-
Lelaki Tanpa Wajah
Posted on March 31st, 2007 No commentsSATU petang di cafe yang terletak dalam sebuah mall, ditemani secangkir cappucino dan piring kecil berisi dua potong brownies, aku membaca buku panduan cara beternak burung puyuh. Aku percaya, jika bisa disiasati dan dinikmati, menunggu tidaklah membosankan.
Tiga bulan lalu di basement mall ini, aku bertemu Risia. Dia melintas ketika aku baru selesai memarkir mobil. Antara ragu dan rindu, kuseru namanya. Dia menunda langkah dan menengok. Satu kebetulan yang indah. Sedannya parkir tak jauh dari kijangku. Setelah basa-basi sebentar dan saling memberi nomor ponsel, dia pamit pulang. Ada yang mekar diam-diam dalam hati saat melepasnya pergi.
Maka beginilah jadinya. Risia menjelma di pintu masuk. Sambil melempar senyum, ia melangkah anggun menuju pojok cafe.
"Maaf, terlambat. Sudah lama menunggu?" tanyanya seraya menaruh bokong di kursi.
"Tidak juga." Kutunjukkan cappucino yang masih penuh dan brownies yang belum disentuh. Dia baru pulang kantor. Bisa kutebak lewat pakaiannya. Gaya semiformal khas anak muda. Kemeja putih ketat dipadu blazer cokelat muda dan celana denim biru. Sepatu berhak tinggi membuatnya nampak jangkung. Rambut yang dulu tergerai sebahu, kini pendek memperlihatkan leher jenjangnya. Kuakui penampilannya sekarang membuatnya lebih fresh dan lebih cantik.
Diam-diam kucermati bahasa tubuh Risia. Caranya memanggil pelayan, memesan menu, mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe, mencopot kacamata lalu meletakkannya di meja. Elegan dan percaya diri. Tapi, menurutku, dia agak tegang. Mungkinkah suasana kantornya terbawa sampai ke cafe ? Kuingatkan padanya dia bisa lebih rileks akhir pekan begini.
"Yah, inilah aku sekarang." kilahnya senewen.
"Tidak merasa jenuh?"
"Sometimes?" Dia tersenyum kecut. Tatapannya membentur buku di meja. Diraih lalu dilihat isinya sekilas. "Wah, mau beternak burung puyuh?" celetuknya spontan. Ada tanah kosong di belakang rumah. Kupikir tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu bisa menambah penghasilan. Kuceritakan apa adanya pada Risia.
Demikianlah. Kami pun berbincang lagi. Mengenang teman-teman lama, menceritakan kegiatan kami sekarang, tukar informasi mengenai tempat makan yang patut dikunjungi, novel atau buku terbaru, kejadian-kejadian menarik atau menyebalkan yang terjadi belakangan ini. Semuanya mengalir santai, tanpa mesti membuat dahi kami berkerut.
**
Tiga tahun belakangan bisnisku lumayan menanjak. Aku jadi rutin bolak-balik Tanjungkarang-Metro. Memesan alat-alat pertanian, mengurus distribusi barang untuk minimarketku, bertemu mitra bisnis, sembari pasang kuping barangkali ada peluang bisnis lain yang menjanjikan. Semua kukerjakan sendiri dan aku menikmatinya.
Sejak jumpa di basement mall itu, aku sering menghubungi Risia. Menanyakan kabarnya lewat SMS atau ngobrol di telepon. Kami tinggal berlainan kota. Risia di Tanjungkarang, aku di Metro. Sekitar sejam jaraknya. Selalu kukabari Risia jika sedang di Tanjungkarang. Dia tak pernah menolak jika kuajak makan atau jalan-jalan menyusuri Bandar Lampung.
Ini masalah perasaan. Semua yang kulakukan bersama Risia berjalan tanpa sepengetahuan Dinda. Jika dia tahu, rumah tangga kami yang selama ini tenang bakal geger. Dia pasti ngamuk. Menganggapku suami yang lupa anak istri. Bisa jadi dia pulang ke rumah orangtuanya. Atau akan diburunya Risia, lalu mendampratnya sebagai perempuan perusak rumah tangga orang. Bah!
Antara aku dan Risia, juga soal perasaan. Kami pacaran waktu kuliah dulu. Sayang, dia putuskan hubungan di tengah jalan. Dari teman-temannya kudapat cerita bahwa dia rikuh dengan sikapku yang terlalu kaku dan serius menatap hidup. Aku memang kerja sambilan dan bisnis kecil-kecilan di kampus. Rupanya dia jenuh mendengar mimpiku tentang masa depan.
