-
PERSETAN DENGAN EMANSIPASI!!!!!!!!!!
Posted on June 13th, 2007 No comments{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. 2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.Jarak antara kelahiran keduanya memang hanya satu tahun, tapi betapa mencengangkan karena ketika melahirkan Bumi, saya baru sadar bahwa saya lupa bagaimana rasanya melahirkan.
Saya lupa bahwa sebelum melahirkan itu ada "ritual" rasa panas yang sangat di bagian punggung, rasa melilit yang timbul tenggelam di perut,dan semakin sering saat waktu kelahirannya semakin dekat, orang bilang itu mulas, tapi saya tidak setuju, karena sakitnya 10 x lipat. Entah bagaimana tubuh saya tiba-tiba berkeringat dingin, rasa ngilu yang bahkan sampai ke tulang, memiringkan badan atau telentang, atau berjalan-jalan rasanya tak membantu, saat itu saya merasa sudah tak sanggup lagi mengendalikan kesadaran, ingin menjerit sekeras-kerasnya, atau bahkan ingin berlari?, melarikan diri dari deraan rasa sakit, yang datang bertubi-tubi dan tak dapat lagi ditolerir.
Sejauh mana tubuh ini dapat menahan rasa sakit?. Saya tidak tahu, karena tiba-tiba saja, saat saya merasa disitulah batas akhir saya, saat saya hampir menyerah menyongsong kegelapan, pandangan mata saya terang lagi, mendengar gumam hamdallah, dan tangis bayi yang sangat keras.
Subhanallah. ….Semua sakit tadi sirna seketika, meski dengan tangan gemetaran karena tubuh ini luar biasa lemas, kekhawatiran tadi ternyata belum usai, bagaimana kondisi bayi saya?, sempurnakah. Dan kelegaan luar biasa saat saya lihat, si bayi merah itu memiliki semua properti lengkap untuk jadi manusia normal.
Saya belum tentu sanggup jika dihadapkan pada prosedur yang sama dalam waktu dekat ini, tapi harus saya akui bahwa rasanya sangat menakjubkan. It's so….exciting, saya bahagia untuk makhluk mungil yang bahkan belum mampu mengerakkan tangan, saya jatuh hati padanya. Sampai saya ingin menangis, melihat ia tertidur dalam damai. Bibir mungilnya membentuk huruf O, sementara kedua matanya yang masih bengkak karena baru beberapa saat terkena udara bebas tertutup rapat-rapat. Ada saat dalam tidurnya ia membentuk senyum ompong, lain kali ia seolah meringis, berikutnya ia membuat gerakan seperti menyusu. Ada bau yang menggelitik saat saya mencium kepala mungilnya, perpaduan dari aroma minyak telon, bedak dan bau alami seorang bayi, aroma yang sangat menyejukkan hati. Aroma yang mengirimkan getaran-getaran halus, yang seolah menyadarkanku bahwa mulai saat itu saya akan rela mati untuknya, bahwa mulai saat itu pusat gravitasi hidup saya adalah dia, bahwa mulai saat itu bahkan pria yang menyebabkan kelahirannya harus siap dinomorduakan.
Ingin rasanya memberitahu semua orang, lihat ini anakku. Bayi mungil tapi calon orang besar, cakep kan. Hatiku luar biasa bangga, sensasi yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Hari berikutnya dihabiskan berkutat dengan popok dan bedak. Perasaan ingin melindunginya setiap saat, tapi tempat untukku bukan disitu, karena satu minggu kemudian, saya sudah harus kuliah lagi…….
Saya menangis dalam setiap detik perjalanan menuju kampus, hanya tangis dalam hati (karena jika sampai berurai air mata, orang-orang akan menganggap saya korban kekerasan dalam rumah tangga, menangis sepanjang jalan), tapi aneh sekali karena ternyata rasanya jauh lebih pilu dari tangis yang sesenggukan. saya menangisi bayi yang harus saya tinggalkan, saya menangisi air susu yang tumpah membasahi baju saya, saya menangisi kebodohan saya mengambil kuliah di teknik sipil, saya menangisi semuanya….Bahkan suami yang terus mendukung saya untuk tetap kuliah.
Setinggi apa pendidikan yang saya tempuh, sejauh apa saya berjalan untuk menempuh cita-cita, pada akhirnya saya akan kembali kesana. Pada anak-anak saya.
Hari ini saya pergi, menitipkan mereka pada pengasuh yang saya harapkan memberi cinta yang tak bisa saya berikan. Tapi betapa mirisnya, saya takut ketika pulang mendapati saya sudah terlambat untuk mendapat cinta mereka.
Untuk apa saya kuliah? Agar dapat berkarir cemerlang, untuk apa berkarir cemerlang? agar dapat uang banyak, untuk apa uang banyak ? agar anakmu dapat makan dengan layak, dapat sekolah di tempat yang bagus, dan tak perlu merasakan pahitnya kekurangan.. .
Dan perdebatan itu pun mulai lagi…
IyRA : "Raka, bolehkah saya jadi ibu rumah tangga?"
SyEbaJ : (termenung)&quo
t; Yakin?, mau taruhan nggak kamu nggak akan kuat sebulan jadi ibu rumah tangga?"
SyEBaJ : "Nu, menyayangi anak itu bukan berarti harus ada di samping mereka sepanjang waktu, untuk apa kamu menemani mereka setiap detik tapi ketika mereka ingin sesuatu kita tidak bisa memberikannya, kamu pikir mudah melihat mereka kecewa, saat ingin sekolah kita tidak punya biaya, atau kita kekurangan saat mereka sedang masa-masanya perlu uang. Berpikirlah panjang. Gaji saya mungkin cukup jika untuk sekedar hidup, tapi hidup yang bagaimana"
IyRA :" Itu kan urusan Raka…., enu kan gak pernah minta macem-macem, minta buat beli kosmetik aja gak pernah"
SyEBaj :" Saya tidak sudi melihat kamu pake lipstik, mau ngebadut?"
