indo-emirates

WANITA PELARIAN @ Indo-Emirates
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • WANITA PELARIAN

    Posted on May 28th, 2007 admin No comments
    Panas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa sekali membuat kulit perih. Namun tak ada pilihan aku harus meneruskan pelarian ini.
    Sebuah truk gandengan lewat dan menyembunyikan klakson di depanku. “Ton..ton..!”. Aku diam tak bergeming. Kulirik truk menepi. Aku tahu sang supirnya menawarkan tumpangan. Sesaat ada keraguan dalam hati. Biasanya supir-supir di negeri ini dari Pakistani. Tampangnya lumayan cakep dengan postur tubuh tinggi besar. “Tapi.., ah! biasanya mereka memanfaatkan wanita sendirian sepertiku saat ini untuk melepaskan nafsu birahi”.
    Terdengar kembali bunyi klakson berungkali. Aku berusaha berpikir cepat. “Toh, sekalipun polisi yang lewat mereka pun pasti akan memperkosaku sebelum mengirimku ke penjara atau kemajikanku. Itu artinya usaha pelarianku sia-sia. Aku harus bisa sampai lebih cepat ke embassy!”. 
    ****

    Dari tadi kulihat supir truk seyum-senyum melihatku.  Mencuri pandang lewat kaca spion. Bau badan khas imigran Asia Tengah beraroma biryani membuat nafasku terasa pengap. Kucoba membuka cadar sesaat.
    wein ruh binti Hawa?”.
    Jeddah!” Jawabku sambil memalingkan muka.
    Sepertinya ia tahu kalau aku sedang mencoba melarikan diri. “Embassy ha?..” ia kembali bertanya. “Sialan!” rutukku dalam hati. Biasanya kalau sudah ketahuan bisa terbaca langkah selanjutnya. aku mencoba mengumpulkan strategi jangan sampai di tengah gurun ini ia memperkosaku kemudian mencampakkanku di gurun. 
    Kubuka cadar hitam penutup wajahku dan kukembangkan senyum. Ku dekati Supir Pakistani ini. Aku mencoba mengajukan penawaran kalau ia boleh menjamahku asal tidak di tengah gurun. Aku minta sampai kota terdekat, tunggu setelah aku makan dan mengumpulkan tenaga setelah capek melarikan diri dari rumah majikan. Aku bilang perutku keroncongan sekali tak bisa melayani sepenuh hati. Kulihat supir pakistani ini mengangguk senang.
    Di depan ada deretan bangunan mirip restoran. Kulihat beberapa kendaraan berhenti di depan. Truk pun kemudian berhenti untuk parkir. Supir Pakistan ini begitu bersemangat. Mungkin ia pikir sebentar lagi akan melepaskan hajat. Biasanya para supir seperti ini hidup bertahun-tahun tanpa keluarga. Hidup dalam kondisi alam dan sosial yang keras. Nafsu sek mereka memang sudah sampai ke ubun-ubun.
    Sambil turun aku berdoa, “Gusti Allah, tolong selamatkan aku. Tak mungkin kuserahkan mahkota suci ini selain kepada kang Radik. Suamiku di Serang.” di dalam restoran supir Pakistani tadi sudah terlebih dahulu menyantap makanan di depan meja. Aku permisi sebentar dengan alasan ke toilet. 
    Supir Pakistani ini mencak-mencak kepada pemilik restoran.
    Suhada anta? La ma’lum binti hawa!”.
    Rupanya ia marah karena membiarkan wanita yang duduk memakai abaya hitam dengannya telah kabur lewat pintu belakang. Pemilik restoran tadi rupanya tidak menerima perlakuan sang supir. Hampir saja terjadi baku hantam kalau saja tidak dilerai oleh kawannya. Musnah sudah impian supir Pakistani. Rasa penyesalan muncul,  coba ia melahap wanita tadi di tengah gurun tanpa memperdulikan permintaannya.
