indo-emirates

KAMPUNG MALING @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • KAMPUNG MALING

    Posted on April 14th, 2007 admin No comments

    aku anak si raja maling
    makan emping sama belimbing
    aku lahir di kampung maling
    plesiran kencing kayak anjing
    aku besar di kampung maling
    kursi kupaling biar happy endingaku jadi raja maling
    tak maling tak eling tujuh keliling
    aku si raja maling
    tender dan kepeng berkeping-keping

    akulah si raja maling
    bawa klewang tanpa tedeng aling-aling

    Ya, akulah si raja maling di kampung maling
    nyari ratu maling mas kawinnya anting-anting!

    ***

    Raja maling dan kedua ajudannya baru saja kembali dari “Operasi  Maling Jaya X”.

    Mereka tampaknya sukses. Ajudannya  ngegembol satu buntelan berisi harta curian dan yang seorang lagi menggendong sebuah kursi mewah dan mahal. Raja Maling berdzikir dan menari-nari sambil merayakan kesuksesannya, “Aku Raja Maling, lahir di kampung maling…. Aku raja maling, lahir di kampung maling…..” 

    Kedua ajudannya juga ikut menari.. Setelah lelah menari, Raja Maling duduk di kursi kerajaannya. Kedua ajudannya, yang juga kelelahan, duduk di lantai sambil menjulurkan lidah dan meneteskan air liur seperti anjing geladak.

    “Mana kursinya?” tanya Raja Maling bersemangat. “Aku kepingin ngerasain duduk di kursi itu! Kau curi dari mana kursi itu?”

    Ajudannya menghampiri dan menyodorkan kursi curian. “Nih, Abah. Kursinya saya curi dari Ciceri[1]!”

    “Hah! Ciceri? Di sana ‘kan gedong dewan! Gelo siah!”

    “Silahkan dicoba, Abah. Tapi hati-hati, kursinya masih panas!”

    “Hah! Masih panas?” Raja Maling terkekeh-kekeh.

    Ajudannya mencium aroma kursi, “Hmmm, baru pisan. Kayaknya, belum ada lima menit. Nih, rasakan saja, Abah,” katanya meraba permukaan kursi. “Bener-bener masih panas. Tapi, cuaca lagi dingin begini, pantat Abah pasti… nyeeeeeessssss… .”

    Raja Maling terpengaruh. Dia meletakkan pantatnya dengan nikmat. Kedua kakinya nyelonjor, “Aaaah! Bener ceuk maneh! Nikmaaaaaaat! Ini kursi bikin pantat lebih pantat! Terasa betul! Nyeeeeeeees! Ooooh!” dia seperti sedang merasakan kenikmatan luar biasa. “Rasanya sorga teh hanya lima menit dari pintu tol Serang Timur!” dia seolah sudah berada di sorga.

    Ajudan keduanya mendekati Raja Maling dengan tidak sabar. Gembolannya ditarik lebih dekat. “Saya  bagaimana, Abah? Dibuka sekarang? Kalau kelamaan, nanti jadi basi  curiannya.”

    Raja Maling melihat ke gembolan, “Coba, coba kau buka!”

    Ajudan kedua dengan semangat memasukkan tangannya ke dalam gembolan. Tak lama tangannya ditarik ke luar. “Ini henpon, Abah,” sebuah hand phone di genggaman tangannya.

    “Hengpong? Aku butuh duit kontan! Buat modal kawin lagi!”

    “Abah! Benda ini juga bisa Abah pake buat mas kawin!”

    “Atau, buat pendekatan!”

    “Kan Abah sekarang lagi naksir berat sama anak Untirta[2]. Dengan henpon, Abah bisa pe de ka te!”

    “Bisa buat pe let juga, Abah!” ajudan keduanya nimbrung. “Anak-anak kampus sekarang ‘kan lagi tergila-gila sama henpon!”

    Raja Maling trtawa sambil merebut HP. “Bisa jadi pelet, ya! Hebat pisan! Ayo, apa lagi isi gembolan kamu itu! Cepat, keluarin” tanyanya tak sabar.

    Si Ajudan Kedua mengaduk-aduk lagi isi gembolannya. Kini sebuah buku ada di tangannya. Dahinya berkerut. Dia dengan ragu-ragu menunjukkannya ke Raja Maling.

    Raja Maling tertawa lucu, “Hah? Buku!” Abah merebut buku itu dari tangan ajudannya. Dia tersenyum. “Buku pelajaran! Lumayan buat cucu Abah! Mereka baru masuk SD tahun ini!” Dia melihat ke ajudannya, “Banyak yang kau curi?”

    “Ada ‘kali se-Banten. Cukup nggak, Abah?”

    “Se-Banten?” kening Raja Maling berkerut. “Kenapa nggak se-Indonesia saja?”

    Ajudan yang tadi mencuri kursi mengingatkan, “Nggak bisa, Abah! Itu melanggar kode etik permalingan! Wilayah permalingan kita, ya… di Banten!”

