indo-emirates

LELAKI SUNDEL BOLONG DAN LITERASI DI EMPTY QUARTER @ Indo-Emirates – Ruwais
Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais – Abu Dhabi – UAE
RSS icon Email icon Home icon
  • LELAKI SUNDEL BOLONG DAN LITERASI DI EMPTY QUARTER

    Posted on December 20th, 2011 admin No comments

    Rangkaian Gempa Literasi di Tepian Teluk persia

    LELAKI SUNDEL BOLONG DAN LITERASI DI EMPTY QUARTER

     

    Tidak mudah menarik massa untuk masuk ke pusaran literasi. Budaya baca dan tulis apalagi menjadi seorang penulis masih merupakan hal yang asing bagi kita, orang Indonesia. Namun tentu minat dan kepedulian ini sedang terus dipompa dan dibakar oleh orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk ini.

     

     Sekali lagi, mengapa harus ada Indonesia membaca? Mengapa mesti ada workshop be a writer? Toh semua baik-baik saja bukan? Hidup kita sudah terlalu jenuh  membicarakan buku, buku, buku, karena pada saat yang sama mulut para pembual mengoceh tentang nasib negeri yang setiap harinya dijejali masalah yang sebentar lagi tutup tahun maka tutup pula kisahnya. Oh iya, soal pertanyaan diawal paragraf tadi. Ya, Pertanyaan degil ini memang selalu muncul dimanapun dan kapanpun. Seolah kebutuhan manusia dibatasi oleh syahwat dan isi perut belaka. Seperti cara berpikir penguasa yang gemar memperlakukan rakyatnya seperti kerbau. Sediakan rumput hijau dan seketikan berhenti berpikir karena siang- malam memamah biak.

     

    Lelaki Sundel Bolong

    Kelas literasi yang dimulai dari tanggal 16 hingga 19 yang bertempat di KBRI Abu Dhabi berjalan dengan lancar. Gong bertutur semula ia tidak menduga peserta akan terisi sampai 25 orang tapi ternyata antusias cukup tinggi melebihi 30 peserta. Belum ditambah dengan pelatihan yang diberikan kepada para nakerwan yang berada dipenampungan. Jumlah mereka sekitar 60an orang. Jumlah yang setiap bulan bisa bertambah tapi jangan pernah berpikir untuk berkurang.  Mereka umumnya para nakerwan yang sedang menjalani proses untuk kemudian dipulangkan ke tanah air. Biasanya mereka lari dari majikan karena tidak tahan dengan kondisi yang mereka hadapi. Para nakerwan yang umumnya para wanita Indonesia itu harus menerima kenyataan bernasib tragis pergi jauh tanpa perlindungan suami, kakak lelaki, bapak, paman,  ke tempat yang bisa diibaratkan penjara terbuka. Tinggal di tempat asing, budaya asing, orang-orang asing dan bahasa asing.

    Dan yang lebih ‘asing’ lagi adalah kebiasaan para lelaki Indonesia yang melepaskan istri, anak perempuan, bibi, menantu perempuan, mertua perempuan, sepupu perempuan, keponakan perempuan dan nenek mereka untuk pergi jauh di luar jangkauan perlindungan dan sistem  hukum yang dapat memberikan jaminan berapa jam kerjanya setiap hari, hari liburnya, overtimenya,  dan lain sebagainya. Kebanyakan para lelaki ini adalah lelaki ‘sundel  bolong’ yang hati dan perasaan (baca; dada) mereka sudah lenyap. Bagaimana mereka tega melepaskan dengan menggantungkan ketidakjelasannasib pada seorang perempuan?. Padahal agama yang mereka anut sudah melarang tegas para perempuan pergi hingga bertahun lamanya apalagi ditambah tanpa perlindungan hukum yang jelas.