    ****
    Aku masih meringkuk di sebuah taksi kosong. Sambil menahan lapar dan panas terkurung di dalam mobil. Saat keluar pintu belakang aku periksa setiap kendaraan yang parkir barangkali ada yang tidak terkunci. Beruntung ada taksi yang mungkin akan kembali ke kota Jeddah setelah mengantarkan penumpang ke Dammam dan mungkin lupa mengunci pintu belakang. Kira-kira setengah jam lebih aku meringkuk di jok belakang.
    Semoga saja tidak ada penumpang yang akan ikut naik. Tidak lama kemudian, sang supir taksi rupanya datang. Aku tak berani menatap siapa dan warga negara apa yang membawa. Bisa jadi masih Pakistani, Afghanistani, atau bisa juga pinoy dan Indonesian. Biarkan mobil ini melaju. Aku harus bisa lepas dari Supir Pakistani tadi. Kini, hanya abaya yang melekat dalam tubuhku menyertai pelarian ini.
    ****
    Terdengar bunyi HP berdering, “Halo, assalamu’alaikum!” , “Alhamdulilah baik-baik pak!”. Aku terkejut ketika mendengar suara supir taksi. Alhamdulilah, ia Indonesian. Paling tidak aku harus menunggu sampai ia menyelesaikan pembicaraannya.
    “Astagfirullah. .!” sesaat mobil oleng supir taksi sangat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. kemudian mobil menepi.
    Ia berbalik,” Sejak kapan mbak sudah duduk di mobil saya? saya kira kuntilanak gurun!”.
    “Maaf mas, tolong saya mas..saya terpaksa naik diam-diam..saya kabur….” dan cerita mengalir dari mulutku. 
    Mungkin doaku dikabulkan. Hamdan mau menerima alasanku. Ia berjanji akan mengantarkanku sampai embassy.
    “Makanya mbak, jangan mudah tergiur tawaran agen. Hukum perlindungan untuk para TKW masih rendah. Salah-salah, mbak hanya jadi budak pemuas nafsu majikan. Beruntung mbak bisa kabur. banyak kok yang gak bisa kabur. ujung-ujungnya pasrah terima nasib jadi pemuas nafsu. Banyak yang pulang dalam keadaan bunting transit di Singapur untuk melahirkan, Jual bayinya trus balik lagi ke sini. Sampai kapan hidup terus seperti itu? Mending tinggal di gunung tapi deket sama gusti Allah daripada deket ka’bah malah jadi hamba pemuas nafsu!” 
    Aku hanya terdiam mendengarkan Hamdan memberi nasehat. Terbayang cita-cita serta harapanku bekerja di Timur Tengah. Aku ingin seperti Sarikah yang bisa membangun rumah baru. Pulang dengan membawa hp dan emas perhiasan. kulihat suaminya juga bisa dikreditkan bebek untuk mengojek. Kang Radik suamiku, hanya buruh bangunan. Rencananya uang hasil keringatku akan dibuatkan warung makan mirip warteg. Prospek bisnis ini menjanjikan. Kata kang Radik banyak buruh di Serang Timur yang butuh warung makan murah. Yang peting kenyang dan sehat. Ya, Kami memang sedang berjuang memperbaiki kesejahteraan.
    Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko wis ane warung makan kien sire balik maning!”. Begitu kata kang radik.  
    Di perjalanan, Hamdan mencarikanku makanan untuk mengganjal perut.  Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku lewat tangan Hamdan.
    DammamJeddah memakan waktu lebih dari 24 jam. Menjelang subuh mobil yang aku tumpangi akan mencapai Jeddah. ”Mbak, kayaknya ada pemeriksaan di depan! Ada Syarthoh! berdoa saja mbak..!”.  Kerlap-kerlip lampu patroli mobil begitu menyilaukan. Taksi melaju perlahan.
