indo-emirates

Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru @ Indo-Emirates
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru

    Posted on January 8th, 2010 admin No comments

    Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru
    Refleksi 9 Tahun Indo-Emirates
    Sebuah Esay dari Lawangbagja; Sie Anak-remaja Indo-Emirate

    Flash Back; Perjalanan Founding Fathers

    Meretas perjalanan di hamparan gurun kosong 9 tahun silam adalah sebuah tonggak perjalanan anak bangsa yang boleh dibilang seperti merambah hutan perawan tanpa ada jalan setapak. Perjalanan yang tentu menarik dan penuh liku dan cerita. Era tahun 2 ribuan bisa dicatat sebagai era migrasi massif para tenaga kerja terdidik Indonesia khususnya dari industri oil and gas untuk merambah wilayah timur tengah (Qatar, UAE, Saudi, Kuwait). Semangat migrasi lebih memberikan nuansa semangat/ emosi massa dimana keberanian untuk bekerja di wilayah yang konon tandus, asing dan mungkin tidak ramah hanya karena rame-rame. Ini pula yang menyebabkan tidak ada rencana pasti kapan akan berkarir, bagaimana ke depan, seperti apa bekerja di lingkungan multi nasional, dlsb.

    Seperti itu pula Indo-Emirates, sebuah paguyuban yang saat ini (tak terasa) sudah berusia 9 tahun. Paguyuban yang lahir dari rasa senasib seperjalanan yang hadir untuk mengisi ruang besar kesepian karena tinggal di remote area. Indo-Emirate yang sepertinya dahulu mempunyai moto “Gak ada Loe, Gak rame!” ini terbukti bisa menambah hangat dan mempererat persaudaraan dan menguatkan percaya diri untuk eksis di negeri bedouin ini. Satu persatu keberanian sebagai individu tumbuh dan sepertinya remote area ini menjadi rumah kedua bagi warga Indonesia. Saya tidak tahu kapan tanggal dibentuknya, apa misi dan visinya, manfaat apa yang bisa ‘dikeruk’ dengan kehadiran paguyuban ini, dan tentu masih banyak lagi pertanyaan yang berjubel saat ini dibenak saya dan anda atau mungkin ‘khalli walli..saja. .karena masih banyak hal penting yang sedang dipikirkan. Namun yang pasti komunitas Indo-Emirate telah menjalani periode natural sebuah paguyuban dimana telah melewati proses ujian dari hal yang tidak mengenakan (baca; konflik) sampai ke hal yang manis (baca; kebersamaan dan persaudaraan) .

    Perubahan Besar yang Terjadi

    Jika berkeliling Ruwais saat ini saya sudah merasakan sebuah projek besar dan dahsyat yang sedang dibangun. Dimulai dari ekspansi semua perusahaan yang berlokasi di Ruwais dari mulai Takreer (oil), Gasco (gas), Fertil (pupuk), dan Borouge (petrokimia) yang sedang berusaha meningkatkan kapasitas produksinya. Ini artinya tenaga kerja baru akan terus berdatangan. Masing-masing perusahaan akan merekrut dari ratusan hingga ribuan keryawan. Dan peluang besar kemungkinan tenaga terdidik Indonesia juga akan banyak direkrut kembali. Jika 8 tahun hanya seratusan orang Indonesia yang bermukim di Ruwais maka 5-10 tahun ke depan projeksinya beranjak hingga ke 500-an kepala rumah tangga. Asumsi ini didapatkan selain dari pekerja regular juga dari medis, perhotelan dan sektor jasa lainnya.

    Boleh dibilang pertambahan jumlah pekerja professional ini bagian dari ‘sukses’ para pendahulu kita..rekan- rekan angkatan pertama yang datang ke hutan perawan ini. Mereka adalah para founding fathers..kerja keras mereka memberikan dorongan kuat kepada pihak pengambil keputusan untuk merekrut kembali dan menawarkan sebuah kepercayaan yang lebih tinggi lagi kepada para generasi berikutnya.Berkah itu dirasakan saat ini, tak terbilang berapa tenaga enginer, supervisor yang langsung direkrut tanpa perlu pengalaman dari luar negeri. Dahulu itu ‘mustahil’ dan sangat sulit terjadi karena wajar saja mereka, para pemilik perusahaan masih ragu terhadap kualitas para pekerja kita. Posisi itu masih diberikan kepada warga India yang sudah lebih dulu merambah dinar dan dirham di Gulf ini.

    Indo-Emirate Baru? (Reloaded ala ‘Matrix’)

    Jika Ruwais berkembang, perusahaan berkembang, toko-toko baru bermunculan, rumah sakit besar sedang dibangun, berikutnya tinggal sekolahan, mall dan seterusnya lalu pertanyaannya bagaimana dengan INDO-EMIRAT? Akankah ia stagnan disitu-situ saja? Jika boleh saya mengkritik dan memprovokasi, Indo-Emirat tidak mengalami kepekaan dengan perubahan besar yang sedang terjadi saat ini di Ruwais. Perubahan yang sudah disimbolkan dengan infrastruktur, gaya hidup, tuntutan, kebutuhan dan masih banyak lagi. Semua sedang berlari menuju sebuah perubahan yang bersifat massif. Gaya Indo-Emirate yang dipersepsikan sebagai paguyuban kelas ‘gelar tikar’, berkumpul dan kemudian bubar mungkin perlu ditingkatkan menjadi sebuah komunitas yang cerdas dengan diskusi yang menghadirkan para pakar serta lebih serius memikirkan dan membuat kanal-kanal yang akan menjadi saluran minat dan bakat anak-anak kita, generasi Indonesia baru ke depan.

