<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indo-Emirates &#187; Dunia Anak</title>
	<atom:link href="http://www.indo-emirates.org/category/dunia-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indo-emirates.org</link>
	<description>Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais - Abu Dhabi - UAE</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 16:08:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Membimbing Keterampilan Membaca</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/03/26/membimbing-keterampilan-membaca/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/03/26/membimbing-keterampilan-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2007 19:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[SAYA orang tua dari serang anak yang sekarang sedang belajar di kelas 1 SD             di Bandung. Anak saya masih mengalami kesulitan membaca. 
             
Tiga bulan yang lalu pernah saya periksakan ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><em>SAYA</em> <em>orang tua dari serang anak yang sekarang sedang belajar di kelas 1 SD             di Bandung. Anak saya masih mengalami kesulitan membaca. </em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman"><em>            </em></font>
<p><font face="Times New Roman"><em>Tiga bulan yang lalu pernah saya periksakan ke seorang psikolog atas saran guru             kelasnya. Hasilnya menunjukkan potensi belajar akademiknya cukup tinggi, namun dia             mengalami hambatan konsentrasi dan cenderung kurang teliti dalam menyelesaikan pekerjaan             sekolahnya. Selain itu, dia mengalami hambatan dalam mengucapkan/melafalkan kata atau             kalimat pendek.</em></font></p>
<p><span id="more-813"></span>
<p><font face="Times New Roman"><em>Pertanyaan saya:</em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman"><em>            </em></font>
<p><font face="Times New Roman"><em>1) Bagaimana kami bisa membimbing anak belajar membaca di rumah agar kemampuan             membacanya meningkat? </em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman"><em>            </em></font>
<p><font face="Times New Roman"><em>2) Apakah saya perlu mengajarkan bahasa asing dan bahasa Indonesia, karena anak saya             belajar kedua bahasa tersebut di sekolahnya? </em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman"><em>            </em></font>
<p><font face="Times New Roman"><em>Terima kasih.&nbsp;</em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman"><em>            </em></font>
<p><font face="Times New Roman">Yohanes Supratman di Bandung <br />             <em>Bapak Yohanes,</em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Sebelum memutuskan mengajar membaca, kita harus mempertimbangkan tiga pertanyaan, 1)             Mengapa perlu mengajarkan membaca? 2) Mengapa bahasa atau tulisan harus diajarkan pada             anak kita? 3) Berapa banyak waktu yang akan digunakan untuk mengajar membaca?</font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Keterampilan membaca dan menulis dapat memberikan makna penting untuk komunikasi             anak-anak dengan hambatan konsentrasi dan atensi, atau masalah bahasa lainnya. Kita ingin             anak-anak belajar sebanyak mungkin keterampilan yang mereka perlukan untuk hidup dalam             kehidupan yang wajar. Untuk itu, orang tua harus mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan             setiap anak sebelum memutuskan apakah mengajar membaca atau tidak. </font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Dalam beberapa kasus membaca mungkin lebih penting bagi seorang anak untuk mempelajari             bahasa kedua. Namun, apabila anak-anak kita mengalami hambatan bicara, konsentrasi, dan             atensi, sebaiknya yang pertama diajarkan hanya satu bahasa, apakah bahasa nasional ataukah             bahasa asing. Bahasa asing dan bahasa nasional sangat membingungkan jika diajarkan pada             seorang anak secara bersamaan. Untuk membaca lebih dari satu tulisan alfabet (A sampai Z)             dalam dua bahasa pada waktu hampir bersamaan membuat anak bingung. Membaca dua bahasa ini             akan lebih membingungkan lagi apabila dua kata ditulis dalam perintah berlawanan.             Mengingat membaca juga melibatkan suatu kerja memori anak tingkat tinggi, seorang anak             dapat lebih mudah belajar membaca suatu bahasa jika dia dapat bicara bahasa itu dengan             mudah.</font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Beberapa keterampilan diperlukan jika seorang anak belajar membaca, tidak sekadar             membaca nama dia dan bilangan yang mewakili angka-angka. Anak ini memerlukan banyak             keterampilan yang dapat diajarkan dengan berbagai cara. Keterampilan tersebut meliputi: 1)             Pengenalan, menjodohkan, dan menyalin bentuk serta membedahkan detail dalam gambar. 2)             Koordinasi mata dan tangan, seperti ketepatan kontrol dan gerakan tangan. 3) Kemampuan             melengkapi suatu gambar atau bentuk yang belum selesai, mengikuti pola, mengingat dan             menyusun urutan gambar seri atau bentuk yang diberikan. 4) Membedakan bunyi, mengingat             urutan bunyi, kata-kata atau perintah, menirukan suatu suara yang telah didengar. 5)             Mengingat benda-benda yang dilihat dan didengar.</font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Keterampilan (1) sampai (4) merupakan keterampilan persepsi yang terdiri dari             keterampilan (1) sampai (3) sebagai persepsi visual dan keterampilan (4) yaitu persepsi             pendengaran. Seorang anak yang memiliki masalah persepsi visual mempunyai penglihatan             normal, tetapi pada fungsi luhurnya di otak tidak mampu menganalisis apa yang dilihatnya             sehingga anak tidak mampu menginterpretasikan dan memaknai apa yang dilihatnya. </font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Pada anak yang mengalami masalah pada persepsi suara/bunyi, anak sering salah memaknai             apa yang didengar (meskipun dia tidak tuli).</font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Beberapa anak mempunyai masalah dengan satu atau lebih keterampilan persepsi, tetapi             kemampuan lainnya baik. Dengan demikian, perkembangan cepat bisa dicapai anak apabila             orang tua/guru mengenali dengan benar masalah anak dan membimbing anak mengatasi problem             membacanya. </font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Bermain dengan <em>puzzle</em> dan melihat gambar di buku-buku, menggambar, bermain             dengan melukis dan plastisin, dapat membantu anak menyadari bentuk. Menjodohkan gambar             dapat dilakukan oleh anak dengan memasangkan kartu-kartu atau bentuk-bentuk, atau             gambar-gambar untuk dapat dijodohkan. Seorang anak dengan kemampuan bahasa yang terbatas             akan mampu membaca atau menulis beberapa kata. </font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Agar anak dapat belajar membaca dengan mudah harus dikembangkan melalui beberapa hal.             1) Dia harus senang mendengarkan cerita dan mampu menceriterakan kembali, mengurutkan             kejadian dengan benar. 2) Dia mampu menyebutkan beberapa gambar yang telah dikenalkan, dan             menceritakan apa yang telah terjadi pada situasi yang ada dalam gambar. 3) Dia harus             bicara dengan mudah tentang apa yang dia sendiri telah lihat, kerjakan, atau dengar. 4)             Dia harus mulai menggunakan kalimat pendek, sederhana, dan lengkap dalam pembicaraan             normal. 5) Dia harus menyadari perbedaan bunyi-bunyi, menangkap, dan memainkan irama bunyi             bahasa. 6) Dia harus memahami dan melaksanakan perintah yang didengar. </font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman">Apabila anak telah menguasai beberapa keterampilan tersebut, anak dapat mulai belajar             membaca. Pertama anak belajar membaca dan menulis namanya sendir. Selanjutnya dia harus             belajar mengenal, menelusuri, menyalin bentuk-bentuk angka 1 sampai 10. Pada tahap ini,             anak tidak harus mampu menghitung, tetapi membaca angka-angka yang akan memungkinkan dia             menggunakan uang, membaca nomor rumah, nomor telefon, nomor kendaraan bermotor. Ketika dia             dapat mengenali dan menulis angka-angka dan namanya, dia dapat mulai menelusuri dan             menyalin alfabet. Selain itu, kartu-kartu dengan nama-nama benda dapat diletakkan di             sekitar ruangan di rumah/kelas, dan anak diminta menjodohkan kartu dan             menyebutkan/menceritakan nama kartu yang sama yang telah ditemukan, misalnya: ditempelkan             pada jendela, pintu, meja, dsb. Anak tidak akan mulai benar-benar membaca kata, tetapi dia             akan mengenali bentuk, mulai melihat tulisan yang melambangkan kata-kata, dan kata-kata<br />
        yang melambangkan nama-nama benda.*** <em>&nbsp;</em></font></p>
<p> <font face="Times New Roman">            </font>
<p><font face="Times New Roman"><em>*)Dosen FIP UPI Bandung</em></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/03/26/membimbing-keterampilan-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komentar Tentang Sekolah Swasta Di DKI</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/03/17/komentar-tentang-sekolah-swasta-di-dki/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/03/17/komentar-tentang-sekolah-swasta-di-dki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2007 08:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.,
Bismillah hirrahman nirrahim.