    “kok di tempat sepi begini ada operasi sih mas?”
     ”biasa mbak.., di sini polisi juga cari tambahan”. 
    Seorang polisi melambaikan tangan meminta mobil kami untuk menepi.
    “Assalamu’alaikum kapten!” Polisi tadi tidak menjawab salam Hamdan. Matanya memeriksa jok belakang.
    Hamdan diborgol. Aku berdiri menatapnya. Ia dituduh membawa pelarian TKW. Hamdan menatapku.
    “Gak apa-apa mbak! ini sudah nasib saya. kalau ada kesempatan, mbak kabur dari mereka. Jangan mau dikembalikan kemajikan lagi. Bisa-bisa mbak disiksa dan diperkosa!”.
    Aku tercekat saat salah satu polisi menamparnya berulang kali.
     ”Uskut, la tatakallam!!”.
     Sepertinya Hamdan tak peduli. Ia terus bicara. ”Mbak, dibawah jok mobil saya ada uang beberapa real. Ambil saja buat jaga-jaga. jangan sampai ketahuan, nanti bisa diambil sama mereka!”.
     Kali ini Salah satu syarthah menendangnya. Rambut Hamdan dijambak. 
    Kudekati salah satu polisi yang sedang berbicara lewat pesawat HT. Setelah berbicara sebentar polisi tadi menghampiri temannya. kemudian mereka berbicara dalam dialeg lokal. Tidak lama kemudian mereka memasukan saya ke dalam mobil polisi bersama polisi dan temannya.
    Hamdan menatap mobil polisi yang bergoyang berulangkali. Tak kuat hatinya menatap kebiadaban terjadi di depan mata. 
    Digigit bibirnya sampai berdarah.   
    ****
    Fajar menyingsing di muka kota Jeddah. Tak ada pembicaraan antara aku dan Hamdan. Aku sendiri diam seribu basa. Seolah tidak ada yang terjadi.
     ”Di depan embassynya Mbak!”. Ujar Hamdan tanpa menoleh.
    “Terimakasih mas sudah menyelamatkan saya sampai embassy!”.
    “Ndak, saya yang mesti terimakasih mestinya saya sudah meringkuk di penjara, sampai akhirnya mbak mesti berkorban”.
    Aku tersenyum letih. Ada perasaan lega usaha pelarianku membuahkan hasil. Akhirnya kedua syarthah melepaskanku dan Hamdan setelah mereka melampiaskan nafsunya padaku di dalam mobil.
    “Ini uang beberapa real, untuk jaga-jaga”. Aku ragu untuk menerima tapi aku memang butuh. Akhirnya kuambil dengan berat hati.
     Sampai di depan gerbang embassy Hamdan mengantarkanku. Ketika pintu gerbang di buka aku tersentak. Kulihat Walid majikanku sedang berbicara akrab sekali dengan petugas embassy…
    glosary:
    Wein ruh binti Hawa: mau pergi kemana binti  hawa (panggilan untuk wanita)
    Jeddah : kota Jeddah, Saudi.
    uskut La tatakallam: Diam jangan bicara kamu
    Suhada anta? La ma’lum binti hawa : Bagaimana kamu ini, gak tahu kemana perginya wanita tadi.
    Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko wis ane warung makan kien sire balik maning: sudahlah, gak apa-apa kamu kerja di Arab sebentar. Nnati kalau warungnya sudah jadi kamu balik lagi.
    Syarthah : Polisi
    abaya; baju hitam khas lokal untuk wanita
    Dammam : nama salah satu kota di Saudi
    Nama Penulis cerita: Lawang Bagja. penulis sebelumnya volunteer rumah dunia dan pernah menjadi pj Audio Visual. Beberapa karya film pendeknya: hari-hari Adi, BelokKiri Dilarang langsung, Rin..!, Jejak Multatuli, Ode Kampung, dll. Saat ini Penulis bekerja di UAE di sebuah perusahaan swasta.

     

    __._,_.___

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.