IyRA :(sebal)"masalah kita kan bukan itu"
SyEBaJ :" Masalahnya bukan cuma uang Nu, kalau hanya ingin uang, udah aja saya suruh kamu jualan di pasar, masalahnya saya lihat kamu itu berpotensi, sayang jika hanya jadi ibu rumah tangga, saya akan jadi orang paling biadab jika membunuh potensi kamu…." Bla..bla…. saya mulai merasa perdebatan itu bodoh dan menyebalkan. ..
Keterangan:IyRA = Istri yang rindu anaknya
SyEBaJ= Suami yang Entah Baik atau Jahat
Lagi-lagi, saya membuat daftar itu:Alasan jadi ibu rumah tangga:
1. Anak-anak saya sedang butuh perhatian.
2. Ingin jadi ibu yang baik.
3. Lihat ke atas4. Lihat ke atas.
5. Mungkin saya akan belajar memasak.
6. Jam terbang kuliah yang sudah seperti kerja rodi. Malemnya tetap harus begadang. Tugas besar, kuis mingguan, asistensi, praktikum… .tambahan kuliah di luar jadwal…..ingin muntah….,
7. Ipk yang parah…
Alasan tetap kuliah
1. Tinggal satu tahun lagi, tanggung, jika keluar sekarang saya menyia-nyiakan perjuangan tahun-tahun sebelumnya
2. Nama besar ITB terlalu sayang untuk disia-siakan
3. Mungkin suatu hari anak saya akan mengerti alasan saya meninggalkan mereka, siapa tahu mereka akan bangga punya ibu seorang engineer, halah……. Sekian tahun pergumulan batin, saya masih tetap di ITB.Di kampus saya memikirkan anak saya, di rumah saya memikirkan tugas….
Oke, kaum laki-laki jangan dulu protes dengan mengatakan saya tidak bisa memanagepikiran saya. Kalau masih bilang juga gua jitak pala lu, saat seorang lelaki pekerja pulang cepat karena alasan ingin menunggui anaknya yang sakit, semua spontan memuji mengatakan ia ayah teladan, tapi saat seorang ibu bekerja ingin pulang cepat karena anaknya sakit, ia malah mendapat cibiran tak dapat membagi waktu. Jangan sanggah karena saya SANGAT TAHU kondisi seperti itu.
Dunia tak pernah berpihak pada ibu yang berperan ganda, karena itu saya muak pada yang namanya kesetaraan gender. Wanita tak akan pernah siap untuk setara. Tapi tentu tak adil juga mengungkung mereka.
(Ibu Kartini, dengar, kebebasan yang Ibu perjuangkan dahulu malah saya ratapi, mungkin ada baiknya dahulu Ibu diam saja)
Seorang ibu yang bekerja, ia masih akan tetap disalahkan ketika anaknya sakit, ketika kuku anaknya tampak seperti macan, ketika ia tak bisa mengingat dimana meletakkan map suaminya, ketika celana suaminya belum rapi disetrika. Bukankah laki-laki lebih butuh wanita, daripada wanita butuh lelaki.
{mosimage} Hentikan dulu perdebatan tentang para wanita yang bekerja di luar sana untuk menghindari rumah, untuk mengejar uang yang sebenarnya uang suaminya pun tak kan habis, karena pada suatu hari sepulang kuliah saya seangkot dengan ibu-ibu yang baru bubar kerja di pabrik tekstil. Aroma bau keringat dan sayuran, untuk dimasak setiba di rumah…." Saya sebenarnya tidak mau bekerja, udah mah gajinya kecil, si bungsu jadi harus ditinggal-tinggal, tapi gimana, ngandelin gaji suami seminggu juga abis"
Dengar, dan dimanakah kalian kaum macho?, mau bilang bahwa si istri tak qanaah, tak bisa mengelola uang dengan baik, padahal tahu bahwa jumlah yang kau berikan memang kecil.
Tidak, tentu saja saya juga tidak pantas menyalahkan para suami yang bergaji kecil, padahal udah kerja kaya kuda.Saya akan salahkan KAPITALIS, saya akan salahkan SISTEM. Yang membuat kemiskinan ini seolah belenggu yang tak mudah dilepaskan, yang membuat bayi saya baru lahir sudah berutang pada orang asing yang bahkan sebagian besar bangsa ini tak kenal, yang membuat jutaan ibu harus keluar dari sarangnya yang nyaman, untuk menyambung kehidupan anak-anaknya. …
Dan akhirnya, saya lelah….. Saya jadi seperti kelelawar yang menabrak-nabrak dinding, frustasi mendengar suara-suaranya sendiri dalam gua yang gelap. Dulu sekali, saya pernah lihat sebuah selebaran, bunyinya: "SUDAH SAATNYA KAUM KAPITALIS UNTUK MUNDUR DARI ARENA PERCATURAN DUNIA, DAN MEMBERI KESEMPATAN PADA KEKHALIFAHAN ISLAM"
Yah bunyinya kurang lebih seperti itu, saya hanya bisa nyengir kuda
Mana mempan mereka digertak kayak gitu, sama seperti bilang "Permisi Om, saya mau lewat", pada banteng yang lagi kalap.
Naif sekali Yang kita perlu bukan gertakan, bukan spanduk, bukan seminar, tapi bagaimana si yahudi pemegang modal itu bertekuk lutut. Dan lagi-lagi kita memang perlu duit.
SHIT!!!!!!!!
Hei, bukankah tulisan ini sangat berantakan.. ..









Komentar Pengunjung