-
Buku Kang Jaya Komarodin Cholic Akan Terbit – TAMASYA KE MASJID
Posted on June 4th, 2010 No commentsSetelah Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang-Banten, satu lagi buruh migran asal Banten – Bogor (Indonesia) menulis buku. Penulis bekerja sebagai buruh migrant di Persatuan Emirat Arab. Jaya Komarodin Cholic alias Lawang Bagja, namanya.
Dia menulis buku TAMSYA KE MASJID. Kata Jaya, “Buku Ini adalah bagian dari gerakan mengepung masjid! Di Banten dan Indonesia pada umumnya, masjid sepi. Di Dubai, masjid begitu ramai. Orang seperti bertamasya menghadap Allah!” Bagi saya, buku ini menyodorkan fakta, bahwa sholat berjamaah di mesjid-mesjid di Dubai seolah sedang tamasya menuju rumah-Nya, selalu penuh sesak. Berbeda dengan di kota-kota Indonesia yang sepi. Saya juga mersa bahagia setelah membaca buku ini, karena teringat saat Bapak mengajak saya berjamaah di mesjid kampung. Saya juga berlarian ke sana-kemari seolah sedang tamasya, persis seperti yang penulis alami di buku ini! .
(Gol A Gong, Majelis Penulis Forum Lingkar Pena)
-
Musafir Padang Pasir
Posted on June 11th, 2009 No commentsRombongan musafir memenuhi langit
melesat deras bagai anak panah meninggalkan busur
terbang tinggi bersama burung-burung raksasa
menembus gumpalan kapas putih di atas hamparan permadani biru
meretas jarak secepat buraq*Arakan musafir semakin banyak
mendarat di bumi tandus, bumi pasir dan angin
bergerombol satu sama lain
berharap ada telaga kautsar di sana
agar segera lenyap haus dan dahagaDi pinggiran teluk parsia Musafir tercekat,
tercengang ditampar panas membara di bulan agustus
matahari seakan turun beberapa centi
seolah ingin segera menghanguskan bumi
yang memang sudah semakin panas
ulah tangan-tangan setanMusafir berada di persimpangan
akankah kembali ke muasal
atau terbiarkan semakin terpanggang matahari
yang siap menyambut di bulan-bulan berikutnya
**Memory Royal Camp-Ruwais
Abu Dhabi -
Ketika Hati Sudah Terluka
Posted on October 23rd, 2007 No comments -
PERSETAN DENGAN EMANSIPASI!!!!!!!!!!
Posted on June 13th, 2007 No comments{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. 2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.Jarak antara kelahiran keduanya memang hanya satu tahun, tapi betapa mencengangkan karena ketika melahirkan Bumi, saya baru sadar bahwa saya lupa bagaimana rasanya melahirkan.
Saya lupa bahwa sebelum melahirkan itu ada "ritual" rasa panas yang sangat di bagian punggung, rasa melilit yang timbul tenggelam di perut,dan semakin sering saat waktu kelahirannya semakin dekat, orang bilang itu mulas, tapi saya tidak setuju, karena sakitnya 10 x lipat. Entah bagaimana tubuh saya tiba-tiba berkeringat dingin, rasa ngilu yang bahkan sampai ke tulang, memiringkan badan atau telentang, atau berjalan-jalan rasanya tak membantu, saat itu saya merasa sudah tak sanggup lagi mengendalikan kesadaran, ingin menjerit sekeras-kerasnya, atau bahkan ingin berlari?, melarikan diri dari deraan rasa sakit, yang datang bertubi-tubi dan tak dapat lagi ditolerir.
-
WANITA PELARIAN
Posted on May 28th, 2007 No commentsPanas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa sekali membuat kulit perih. Namun tak ada pilihan aku harus meneruskan pelarian ini.Sebuah truk gandengan lewat dan menyembunyikan klakson di depanku. “Ton..ton..!”. Aku diam tak bergeming. Kulirik truk menepi. Aku tahu sang supirnya menawarkan tumpangan. Sesaat ada keraguan dalam hati. Biasanya supir-supir di negeri ini dari Pakistani. Tampangnya lumayan cakep dengan postur tubuh tinggi besar. “Tapi.., ah! biasanya mereka memanfaatkan wanita sendirian sepertiku saat ini untuk melepaskan nafsu birahi”.Terdengar kembali bunyi klakson berungkali. Aku berusaha berpikir cepat. “Toh, sekalipun polisi yang lewat mereka pun pasti akan memperkosaku sebelum mengirimku ke penjara atau kemajikanku. Itu artinya usaha pelarianku sia-sia. Aku harus bisa sampai lebih cepat ke embassy!”.****










Komentar Pengunjung