<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indo-Emirates &#187; Indo-Sastra</title>
	<atom:link href="http://www.indo-emirates.org/category/indo-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indo-emirates.org</link>
	<description>Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais - Abu Dhabi - UAE</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 16:08:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buku Kang Jaya Komarodin Cholic Akan Terbit &#8211;  TAMASYA KE MASJID</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 07:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/?p=1235</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang-Banten, satu lagi buruh migran asal Banten &#8211; Bogor (Indonesia) menulis buku. Penulis bekerja sebagai buruh migrant di Persatuan Emirat Arab. Jaya Komarodin Cholic alias Lawang Bagja, namanya.
Dia menulis buku TAMSYA KE MASJID. Kata Jaya, &#8220;Buku Ini adalah bagian dari gerakan mengepung masjid! Di Banten dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setelah Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang-Banten, satu lagi buruh migran asal Banten &#8211; Bogor (Indonesia) menulis buku. Penulis bekerja sebagai buruh migrant di Persatuan Emirat Arab. Jaya Komarodin Cholic alias Lawang Bagja, namanya.</p></blockquote>
<blockquote><p>Dia menulis buku TAMSYA KE MASJID. Kata Jaya, &#8220;Buku Ini adalah bagian dari gerakan mengepung masjid! Di Banten dan Indonesia pada umumnya, masjid sepi. Di Dubai, masjid begitu ramai. Orang seperti bertamasya menghadap Allah!&#8221; Bagi saya, buku ini menyodorkan fakta, bahwa sholat berjamaah di mesjid-mesjid di Dubai seolah sedang tamasya menuju rumah-Nya, selalu penuh sesak. Berbeda dengan di kota-kota Indonesia yang sepi. Saya juga mersa bahagia setelah membaca buku ini, karena teringat saat Bapak mengajak saya berjamaah di mesjid kampung. Saya juga berlarian ke sana-kemari seolah sedang tamasya, persis seperti yang penulis alami di buku ini! .</p></blockquote>
<blockquote><p><strong><em>(Gol A Gong,  Majelis Penulis Forum Lingkar Pena)</em></strong></p></blockquote>
<p><a class="highslide img_2" href="http://www.indo-emirates.org/wp-content/uploads/2010/06/jaya.jpg" onclick="return hs.expand(this)"><img class="alignleft size-full wp-image-1236" title="jaya" src="http://www.indo-emirates.org/wp-content/uploads/2010/06/jaya.jpg" alt="" width="461" height="679" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musafir Padang Pasir</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 18:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ali alfarisi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Ali Alfarisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/2009/06/musafir-padang-pasir/</guid>
		<description><![CDATA[Rombongan musafir memenuhi langit
melesat deras bagai anak panah meninggalkan busur
terbang tinggi bersama burung-burung raksasa
menembus gumpalan kapas putih di atas hamparan permadani biru
meretas jarak secepat buraq*
Arakan musafir semakin banyak
mendarat di bumi tandus, bumi pasir dan angin
bergerombol satu sama lain
berharap ada telaga kautsar di sana
agar segera lenyap haus dan dahaga
Di pinggiran teluk parsia Musafir tercekat,
tercengang ditampar panas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rombongan musafir memenuhi langit<br />
melesat deras bagai anak panah meninggalkan busur<br />
terbang tinggi bersama burung-burung raksasa<br />
menembus gumpalan kapas putih di atas hamparan permadani biru<br />
meretas jarak secepat buraq*</p>
<p>Arakan musafir semakin banyak<br />
mendarat di bumi tandus, bumi pasir dan angin<br />
bergerombol satu sama lain<br />
berharap ada telaga kautsar di sana<br />
agar segera lenyap haus dan dahaga</p>
<p>Di pinggiran teluk parsia Musafir tercekat,<br />
