-
Kemuliaan Di Balik Cacian
Posted on May 18th, 2007 No commentsDiantara kaum kita ada yang hobi mencaci-maki. Rasulullah, jarang membalas cacian orang. Di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih kemuliaan.
Seorang laki-laki datang menemui Abu Bakar. Tanpa ba-bi-bu lelaki tersebut mencacimaki salah seorang sahabat nabi yang sangat beliau cintai ini. Rasulullah Salallaahu alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya, tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja.
Namun ketika kata makian semakin banyak Abu Bakar pun meladeninya. Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar itu.Beliau berdiri dan Abu Bakar mengikutinya.
"Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah?" tanya Abu Bakar. "Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling dari padamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tak sudi duduk bersama syaitan itu," jawab Rasul. Kemudian beliau meneruskan nasihatnya, "Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran." (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari)
Ridha
Tidak ada suatu pun kejadian, bahkan selembar daun yang terjatuh pun, melainkan sudah di dalam skenario Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu pula apa pun yang menimpa kita dalam hidup keseharian. Mulai dari peristiwa besar hingga yang kecil semua telah direncanakan oleh Allah.
Karena itu sikap orang yang beriman dalam menghadapi segala kejadian diterimanya dengan hati lapang dan ridha; sebagai hidangan dari Allah. Musibah yang secara lahiriah merugikan, bagi orang yang bersabar justru ladang mendapatkan pahala di sisi-Nya.
"Kami (Allah) akan memberikan kepada orang- orang yang berhati sabar itu pahala menurut amalan yang telah mereka kerjakan dengan sebaik- baiknya."
(Surat. An Nahl: 96)Salah satu kejadian yang mungkin sering terjadi dalam pergaulan adalah perkataan yang tidak menyenangkan, caci maki misalnya. Agar tidak sia-sia, menghadapi hal seperti ini perlu sikap yang tepat. Sikap Abu Bakar yang mampu bersabar menahan diri dan diam saja, membuat Rasul tersenyum. Namun pada saat Abu Bakar mulai meladeni caci makian, Rasul pun menunjukkan sikap tidak menyukainya. Padahal yang dilakukan Abu Bakar hanya meladeni sebagian
kata-katanya saja. Lalu bagaimana dengan sikap kebanyakan kita selama ini?Boro-boro menahan diri. Bahkan seringkali lebih emosional dan balasan spontan yang dilancarkan justru lebih gencar dari umpan caci makiannya. Dengan muka merah dan suara marah meledak-ledak meluncurlah kata-kata yang ebih tajam lagi. Bukan hanya menjawab sebagian kata-kata, tetapi satu kata malah dibalas dengan sepuluh kata. Naudhubillah.
Sikap emosional dan kehilangan kendali seperti itu, merupakan tanda kurang
ridha dengan kejadian. Kita lupa bahwa apa yang terjadi sesungguhnya
merupakan kiriman Allah untuk menguji sikap kita. Saat emosional seperti itu
pusat orientasi bukan lagi ingin meraih ridha Allah, tetapi sekadar
melampiaskan hawa nafsu.Dar der dor yang penting terpuaskan. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana sikap Rasul andai bersama kita. Yang beliau lakukan barangkali tidak hanya bangkit dan berdiri, tapi berlari menjauh. Sebab setan yang merubung kita terlalu banyak.Dengan menyadari bahwa tiada kejadian yang kebetulan kecuali atas kehendak Allah, hati akan ridha. Sikap inilah yang dibutuhkan agar kita tetap terkendali.
Bayangkanlah bahwa kita sedang menyaksikan episode sinetron tiga dimensi luar biasa yang diskenario oleh Allah. Nikmatilah caci makiannya seperti sedang menyaksikan bintang yang berakting di layar kaca. Bila mulai terpancing, ucapkan istighfar dan orientasikan hati pada ridha Allah, tentu akan membuat pikiran lebih tenang. Dengan suasana spiritual seperti itu malaikat yang bersama kita tetap mendampingi.
Sikap marah-marah dan emosional, justru menjerembabkan kita pada kenistaan.
Maunya membela kehormatan, tetapi dengan ucapan balasan yang lebih tajam
justru menunjukkan kualitas ruhani kita.Malaikat malah menyingkir dan yang datang merubung malah setan. Tidak hanya kehilangan kehormatan di depan manusia, tetapi juga di depan Allah dan Rasulnya.Memilih
Seringkali respon tindakan seseorang ditentukan oleh keadaan. Kalau yang diterima caci maki maka reaksinya juga caci maki. "Yah, kami tidak ada pilihan lagi kecuali membalasnya. Dia telah menghina kehormatan kami, maka kami pun menghinanya untuk membela diri." Demikian alasan yang dikemukakan.
Manusia sesungguhnya tidak semata ditentukan oleh lingkungan, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Bahkan sebagian orang malah mampu mempengaruhi lingkungan.
Mereka mencairkan lingkungan yang beku, memperbaiki keadaan yang buruk. Menghadapi keadaan yang ada manusia diberi kemampuan memilih. Saat menghadapi caci maki, seorang dapat merenungkan dalam hati, apa tindakan terbaik yang ingin dilakukan; diam atau membalas.
"Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang
menentreramkan jiwa dan hati. Dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan
meragukan hati." (HR.Imam Ahmad)Kita akan dapat memilih tindakan terbaik jika dilandasi sikap ridha. Dengan
menyadari bahwa semua dari Allah akan membuat hati tetap bening dan pikiran
juga jernih. Akhirnya yang muncul tindakan terpilih.Suara hati yang mendorong nilai-nilai kebaikan tetap terdengar. Pikiran pun
dapat memilih kata yang paling tepat dan lisan mengucapkannya dengan indah,
tidak asal nerocos. Tentu saja akan berbeda halnya jika caci maki dihadapi
dengan sikap emosional. Hati dikuasai hawa nafsu dan amarah sedangkan
pikiran pun jadi kotor. Akhirnya yang mengalir di lisan adalah kata-kata
kotor bahkan lebih tajam lagi.Sebenarnya, seorang yang mencaci maki dengan kata-kata kotor tidak akan
membuat orang lain rendah kecuali merendahkan dirinya sendiri. Kata-kata
kotor yang keluar dari mulut, lebih menunjukkan siapa yang mengatakan dari
pada siapa yang dikata-katai. Kotor kata-katanya, berarti kotor pula
pikirannya. Jadi sebenarnya tanpa membalasnya, sudah cukup orang lain
menilai siapa yang sesungguhnya lebih buruk itu. Tapi bila kita membalas
caci makian itu dengan caci maki yang lebih tajam dan berlebihan, malah
menunjukkan keburukan sisi jiwa kita. Sikap berlebihan dalam membalas itu
justru membuat kita sama-sama terjerembab bersama orang yang mencaci itu.
HikmahAllah menghadapkan kita pada keadaan yang tidak kita senangi itu tentu ada
hikmahnya. Dengan sikap ridha kita dapat menjadikan caci maki sebagai alat
evaluasi diri. Tidak mudah lho melihat kekurangan diri. Dari yang dikatakan
itu mungkin ada yang tidak sesuai, tapi beberapa bagian sebenarnya agak
sesuai juga. Bahkan kalau mau jujur kita masih perlu bersyukur; bahwa Allah
masih menutupi aib-aib kita. Apa yang dikatakan itu sebenarnya belum
seberapa dari semua kekurangan kita. Dengan demikian kita terhindar dari
sikap sombong dan sok sempurna. Kita tersadar merasa masih banyak kekurangan
dan lebih terpacu lagi memperbaiki diri.Dicacimaki juga memberi pengalaman tak telupakan. Ternyata kata-kata tajam
itu bisa membuat hati ini terluka. Barangkali tanpa kita sadari kita pernah
mencaci maki teman atau orang lain, dan kemudian melupakan begitu saja
setelah melampiaskan. Padahal luka hati akibat caci maki itu sulit
disembuhkan.Nah, jika kita merasa tidak enak dicaci maki, sadarlah bahwa orang lain pun
seperti itu juga. Karenanya terdorong dari pengalaman berharga itu segeralah
bertobat dan mintalah maaf kepada orang yang pernah kau sakiti. Engkau tidak
akan bisa menanggung beban di akhirat kelak menghadapi pengadilan Allah.
Amal-amalmu habis beralih tangan pada orang lain yang kau dzalimi itu.
Sedangkan dosa-dosa orang yang kau dzalimi ditimbunkan pada dirimu. Itulah
orang yang bangkrut menurut Rasul.Setelah mendapatkan hikmah yang sangat besar itu, kita pun dapat lebih
berlapang dada. Caci makian yang menimpa kita itu ternyata seperti jamu.
Meski terasa pahit, ternyata dapat menyehatkan jiwa. Oleh sebab itu kita
perlu berlatih bagaimana sikap terbaik menghadapi caci makian agar kejadian
yang diskenario Allah itu tidak sia-sia. Justru menjadi ladang kita mendapat
kemuliaan dan kebesaran di sisi-Nya.Dicontohkan dalam sejarah; kita ketahui Rasul pun tak luput mendapatkan
makian bahkan lebih keras lagi. Penduduk Thaif yang diajaknya pada kebenaran
tidak menyambutnya dengan baik, justru menyambutnya dengan olokan, lemparan
batu dan potongan besi. Wajah, badan dan kaki beliau pun berdarah-darah.
Namun yang dilakukan beliau tidak membalasnya tapi justru mendoakan;
Allahummahdi qawmi. Innahum laa ya'lamuun."Ya Allah berilah petunjuk kaumku itu. Karena sesesungguhnya mereka tiada
mengetahui."Caci makian tidak membuat beliau terhina, malah sebaliknya membuat namanya
kian mulia dan besar. Coba bayangkan jika Rasul juga membalasnya dengan
olokan emosional yang lebih tajam, tentu akan lain ceritanya.Memang terasa sulit membayangkan. Namun bila kita menyadari hikmah yang
demikian banyak di balik cacian.Rasanya orang yang mencaci maki kita itu memang tak layak dibalas dengan
cacian. Karena di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih kemuliaan
dan kebesaran di sisi Allah yaitu dengan bersabar.Jadi sudah selayaknya orang yang membukakan peluang kesadaran, dan kemuliaan
itu kita maafkan. Bahkan kita bisa mendoakan semoga dia mendapatkan ampunan
dan hidayah dari Allah menjadi lebih baik. Bukankah doa orang yang
terdzalimi makbul? [Hanif Hannan. Tulisan ini diambil dari rubrik 'Hikmah'
majalah Hidayatullah/ www.hidayatullah .com









Komentar Pengunjung