indo-emirates

TAMBAH ATAU KURANG? @ Indo-Emirates
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • TAMBAH ATAU KURANG?

    Posted on May 19th, 2007 admin No comments

    Sebuah potret kekinian manusia

    Lawang Bagja Al-Boghori

    Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa.

    Sebuah potret kekinian manusia

    Lawang Bagja Al-Boghori

    Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa. Evolusi tentu meyakini terjadinya perubahan fisik disebabkan rangkaian peristiwa mulai dari adaptasi, survival dan seleksi alam. Dari situlah makhluk mengalami perubahan diam-diam. Seperti sebuah reaksi paralel dimana makhluk yang ada merupakan hasil ‘jelmaan’ makhluk sebelumnya. Contohnya pada manusia yang menurut Darwin berasal dari monyet. Kemudian berkembang menjadi monyet yang agak berdiri, monyet yang berdiri tegak, monyet doyan nasi hingga akhirnya monyet yang sudah bisa mikir en’ bisa bikin handphone. Seandainya Darwin benar maka manusia atau monyet menurutnya itu tentu masih berkembang bukan? Mengalami proses adaptasi, survival, dan seleksi alam.

    Saya masih mereka-reka ‘monyet’ abad mendatang seperti apa. Apa kepalanya besar, jari tangan besar, mata belo, badan dan kaki mengecil. Kepala besar karena terus dipaksa mikir. Trilyunan impuls saraf kita dipaksa berpikir mulai dari urusan kerja, keluarga, anak, bisnis, hobi, ekonomi, politik, dan seabreg lainnya. Manusia sekarang memang cenderung banyak pikiran tapi tidak berbuat. Jari tangan besar karena era sekarang serba era tombol, remote, keyboard seperti laptop yang saya pakai sekarang. Pokoknya tinggal ‘klick’ saja!. Sehingga menjadi wajar kemudian diapresiasi ke dalam sebuah film. karena film memang produk budaya. Selanjutnya mata belo, badan dan kaki mengecil. Karena manusia sekarang memang dimanjakan indera penglihatan dan pendengarannya. Lihat saja nanti era TV plasma dan layar monitor ke depan mungkin muncul yang lebih gress. Terakhir badan dan kaki mengecil karena manusia semakin males. Di sini nanti muncul dua jenis. Yang males diet dan yang rajin diet atau ngirit. Tentunya dengan memakai alasan Darwin sendiri bahwa penyimpangan jenis pasti selalu ada. Biasalah..teori kan tidak ada yang sempurna. mungkin begitu katanya.

    MANUSIA ‘SEMESTA’

    Tapi lupakan yang diatas! saya dan anda tentu tidak setuju dengan si Darwin bukan?. yang setuju silahkan membayangkan keturunannya ke depan mengalami proses seperti di atas. Yang tidak, mari kita menyelami potret ‘kekinian’ manusia saat ini. Sebuah potret ekosistem dimana bumi yang menjadi sentral kehidupan semesta. Dimana jagat raya dan seisinya dengan milyaran atau bahkan trilyunan galaksi yang berada di dalamnya sedang menunggu kepastian ‘kelangsungan cerita dari sebuah planet kecil bernama bumi. Saat bumi hancur maka hancur pula semesta!. Mengapa? karena manusia adalah project akhir yang paripurna dari sekian trilyun hingga tak terhingga makhluk tuhan. Anda jangan berpikir tentang E.T. atau makhluk planet lain yang ’similarly’ seperti manusia. Mengolah, memproduksi, mendistribusi, semua makhluk tuhan yang ada. Lupakan tentang film-film planet serta proyek luar angkasa yang meracuni fikiran kita. Pastikan hanya manusia adalah ‘the last product’ and nothing else…!

    Allah menciptakan manusia dalam kapasitas yang luarr biasa. Space memori dan processornya masih belum optimal dipakai hingga saat ini. Hanya baru 1% (satu persen) yang digunakan dan itu sudah mampu mengantarkan manusia ke bulan. Kita memang ‘disiapkan’ untuk mengelola semesta. Mengelola bukan berarti menghancurkan. Mengelola juga bukan berarti memanipulasi apalagi menjadi biang kerok kehancuran semesta dan seisinya. Ya!, manakala dunia hancur maka ‘ekosistem’ semesta akan hancur pula. Tidak ada kehidupan lagi. Bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa manusia produk terakhir yang Ia ciptakan di atas semesta. Di mana sudah ‘dipersembahkan’ alam beserta isinya?. Apa yang kurang jika kita mau berfikir anugerah ang diberikan Sang Pencipta? gas dengan komposisinya yang ideal dimana nitrogen yang mendominasi bukan oksigen. Air yang Ia ciptakan sudah sedemikian rupa bentuk dan jumlahnya. Yang diporos bumi sengaja Ia padatkan menjadi es agar masih tersisa daratan untuk manusia. Di dalam bumi ia jadikan api sebagai inti. Bayangkan, di dalam bumi ada api yang menggelora dan di atasnya permukaan air!. Kita masih bisa hidup dengan nikmat di atasnya. Semuaaa… yang ada memang untuk melayani manusia. Ya!, kita adalah aktor utama.