tercengang ditampar panas membara di bulan agustus<br />
matahari seakan turun beberapa centi<br />
seolah ingin segera menghanguskan bumi<br />
yang memang sudah semakin panas<br />
ulah tangan-tangan setan</p>
<p>Musafir berada di persimpangan<br />
akankah kembali ke muasal<br />
atau terbiarkan semakin terpanggang matahari<br />
yang siap menyambut di bulan-bulan berikutnya<br />
**</p>
<p>Memory Royal Camp-Ruwais<br />
Abu Dhabi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Hati Sudah Terluka</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 00:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERSETAN DENGAN EMANSIPASI!!!!!!!!!!</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2007 11:28:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. 2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.Jarak antara kelahiran keduanya memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Jarak antara kelahiran keduanya memang hanya satu tahun, tapi betapa mencengangkan karena ketika melahirkan Bumi, saya baru sadar bahwa saya lupa bagaimana rasanya melahirkan. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya lupa bahwa sebelum melahirkan itu ada &quot;ritual&quot; rasa panas yang sangat di bagian punggung, rasa melilit yang timbul tenggelam di perut,dan semakin sering saat waktu kelahirannya semakin&nbsp;dekat,&nbsp;orang bilang itu mulas, tapi saya tidak setuju, karena sakitnya 10 x lipat. Entah bagaimana tubuh saya tiba-tiba berkeringat dingin, rasa ngilu yang bahkan sampai ke tulang, memiringkan badan atau telentang, atau berjalan-jalan rasanya tak membantu, saat itu saya merasa sudah tak sanggup lagi mengendalikan kesadaran, ingin menjerit sekeras-kerasnya, atau bahkan ingin berlari?, melarikan diri dari deraan rasa sakit, yang datang bertubi-tubi dan tak dapat lagi ditolerir. </span></p>
<p><span id="more-825"></span>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Sejauh mana tubuh ini dapat menahan rasa sakit?. Saya tidak tahu, karena tiba-tiba saja, saat saya merasa disitulah batas akhir saya, saat saya hampir menyerah menyongsong kegelapan, pandangan mata saya terang lagi, mendengar gumam hamdallah, dan tangis bayi yang sangat keras.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Subhanallah. &#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Semua sakit tadi sirna seketika, meski dengan tangan gemetaran karena tubuh ini luar biasa lemas, kekhawatiran tadi ternyata belum usai, bagaimana kondisi bayi saya?, sempurnakah. Dan kelegaan luar biasa saat saya lihat, si bayi merah itu memiliki semua properti lengkap untuk jadi manusia normal.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya belum tentu sanggup jika dihadapkan pada prosedur yang sama dalam waktu dekat ini, tapi harus saya akui bahwa rasanya sangat menakjubkan. It&#39;s so&#8230;.exciting, saya bahagia untuk makhluk mungil yang bahkan belum mampu mengerakkan tangan, saya jatuh hati padanya. Sampai saya ingin menangis, melihat ia tertidur dalam damai. Bibir mungilnya membentuk huruf O, sementara kedua matanya yang masih bengkak karena baru beberapa saat terkena udara bebas tertutup rapat-rapat. Ada saat dalam tidurnya ia membentuk senyum ompong, lain kali ia seolah meringis, berikutnya ia membuat gerakan seperti menyusu. Ada bau yang menggelitik saat saya mencium kepala mungilnya, perpaduan dari aroma minyak telon, bedak dan bau alami seorang bayi, aroma yang sangat menyejukkan hati. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Aroma yang mengirimkan getaran-getaran halus, yang seolah menyadarkanku bahwa mulai saat itu saya akan rela mati untuknya, bahwa mulai saat itu pusat&nbsp;gravitasi hidup saya adalah dia, bahwa mulai saat itu bahkan pria yang menyebabkan kelahirannya harus siap dinomorduakan.