-
WORKSHOP BE WRITER, MENGUBAH WAJAH INDONESIA, DAN SEKARUNG MIMPI
Posted on December 16th, 2011 No commentsGempa Literasi dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur tengah”
WORKHOP BE WRITER, MENGUBAH WAJAH INDONESIA, DAN SEKARUNG MIMPI
(ditulis oleh: Jaya Komarudin Cholik*)
Saya sering tergelitik rasa penasaran untuk tahu wahyu pertama apa yang diberikan Tuhan pada setiap utusan-Nya. Ketika nabi Adam pertama kali diciptakan, Tuhan membanggakannya di hadapan Malaikat, Jin dan Iblis dengan meminta Adam menyebutkan nama-nama. Tetapi setelah itu tidak diketahui apa wahyu yang diterima Adam saat pertama kali diturunkan ke bumi masih berkutat soal ‘nama-nama’? (dalam artian membaca). Bagaimana dengan Ibrahim? Yusuf? Moses (Musa)? Solomon (Sulaiman)? Hingga Yesus (Isa) ‘alaihissalam. Adakah sebuah kebetulan atau keistimewaan saat kemudian di era Muhammad SAW wahyu yang pertama turun adalah “Iqra!”, “bacalah..!”. bukan “Sembahlah..” atau “Bertasbihlah..!’ atau lainnya. Tetapi “Bacalah!” (Think, proclaim, declaim, etc)Sejarah kehidupan manusia secara umum dibagi dua. Sebelum manusia mengenal baca dan tulis dan setelah manusia mengenal baca dan tulis. Satu perbedaan yang sangat besar adalah saat kebudayaan baca dan tulis ditemukan pertamakali oleh bangsa Sumeria hingga abad 21 saat ini, bukan hanya bumi tetapi tata surya mampu dijelajah oleh manusia. Daratan menjadi terasa sempit dan datar seolah tak memiliki border, dunia memiliki jendela dimana-mana. Disudut kampung, gang-gang, jalan raya, rumah, pasar, mall, tak terhitung semua begitu mudah saling menyapa dan berserapah. Teknologi seperti kian tak terkejar dan menjadi sesuatu yang sangat gandrung akan tetapi tetap saja menjadi asing bagi manusia-manusia yang bebal dan malas membaca.
WORKSHOP BE WRTER
Gerakan “Indonesia Membaca” sebuah mahar untuk menjadi bangsa maju, memang terus tak lekang dikampanyekan oleh para penggiat literasi. Rumah-rumah baca kian menjangkau hingga ke pelosok. Program Internet masuk desa menyapa wajah-wajah polos yang haus akan kabar pesatnya zaman. Sebuah mimpi besar yang ingin diraih sekalipun bangsa ini masih lusuh dan hampir tak punya malu dengan terus mengirimkan anak-anak perempuannya menjadi buruh rumah tangga di negeri-negeri orang. Lucunya, para penggede menyebutnya ‘Duta Bangsa”. Dari penyebutan ‘Duta Bangsa” saja saya mengenal betapa kacaunya cara berpikir para tuan itu. Jika ‘duta’ sebuah utusan terhormat maka kenapa kirim ‘pembantu’ sebagai duta?Satu hal yang bisa dijelaskan adalah karena malasnya orang Indonesia untuk membaca. Jika rajin membaca tentu tidak bodoh. Jika tidak bodoh tentu tidak akan mengirimkan seorang pembantu sebagai ‘duta’ atau tidak akan ada seorang pun wanita Indonesia yang mulia menjadi pembantu di negeri orang. Sejalan dengan gerakan Indonesia Membaca yang digelorakan di tanah air lewat beragam workshop kepenulisan, sosialisasi taman bacaan yang dikenal dengan ‘clue’ Gempa Literasi maka hal yang sama terjadi juga di negeri Teluk.
Kegiatan ini berupa “Workshop Be Writer” dalam rangkaian kegiatan “Gempa Literasi” dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur Tengah”. Sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai dari kota Abu Dhabi kemudian ke kota Ruwais Uni Emirat Arab. Sedianya Hal yang sama pun akan dilaksanakan di Dubai tapi sayangnya tidak jadi karena alasan teknis yang bukan hak saya menjelaskan. Kegiatan ini bukan hanya ditujukan bagi para pekerja profesional dan pelajar yang bermukim di Negara Persatuan Emirat Arab saja akan tetapi juga bagi para nakerwan yang saat ini berada di penampungan di KBRI Abu Dhabi. Semangat literasi ini mendapat dukungan sangat baik dari Kedutaan besar Republik Indonesia di Abudhabi, Garuda Indonesia serta Bank Mandiri perwakilan PEA dengan menghadirkan pahlawan literasi Indonesia yang baru saja mendapatkan penghargaan Presiden lewat IKAPi awardnya yaitu GOLA GONG-Balada Si Roy.