Itu cuma masalah pilihan, dalihku pada mereka yang heran kenapa aku pulang kampung dan meninggalkan bangku kuliah di Tanjungkarang. Bahwa Risialah penyebabnya, kutelan dalam hati saja.
**
Malam minggu di Kafe Diggers. Kami bertemu lagi. Rendezvouz sederhana di tengah rutinitas yang monoton. Hidup memang butuh variasi. Bersama desir angin, suasana temaram, dan musik jazz, kami nikmati panorama kota di bawah sana yang bertabur lampu warna-warni.
"Masih lama di sini?" tanya Risia sambil mengaduk-aduk lemon tea.
Aku mengangguk gamang. "Urusanku belum selesai. Pengusaha hasil bumi yang mau kutemui baru pulang dari Jakarta besok pagi." Hatiku nyengir membayangkan begitu mudahnya mengarang cerita. Begitu mudahnya berdusta pada wanita.
"Bagaimana kabar istrimu?" Aku mendadak gugup disodori pertanyaan spontan itu.
"Oh, dia sehat." jawabku rikuh.
"Hmm, kau bohong padanya, ya?"
"Bohong? Bohong kenapa?"
Risia menyeringai, "Kau pasti tak pernah cerita kalau kita sering ketemu ?kan?"
Aku tersenyum kecut. Wajah teduh Dinda melintas. Kubayangkan saat ini pasti dia sudah pulas ditemani tiga buah hati kami. Tiba-tiba rasa bersalah itu menggeliat. Dinda tak pernah tahu, setiap berada di Tanjungkarang, kukhianati kepercayaan yang dia berikan. Ah, kesetiaan dan kejujuran memang menyakitkan. Kuhela nafas sesak. Mengusir bayangan rumah dari benak.
"Kamu tahu, aku mesti berterima kasih padamu."
Risia heran, "Terima kasih untuk apa?" kejarnya.
"Kalau saja kamu tak memutuskanku dulu, mungkin aku tak akan seperti saat ini."
Dia terpana, seperti mengingat sesuatu, lalu tersipu, "Ah, kenapa mengungkit masa lalu? Itu ?kan cerita basi." celetuknya tanpa beban.
Mungkin Risia benar. Tapi, jujur saja, cerita basi itulah yang menyulut dendamku pada kehidupan. Di kampung, aku menjejali diri dengan kesibukan. Selain mengurus ladang, juga bergiat di organisasi dan koperasi. Kini telah kupetik buah dari dendam itu.
**
Rumah mungil berarsitektur modern itu terletak dalam kompleks perumahan. Risia pernah cerita bahwa rumah dan sedan di garasi itu jatah dari orang tuanya. Sementara isi rumah itu dibeli dengan uang tabungannya sendiri.
Jika sedang di Tanjungkarang, Risia kerap menyuruhku menginap di rumahnya ketimbang di hotel. Kupikir itu tawaran menarik. Selain hemat, aku bisa lebih dekat dengannya. Bukankah hidup butuh variasi?
Malam itu untuk pertama kalinya aku menginap di rumah Risia. Menjelang dini hari, kami masih santai di kursi rotan di teras belakang. Bulan sabit mengintip dari balik awan. Risia mengenakan sweater hijau dan celana pendek selutut. Kedua tangannya dilipat di perut. Langsat betisnya membuat jakunku berkedut.
"Aku capek," lirih suaranya membuatku terkesiap. Olala, lihatlah sinar matanya yang meredup.
"Capek kenapa?" Dia bungkam seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu tahu, usiaku sekarang tiga puluh lebih. Teman-temanku sudah menikah dan punya anak. Sementara aku masih sendiri. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, sampai kapan hidup seperti ini."
Aku seperti melihat kerupuk jatuh dalam kuah sayur. Sambil meringis dan memalingkan wajah, Risia menyindir dirinya sendiri. Jangankan calon suami, sudah setengah windu ini dia tak punya pacar. Orangtuanya kerap menyentil hal itu. Celoteh teman-temannya pun kadang membuatnya risih. Itulah alasan Risia pindah ke rumah ini. Dia tak ingin hidup di bawah tekanan.