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Ingin rasanya memberitahu semua orang, lihat ini anakku. Bayi mungil tapi calon orang besar, cakep kan. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hatiku luar biasa bangga, sensasi yang belum pernah kurasakan seumur hidup. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hari berikutnya dihabiskan berkutat dengan popok dan bedak. Perasaan ingin melindunginya setiap saat, tapi&nbsp;tempat &nbsp;untukku bukan disitu, karena satu minggu kemudian, saya sudah harus kuliah lagi&#8230;&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya menangis dalam&nbsp;setiap detik&nbsp; perjalanan menuju kampus, hanya tangis dalam hati (karena jika sampai berurai air mata, orang-orang akan menganggap saya&nbsp;korban kekerasan dalam rumah tangga, &nbsp;menangis sepanjang jalan), tapi aneh sekali karena ternyata rasanya jauh lebih pilu dari tangis yang sesenggukan. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">saya menangisi bayi yang harus saya tinggalkan, saya menangisi air susu&nbsp; yang tumpah membasahi baju saya, saya menangisi kebodohan saya mengambil kuliah di teknik sipil, saya menangisi&nbsp;semuanya&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Bahkan suami yang terus mendukung saya untuk tetap kuliah.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Setinggi apa pendidikan yang saya tempuh, sejauh apa saya berjalan untuk menempuh cita-cita, pada akhirnya saya akan kembali kesana. Pada anak-anak saya.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hari ini saya pergi, menitipkan mereka pada pengasuh yang saya harapkan memberi cinta yang tak bisa saya berikan. Tapi betapa mirisnya, saya takut ketika pulang mendapati saya sudah terlambat untuk mendapat cinta mereka.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Untuk apa saya kuliah? Agar dapat berkarir cemerlang, untuk apa berkarir cemerlang? agar dapat uang banyak, untuk apa uang banyak ? agar anakmu dapat makan dengan layak, dapat sekolah di tempat yang bagus, dan tak perlu merasakan pahitnya kekurangan.. .</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan perdebatan itu pun mulai lagi&#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &quot;Raka, bolehkah saya&nbsp;jadi ibu rumah tangga?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEbaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;(termenung)&#038;quo</p>
<p>t; Yakin?, mau taruhan nggak kamu nggak akan kuat sebulan&nbsp;jadi&nbsp;ibu rumah tangga?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &quot;Nu, menyayangi anak itu bukan berarti harus ada di samping mereka sepanjang&nbsp;waktu, untuk apa kamu menemani mereka setiap detik tapi ketika mereka ingin sesuatu kita tidak bisa memberikannya, kamu pikir mudah melihat mereka&nbsp;&nbsp;kecewa, saat ingin sekolah kita tidak punya biaya, atau kita kekurangan saat&nbsp;&nbsp;mereka&nbsp;&nbsp;sedang masa-masanya perlu uang. Berpikirlah panjang. Gaji saya&nbsp;&nbsp;mungkin cukup jika untuk sekedar hidup, tapi hidup yang bagaimana&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Itu kan urusan Raka&#8230;., enu kan gak pernah minta macem-macem, minta buat &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; beli kosmetik aja gak pernah&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaj&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Saya tidak sudi melihat kamu pake lipstik, mau ngebadut?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;:(sebal)&quot;masalah kita kan bukan itu&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Masalahnya bukan cuma uang Nu, kalau hanya ingin uang, udah aja saya suruh&nbsp;kamu jualan di pasar, masalahnya saya lihat kamu itu berpotensi, sayang jika hanya jadi ibu rumah tangga, saya akan jadi orang paling biadab jika membunuh&nbsp;&nbsp;potensi kamu&#8230;.&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Bla..bla&#8230;. saya mulai merasa perdebatan itu bodoh dan menyebalkan. ..