    Saya khawatir jika perubahan ini tidak direspon selayaknya akan mengakibatkan disfungsi komunitas dalam bahasa pribuminya disebut ‘mafih faedah’. Padahal segudang potensi sudah tersedia, infrastruktur begitu mendukung plus fulus. Kesempatan membangun peradaban dan melahirkan INDONESIA BARU di tempat ini sangat memungkinkan. Saya memang manusia pemimpi dan tidak peduli jika ditertawakan tentang tulisan saya saat ini. Saya mempunyai gagasan bahwa Indo-Emirat harus didefinisikan ulang sesuai kebutuhan saat ini. Pos-pos struktur organisasi yang lamban dan mandul harus disegarkan kembali sesuai komitmen awal bahwa komunitas adalah wadah yang menyediakan PELAYANAN bagi para anggota yang berhimpun di dalamnya. Bahwa tugas MELAYANI adalah sebuah tugas yang LUHUR dan MULIA dan pertama kali hanya diberikan kepada para NABI saja.

    Mereloaded ala film Matrix dengan mendeklarasikan Indo-Emirat baru menurut saya sebuah tuntutan sesuai perkembangan yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Gaya hidup dan kepercayaan untuk mendiri bisa kita lihat dari masyarakat Indonesia di Ruwais. Seiring dengan perubahan kota kecil Ruwais yang sedang berevolusi menjadi sebuah kota besar di wilayah barat. Jika Indo-Emirat dahulu hadir sebagai pengikat dan tempat kita bertemu di atas tikar mingguan dengan konsumsi yang amboiy.. masih menjadi daya tarik di dalamnya maka ke depan Indo-Emirat adalah sebuah gagasan tentang masyarakat maju, mandiri, dinamis, cerdas, dan ikut andil dalam membangun ‘civil society’ baik di kota Ruwais juga bagi negeri tercinta, Indonesia Raya.

    Melahirkan Generasi Indonesia baru?

    Kemarin ketika sie Anak dan Remaja menggelar Liga Bola Anak Indonesia terkumpul kurang lebih 70 anak dengan perbedaan usia 1-3 tahun saja. Ini anak lelaki belum dengan anak-anak perempuan. Saya sumsikan total semua anak-anak usia dibawah 11 tahun hingga 120 anak. Ini belum ditambah dengan keluarga -kelaurga baru yang akan terus berdatangan. Jika di atas asumsi saya 5-10 tahun ke depan hanya terpenuhi 60 persen, artinya akan hadir sekitar 300 an kepala keluarga maka dengan asumsi perkeluarga 2 anak akan hadir sekitar 600 anak Indonesia!

    Pernahkah kita membayangkan 300 -600 anak Indonesia bermain di lingkungan Ruwais, tumbuh dan berkembang secara bersamaan? Apakah komunitas, dalam hal Indo-Emirate pernah memprojeksikan masa depan komunitas warganya? Apa yang akan kita perbuat dengan semua ini? Bagaimana memenuhi kebutuhan mereka tentang keIndonesiaan? minat dan bakat? potensi yang masih banyak harus digali pada usia ‘golden age’? Saya sendiri takut ini menjadi mimpi buruk bagi anak-anak saya. Mereka tumbuh dan besar seperti anak ayam dalam lumbung padi namun kehilangan bobot dan kualitasnya. Jika para orang tua sebagai individu dan komunitas sebagai wadah dan simpul masyarakat mau bekerja sama dengan komitmen yang tinggi ini dapat diatasi dan kita semua tidak perlu takut menghadapi ini semua. Kebersamaan bisa mengalahkan kesulitan bahkan tsunami sekalipun.

    Perjalanan selama 9 tahun sudah cukup untuk menjadi modal agar komunitas ini dapat menjelma menjadi sebuah kekuatan dan tekad yang membaja bahwa kita memang eksis di tanah yang kita pijak saat ini. Kita ingin mengikis rasa khawatir tentang pertumbuhan anak pada usia ‘golden age’ yang tidak tereksplorasi dengan baik. Saya bermimpi ke depan Indo-Emirate mampu mendatangkan para ahli untuk mendidik dan membuat ’short course’ sebagai upaya mengasah bakat anak-anak Indonesia. Komunitas mampu menghadirkan seniman, cendekiawan, penulis, olahragawan dll untuk memberikan ilmunya kepada anak-anak dan warganya. Kita pun bisa menyaksikan bersama sebuah konser musik dari anak-anak dan remaja Ruwais. Masyarakat cerdas yang tidak alergi dengan diskusi yang membangun. Orientasi materi harus digeser menjadi keilmuwan. Itupun jika kita semua memimpikan masyarakat maju yang akan melahirkan generasi Indonesia Baru! bukan sekumpulan orang Indonesia yang selalu dicitrakan mengalami sindrom ‘Inferior Kompleks’.

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.