Di dalam sebuah ceramah, saya pernah menyatakan bahwa saya belum
menemukan sekolah Islam yang bagus di Indonesia. Seorang ibu kirim
email kepada saya dan menyatakan kaget. Dia minta saya menjelaskan
kenapa pendapat saya seperti itu.
Artikel ini saya buat untuk menjelaskan pandangan saya terhadap
sekolah swasta di Jakarta, Islam dan sekular, yang didasarkan
pengalaman pribadi saya. Maaf, artikel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.,</p>
<p>Bismillah hirrahman nirrahim.</p>
<p>Di dalam sebuah ceramah, saya pernah menyatakan bahwa saya belum<br />
menemukan sekolah Islam yang bagus di Indonesia. Seorang ibu kirim<br />
email kepada saya dan menyatakan kaget. Dia minta saya menjelaskan<br />
kenapa pendapat saya seperti itu.</p>
<p>Artikel ini saya buat untuk menjelaskan pandangan saya terhadap<br />
sekolah swasta di Jakarta, Islam dan sekular, yang didasarkan<br />
pengalaman pribadi saya. Maaf, artikel ini agak panjang, tetapi saya<br />
sengaja membuatnya begitu supaya menjadi referensi yang lebih jelas<br />
dan akurat bagi para orang tua.</p>
<p><span id="more-812"></span></p>
<p>Kualifikasi saya</p>
<p>Supaya percaya dengan apa yang saya katakan, saya mau jelaskan<br />
kualifikasi saya dulu:</p>
<p>Saya seorang guru bahasa dan sejarah (Language and History teacher)<br />
dengan gelar Bachelor of Arts dan Graduate Diploma of Education dari<br />
Universitas Griffith di Brisbane, Australia. Sekarang saya sudah<br />
berpengalaman 10 tahun mengajar di kelas, baik di kursus bahasa<br />
Inggris maupun di sekolah swasta, juga les privat dan bentuk training<br />
yang lain. Sebagai pengamat pendidikan (hobi saya), saya sering<br />
membaca artikel dan berita tentang pendikikan, baik dari Indonesia<br />
maupun dari manca negara. Sudah beberapa kali saya melakukan<br />
kunjungan sekolah di DKI untuk menganalisa sekolah tersebut, baik<br />
karena ada permintaan dari orang tua atau teman, atau karena ada<br />
permintaan dari yayasan, atau karena saya sendiri ingin melihat<br />
sekolah itu. Hasilnya (laporan) biasanya diberikan secara lisan, tapi<br />
juga ada yang secara tertulis untuk anggota yayasan. Saya sudah<br />
melakukan Teacher Training untuk beberapa sekolah, dan juga untuk<br />
Pusdiklat DKI (melatihkan guru-guru SD) dan sedang menunggu undangan<br />
lagi dari DKI.</p>
<p>Yang pernah saya lakukan sebagai seorang guru:</p>
<p>Mengajar bahasa Inggris di semua tingkat dari TK sampai dewasa, dari<br />
Foundation sampai TOEFL dan FCE.; melakukan Teacher Training;<br />
membimbing guru junior; menasihati kepala sekolah tentang masalah<br />
pendidikan dan masalah karyawan; membuat kurikulum bahasa Inggris<br />
untuk kursus bahasa Inggris dan sekolah swasta; membuat bahan dan<br />
ujian untuk murid di kursus dan sekolah swasta; melakukan<br />
Motivational Training untuk guru dan murid; membuat program Academic<br />
Writing untuk beberapa universitas di Indonesia dengan funding dari<br />
Ford Foundation; dan memeriksa dan menganalisa sekolah untuk menilai<br />
kualitasnya, termasuk &#8220;interview&#8221; para guru.</p>
<p>Saya pernah ditawarkan posisi sebagai: guru bahasa Inggris di<br />
beberapa sekolah swasta dan kursus; Kepala Sekolah di beberapa<br />
lokasi; Head of English Department (Binus High School, Simprug);<br />
Manager of English Services (Bina Nusantara University); dosen bahasa<br />
Inggris (Swiss German University, Serpong).</p>
<p>Sebagian besar dari tawaran ini tidak diterima karena beberapa alasan<br />
(gaji, lokasi, masalah dengan managemen, atau masalah dengan &#8220;job<br />
description&#8221; ).</p>
<p>Insya Allah, semua pengalaman ini menjadi landasan yang cukup baik<br />
bagi saya untuk menganalisa sebuah sekolah dengan cara profesional.</p>
<p>Masalah Dengan Sekolah Di Indonesia</p>
<p>Masalah utama dengan sekolah swasta adalah tujuannya. Kebanyakan<br />
adalah bisnis yang dibangun oleh pengusaha yang tidak memiliki latar<br />
belakang pendikikan. Pada saat mereka mendirikan sekolah, mereka<br />
melihat bahwa orang lain sudah mendirikan sekolah dan menghasilkan<br />
profit besar, sampai ada yang membuat franchise sekolah (bukan<br />
cabang). Dengan demikian, sekolah menjadi sama dengan Starbucks atau<br />
Breadtalk: hanya sebuah bisnis yang menghasilkan profit bagi<br />
pemiliknya. Saya pernah mendengar seorang pemilik sekolah menyatakan<br />
dengan senyuman lebar dan dengan rasa bangga bahwa dia sudah break<br />
even (balik modal) dalam 4 tahun saja! Saya tidak paham kenapa hal<br />
itu membuatnya bangga.</p>
<p>Saya tidak berniat menjelekkan nama semua sekolah swasta atau semua<br />
guru yang kerja di sekolah itu. Ada masalah yang prinsip, dan ada<br />
masalah biasa. Semuanya memberi tanda bahwa sekolah tersebut tidak<br />
terfokus pada pendidikan seperti semestinya, dan bisa diperbaiki<br />
lagi, akan tetapi hal itu jarang terjadi, karena si pengusaha sebagai<br />
pemilik tidak melihat ada masalah sama sekali (&#8220;Profit tetap tinggi<br />
kok! Berarti orang tua puas! Kenapa harus diubah?&#8221;)</p>
<p>Sekolah Islam</p>
<p>Sekolah Islam tidak lepas dari masalah binis ini. Seringkali, yang<br />
diutamakan adalah profit untuk yayasan dan bukan kualitas guru atau<br />
kualitas pendidikan. Karena stok murid besar, sekolah bisa cuek pada<br />
kualitas sekolah dan tetap ada orang tua baru yang mau bayar mahal<br />
untuk daftarkan anaknya pada tahun berikut.</p>
<p>Yang sering terjadi, orang dewasa yang menjadi guru bukan orang yang<br />
kuliah pendidikan (lulusan IKIP, misalnya) tetapi orang mana saja<br />
yang bisa berbahasa Inggris karena ini yang dijual kepada orang<br />
tua: &#8220;Kita sekolah bilingual lho!&#8221; Saya pernah menemukan orang dengan<br />
gelar ekonomi, akutansi, finance, psikologi, hukum, sastra,<br />
linguistik, dan lain lain yang bekerja sebagai guru di sekolah swasta<br />
di Jakarta. Bahkan ada seorang apoteker. Saya bertanya kenapa dia<br />
bisa masuk sekolah, dia menjawab karena tidak ada pekerjaan lain, dan<br />
karena dia bisa berbahasa Inggris. Ini merupakan kegagalan sekolah<br />
untuk mendapatkan ahli pendidikan yang profesional.</p>
<p>Mungkin semua orang senang dengan al Azhar: sekolah Islam terkemuka<br />