</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Keterangan:</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA = Istri yang rindu anaknya</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ= Suami yang Entah Baik atau Jahat</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Lagi-lagi, saya membuat daftar itu:</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Alasan jadi ibu rumah tangga:</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">1. Anak-anak saya sedang butuh perhatian.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2. Ingin jadi ibu yang baik.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">3. Lihat ke atas</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">4. Lihat ke atas.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">5. Mungkin saya akan belajar memasak.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">6. Jam terbang kuliah yang sudah seperti kerja rodi. Malemnya tetap harus begadang. &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; Tugas besar, kuis mingguan, asistensi, &nbsp;&nbsp;&nbsp; praktikum&#8230; .tambahan kuliah di luar &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; jadwal&#8230;..ingin muntah&#8230;., </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">7. Ipk yang parah&#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Alasan&nbsp;tetap &nbsp;kuliah</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">1. Tinggal satu tahun lagi, tanggung, jika keluar sekarang saya menyia-nyiakan perjuangan &nbsp;&nbsp;&nbsp; tahun-tahun sebelumnya</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2. Nama besar ITB terlalu sayang untuk disia-siakan</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">3. Mungkin suatu hari anak saya akan mengerti alasan saya meninggalkan mereka, siapa &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; tahu mereka akan bangga punya ibu seorang engineer, halah&#8230;&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Sekian tahun pergumulan batin, saya masih tetap di ITB.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Di kampus saya memikirkan anak saya, di rumah saya memikirkan tugas&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Oke, kaum laki-laki jangan dulu protes dengan mengatakan saya tidak bisa <em>memanage</em></span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">pikiran saya. Kalau masih bilang juga gua jitak pala lu, saat seorang&nbsp;lelaki pekerja&nbsp;pulang cepat karena alasan ingin menunggui anaknya yang sakit, semua spontan memuji mengatakan ia ayah teladan, tapi saat seorang ibu bekerja ingin pulang cepat karena anaknya sakit, ia malah mendapat cibiran tak dapat membagi waktu. Jangan sanggah karena saya SANGAT TAHU kondisi seperti itu.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dunia tak pernah berpihak pada ibu yang berperan ganda, karena itu saya muak pada yang namanya kesetaraan gender. Wanita tak akan pernah siap untuk setara. Tapi tentu tak adil juga mengungkung mereka.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">(Ibu Kartini, dengar, kebebasan yang Ibu perjuangkan dahulu malah saya ratapi, mungkin ada baiknya dahulu Ibu diam saja)</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Seorang ibu yang bekerja, ia masih akan tetap disalahkan ketika anaknya sakit, ketika kuku anaknya tampak seperti macan, ketika ia tak bisa mengingat dimana meletakkan map suaminya, ketika celana suaminya belum rapi disetrika.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;se</p>