Dia ingin sendiri menikmati sepi.Kuingatkan padanya bahwa dia bakal kecewa jika mencari lelaki sempurna. Dia tak akan menemukannya. Malah bisa jadi bumerang yang menyiksa dirinya sendiri. Kusindir juga sikapnya yang terlalu selektif memilih pasangan. Sudah waktunya ia membuka hati untuk lelaki yang tulus mencintainya. Terimalah kekurangannya dengan ikhlas. Toh mereka bisa memperbaiki kekurangan itu bersama-sama.
**
"Aku pergi berenang dengan keponakan-keponakanku. Roti bakar dan kopi sudah kusiapkan di meja makan. Jangan pulang sebelum aku datang."
Aku bangun tidur jam sembilan lewat. Dia tinggalkan pesan di secarik kertas yang diselipkan di bawah ponselku. Tulisan tangan yang rapi dan tegas. Gila, pikirku sambil mengucek-ngucek rambut. Aku ditinggal sendirian dalam rumahnya. Apa dia tak kuatir kalau aku berniat jahat? Kutelepon Risia. Ponselnya tak aktif. Aku mendengus.
Kuambil kopi yang hampir dingin di meja makan, lalu kembali ke ruang tamu. Selain satu set sofa, di ruang itu ada aquarium berisi sepasang koki dan lemari jati menempel di tembok. Ada empat figura kecil menghiasi lemari. Semuanya berisi gambar Risia dalam berbagai pose. Tiga tumpuk album foto itu menggodaku. Iseng-iseng kuraih semuanya. Tak lama kemudian, aku sudah menyibak lembar demi lembar album itu.
Tak ada yang menarik dalam album pertama dan kedua. Foto pernikahan kakak Risia serta foto keluarganya waktu liburan. Album ketiga membuatku terperangah. Semua foto di dalamnya tak utuh lagi. Foto-foto itu tanpa wajah. Ada yang di gunting bulat, kotak, atau segitiga. Ada juga yang entah bekas sundutan rokok atau obat nyamuk. Dari pakaian dan postur tubuhnya, aku yakin semua foto tanpa wajah itu adalah foto lelaki.
Risiakah yang melakukannya? Jika benar, apa alasannya? Apa pula yang berkelindan dibenaknya saat menyilet, menggunting, atau menyundut wajah-wajah itu? Tiba-tiba aku dicekam perasaan asing dan rawan.
Risia pulang. Senyumnya mengembang. Rambutnya basah. Kepalaku yang belum diguyur air membayangkan sosoknya di kolam renang tadi. Air mukanya berubah melihat album yang teronggok di meja. Aku minta maaf telah lancang melihat-lihat isinya.
"Ini semua foto mantan pacarku. Dari yang pertama sampai terakhir. Dari yang iseng atau serius. Semuanya telah mematahkan hatiku."
"Kenapa wajah mereka kau guntingi dan kau sundut-sundut?"
Risia tersenyum menyeringai. "Yah, tak ada salahnya melenyapkan wajah-wajah itu ?kan? Anggap saja sekadar ungkapan rasa muak terhadap mereka."
Aku menelan ludah. Kecut. Tiba-tiba kuingat sesuatu. Ada selembar foto masih utuh di halaman terakhir. Digelitik penasaran, kutanya padanya, "Kenapa wajahku tak kau bolongi juga?"
Risia nampak salah tingkah. Sepi bernyanyi. Aku menunggu hingga terdengar suaranya yang lirih, "Mau tahu kenapa?" Dia menghela nafas, lalu melanjutkan kalimatnya, "Dari semua lelaki yang pernah jadi pacarku, hanya ada satu orang yang kupatahkan hatinya, dan lelaki itu adalah kamu?."
Kami saling bertatapan. Mata elangnya perlahan sayu. Aku termangu. Duh, bibir merah jambu itu. Aku tergoda untuk menguncinya dengan bibirku.
"Ah, jangan geer atau sentimentillah. Toh, satu saat nanti, fotomu juga akan bernasib sama dengan yang lainnya. Itu cuma soal waktu saja."
Aku terperangah. Khayalan yang sedang kususun langsung hancur berkeping-keping usai Risia melontarkan kalimat itu. Tiba-tiba aku merasa sedang tersesat dalam masa lalu. Mungkin sudah saatnya aku pulang, sebelum naluriku makin jalang dan wajah anak istri kian membayang.***










Komentar Pengunjung