di Indonesia. Sekarang, ada anak teman yang masuk TK Al Azhar. Guru<br />
anak itu membuat ibunya stres karena selalu mengeluh bahwa si<br />
anak &#8220;tidak bisa menulis dengan rapi&#8221;.</p>
<p>Pada umur 5,5 tahun tidak ada kewajiban untuk menulis dengan rapi!!!<br />
Seharusnya guru senang bahwa seorang anak laki-laki mau menulis<br />
daripada lari-lari terus. Ini sangat aneh. Pada umur ini, kemampuan<br />
motorik halus sedang berkembang. Sangat gila mewajibkan anak menulis<br />
dengan rapi pada umur ini. Dan seharusnya hal ini tidak menjadi salah<br />
satu hal yang dicermati guru, apalagi mengeluh kepada orang tua. Pada<br />
umur 7-9 ke atas, baru perlu dicermati.</p>
<p>Dan kalau kita jujur, apakah tulisan tangan yang rapi pernah ada<br />
pengaruh besar di dunia? Contoh: &#8220;Maaf, Mr. Einstein, Piagam Nobel<br />
anda harus dikembalikan karena anda menulis E = MC2 dengan tulisan<br />
yang tidak rapi. Maaf ya!&#8221; Konyol benar! Para dokter di dunia<br />
terkenal dengan tulisan tangan yang tidak rapi. Apakah seharusnya<br />
tidak boleh menjadi dokter sampai bisa menulis dengan rapi?</p>
<p>Anak di Al Azhar itu lapor kepada saya bahwa di sekolah dia main<br />
dengan Lego juga (karena saya belikan dia Lego) tapi Legonya besar,<br />
bukan dengan batu-batu kecil seperti yang saya belikan. Tanpa<br />
melihatnya, saya tahu Lego yang dia maksudkan: Lego besar untuk anak<br />
berumur 2-4 tahun. Baca saja di kotaknya (ada batas umur). Berarti,<br />
Lego yang dia dapat di sekolah adalah mainan untuk anak balita<br />
berumur 2-4 tahun, padahal umur dia 5,5 tahun. Berarti yang beli<br />
mainan untuk anak di sekolah itu tidak mengerti mainan yang mana yang<br />
cocok dengan umur anak, dan dia tidak mengerti kenapa Lego kecil<br />
lebih bermanfaat dari Lego besar pada umur ini: untuk melatihkan skil<br />
motorik halus yang juga digunakan untuk menulis!!! Kalau sekolah<br />
menuntut tulisan yang rapi, coba berikan mainan yang cocok dulu!</p>
<p>Saya juga dengar bahwa untuk masuk SD al Azhar ada tes membaca dan<br />
menulis. Kalau tidak bisa membaca dan menulis, maka tidak bisa atau<br />
susah masuk (harus bayar lebih mahal kali?). Bukannya sekolah itu<br />
tempat belajar? Buat apa kita kirim anak ke SD kalau SD menuntut<br />
anak2 mendapatkan skil membaca dan menulis di luar sekolah? Kalau<br />
memang diajarkan di sekolah, kenapa harus dites untuk masuk? Kalau<br />
tidak diajarkan, emang siapa yang bertanggung jawab untuk<br />
mengajarkannya?</p>
<p>Bagaimana kalau rumah sakit ikut-ikutan menerapkan teori seperti ini:<br />
mau masuk rumah sakit, tes kesehatan dulu. Kalau ternyata tidak<br />
sehat, disuruh pulang dulu dan kembali kalau sudah sehat. Gila<br />
benar!!</p>
<p>Bukannya masuk RS untuk menjadi sehat? Dan bukannya kita kirim anak<br />
ke SD untuk belajar membaca dan menulis? Kok sekolah bisa mewajibkan<br />
anak mendapat skil itu di lain tempat sebelum masuk?? Sungguh tidak<br />
masuk akal!</p>
<p>Pada saat saya diundang untuk menjadi juri di sebuah Lomba Bahasa<br />
Inggris di al Azhar Pusat, untuk anak2 dari al Azhar se-DKI, saya<br />
kaget pada saat setiap anak dari sekolah yang sama membaca teks yang<br />
sama. Ini bukan lomba &#8220;membaca&#8221;, tapi lomba bahasa (bicara). Dari<br />
kosa kata yang digunakan, saya tahu bahwa orang dewasa yang<br />
menulisnya (gurunya barangkali?) dan bukan anak itu. Jadi piagam<br />
seharusnya dikasih kepada gurunya, bukan anak itu. Ini kegagalan dari<br />
pengurus lomba (para guru) untuk membuat peraturan yang jelas dan<br />
saya merasa bahwa seluruh hari itu sia-sia untuk anak2 dari sisi<br />
pendidikan. Tapi saya tidak heran bahwa lomba menjadi kacau.<br />
Seseorang melaporkan kepada saya bahwa pada tahap &#8220;planning&#8221; para<br />
guru itu menghabiskan 2 jam untuk membahas seragam apa yang akan<br />
dipakai pada hari lomba. Setelah itu, mereka membahas lomba untuk<br />
sebentar sebelum bubar. Kalau bukan kenalan saya yang lapor begitu,<br />
saya tidak akan percaya. Guru itu sibuk memikirkan diri sendiri dan<br />
bukan lomba untuk kepentingan pendidikan anak.</p>
<p>Saat saya kunjungi Global Islamic School di Condet Raya, saya kaget<br />
melihat bahwa papan putih ditempatkan di atas jendela. Kalau tutup<br />
pintu, kelas menjadi seperti gua, dan harus nyalakan lampu. Saya<br />
bertanya kenapa: katanya karena setiap kali ada orang yang lewat,<br />
anak tengok ke belakang. Jadi jendela harus ditutup. Ini kegagalan<br />
guru untuk mengendalikan anak (classroom management). Seharusnya,<br />
seorang guru profesional sudah tahu trik untuk membujuk anak fokus ke<br />
depan, dan tidak lihat ke belakang.</p>
<p>[Satu Contoh: "PR malam ini tidak ada anak-anak, tapi kalau ada yang<br />
melihat ke belakang pada saat orang lewat, PR menjadi 1 halaman.<br />
Kalau terjadi lagi, 2 halaman, dan seterusnya. Tapi kalau kalian baik<br />
selama 30 minit, dan konsentrasi, 1 halaman dihapus, dan dihapus lagi<br />
sampai menjadi nol. Kalau kamu mau kerjakan PR, silahkan lihat ke<br />
belakang terus. Kalau tidak mau PR, lihat ke depan. Silahkan pilih<br />
sendiri."]</p>
<p>Selain dari masalah itu (kegagalan managemen kelas), juga makan biaya<br />
untuk listrik. Dan juga, cahaya matahari adalah suatu zat yang<br />
penting untuk perkembangan dan kesehatan anak. Juga ada pengaruh<br />
psikologis bagi anak bisa merasa &#8220;terkurung&#8221; di dalam sebuah kelas<br />
yang gelap. Cahaya alamiah adalah hal yang baik yang seharusnya<br />
ditambahkan bukan dikurangi.</p>
<p>Saat kunjungi Jakarta Islamic School di Kalimalang, saya kaget<br />
melihat batang2 kayu di belakang sekolah dengan paku bangunan berdiri<br />
di tengahnya, seperti kayunya berduri. Ada tumpukan kayu (mungkin 70-<br />
100 batang) semuanya dengan paku yang berkaratan. Di depannya, 8 anak<br />
lari-lari main bulu tangkis tanpa memakai sepatu. Kalau ada yang<br />
injak ke samping, kaki akan kena. Kalau ada yang terdorong ke<br />
samping, kaki, paha, perut, dada, tangan dan mata bisa kena paku<br />
sekaligus. Saya panggil seorang pengurus karena melihat itu sebagai<br />
sesuatu yang berbahaya sekali. Seharusnya kayu itu tidak ada di<br />
sekolah. Komentar dia: &#8220;Wah, anak2 seharusnya tidak berada di situ.<br />