<p>rif&#39;">Bukankah laki-laki lebih butuh wanita, daripada wanita butuh lelaki.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">{mosimage} Hentikan dulu perdebatan tentang para wanita yang bekerja di luar sana untuk menghindari rumah,&nbsp;untuk mengejar uang yang&nbsp;sebenarnya uang&nbsp;suaminya pun&nbsp;&nbsp;tak kan habis, karena pada suatu hari sepulang kuliah saya seangkot dengan ibu-ibu yang baru bubar kerja di pabrik tekstil.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Aroma bau keringat dan sayuran, untuk dimasak setiba di rumah&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&quot; Saya sebenarnya tidak mau bekerja, udah mah gajinya kecil, si bungsu jadi harus ditinggal-tinggal, tapi gimana, ngandelin gaji suami seminggu juga abis&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dengar, dan dimanakah kalian kaum macho?, mau bilang bahwa si istri tak qanaah, tak bisa mengelola uang dengan baik, padahal tahu bahwa jumlah yang kau berikan memang kecil.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Tidak, tentu saja saya juga tidak pantas menyalahkan para suami yang bergaji kecil, padahal udah kerja kaya kuda.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya akan salahkan KAPITALIS, saya akan salahkan SISTEM. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yang membuat kemiskinan ini seolah belenggu yang tak mudah dilepaskan, yang membuat bayi saya baru lahir sudah berutang pada orang asing yang bahkan sebagian besar bangsa ini tak kenal, yang membuat jutaan ibu harus keluar dari sarangnya yang nyaman, untuk menyambung kehidupan anak-anaknya. &#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan akhirnya, saya lelah&#8230;..</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya jadi seperti kelelawar yang menabrak-nabrak dinding,&nbsp;frustasi mendengar suara-suaranya sendiri dalam gua yang gelap.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dulu sekali, saya pernah lihat sebuah selebaran, bunyinya: &quot;SUDAH SAATNYA KAUM KAPITALIS UNTUK MUNDUR DARI ARENA PERCATURAN DUNIA, DAN MEMBERI KESEMPATAN PADA KEKHALIFAHAN ISLAM&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yah bunyinya kurang lebih seperti itu, saya hanya bisa nyengir kuda&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Mana mempan mereka digertak kayak gitu, sama seperti bilang &quot;Permisi Om, saya mau lewat&quot;,&nbsp;pada banteng yang lagi kalap. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Naif sekali</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yang kita perlu bukan gertakan, bukan spanduk, bukan seminar, tapi bagaimana si yahudi pemegang modal itu bertekuk lutut.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan lagi-lagi kita memang perlu duit.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SHIT!!!!!!!!</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hei, bukankah tulisan ini sangat berantakan.. ..</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANITA PELARIAN</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2007 21:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Lawang Bagja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Panas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei&#160;menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Panas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei&nbsp;menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa sekali membuat kulit perih. Namun tak ada pilihan aku harus meneruskan pelarian ini.</div>
<div></div>
<div>Sebuah truk gandengan lewat dan menyembunyikan klakson di depanku. &ldquo;Ton..ton..!&rdquo;. Aku diam tak bergeming. Kulirik&nbsp;truk menepi. Aku tahu sang supirnya menawarkan tumpangan. Sesaat ada keraguan dalam hati. Biasanya supir-supir di negeri ini dari Pakistani. Tampangnya lumayan cakep dengan postur tubuh tinggi besar. &ldquo;Tapi.., ah! biasanya mereka memanfaatkan wanita sendirian sepertiku saat ini untuk melepaskan nafsu birahi&rdquo;. </div>
