<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indo-Emirates - Ruwais &#187; Indo-Sastra</title>
	<atom:link href="http://www.indo-emirates.org/category/indo-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indo-emirates.org</link>
	<description>Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais - Abu Dhabi - UAE</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 19:47:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Tamasya Ke Taman Surga</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2011/04/07/tamasya-ke-taman-surga/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2011/04/07/tamasya-ke-taman-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 08:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ali alfarisi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Barangsiapa siapa mengunjungiku sepeninggalku, maka seolah olah mengunjungiku pada masa hidupku.&#8221; (Hadist Riwayat Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni) Saat memutuskan untuk menjalankan umroh bersama istri dan ketiga anak saya dengan mengendarai mobil, saya lebih ingin menapak tilasi perjalanan Rosululah dalam berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Pertama kali bisa berdekatan dengan makam Rosulullah SAW di Masjid Nabawi, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Barangsiapa siapa mengunjungiku sepeninggalku, maka seolah olah mengunjungiku pada masa hidupku.&#8221;</em> (Hadist Riwayat Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni)</p>
<p>Saat memutuskan untuk menjalankan umroh bersama istri dan ketiga anak saya dengan mengendarai mobil, saya lebih ingin menapak tilasi perjalanan Rosululah dalam berhijrah dari Mekkah ke Madinah.</p>
<p>Pertama kali bisa berdekatan dengan makam Rosulullah SAW di Masjid Nabawi, saya sudah menyiapkan salam khusus untuk Rosulullah SAW sebagaimana yang saya dapatkan dari buku Terapi Hati-nya Hernowo yang bersumber dari buku Fiqh Praktis 1 maha karya Syaikh Husain Bin `Audah Al-Awayisyah.</p>
<p>Salam khusus ini saya catat di secarik kertas dan saya lantunkan secara berulangkali setiap mendekati maka Rosulullah SAW yang bersebelahan dengan makam Abu bakar dan Umar bin Khattab tidak jauh dari Raudah.</p>
<p><em>Salam untukmu, wahai Rosul Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu, wahai Nabi Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai pilihan Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai yang paling utama diantara makhluk Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai kecintaan Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai penghulu utusan Allah.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai utusan Tuhan semesta alam.</em></p>
<p><em>Salam untukmu wahai para pemimpin pejuang kebenaran.</em></p>
<p><em>Salam untukmu dan anggota keluargamu yang Allah telah menghapus dosa mereka dan menyucikan mereka dengan sesuci-sucinya.</em></p>
<p><em>Salam untukmu dan para sahabatmu yang baik-baik, serta istri-istrimu: wanita-wanita suci dan ibu-ibu bagi kaum mukiminin.</em></p>
<p><em>Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa egkau adalah hamba dan utusan-Nya; dan orang-orang kepercayaan dan pilihan-Nya diantara makhluk-Nya. Dan aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan senantiasa tulus ikhlas kepada ummat. Dan bahwa engkau telah berjihad dijalan Allah dengan sebaik-baik jihad.</em></p>
<p><em>Maka untuk semua itu, semoga Allah bersholawat dan melimpahkan rahmat, kedamaian, kemuliaan, keagungan atas dirimu dan seluruh anggota keluargamu yang baik-baik untuk selamanya.</em></p>
<p>Selama tiga hari berada di Madinah, di Masjid Nabawi, rasanya tak ingin sekali pun setiap selesai sholat untuk tidak bertamasya ke taman-taman surga, melewati Raudah dan mendekati makam Rosulullah SAW. Lokasi penginapan yang persis di depan Raudah semakin memudahkan saya untuk melakukannya.</p>