Kok pintu tidak dikunci.&#8221; Itu saja. Seharusnya kayu itu disingkirkan,<br />
atau ditutup, dana pintu ke belakang harus dikunci dan dicek setiap<br />
jam, dan seharusnya ada pengumuman di pintu yang melarang anak2 ke<br />
belakang dengan menyebutkan sangsi bila melanggar.</p>
<p>Di kantin, anak anak berjalan tanpa sepatu (karena semua anak<br />
lepaskan sepatu di pintu masuk sekolah ï¿½ lebih Islamiah kali?) dan<br />
menginjak tomat, daging, nasi, tulang ayam, sosis, saus tomat dan<br />
yang lain yang ada di lantai. Saya lewat kantin untuk mencapai<br />
ruangan kepala sekolah dan mencermati lantainya yang kotor karena<br />
anak2 baru selesai makan siang. Jadi, lepas sepatu lebih Islamiah,<br />
dan &#8230; menginjak sosis adalah hal yang Islamiah juga? Dengan melihat<br />
kondisi sekolah, lebih baik anak2 pakai sepatu terus. Setelah melihat<br />
kayu yang penuh paku, saya sangat meragukan kemampuan dari pengurus<br />
sekolah untuk menjaga kualitas pendidikan, karena sudah jelas mereka<br />
tidak bisa menjaga ruang fisik dari acaman dan bahaya terhadap anak<br />
(padahal itu jauh lebih utama).</p>
<p>Saya kunjungi sebuah sekolah SD kecil di sebelah sebuah masjid (saya<br />
lupa namanya). Kata salah satu orang tua saat bicara dengan saya,<br />
sekolah ini sangat bagus. Masa? Saya minta melihat kurikulum. Kepala<br />
sekolah mencari tapi tidak menemukan. Saya melihat daftar kelas2.<br />
Kurang lebih, yang saya ingat begini:</p>
<p>Menghafal al Qur&#8217;an.<br />
Bahasa Arab<br />
Bahasa Arab 2<br />
Membaca Al Qur&#8217;an<br />
Sejarah Islam<br />
Bahasa Inggris<br />
Matematika<br />
IPA<br />
(ada dua atau tiga lagi tapi saya lupa)<br />
Tidak ada Kesenian. Tidak ada Olahraga. Tidak ada musik. Tidak ada<br />
Ekskul. Saya bertanya kenapa? Katanya: 1) tidak ada waktu lagi. 2)<br />
Musik tidak boleh dalam Islam, katanya. 3) Kesenian tidak perlu. 4)<br />
Olahraga: mereka bisa main bola dengan teman2 setelah sekolah.</p>
<p>Luar biasa.</p>
<p>Kesenian: melatihkan motorik halus dengan menggambar, melukis, dsb.<br />
Melatihkan koordinasi tangan dan mata. Mempelajari warna dan campuran<br />
warna. Tidak semua orang menjadi ustdat, ada yang menjadi designer,<br />
berarti warna dan skil untuk membuat kombinasi warna perlu. Dari<br />
kebiasaan menggambar, ada yang menjadi artis, arsitek, designer, dan<br />
bahkan insinyur: rata-rata, insinyur membuat gambar mobil dulu dan<br />
dari itu lari ke Autocad, membuat design, lalu membuatnya secara<br />
nyata. Kalau anak2 main dengan warna, ketahuan kalau ada anak yang<br />
sering bermasalah dengan warna: salah pilih atau salah menyebutkan.<br />
Bisa jadi ada masalah dengan matanya, atau dia buta warna. Lebih<br />
cepat terdeteksi, lebih baik.</p>
<p>Olahraga: dengan lari-lari dan bermain, kelihatan perkembangan<br />
motorik kasar, dan koordinasi tangan dan mata. Anak yang sering jatuh<br />
bisa ada masalah dengan telinga dalam (keseimbangan) , atau dengan<br />
matanya (minus, silinder). Masalah dengan mata penting untuk<br />
terdeteksi dengan cepat karena bisa menggangu pelajarannya. Anak<br />
tidak tahu bahwa matanya bermasalah. Dia menanggap semua<br />
orang &#8220;melihat&#8221; seperti itu, jadi dia tidak akan komplain bahwa<br />
tulisan guru samar-samar.</p>
<p>Dengan main game di luar, anak belajar untuk membagi, berkompetisi,<br />
berlomba, menerima kekalahan dengan lapang dada, menang tanpa menjadi<br />
sombong, bekerja di dalam tim, bernegosiasi, bekerja cepat, berfikir<br />
cepat, ambil keputusan dengan cepat, dsb.</p>
<p>Musik: memainkan alat musik merupakan skil yang sulit. Mengembangkan<br />
motorik halus, gerakkan jari dengan cepat (seperti ketik), belajar<br />
mengikuti irama, menari, dan belajar puisi (lirik lagu sama dengan<br />
puisi) yang membantu perkembangan bahasanya dan kosa kata. Anak yang<br />
sulit mengikuti irama bisa ada masalah dengan pendengaran, bisa jadi<br />
dia kurang percaya diri, atau ada gangguan dengan koordinasi kakinya.<br />
Kalau dia tidak bisa menari, bisa ada gangguan telinga dalam, atau<br />
gangguan syaraf sehingga kakinya tidak bertindak sesuai dengan<br />
keinginannya.</p>
<p>Pemantauan seperti ini termasuk apa yang dikerjakan guru profesional,<br />
beda halnya dengan<br />
seorang lulusan ekonomi yang bisa bahasa Inggris<br />
dan menjadi &#8220;guru&#8221;. Saya pernah memberi tes bahasa Inggris kepada 100<br />
anak SD dan dari 100 anak itu, saya menemukan satu anak yang<br />
bermasalah: dia tidak mau memandang mata saya. Mungkin orang lain<br />
(seperti si lulusan ekonomi) hanya akan mengatakan bahwa dia seorang<br />
pemalu dan melupakannya. Tetatpi saya langsung telfon bapaknya. Dia<br />
menyatakan bahwa setelah saya berkomentar begitu, dia baru sadar<br />
bahwa anaknya memang suka begitu dengan orang lain (selain orang<br />
tua). Berarti bukan diri saya (sebagai bule) yang membuat dia<br />
takut/malu. Dia memang tidak suka memandang mata orang dewasa. Saya<br />
hubungi seorang psikolog dan minta anak ini diobservasi. Tidak<br />
memandang mata orang lain bisa berarti dia malu sekali, dan juga<br />
merupakan salah satu gejala Autis dan Asperger Syndrome (tipe Autis<br />
juga). Dari melihat anak itu dan setelah bertanya2 kepada bapaknya,<br />
saya menduga bahwa anak itu menderita dari Asperger Syndrome yang<br />
sangat ringan sehingga hanya ada satu gejala yang tampak: tidak suka<br />
memandang mata orang yang tidak dikenal! Untuk mengetahui kalau ada<br />
gejala yang lain, perlu dianalisa secara lengkap oleh seorang ahli.<br />
Saya serahkan kepada psikolog untuk melakukan diagnosis secara<br />
profesional.</p>
<p>Kalau saya bukan seorang guru, dan kalau saya tidak belajar tentang<br />
gejala penyakit yang diderita anak, dan kalau saya tidak memilih<br />
untuk melakukan investigasi (padahal tidak ada yang mewajibkan saya<br />
begitu), maka anak itu belum tentu terdeteksi sebagai penderita AS<br />
sampai umurnya sudah terlalu tua. Untuk masalah seperti itu, lebih<br />
cepat ditangani, lebih baik hasilnya, terutama dari sisi pendidikan.<br />
Seringkali, anak sudah besar, dan nilai sekolah makin buruk terus,<br />
baru ketahuan ada masalah yang mengganggu proses belajarnya.</p>
<p>Ada seorang teman yang memberitahu saya bahwa di sekolah dia ada guru<br />