<div>Terdengar kembali bunyi klakson berungkali. Aku berusaha berpikir cepat. &ldquo;Toh, sekalipun polisi yang lewat mereka pun pasti akan memperkosaku sebelum mengirimku ke penjara atau kemajikanku. Itu artinya usaha pelarianku sia-sia. Aku harus bisa sampai lebih cepat&nbsp;ke embassy!&rdquo;.&nbsp;</div>
<div>****</div>
<p><span id="more-824"></span>
<div id="ygrp-text">
<div>Dari tadi kulihat supir truk&nbsp;seyum-senyum melihatku.&nbsp;&nbsp;Mencuri pandang lewat kaca spion. Bau badan khas imigran Asia Tengah beraroma biryani membuat nafasku terasa pengap. Kucoba membuka cadar sesaat.</div>
<div>&rdquo; <em>wein ruh binti Hawa</em>?&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;<em><span style="background: 0% 50%; cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial">Jeddah</span></em>!&rdquo; Jawabku sambil memalingkan muka.</div>
<div>Sepertinya ia tahu&nbsp;kalau aku sedang mencoba melarikan diri. &ldquo;Embassy ha?..&rdquo; ia kembali bertanya. &ldquo;Sialan!&rdquo; rutukku dalam hati. Biasanya kalau sudah ketahuan bisa terbaca langkah selanjutnya. aku mencoba&nbsp;mengumpulkan strategi jangan sampai di tengah gurun ini ia memperkosaku kemudian&nbsp;mencampakkanku di gurun.&nbsp;</div>
<div>Kubuka cadar hitam penutup wajahku dan kukembangkan senyum.&nbsp;Ku dekati&nbsp;Supir Pakistani ini.&nbsp;Aku mencoba mengajukan penawaran kalau ia boleh menjamahku asal tidak di tengah gurun.&nbsp;Aku minta&nbsp;sampai&nbsp;kota terdekat,&nbsp;tunggu setelah aku makan dan mengumpulkan tenaga setelah capek melarikan diri dari rumah majikan. Aku bilang perutku keroncongan sekali tak bisa melayani sepenuh hati. Kulihat supir pakistani ini mengangguk senang.</div>
<div>Di depan ada deretan bangunan&nbsp;mirip restoran. Kulihat beberapa kendaraan berhenti di depan. Truk&nbsp;pun kemudian&nbsp;berhenti untuk&nbsp;parkir. Supir&nbsp;<span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Pakistan</span> ini begitu bersemangat. Mungkin ia pikir sebentar lagi akan melepaskan hajat. Biasanya para supir seperti ini hidup bertahun-tahun tanpa keluarga. Hidup&nbsp;dalam&nbsp;kondisi alam dan sosial yang keras.&nbsp;Nafsu sek mereka memang sudah sampai ke ubun-ubun.</div>
<div>Sambil turun&nbsp;aku berdoa, &ldquo;Gusti Allah, tolong&nbsp;selamatkan aku. Tak mungkin kuserahkan mahkota suci ini selain kepada kang Radik. Suamiku di Serang.&rdquo;&nbsp;di dalam restoran supir&nbsp;Pakistani tadi sudah terlebih dahulu menyantap makanan di depan meja. Aku permisi sebentar dengan alasan ke toilet.&nbsp;</div>
<div>Supir Pakistani ini mencak-mencak kepada pemilik restoran.</div>
<div>&ldquo;<em>Suhada anta?&nbsp;La ma&rsquo;lum binti hawa</em>!&rdquo;.</div>
<div>Rupanya ia marah karena membiarkan wanita yang duduk memakai abaya hitam dengannya telah kabur lewat pintu belakang.&nbsp;Pemilik restoran tadi rupanya tidak menerima perlakuan sang supir. Hampir saja terjadi <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">baku</span> hantam kalau saja tidak dilerai oleh kawannya. Musnah sudah impian supir Pakistani.&nbsp;Rasa penyesalan muncul,&nbsp; <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">coba</span> ia melahap wanita tadi di tengah gurun tanpa memperdulikan permintaannya.</div>
<div>****</div>
<div>Aku masih meringkuk di sebuah taksi kosong. Sambil menahan lapar dan&nbsp;panas terkurung di dalam mobil.&nbsp;Saat keluar pintu belakang aku&nbsp;periksa setiap kendaraan yang parkir barangkali ada yang tidak terkunci.&nbsp;Beruntung&nbsp;ada taksi yang mungkin akan kembali ke kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span> setelah&nbsp;mengantarkan penumpang&nbsp;ke <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Dammam</span> dan mungkin&nbsp;lupa mengunci pintu belakang.&nbsp;Kira-kira setengah jam lebih aku&nbsp;meringkuk di jok belakang. </div>
