baik. Lingkungan surgawi dan membawa manfaat baik bagi kelangsungan anak dan istri. Menempatkan keluarga pada lingkungan yang kurang baik, sama saja dengan melempar mereka ke dalam neraka. Bukankah Allah telah menganjurkan agar pemimpin keluarga menjaga diri dan ahlinya (keluarga) dari kobaran api neraka?
Sementara itu, dalam buku ini, selain memaparkan kisahnya dalam usaha menjadi istri yang baik bagi suami, Tias Tatanka juga menceritakan bagaimana pengalamannya ketika melawan sakit tak teperi saat kontraksi menjelang melahirkan, datang meringkus dan membuatnya berserah diri pada Sang Khaliq. Tak ada yang banyak dilakukan, selain tawakkal. Di saat seperti itulah batas antara hidup dan mati sosok ibu hanyalah selapis kain tipis. Sebuah bukti pengorbanan istri bagi suami dan sang anak kelak, dalam menyambut anugrah terindah itu.










Komentar Pengunjung