    Raja Maling manggut-manggut.

    “Ada lagi, Abah,” ajudannya merogoh lagi gembolannya. Lalu dia mengeluarkan secarik kertas. “Ini surat,” katanya memeriksa amplopnya. “Buat Abah…….”

    “Hah! Surat? Buatku?” Raja heran sambil merebut suratnya. “Sini!” Dia membolak-balik amplop putih itu. Mencari-cari nama si pengirimnya. “Nggak ada!” Lalu dia merobek pinggiran amplopnya. Membacanya:

    Assalamualaikum, Raja Maling. Surat ini kutulis saat lapar. Dengan tinta darahku dan kertas kulit tubuhku. Aku adalah pengagummu. Fotomu kutempel di gubuk deritaku. Sebelum kau mati. Tolong tulis outobiografimu. Juga kiat-kiat ‘Bagaimana menjadi Maling Yang Baik’. Supaya aku bisa menjadi penerusmu.

    Wassalam.

    Hidup Maling.

    Tertanda…

    Calon Raja Maling Banten tahun 2020.

    Anak dari istri kesebelasmu.”

    Raja Maling melemparkan kertas itu ke udara sambil tertawa dan menari-nari.  “Hah! Ternyata si pengirimnya calon Raja Maling Banten 2020! Anak dari istri kesebelasku! Aku pasti
    sudah mati saat itu!”

    Kedua ajudannya hanya saling pandang.

    “Apa lagi?

    Ajudan keduanya menyerahkan buku lagi.

    “Kok, buku lagi?”

    “Tapi, ini buku kumpulan puisi, Abah…”

    “Kamu ini kurang kerjaan, apa! Masak buku kumpulan puisi kamu curi juga! Kalau buku cek, boleh itu!”

    “Adanya cuma buku puisi, Abah.”

    “Ya, sudah! Baca puisinya! Aku jadi pingin tahu, mirip sama surat cinta, nggak!” Dia menyerahkan buku puisinya.

    “Saya? Baca puisi?” ajudannya merasa aneh.

    “Iya! Baca puisi! Jangan Cuma bisa jadi maling aja kamu!”

    Ajudannya mengangguk-angguk sambil membuka halaman demi halaman. Temannya yang tadi kebagian rezeki kursi hanya tersenyum-senyum menahan tawa.

    “Judul puisinya, Abah……. ‘BANTEN 2020’.”

    “Banten 2020? Wah, apa ada hubungannya dengan anak dari istri kesebelasku, ya?”

    “Mungkin saja, Abah.”

    “Ya, sudah. Cepat, baca!” Raja Maling duduk lagi di kursi panas. Kedua matanya terpejam.

    Ajudannya membaca puisi dari buku yang dicurinya. Suaranya terpatah-patah, karena tak mengerti apa di balik makna kata-kata itu. Tapi, dia sangat serius mebaca puisi itu:

    Aku menjadi Sultan Banten

    berdiri di bandar Karanghantu

    menanti putri cantik jadi permaesuri

    mas kawinnya Kaibon dan Tasik Kardi

    Aku menjadi Sultan Banten

    genderang perang kutabuhkan

    Batavia kutaklukkan jadi jajahan

    dendam pada sejarah terlunaskan

    Aku menjadi Sultan Banten

    kulintasi angkasa menuju negeri keju

    kukangkangi cucu-buyut penemu rodi

    Anyer-Panarukan tertoreh luka di hati

    Aku menjadi Sultan Banten

    tanpa rakyat dan istana.

    Lalu hening. Ombak berdebur lembut di kejauhan. Raja Maling bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela. Dia menyingkap tirai. Dari sini dia bisa leluasa melihat puncak gunung Krakatau. Tapi, dini hari begini, tak ada yang bisa dia lihat kecuali warna hitam yang rata.

    “Sudah bacanya, Abah…”

    “Apa itu maksudnya?” Dia menirukan membaca satu baris puisinya. ““Aku menjadi Sultan Banten! Tanpa rakyat dan istana!”

    “Saya juga nggak ngerti, Abah.”

    “Pusing! Bikin pusing!”

    “Abah….. , ini kan puisi. Cuma kata-kata saja. Nggak usah dipikirin.”

    “Aku ini sudah tua!” dia menggelengkan kepalanya. “Tapi…, coba, sini bukunya!”

    “Buku puisi, maksud Abah?”

    “Iya! Sinikan!

    Ajudannya menyerahkan buku puisi ke Raja Malang.

    “Buat apa, Abah?” ajudannya yang lain merasa heran.

    “Giliran aku baca puisi! Maling-maling juga, aku ini masih seneng berkesenian! Setidak-tidaknya, orang yang berkesenian itu…., cepet tobatnya kalau salah jalan!”

    “Maksud Abah?” kedua ajudan itu berbarengan bersuara.