<div>Semoga saja tidak ada penumpang yang akan ikut naik.&nbsp;Tidak lama kemudian,&nbsp;sang supir taksi rupanya datang.&nbsp;Aku tak berani menatap siapa dan warga negara apa yang membawa. Bisa jadi masih Pakistani, Afghanistani, atau bisa juga pinoy dan Indonesian. Biarkan mobil ini melaju.&nbsp;Aku harus bisa lepas dari Supir Pakistani tadi. Kini, hanya&nbsp;abaya&nbsp;yang melekat dalam tubuhku menyertai pelarian ini.</div>
<div>****</div>
<div>Terdengar bunyi <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">HP</span> berdering, &ldquo;Halo, assalamu&rsquo;alaikum!&rdquo; , &ldquo;Alhamdulilah baik-baik pak!&rdquo;. Aku terkejut ketika mendengar suara supir taksi. Alhamdulilah, ia Indonesian. Paling tidak aku harus menunggu sampai ia menyelesaikan pembicaraannya.</div>
<div>&ldquo;Astagfirullah. .!&rdquo; sesaat mobil oleng supir taksi&nbsp;sangat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. kemudian mobil menepi.</div>
<div>Ia berbalik,&rdquo;&nbsp;Sejak kapan mbak sudah duduk di mobil saya? saya kira kuntilanak gurun!&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;Maaf mas, tolong saya mas..saya terpaksa naik diam-diam..saya kabur&hellip;.&rdquo; dan cerita mengalir dari mulutku.&nbsp;</div>
<div>Mungkin doaku dikabulkan.&nbsp;Hamdan mau menerima alasanku. Ia berjanji akan mengantarkanku sampai embassy.</div>
<div>&ldquo;Makanya mbak, jangan mudah tergiur tawaran agen. Hukum perlindungan untuk para TKW masih rendah. Salah-salah, mbak hanya jadi budak pemuas nafsu majikan. Beruntung mbak bisa kabur. banyak kok yang gak bisa kabur. ujung-ujungnya&nbsp;pasrah terima nasib jadi pemuas nafsu. Banyak yang pulang dalam keadaan bunting transit di Singapur untuk melahirkan, Jual bayinya trus balik lagi ke sini. Sampai kapan hidup terus seperti itu? Mending tinggal di gunung tapi deket sama gusti Allah daripada deket ka&rsquo;bah malah jadi hamba pemuas nafsu!&rdquo;&nbsp;</div>
<div>Aku hanya terdiam mendengarkan Hamdan memberi nasehat. Terbayang cita-cita serta harapanku bekerja di Timur Tengah. Aku ingin seperti Sarikah yang bisa membangun rumah baru. Pulang dengan membawa hp dan emas perhiasan. kulihat suaminya juga bisa dikreditkan bebek untuk mengojek. Kang Radik suamiku, hanya buruh bangunan. Rencananya uang hasil keringatku akan dibuatkan warung makan mirip warteg. Prospek bisnis ini menjanjikan. Kata kang Radik banyak buruh di Serang Timur yang butuh warung makan murah. Yang peting kenyang dan sehat.&nbsp;Ya, Kami memang sedang berjuang memperbaiki kesejahteraan.</div>
<div>&ldquo;<em>Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">wis</span> ane warung makan kien sire balik maning</em>!&rdquo;.&nbsp;Begitu kata kang radik.&nbsp;&nbsp;</div>
<div>Di perjalanan, Hamdan mencarikanku&nbsp;makanan untuk mengganjal perut.&nbsp; Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku lewat tangan Hamdan.</div>
<div><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Dammam</span> &#8211; <span style="background: 0% 50%; cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-b</p>
<p>ackground-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial">Jeddah</span>&nbsp;memakan waktu lebih dari 24 jam. Menjelang subuh mobil yang&nbsp;aku tumpangi akan mencapai <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>.&nbsp;&rdquo;Mbak, kayaknya ada pemeriksaan di depan! Ada&nbsp;<em>Syarthoh</em>! berdoa saja mbak..!&rdquo;.&nbsp; Kerlap-kerlip&nbsp;lampu patroli mobil&nbsp;begitu menyilaukan.&nbsp;Taksi melaju perlahan.</div>
<div>&ldquo;kok di tempat sepi begini ada operasi sih mas?&rdquo;</div>
<div>&nbsp;&rdquo;biasa mbak.., di sini polisi juga cari tambahan&rdquo;.&nbsp;</div>
<div>Seorang polisi melambaikan tangan meminta mobil kami untuk menepi.</div>
<div>&ldquo;Assalamu&rsquo;alaikum kapten!&rdquo;&nbsp;Polisi tadi tidak menjawab salam Hamdan. Matanya memeriksa&nbsp;jok belakang.</div>