     

    Lupakan! ! Saat ini yang ingin saya sampaikan adalah mereka para nakerwan sedang berbahagia karena telah mengikuti kelas menulis yang disampaikan oleh Gola Gong selama 2 hari dari tanggal 18-19 Desember 2011. Semua yang mereka simpan atau mereka menjadi gagu alias bisu karenanya menjadi Byar!! Jebol!.. Kata-kata melimpah ruah di 3 lembar kertas folio yang dengan susah payah mereka menguraikannya. Ini bukan persoalan mudah men-decode dan re-code setiap kata-kata yang hampir hilang dalam ingatan mereka karena sudah terlanjur menganggap sebagai bahwa apa yang terlah terjadi sudah diputuskan oleh  pedang takdir yang tajam hingga terasa menakutkan untuk diingat dan dituangkan dalam tulisan. Para perempuan tangguh itu mengurai kata demi kata di lembaran putih yang kemudian menjadi sumpek dengan perasaan yang menghimpit ,  menekan beban rasa.  

     

    Para nakerwan  kemudian asik berkelana lewat kata dan berserapah tentang para lelaki sundel bolong yang rela melepaskannya pergi menyusuri pepasir yang tak berbekas jejaknya. Atau kemudian mereka menemukan cinta dari para anak bangsa.  Mereka berbahagia hingga ada yang tumpah haru. Ya..kata, membuat kita berbahagia.

     Tibalah saatnya Gola Gong pamit hendak meneruskan pelatihan ke tepian empty quarter. Gong meminta izin. Sesaat suasana hening. Mereka seperti direnggut kebahagiaannya kembali.  Gola Gong menyadari bahwa saat mereka bahagia karena dipandu menemukan ‘kata’ tetapi kemudian seperti merasa kehilangan  karena sang pemandu petualangan kata itu pergi. Demi memuaskan dahaga mereka, Gola Gong menawarkan alamat rumah dunia dan nomor telepon maka berebutanlah para nakerwan untuk mendapatkannya.

    “Semua boleh tulis alamat dan nomor telepon saya tetapi syaratnya jangan ada yang mengaku pacar ya!”,semua tertawa berhagia.

     

    Gempa Literasi di Empty Quarter

    Perjalanan dilanjutkan menuju empty quarter. Di sini terdapat sebuah koloni kecil yang halaman depannya teluk Persia dan halaman belakangnya salah satu gurun terganas di dunia, empty quarter. Bersama Lawangbagja dan Sabar Riyanto  membelah malam . Menyusuri perjalanan sejauh 250 km dari  Abu Dhabi-Ruwais.  Sepanjang perjalanan Kami bertukar kisah, gagasan serta ide-ide yang mengasyikan. Tentang sebuah komunitas yang bermimpi mempunyai kegiatan budaya literasi yang tidak terhenti  hingga sebatas workshop saja.

     

    Manusia Indonesia dimanapun berhak mendapatkan pencerahan dan mengejar ketertinggalan mereka. Entahlah, saya sendiri merasa tinggal di negeri yang budaya membacanya jauh dari harapan. Kami setiap hari hanya dijejali, discount, summer offering, winter session, half price, futher cut, dan seterusnya. Kapan kita akan menghargai hidup dengan kemuliaan sebagai manusia yang tidak terus digelayuti oleh topeng pakaian dan penampilan.

     

    Kami beristirahat sejenak di Tariff, kota kecil  yang tepat berada diantara Abu Dhabi-Ruwais. Menemani Gola Gong yang sedang keranjingan makan nasi biryani. Setengah ayam  bakar habis. Udara dingin, nasi biryani dengan saffron dilengkapi rempah-rempah khas Asia tengah dan ayam bakar memang nikmat bukann kepalang. Persoalannya adalah karena nasi biryani tidak memakai santan  tetapi masih gurih karena rempah-rempahnya.  Sedangkan Gong memang sudah lama libur makan santan karena sakit yang sedang dideritanya.

     

    Workshop yang diberikan untuk para ibu dan remaja putri  memang sedianya di laksanakan dibalai pertemuan tetapi berhubung bangunannya sedang dipugar maka terpaksa hari pertama di rumah salah satu warga, Pak Agus Kurniawan. Walhasil…! Viola!…membludak, tidak cukup. Panitia berusaha hari kedua, (21 Desember 2011) bisa digelar di hall yang masih tersedia. Ya, gempa lietrasi Indonesia membaca, workshop be a writer terasa hingga ke tepian teluk Persia.  Dan tetap semangaatt!

    Leave a reply

    You must be logged in to post a comment.