    “Kalau orang cinta pada kesenian, hatinya itu tidak keras seperti batu. Tapi, halus. Cepat tersentuh. Kalian lihat aku ‘kan. Seluruh kekayaan hasil curianku, tidak semuanya masuk ke perutku saja. Tapi juga aku berikan buat orang-orang miskin, bikin gedung sekolahan, menyantuni anak yatim, membangun mesjid, merenovasi pesantren, memperbaikin jalanan yang rusak…..”

    Ajudan yang berhasil mencuri kursi di Ciceri tampak sangat antusias sekali bertanya, “Tadi Abah bilang ‘tobat’? Apa kuping saya salah dengar?”

    Raja Maling tertawa keras. “Iya, tobat! Kenapa? Aku ini mau mengundurkan diri jadi Raja Maling. Mau ngurus anak-cucu sama kesebelasan istriku! Mumpung masih jaya aku ini! Pensiun dini, boleh kan? Udah kaya ini!”

    “Terus, yang jadi Raja Maling?” serempak mereka mengajukan pertanyaan.

    “Saya ‘kan, Abah?”

    “Pasti saya. ‘Kan lebih lama dari dia!”

    “Biar dia lebih senior, tapi saya kan yang lebih sering nyuri kursi, Abah!”

    pan>

    “Heh, dengar, ya! Buat aku, siapa saja yang jadi ‘raja maling’, itu tidak penting. Tapi yang paling penting, kalian mesti nyogok aku dulu! Nyuap!”

    “Nyogok? Nyuap?” mereka tidak percaya. “Pake apa?”

    “Pake bambu! Dasar goblok! Ya pake duit, tau! Siapa yang sogokannya lebih besar, dia yang jadi penggantiku!”

    “Kapan Abah mundur?”

    “Setelah baca puisi ini!” Raja Maling melihat ke buku puisi. “Wis! Aku baca puisi dulu! Judulnya… ‘Berkacalah Bantenku’.” Lantas dia membaca puisinya:

    Berkacalah, Bantenku

    ketika fakta jadi isapan jempol

    jari tangan tertuding pada siapa saja

    kemudian berakhir di meja restoran/mereka berkata:

    Biarkanlah rakyat jelata yang sengsara

    toh, mereka bebas berunjuk rasa!

    Berkacalah, Bantenku

    meski cermin warisanmu hancur

    kita cuma perlu beristighfar rame-rame

    tak perlu tahu siapa yang bikin dosa

    karena moral kita mikul duwur mender jero

    Berkacalah, Bantenku

    keriputmu ada di timur penuh sampah limbah

    jalan Pontang yang bikin pinggul bergoyang

    Teluk Banten yang bikin ikan mabuk

    Cilegon dan Baja yang bergolak

    Berkacalah, Bantenku

    kau tak perlu malu

    Selesai membaca sajak, Raja Maling melihat ke anak buahnya. “Bagaimana, bagus?” senyum di bibirnya mengembang. Tampak ada rasa puas di mimik wajahnya. Dia menghirup udara pantai yang berhembus masuk lewat jendela hotel kamar suitenya. Terasa lega dadanya.

    Tapi belum juga kedua ajudannya menjawab, tiba-tiba saja pintu markasnya didobrak dari luar. Semuanya serba cepat dan tiba-tiba. Empat orang lelaki berbaju serba hitam dan bertopeng menerobos masuk. Golok berseliweran ke udara.

    CRAS, C

    RAASSS, CRAAASSSS!

    Darah muncrat ke segala sudut ruangan. Maling tergeletak bersimbah darah. Kedua tangannya mendekap buku puisi di dadanya. Senyumnya tersungging. Keempat lelaki berpakaian serba hitam itu berdiri mengelilingi tubuh tak bernyawa itu. Sedangkan kedua ajudannya terkencing-kencing di sudut ruangan..

    “Ke sini kan kursinya!” terdengar suara seorang perempuan.

    Semua orang melihat ke pintu yang rusak. Seorang wanita cantik masuk. Dia memakai rok selutut dan blaser warna cerah. Di lehernya ada syaal made in luar negeri. Minyak wanginya semerbak menyapu seisi ruangan.

    “Ini kursinya, Ratu,” seorang berpakaian hitam menggendong kursi yang dicuri di Ciceri dan meletakkannya di depan wanita itu.

    “Raja Maling!” kata si Wanita sambil duduk. “Sekarang akulah si ‘Ratu Maling’. Anak dari istri pertamamu!”

    Seisi kamar terdiam.

    ***

    Rumah dunia – Ciloang Serang, February 2003

    [1]) Seperti halnya Senayan dengan gedung MPR/DPR, Ciceri adalah nama kawasan di bagian timur kota Serang, dimana gedung DPRD Banten berkantor.

    [2]) Untirta adalah Universitas Tirtayasa, sbuah perguruan tingi negeri di Serang.

     

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.