<div>Hamdan diborgol. Aku&nbsp;berdiri menatapnya. Ia dituduh&nbsp;membawa pelarian TKW. Hamdan menatapku.</div>
<div>&ldquo;Gak apa-apa mbak! ini sudah nasib saya. kalau ada kesempatan, mbak kabur dari mereka.&nbsp;Jangan mau dikembalikan kemajikan lagi. Bisa-bisa mbak disiksa dan diperkosa!&rdquo;.</div>
<div>Aku tercekat saat salah satu polisi menamparnya berulang kali.</div>
<div>&nbsp;&rdquo;<em>Uskut, la tatakallam</em>!!&rdquo;.</div>
<div>&nbsp;Sepertinya&nbsp;Hamdan tak peduli. Ia terus bicara.&nbsp;&rdquo;Mbak, dibawah jok mobil saya ada uang beberapa real. Ambil saja&nbsp;buat jaga-jaga. jangan sampai ketahuan, nanti bisa diambil sama mereka!&rdquo;.</div>
<div>&nbsp;Kali ini Salah satu <em>syarthah</em> menendangnya. Rambut Hamdan dijambak.&nbsp;</div>
<div>Kudekati salah satu polisi yang sedang berbicara lewat pesawat HT. Setelah berbicara sebentar polisi tadi menghampiri temannya. kemudian mereka berbicara dalam dialeg lokal. Tidak lama kemudian mereka memasukan saya ke dalam mobil polisi&nbsp;bersama polisi dan temannya.</div>
<div>Hamdan menatap mobil polisi yang bergoyang berulangkali.&nbsp;Tak kuat hatinya menatap kebiadaban&nbsp;terjadi di depan mata.&nbsp;</div>
<div>Digigit bibirnya sampai berdarah.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</div>
<div>****</div>
<div>Fajar menyingsing di muka kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>. Tak ada pembicaraan antara aku dan Hamdan. Aku sendiri diam seribu basa. Seolah tidak ada yang terjadi.</div>
<div>&nbsp;&rdquo;Di depan embassynya Mbak!&rdquo;. Ujar Hamdan tanpa menoleh.</div>
<div>&ldquo;Terimakasih mas sudah menyelamatkan saya&nbsp;sampai embassy!&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;Ndak, saya yang mesti terimakasih mestinya saya sudah meringkuk di penjara, sampai&nbsp;akhirnya mbak mesti&nbsp;berkorban&rdquo;.</div>
<div>Aku tersenyum letih. Ada perasaan lega usaha pelarianku membuahkan hasil. Akhirnya kedua syarthah melepaskanku dan Hamdan&nbsp;setelah mereka melampiaskan nafsunya padaku di dalam mobil.</div>
<div>&ldquo;Ini uang beberapa real,&nbsp;untuk jaga-jaga&rdquo;.&nbsp;Aku ragu untuk menerima tapi&nbsp;aku memang butuh.&nbsp;Akhirnya kuambil dengan berat hati.</div>
<div>&nbsp;Sampai di depan gerbang embassy&nbsp;Hamdan mengantarkanku. Ketika pintu gerbang di buka aku tersentak. Kulihat Walid majikanku sedang berbicara&nbsp;akrab sekali dengan petugas embassy&hellip;</div>
<div><strong>glosary:</strong></div>
<div><em>Wein ruh binti Hawa: mau pergi kemana binti&nbsp; hawa (panggilan untuk wanita)</em></div>
<div><em><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span> : kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>, Saudi.</em></div>
<div><em>uskut La tatakallam: Diam jangan bicara kamu</em></div>
<div><em>Suhada anta?&nbsp;La ma&rsquo;lum binti hawa : Bagaimana kamu ini, gak tahu kemana perginya wanita tadi.</em></div>
<div><em><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Wis</span> lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">wis</span> ane warung makan kien sire balik maning: sudahlah, gak apa-apa kamu kerja di Arab sebentar. Nnati kalau warungnya sudah jadi kamu balik lagi.</em></div>
<div><em>Syarthah : Polisi</em></div>
<div><em>abaya; baju hitam khas lokal untuk wanita</em></div>
<div><em>Dammam : nama salah satu kota di Saudi</em></div>
<div></div>
<div><em>Nama Penulis cerita: Lawang Bagja. penulis sebelumnya volunteer rumah dunia dan pernah menjadi pj Audio Visual. Beberapa karya film pendeknya: hari-hari Adi, BelokKiri Dilarang langsung, Rin..!, Jejak Multatuli, Ode Kampung, dll. Saat ini Penulis bekerja di <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">UAE</span> di sebuah perusahaan swasta.</em></div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span style="color: white">__._,_.___</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