yang menutup mulut anak TK dengan lakban (duct tape) karena&#8230; anak<br />
itu bicara terlalu banyak! Masa? Anak TK suka bicara? Dari kapan anak<br />
TK menjadi senang &#8220;bicara&#8221; di kelas? Bukannya semua duduk diam dan<br />
selalu nurut dengan gurunya? Ampun!!!!</p>
<p>Setelah diperiksa, inilah salah satu guru itu yang bukan guru, tapi<br />
orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris, karena ini<br />
sekolah &#8220;Bilingual&#8221;. Selamat kepada pemilik sekolah.</p>
<p>Saat saya periksa sebuah sekolah Islam di Jakarta Timur (saya lupa<br />
namanya) saya mengecek perpustakaan. Buku tidak banyak tapi cukuplah.<br />
Saya mengambil satu: ternyata buku teks matematika. Yang lain juga<br />
buku teks. Setelah saya bertanya pada Librarian (penjaga<br />
perpustakaan) , dia memberitahu saya bahwa hanya ada buku teks di<br />
perpustakaan. Tidak ada buku cerita. Ada sedikit di dalam kelas saja.<br />
Seharusnya, setiap minggu setiap kelas dapat waktu di perpustakaan.<br />
Selain dari mendengar guru baca buku, anak2 harus diberi kebebasan<br />
untuk memilih dan membaca buku sendiri. Bagaimana anak2 bisa<br />
mencintai buku kalau tidak ada pengalaman baca buku selain buku teks<br />
di sekolah?</p>
<p>Selandia Baru (New Zealand) adalah salah satu negara dengan tingkat<br />
kemampuan baca tulis (literacy rate) yang paling tinggi di dunia ï¿½<br />
sekitar 99% dari penduduk bisa membaca dan menulis. Perpustakaan di<br />
SMP saya di Selandia Baru sebesar dua lantai dengan jumlah buku<br />
mencapai puluhan ribu. Waktu di SD, perpustakaan lebih besar dari<br />
satu kelas, dan penuh juga dengan buku. Kalau anda menyatakan bahwa<br />
buku mahal sehingga tidak bisa begitu di Indonesia, saya menyatakan<br />
bahwa ada cara untuk mendapatkan buku. Kita yang harus kreatif untuk<br />
mememukan caranya.</p>
<p>Satu contoh: daripada memberikan piagam setelah setiap lomba, beli<br />
satu buku dan pasang stiker di halaman depan dengan tulisan &#8220;Buku ini<br />
diberikan kepada Budi Santosa sebagai Pemenang Pertama pada lomba&#8230;<br />
dst.&#8221; Dan semua buku itu menjadi sumbangan buat perpustakaan sekolah.<br />
Setiap kali ada yang pinjam buku itu, kelihatan nama si Budi di<br />
depan. Bukan saja dia menjadi pemenang lomba, tapi juga dermawan yang<br />
membantu membangun sekolah dan masa depan adik kelas!! Bukanlah itu<br />
lebih baik dan lebih bermanfaat daripada setiap anak yang lulus SD<br />
mendapat sekotak piagam murahan yang sudah pecah atah plastiknya<br />
rusak dan perlu disimpan atau dibuang?</p>
<p>Saat saya kunjungi Sekolah Citra Alam di Jl.Damai II Ciganjur, saya<br />
menjadi kaget melihat tempat yang begitu berbahaya, saya heran ada<br />
orang tua yang mau masukkan anaknya ke sana. Di belakang sekolah ada<br />
jurang tanpa pagar di atas. Pada saat saya ada di sana untuk Open<br />
Day, seorang anak mengejar bola dan berhenti sekitar 2 meter dari<br />
pinggir jurang itu.</p>
<p>(Kunjungan saya ke sana sudah beberapa tahun yang lalu. Kalau kondisi<br />
sekolah sekarang, saya sama sekali tidak tahu. Bisa jadi ada<br />
perbaikan. Dan ternyata sekolah ini berbeda dengan SEKOLAH ALAM yang<br />
juga terletak di Ciganjur).</p>
<p>Perlu dipahami bahwa anak kecil tidak bisa mengukur jarak karena<br />
matanya dan persepsi jaraknya masih berkembang. Oleh karena itu, anak<br />
sering jedot kepala di meja makan karena dia tidak bisa melihat ujung<br />
meja yang menonjol itu. Menurut mata, masih jauh. Lalu jedot. Kalau<br />
ada jurang tanpa pagar, dan dia sedang lari mengejar bola, mata dia<br />
menyatakan jurang masih jauh maka dia kejar bola terus. Lalu<br />
tergelincir. Juga benar bahwa anak belum pintar mempertimbangkan<br />
risiko seperti orang dewasa. Orang dewasa melihat jalan yang ramai<br />
dan menyeberang dengan hati-hati. Anak melihat jalan dan melintas<br />
saja karena bahayanya tidak langsung masuk pikirannya.</p>
<p>Jalan masuk sekolah itu dibuat dari batu kali yang bulat dengan<br />
ukuran 5-15 senti. Jalan tidak datar dan kita harus berjalan dengan<br />
pelan dan hati-hati. Saya yang dewasa hampir kena kaki terseleoh<br />
karena kaki saya injak batu besar dan tergelincir ke samping. Buat<br />
apa batu itu?</p>
<p>Pagar di sebelah jalan itu dibuat dari kayu bambu yang bagian atasnya<br />
ditajamkan, menjadi berbentuk seperti panah. (Tidak ada alasan untuk<br />
ditajamkan begitu). Tingginya sekitar 50-60 senti. Saya bisa<br />
bayangkan seorang anak mendorong temannya, dan pada saat dia jatuh ke<br />
atas pagar itu, dadanya bisa ketusuk.</p>
<p>Ada seekor rusa di dalam kandang. Tembok kandang dibuat dari kawat<br />
ayam. Karena mengunakan kawat ayam yang kurang panjang, dua lapis<br />
diikat sehingga ada bagian atas dan bagian bawah dengan ikatan di<br />
tengah. Ikatan juga menggunakan kawat yang kuat, tetapi tidak diikat<br />
dengan rapi. Ada banyak bagian yang menonjol keluar sekitar 10-15<br />
senti. Artinya, tembok kandgan itu menjadi &#8220;berduri&#8221; karena ujung2<br />
kawat yang menonjol. Kalau ada anak lari ke sana, dan mendorong<br />
temannya, pada saat anak itu hajar kawat ayam, dia bisa ditusuk oleh<br />
kawat yang menonjol. Tingginya duri kawat itu sekitar 1 meter dari<br />
tanah, atau setinggi mata anak. Kalau mata anak ketusuk, orang tua<br />
tidak bisa beli yang baru di Hero.</p>
<p>Artinya semua ini, Sekolah Citra Alam ini penuh dengan hal-hal yang<br />
berbahaya untuk anak. Di Australia, tempat seperti ini tidak akan<br />
mendapat izin menjadi sekolah. Untuk membangun sekolah, keamanan dan<br />
keselamatan adalah nomor satu. Selalu. Bayangkan kalau anda terima<br />
telfon seperti ini: &#8220;Maaf, Ibu. Anak anda menjadi buta karena matanya<br />
ketusuk kawat saat dia main di samping pagar&#8230; tapi nilai bahasa<br />
Inggrisnya tinggi. Bagus kan?&#8221;</p>
<p>Kalau anak berada di dalam keadaan yang berbahaya, apakah mungkin<br />
orang tua tidak akan peduli karena kurikulum di sekolah itu bagus?</p>
<p>Pada saat ada informasi (iklan 1 halaman) tentang Sekolah Citra Alam<br />
di sebuah koran, saya membaca suatu pernyataan yang paling konyol<br />
yang pernah saya baca berkaitan de<br />
ngan pendidikan. Kata Pengurus<br />