    TAMBAH ATAU KURANG?

    Tanpa disadari fitrah kita sebagai manusia berusaha untuk mengingatkan diri kita sendiri. Seperti film hasil kreasi manusia. Sang sutradara dengan penulis skenarionya bersepakat, aktor utama adalah yang menentukan jalan cerita. Karena ia maka cerita itu ada. Jika aktor utama mati maka habislah cerita. Jadi ia akan terus dijaga agar tetap hidup. Dalam film, sutradara dan penulis skenario pun bersepakat bahwa ending adalah keniscayaan. Durasi membatasi gerak cerita. Tinggal bagaimana menentukan sebuah akhir cerita? bahagia? sedih? tercapaikah tujuannya?. dalam skenario sekarang sudah tidak lagi dikenal alur cerita 3 babak. Sekarang sudah menjadi alur 9 babak. Sedemikian mirip dengan kisah nyata sesungguhnya dengan lakon yang kita jalani sekarang.

    Kesalahan manusia yang utama adalah mis persepsi dengan konsep waktu. Kita selalu menghitung maju untuk waktu yang akan datang. besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dekade akan datang, dst. Semua dianggap sebagai masa pertambahan. Bahwa umur kita nambah, harta kita nambah, anak nambah, pokoknya bicara ke depan semua harus nambah!. Di tempat kerja, produksi harus nambah!, di toko, penjualan harus nambah. Gaya hidup juga ikut nambah. Kita memang asik menambah. Dengan asik menambah itulah maka kedengkian, kebencian, rakus dan tamak menjadi lahir. Siapapun tak ada yang mau dikurangi. Negara tak mau berkurang luas wilayahnya, Provisi tak mau berkurang pendapatannya, dst. Sehingga dari persoalan ’sepele’ tambah dan kurang’ inilah gejolak kita lihat dimana-mana. Israel ingin bertambah luas wilayahnya, Palestina tidak mau dikurangi hak miliknya. Amerika ingin bertambah pasokan minyaknya maka mereka kirim pasukan ke Irak, dan masih banyak lagi. Anda bisa mengambil contoh masing-masing.  

    Lalu seperti apa konsep sebenarnya tentang waktu? waktu 

    itu selalu berjalan mundur alias berkurang. Seperti saya ibaratkan tentang film tadi, Sang Sutradara sudah menentukan durasi film. Tapi Ia memberi pilihan kepada pemeran utama, akhir cerita apa yang kau inginkan?. Kita saat ini mungkin ada disuatu scene atau bagian dari akhir dari cerita dimana jam tayang sebentar lagi akan habis. Artinya masa depan adalah masa akhir. Ke depan, umur berarti berkurang, kekuatan berkurang, harta kita? berkurang! apakah ada orang mati yang menikmati kekayaan?, semua berkurang.  Maka kurangilah nafsu yang menggelora di dadamu. Buanglah kebencian dan kedengkian di hatimu. Ternyata keharmonisan hidup serta kenikmatannya makanala kita memahami hidup bukan untuk saling menguasai (baca; menambah). Justru dengan saling memberi (baca; mengurangi). Saat semua ingin saling memberi (mengurangi) maka tak ada kekacauan serta hiruk pikuk ketidakpuasan. Ingat!, kita adalah aktor utama. Jika keserakahan dan kedengkian menguasai penduduk bumi serta isinya maka ending cerita dari planet ini sudah demikian dekat. Tak ada lakon utama, cerita pun habis.

    Bahwa film ada endingnya itu tentu. Tapi siapa yang tahu ending cerita dari semesta? itulah mengapa Rasul Muhammad yang mulia memberikan tanda-tandanya. Jika kerusakan merajalela, manusia seperti binatang, membunuh dan menguasai, saling menipu dan mencurangi, dst. maka ending sudah dekat. Dan jagat raya menunggu kepastian lakon cerita manusia…

    Wallahu a’lam

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.