MENGUBAH WAJAH INDONESIA
Mengubah wajah Indonesia di Negara kaya minyak memang bukan pekerjaan membalikan telapak tangan. Satu juta lebih warga negara Indonesia yang mengadukan nasibnya di negara-negara teluk yang kaya minyak masih didominasi oleh tenaga kerja ‘unskilled labour’ yang diatas saya singgung sebagai ‘Duta Bangsa’. Belum lagi anak-anak bangsa yang meremahkan harga dirinya menjadi warga haram dan tersebar tak terlacak bagai makhluk jejadian hampir di setiap negara. Mantan Duta Besar Indonesia untuk PEA (2009-2011), Bapak Wahid Supriyadi pernah menyampaikan betapa beliau merasa ‘terhina’ saat pertama kali menginjakkan kakinya di negeri tempat ia bertugas saat itu. Persoalannya adalah pekerjaan rumah yang masih tidak banyak berubah yaitu membangun nama besar bangsa di tengah realitas yang begitu terpuruk. Namun dalam waktu 3 tahun dengan dedikasi yang luar biasa sebuah lompatan besar telah terjadi. Indikasinya adalah nilai kerjasama ekonomi yang dulu hanya berkutat di hitungan angka-angka sempoa saat ini sudah mencapai milyaran dollar.
Mengapa begitu penting mengubah wajah ini di kancah internasional khususnya di timur tengah? Suka atau tidak suka disaat gonjang-ganjing ekonomi melanda negara-negara maju di eropa sana, justru timur tengah menjadi primadona karena surplus kapital dengan minyak hitamnya. Semua mata dunia nanar melihat uang begitu mudah dihambur-hamburkan dengan aneka proyek berskala dunia. Timur tengah menjadi gerbang yang menjanjikan bagi pasar Afrika, Asia Tengah dan sekitarnya. Infrastruktur serta mesin-mesin uang dalam bentuk industri-industri besar dari hulu sampai hilir dibangun dengan kapasitas jutaan ton seolah siap mencaplok dunia dan seisinya. Lalu di tengah kompetisi serta kesibukan yang massif ini dimana wajah Indonesia?
Sejalan dengan semangat yang pernah disampaikan oleh pak Wahid Supriyadi mantan Dubes RI untuk persatuan Emirat Arab (PEA) bahwa usaha yang telah beliau rintis harus dilanjutkan. Mengubah wajah Indonesia di pentas internasional khususnya di negara yang didiami 200 lebih warga Negara asing dari berbagai suku bangsa tidak hanya sebatas pada tataran diplomatik dan ekonomi semata tetapi pada pembangunan kualitas manusia Indonesia dimanapun berada. Jika semua warga Indonesia yang tersebar di belahan dunia menulis dan menyampaikan gagasan serta ide-ide positifnya maka bukan hanya satu orang yang membaca tetapi seluruh dunia ikut membaca. Wajah baru Indonesia ini penting sekali digaris bawahi tanpa pernah lagi mengirimkan tenaga kerja yang tidak terdidik ke negeri orang, dimanapun dan sampai kapanpun. Dan tugas mengubah wajah Indonesia adalah kewajiban yang diemban setiap anak bangsa.
SEKARUNG MIMPI
“Think Global, Act Global!”, Begitu saat ini jargon baru diucapkan oleh Gola Gong pendiri komunitas baca Rumah Dunia. Jika dulu, ketika pertama kali dirintis masih terbatas pada “Think Global, Act Local” dengan mendidik anak-anak kampung agar mampu menggenggam dunia maka saat ini bukan hanya anak-anak kampung Ciloang saja yang bisa menikmati gurihnya dunia literasi tetapi warga Indonesia di belahan dunia lain pun dapat merasakan hal yang sama.
Memang diakui, para penulis yang lahir dari para tenaga kerja di timur tengah masih dibilang miskin karya. Sebenarnya banyak potensi tetapi masih malu-malu untuk tampil dan melahirkan buku-buku yang ikut mewarnai kancah kepenulisan nasional. Selama ini baru Eni Kusuma (Anda Luar biasa) dkk. dari para pekerja migrant di Hongkong atau Yenni (Gadis buka Perawan) dkk dari Taiwan yang baru dikenal. Meskipun begitu usaha melahirkan karya-karya sudah perlahan dimulai oleh lahirnya buku “Tamasya ke Masjid’ (Jaya Komarudin Cholik-Gong Media Cakrawala) yang pertengahan tahun lalu diluncurkan.
Sekarung mimpi yang akan diraup dan diwujudkan oleh Link-Kita, organizer kegiatan ini adalah lahirnya para penulis baru yang akan mewarnai kancah kepenulisan yang bukan hanya nasional tetapi juga internasional. Semua menjadi serba mungkin jika hal tersebut sungguh-sungguh diupayakan. Sekarung mimpi itu saat ini tengah diupayakan dengan hadirnya kegiatan workshop ini. Terlebih dengan keberadaan dua komunitas warga Indonesia yang mengelola para profesional di negeri PEA ini yaitu KMMI Abu Dhabi dan Indo-emirates yang bahu membahu agar kegiatan ini berjalan dengan baik. Dalam sekarung mimpi itu tentu saya bermimpi wajah Indonesia yang teringat bukan wajah-wajah lusuh anak bangsa di penampungan tetapi wajah-wajah berseri menyambut Indonesia maju dan gemilang di kancah dunia sampai berakhirnya masa.
- Aktifis penggerak literasi, ambassador rumahdunia untuk PEA. Penanggungjawabkegiatan, penulis buku “Tamasya ke masjid”- Gong Media Cakrawala. Bermukim di timur tengah bekerja di sebuah perusahaan multinasional.











Komentar Pengunjung