(seingat saya) &#8220;Kalau anak mau belajar tentang daun, maka dia harus<br />
memegang daun. Berarti harus ada hutan di depan sekolah.&#8221;</p>
<p>Masa? Kalau teori pendidikan ini benar, coba kalau kita kembangkan:</p>
<p>Kalau anak mau belajar tentang buaya, mereka harus memegang buaya.</p>
<p>&#8220;Nah, Budi, yang sendang gigit kaki kamu itu, namanya buaya! Lihat<br />
giginya yang besar. Jangan teriak. Kamu masih punya kaki satu lagi.&#8221;</p>
<p>Apakah begitu pendidikan? Kalau anak mau belajar tentang sesuatu,<br />
mereka harus mengalaminya secara langsung? Kalau belajar tentang alam<br />
semesta bagaimana? Atom? Pesawat? Piramida? Virus? Peredaran darah?<br />
Ledakan bom? Berapa banyak hal selain daun dan bunga yang bisa<br />
dihadirkan di sekolah? Dan pada saat saya melihat jendela kelas tidak<br />
ada kacanya (supaya dekat dengan alam) saya menjadi kuatir dengan<br />
Demam Berdarah. Nyamuk diberi akses penuh terhadap anak.</p>
<p>Saya mencari alat pemadam kebakaran (karena gedung dibuat dari kayu)<br />
tapi tidak menemukannya (mungkin ada, tapi disimpan supaya tidak<br />
kelihatan). Tapi karena tidak ada kaca di jendela, anak bisa loncat<br />
keluar dari kelas dengan mudah kalau terjadi kebakaran.</p>
<p>Intinya, orang yang membangun sekolah ini seakan-akan inginkan anak<br />
kembali hidup di tengah hutan seperti orang Mentawai. Saya bingung<br />
tentang kenapa ini menjadi idaman orang tua dan pemilik sekolah.</p>
<p>Sudah berkali-kali saya mengunjungi sebuah sekolah di DKI dan minta<br />
melihat kurikulum. Sering kali, kepala sekolah sulit menemukannya<br />
karena tidak tahu ada di mana. Lebih parah, sering ada yang<br />
menyatakan &#8220;Kita sedang menulisnya&#8221;. Dan &#8220;Kita&#8221; di sini adalah kepala<br />
sekolah dan para guru yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan.<br />
Pernah ada kepala sekolah menyatakan kepada saya: &#8220;Kita sudah membuat<br />
kurikulum untuk 6 bulan ke depan.&#8221;</p>
<p>Coba kita aplikasikan logika ini pada tempat yang lain: Kita naik bis<br />
dan pengemudi menyatakan &#8220;Saya ada peta untuk 6 kilo ke depan.<br />
Sisanya akan saya tulis dalam perjalanan kita ke Bali.&#8221; Apakah anda<br />
mau naik bis itu? Yakin bisa sampai ke tujuan?</p>
<p>Kalau kurikulum tidak dibuat dari K-6 dari awal sekolah, dan hanya 6<br />
bulan di depan murid, bagaimana kalau sampai ke Kelas 6 dan para guru<br />
baru sadar ada banyak yang belum sempat diajarkan? Dari ilmu 100%,<br />
baru 60% yang diajarkan dari K-5. Apakah 40% yang tersisa bisa<br />
diberikan dalam 1 tahun terakhir? Seperti apa kelasnya nanti?</p>
<p>Kayanya ada banyak sekolah seperti ini, dan mayoritas dari orang tua<br />
tidak sadar bahwa sekolah tanpa kurikulum adalah masalah besar.</p>
<p>Ada sebuah sekolah yang mendapat &#8220;guru bahasa&#8221; dari negara Inggris<br />
untuk menyusun program bahasanya. Masalahnya adalah di Inggris dia<br />
bekerja sebagai DJ (Disc Jockey) di sebuah klub malam, tidak ada<br />
latar belakang pendidikan, dan juga tidak lulus kuliah. Program<br />
bahasa yang dia susun itu diambil dari Amerika. Setelah diselidiki,<br />
ternyata program itu diciptakan untuk anak di Amerika yang cacat<br />
mental dan sama sekali tidak cocok untuk mengajar bahasa di sekolah<br />
di Indonesia.</p>
<p>Tetapi orang tua datang ke sekolah (&#8220;Kita sekolah bilingual lho!&#8221;)<br />
dan melihat bule, jadi mereka tidak bertanya tentang latar<br />
belakangnya. Yang penting bule.</p>
<p>Kalau mau tahu kalau sekolah bermasalah, coba cek kalau para guru<br />
sering diganti. Kalau setiap tahun ada banyak yang mengundurkan diri<br />
dan guru baru masuk, biasanya berarti ada masalah dengan managemen<br />
sekolah. Kalau gurunya bagus, dan kurikulum oke, tapi managemen<br />
sekolah tidak baik, maka guru akan keluar mencari kesempatan di lain<br />
tempat. Biasanya guru yang baik menjadi jenuh kalau kerjanya diganggu<br />
dan di otak-atik oleh pengusaha yang ingin mengatur sekolah sesuai<br />
dengan kemauan sendiri. Kalau guru sering diganti, dan<br />
kurikulum &#8220;sedang ditulis&#8221; maka jangan masukkan anak anda ke sekolah<br />
itu.</p>
<p>Semua masalah yang disampaikan di atas bisa diatasi. Tapi karena<br />
pemilik sekolah tidak mengerti pendidikan, hal seperti ini dianggap<br />
masalah kecil dan bukan utama. Dan sayangnya, orang tua tidak sadar<br />
bahwa sekolah anak mereka adalah tempat yang tidak ideal.</p>
<p>Mohon diingat bahwa saya tidak membuat artikel ini dengan niat<br />
menjelekkan nama sekolah yang saya sebutkan di atas. Tetapi sebagai<br />
seorang guru, saya merasa ada tanggung jawab untuk menyampaikan<br />
kritikan sekolah kepada para orang tua secara jujur. Kalau guru dari<br />
salah satu sekolah tersebut membaca artikel ini, mungkin dia<br />
tersinggung karena merasa sekolah dia oke-oke saja. Dan perlu<br />
dipahami, bahwa saya membandingkan sekolah di atas dengan sekolah<br />
ideal yang teratur secara baik.</p>
<p>Insya Allah pada suatu saat semua sekolah negeri di Indonesia bisa<br />
berubah menjadi sekolah ideal, dan sekolah swasta bisa dijaga secara<br />
ketat supaya tidak bisa menyimpang.</p>
<p>Masih ada banyak hal lain yang bisa saya sampaikan, tapi saya rasa<br />
sudah cukup untuk saat ini. Siapa saja boleh hubungi saya di<br />
<a href="http://us.f500.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=genenetto%40gmail.com" target="_blank"><span style="color: #1e66ae;">genenetto@gmail. com</span></a> bila masih ada pertanyaan tentang pendidikan.</p>
<p>Bisa jadi ada sekolah Islam yang bermutu di DKI, cuma saya belum<br />
mendengar tentang sekolah itu dan belum mengunjunginya.</p>
<p>Semoga bermanfaat,</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.,</p>
<p>Gene Netto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/03/17/komentar-tentang-sekolah-swasta-di-dki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Era Super Kids</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/02/06/era-super-kids/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/02/06/era-super-kids/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 08:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu&#8230;
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. 

Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu&#8230;<br />
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. </span></p>
<p><span id="more-811"></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan y</span><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">ang terkadang menguras isi kantung orangtua &#8230;..</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!</span><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">Hal ini terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Lucida Sans Unicode'">&#8220;We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development&#8221;. Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk&#8230; early ripe, early rot!</span></p>
<p>Anak-Anak Yang Digegas&#8230;<br />
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah.</p>
<p>Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra scorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.</p>
<p>Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada scorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith<br />
anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.</p>
<p>Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.</p>
<p>Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan &#8220;Early Childhood Training&#8221;. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok.</p>
<p>&#8220;Early Ripe, early Rot&#8230;!&#8221;<br />
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan &#8220;peluang emas&#8221; bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak&amp;shy; Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.</p>
<p>Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah &#8220;Era Headstart&#8221; merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.</p>
<p>Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal &#8220;The Process of Education&#8221; pada tahun 1990, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika .</p>
<p>Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.</p>
<p>Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep &#8220;kesiapan-readiness&#8221; dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang &#8220;biological limitiions on learning&#8217;. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini da<br />
n rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.</p>
<p>Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak &amp;shy;anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi &#8220;miniature orang dewasa &#8220;. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.</p>
<p>Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya &#8220;kedewasaan &#8220;, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai &#8220;anak&#8221;.<br />
Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki &#8220;Heintje&#8221; di era tahun 70-an&#8230; I&#8217;m Nobody&#8217;S Child I&#8217;M NOBODY&#8217;S CHILD I&#8217;M nobody&#8217;s child I&#8217;m nobodys child Just like aflower I&#8217;m growing wild No mommies kisses and no daddy&#8217;s smile Nobody&#8217;s louch me I&#8217;m nobody&#8217;s child</p>
<p>Dampak berikutnya terjadi &#8230; ketika anak memasuki usia remaja Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O&#8217;Brien menamakannya sebagai &#8220;The Shrinking of Childhood&#8221;. Lu belum tahu ya&#8230; bahwa gue telah melakukan segalanya&#8221;, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. &#8220;Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks &#8221; serunya bangga.</p>
<p>Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar&#8230;. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, &#8230;sebuah proses dalam kehidupannya !</p>
<p>Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga &#8220;baby sitter&#8221; sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai &#8220;Cinderella Syndrome&#8221; yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata vang mereka jalani.</p>
<p>Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak&amp;shy;-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Iembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.</p>
<p>ERA SUPERKIDS<br />
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva &#8220;be special &#8221; daripada &#8220;be average or normal&#8221; sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi &#8220;to exel to be the best&#8221;. Sebetulnya tidak ada yang salah. Nanun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya&#8230;maka lahirlah anak-anak super&#8212;&#8221;SUPERKIDS&#8217; &#8220;. Cost merawat anak supcrkids ini sangat mahal.</p>
<p>Era Superkids berorientasi kepada &#8220;Competent Child&#8221;. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya &#8220;earlier is better&#8221;. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah&#8230; ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!</p>
<p>BERBAGAI GAYA ORANGTUA<br />
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan &#8220;miseducation&#8221; terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:</p>
<p>Gourmet Parents&#8211; (ORTU B0RJU)<br />
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka &#8220;superkids&#8221; merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.</p>
<p>Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua &#8220;gourmet &#8221; atau- kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.</p>
<p>College Degree Parents &#8212; (ORTU INTELEK )<br />
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas.<br />
Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka &#8220;Superkids &#8220;, Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.</p>
<p>Gold Medal Parents &#8211;(ORTU SELEBRITIS )<br />
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia .. Ada ju<br />
ga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi &#8220;seorang Bintang Sejati &#8220;. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi &#8220;Sang Juara&#8221;, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.</p>
<p>Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta .. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.</p>
<p>Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus &#8220;bintang cilik&#8221; Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!</p>
<p>Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik &#8220;Joshua&#8221; yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang &#8220;superkid&#8221; &#8211;seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film&#8230;.</p>
<p>Do-it Yourself Parents<br />
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya &#8220;Superkids&#8221; &#8211;earlier is better&#8221;. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.</p>
<p>Outward Bound Parents&#8212; (ORTU PARANOID)<br />
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep &#8220;Superkids&#8221; Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya &#8220;Karate, Yudo, pencak Silat&#8221; sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah<br />
panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi &#8220;steril&#8221; dengan lingkungannya.</p>
<p>Prodigy Parents &#8211;(ORTU INSTANT)<br />
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.<br />
Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang &#8220;Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca&#8221; karangan Glenn Doman , atau &#8220;Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika&#8221; karangan Siegfried, &#8220;Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang&#8221; karangan Therese Engelmann, dan &#8220;Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari&#8221; karangan Sidney Ledson .</p>
<p>Encounter Group Parents&#8211;( ORTU NGERUMPI )<br />
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-&amp;shy;anak dengan berbagai perilaku &#8220;gang ngrumpi&#8221; yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai &#8220;Superkids&#8221; juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka<br />
biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.</p>
<p>Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)<br />
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.<br />
Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan &#8220;miseducation&#8221; dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.<br />
Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka bcgitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar scorang anak yang hebat den<br />
gan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!</p>
<p>Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah &amp;shy;terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita&#8221; (destoyevsky&#8217; s brothers karamoz)</p>
<p>PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK<br />
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah &#8220;Industri&#8221; dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai &#8220;Operator kurikulum&#8221; dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi &#8220;pengabar isi buku pelajaran&#8221; ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan &#8220;mesin-mesin dalam menskor&#8221; capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi<br />
dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah&#8230; dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk&#8230;. Namun sekolah tidak<br />
mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan &#8220;pedagogy of the oppressed&#8221; terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah&#8230;.</p>
<p>Mengkompetensi Anak&#8212; merupakan &#8221; KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?&#8221;<br />
Anak adalah anugrah Tuhan&#8230; sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab. &#8220;(Nature versus Nurture) bagaimana ?&#8221; Karena ada dua pengertian kompetensi.<br />
kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. SSebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita &amp;shy;sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.</p>
<p>Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : &#8220;Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I&#8217;ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select &#8212; doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors &#8221;</p>
<p>Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan &#8220;intervensi dini&#8221; setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur &#8220;Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)&#8221; dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : &#8220;The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were&#8230; simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey&#8221;</p>
<p>Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-&amp;shy;kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif. Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!. Pendidikan sejati bukanlah<br />
paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -&#8221;curiosity&#8221; inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. &#8220;Empty Sacks will never stand upright&#8221; &#8212; George Eliot</p>
<p>Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari &#8220;karakter&#8221;. Dimana mereka mendidik anak menjadi &#8220;good and smart &#8221; terang hati dan pikiran</p>
<p>Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan &#8220;how learn to learn&#8221; pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebag<br />
ai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.</p>
<p>Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa &#8220;genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration &#8220;. Semangat belajar &#8220;encourige&#8221; tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar.<br />
Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan &#8220;moral litermy&#8221; melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik &#8230;.</p>
<p>PENUTUP<br />
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran &#8220;good and smart&#8221; merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/02/06/era-super-kids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Si Kecil Berperilaku Buruk</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/02/05/ketika-si-kecil-berperilaku-buruk/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/02/05/ketika-si-kecil-berperilaku-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 06:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Namanya saja anak-anak, pasti ada saat-saat di mana mereka berkelakuan buruk. Tidak disiplin, ngambek, memukul, marah, dan sebagainya. Dalam menghadapinya, yang penting, bagaimana orangtua harus menyikapimya agar perilaku tak terpuji anak tak menjadi kebiasaan buruk di masa depan.
ANAK BALITA:
Usia 6 &#8211; 18 bulan:
Ketika sedang bermain, tiba-tiba si kecil menggigit tangan Anda. Apa yang harus dilakukan?

Jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Namanya saja anak-anak, pasti ada saat-saat di mana mereka berkelakuan buruk. Tidak disiplin, ngambek, memukul, marah, dan sebagainya. Dalam menghadapinya, yang penting, bagaimana orangtua harus menyikapimya agar perilaku tak terpuji anak tak menjadi kebiasaan buruk di masa depan.</span><br />
<strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">ANAK BALITA:</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
</span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Usia 6 &#8211; 18 bulan:</span></strong><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Ketika sedang bermain, tiba-tiba si kecil menggigit tangan Anda. Apa yang harus dilakukan?</span></p>
<p><span id="more-810"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jangan Lakukan:<br />
Jangan menggigitnya kembali. Banyak orang tua merasa, cara ini dapat memberi pelajaran bagi anak untuk tidak menggigit lagi di lain waktu. Maksudnya, biar anak kapok. Masalahnya, bayi yang masih kecil tidak mengerti, gigitan mereka menimbulkan rasa sakit atau sebaliknya. Hasilnya Anda berdua merasa sakit dan menderita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sebaiknya:<br />
1. Dorong bayi dengan hati-hati dan katakan, &#8220;Sayang, jangan gigit, ya. Kalau kamu menggigit Mama, Mama kesakitan.&#8221;<br />
2. Perlihatkan perilaku alternatif seperti memeluk.<br />
3. Berikan sesuatu yang lembut untuk digigit bila bayi sedang dalam tahapan tumbuh gigi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Usia 2 &#8211; 3 tahun:</span></strong><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Menendang dan berteriak, lalu si kecil yang sedang marah melemparkan mainan ke lantai toko karena Anda tidak mau membelikan mainan yang diinginkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jangan Lakukan:<br />
1. Jangan coba-coba memberi alasan atau penjelasan panjang lebar pada anak. Anak-anak yang sedang rewel tidak akan mendengarkan apa yang Anda katakan.<br />
2. Jangan kehilangan kendali, karena hal ini akan membuat anak takut dan memberikan contoh yang tidak bagus.<br />
3. Jangan menuruti kemauan anak karena justru membiasakan anak untuk<br />
bersikap rewel setiap kali keinginannya tidak diikuti.<br />
4. Jangan menyuap anak dengan permen atau yang lainnya karena hal ini akan membuat dia terbiasa mengharapkan sogokan bila keinginannya tidak<br />
dikabulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sebaiknya:<br />
1. Tetap tenang dan jangan khawatir dengan tanggapan/pandangan orang lain.<br />
2. Jangan berikan tanggapan. Beri perhatian sesedikit mungkin terhadap kerewelan anak, bila mungkin.<br />
3. Gendong si kecil bila perlu, untuk mencegah terjadinya kecelakaan kecil ataupun kerusakan pada barang yang dijual.<br />
4. Tinggalkan toko bila anak tetap rewel.<br />
5. Bila anak sudah tenang, jelaskan padanya bahwa Anda berdua akan keluar dari toko dan pulang bila dia tetap rewel.<br />
6. Beri hadiah bila anak berperilaku baik misalnya dengan menghabiskan waktu berdua secara istimewa. Makan es krim bersama, misalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Usia 3 &#8211; 4 tahun:</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
Anak mendorong atau mencubit teman sepermainannya atau menggunakan bahasa yang tidak baik. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Apa yang Anda lakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jangan Lakukan:<br />
1. Jangan memukul atau menanmpar. Tindakan ini mengajarkan pada mereka, menampar sah-sah saja bila sudah lebih besar.<br />
2. Jangan memberikan kritikan atau kehilangan kendali. Hal ini dapat mengurangi rasa percaya diri anak dan memberikan contoh yang tidak baik.<br />
3. Jangan menjauhkan anak dari teman-teman sepermainannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sebaiknya:<br />
1. Dengar alasan yang diberikan oleh anak tentang mengapa dia marah dan beri dukungan padanya bahwa dia berhak merasa marah dan mengekspresikan  kemarahannya secara tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">2. Ajarkan pada anak kata-kata yang baik dan tepat untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">3. Berikan sanksi padanya. Tidak perlu yang berat, misalnya minta si kecil untuk duduk diam dan manis selama beberapa menit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Anak-anak usia ini mulai belajar tentang peraturan dan batasan-batasan meski mereka tetap membuat kesalahan. Anak selalu perlu diingatkan dan diberikan konsekuensi langsung yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan membantunya belajar tanpa merasa dipermalukan atau dikonfrontasi dari orangtuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">UMUR 5 TAHUN KE ATAS</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
</span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Usia 5- 7 tahun:</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
Anda meminta anak membereskan mainannya. Dia menolak. Sesudah berulang kali memintanya, dia tetap tidak melakukannya. Apa yang harus dilakukan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jangan Lakukan:<br />
1. Jangan mengomel. Anak tidak peduli dan Anda akan menjadi lebih frustrasi.<br />
2. Jangan mencap anak dengan sebutan ’malas’ atau ’jelek’ karena hal ini akan membentuk rasa percaya diri yang rendah.<br />
3. Jangan membereskan mainan karena kesal karena anak tak juga melakukannya karena hal ini tidak mendidik.<br />
4. Jangan memberikan reaksi yang berlebihan dan jangan memberikan ancaman yang keras tetapi kemudian Anda luluh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sebaiknya:<br />
1. Beri penjelasan dengan tenang dan jelas apa yang harus dilakukannya, misalnya, &#8220;Kumpulkan lebih dahulu semua mainan dan kalau sudah terkumpul, masukkan di dalam kotak ini.&#8221;<br />
2. Tentukan waktu dan beri konsekuensinya bila dia tidak melakukannya.<br />
Contohnya, &#8220;Ibu minta kamu bereskan mainanmu dan harus sudah rapi sebelum makan siang. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Kalau tidak, kita tidak lagi bisa menerima teman-teman kamu bermain di sini.&#8221;<br />
3. Pastikan konsekuensinya cukup adil dan bahwa anak peduli dengan konsekuensi yang Anda berikan.<br />
4. Sesudah satu peringatan tanpa ancaman, ikuti dengan konsekuensi bila anak tidak menyelesaikannya sesuai dengan yang Anda minta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="unicode-bidi: embed; text-align: left; br: ltr;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Usia 8 &#8211; 10 tahun:</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
Sudah waktunya tidur malam dan ternyata anak belum selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ia justru sedang asyik membaca komik. Bagaimana reaksi Anda?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Jangan Lakukan:<br />
1. Jangan memarahi dan mengancam anak sebelum mengerti permasalahannya.<br />
2. Jangan mengambil alih tugasnya dengan mengerjakan pekerjaan rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Sebaiknya:<br />
1. Coba untuk mengerti mengapa anak belum menyelesaikan tugasnya. Tunjukkan simpati Anda bila pekerjaan rumahnya memang sulit dan membuatnya frustrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">2. Bantu anak menyusun jadwal kapan harus membuat pekerjaan rumah yang diimbangi dengan istirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">3. Biarkan anak mengalami sendiri konsekuensinya akibat tidak mengerjakan pekerjaan rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">4. Tunjukkan perasaan senang Anda pada saat melihat dia berusaha keras untuk menyelesaikan tugasnya, tidak hanya pada saat dia mendapatkan nilai yang bagus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><br />
Anak-anak pada usia ini menghadapi peningkatan tekanan dalam bersikap maupun dalam melakukan sesuatu, baik di sekolah maupun di depan teman-teman sepermainannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Mereka sangat khawatir akan penampilan mereka di hadapan orang lain. Pada saat yang sama, tanggung jawab mereka bertambah sementara orang tua tetap terus memberikan panduan dan batasan-batasan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Langkah berikut mungkin bisa membantu; tanyakan pada guru anak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan PR setiap malam.  Cari tahu masalah yang dihadapi oleh anak,  bila perlu, datangkan guru les.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/02/05/ketika-si-kecil-berperilaku-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