<p>Bertafakur di Raudah sambil membayangkan sedang mengikuti halaqoh-halaqoh yang dipimpin oleh Rosulullah SAW. Berdzikir, bertahmid dan bertasibih di bawah mimbar Rosulullah SAW seolah sedang mendengarkan khutbah yang disampaikan Rosulullah SAW. Duduk berlama-lama membaca Al-qur`an di Raudah bersama para shahabat dekat Rosulullah SAW sungguh menjadi nikmat tersendiri selama perjalanan umroh ini. Rasa letih setelah driving ribuan kilo meter dari Abu Dhabi-Riyadh-Mekkah-Madinah terbayar sudah. Saya berharap membawa kemuliaan dan keagungan Rosululloh SAW dan para shahabat untuk bisa saya terapkan kepada pribadi dan saya tularkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat saya.</p>
<p>Sesungguhnya saya sangat malu berdekatan dengan Rosulullah SAW dan para shahabat RA terbaiknya meskipun hanya kuburnya. Mengingat betapa kotornya jiwa ini oleh debu-debu dosa yang melekat, masih bersemayamnya penyakit hati, miskinnya amalan-amalan sunnah serta nihilnya usaha untuk meninggikan Dien Islam yang telah diperjuangkan Rosulullah SAW dan para shahabat RA dengan tetesan darah syahid mereka.</p>
<p>Membuncah nafas di dada melihat berjubel orang meratap pilu, menangis, tak terhitung air mata terburai, tumpah di atas karpet-karpet tebal Raudah dan area makam Rosulullah SAW. Semoga air mata itu-air mata kami tidak tumpah hanya karena kebahagiaan bisa berdekatan dengan makam Rosul SAW, ataupun mengagumi Rosulullah SAW sebagai manusia yang diutus Allah menjadi Nabi terakhir, melainkan lebih kepada kesadaran diri untuk memposisikan Rosulullah SAW sebagai pemimpin umat dan suri tauladan yang harus diikuti segala perbuatannya dalam menjalankan Islam secara menyeluruh dan utuh. Semoga air mata-air mata itu juga sedang menangisi umat Islam yang setelah sepeninggal Rosulullah SAW seperti buih di lautan. Meski banyak jumlahnya tapi seperti tiada keberadaannya.</p>
<p>Hanya harapan dan doa yang disampaikan semoga setelah umroh ini, kita lebih bisa bermanfaat tidak hanya untuk keluarga dan orang-orang sekitar, tapi lebih khususnya untuk Dien yang kita yakini kebenarannya, Islam. Semoga kita tetap bisa bersama dengan orang-orang yang meninggikan Dien Allah di atas Dien-dien yang lainnya dimuka bumi ini.</p>
<p>Berada di Madinah sungguh lebih nyaman dibandingkan dengan ketika masih tinggal di Mekkah. Kota madinah lebih bersahabat, masyarakatnya sekitar lebih <em>soft</em> dan orang-orang yang berada disana pun lebih lembut dan sopan dalam bertutur kata. Memang sudah seharusnya kita merasakan suasana seperti ini di Madinah, maka sungguh beruntunglah orang-orang yang tinggal di Madinah.</p>
<p>Tidak seperti saat berada di Mekkah yang serba keras dan kasar. Hanya ketika berada di Masjidil Haram-lah kita merasakan kedamaian Mekkah. Keluar dari area masjid, kita harus pasang kuda-kuda. Segala sesuatu bisa terjadi diluar jangkauan pemikiran kita. Seperti satu kejadian saat dalam perjalanan dari Riyadh ke Mekkah. Karena sudah sampai waktu maghrib, saya dan seorang teman memutuskan untuk memarkirkan mobil di masjid terdekat.</p>
<p>Sebenarnya hati sudah kurang nyaman karena masjid ini tidak ada tempat khusus untuk wanita, tapi istri-istri kami tetap memutuskan untuk mengikuti sholat berjamaah meski harus di halaman masjid. Selesai sholat saya mendapatkan laporan kalau istri saya terpaksa membatalkan sholatnya karena ada pemuda lokal yang mendekat dan menggoda istri saya serta menuliskan nomor HP nya di selembar kertas.</p>
<p><em>Hufh..</em> Selepas itu saya harus merubah <em>mind set</em> saya yang terbiasa merasa nyaman saat berada di Abu Dhabi-tempat tingal saya dan keluarga, di mana keamanan warga khususnya wanita benar-benar diprioritaskan oleh polisi pemerintah setempat.</p>
<p>Pada hari pertama sampai di kota Mekkah, saya sempat dibuat kaget oleh tingkah polah masyarakatnya, khususnya warga lokal. Keras, kasar dan tidak bersahabat amat terlihat dari wajah-wajah mereka. Mungkin ini hanya penilaian saya yang amat subjektif karena hanya empat hari saja berada di sana.</p>
<p>Aturan berlalu lintas yang tidak diperhatikan, anak-anak kecil yang kebut-kebutan dengan GMC raksasanya dan kebanyakan mobil-mobil warga Mekkah <em>body</em>-nya penyok, bekas senggolan dengan mobil lain, membuat saya harus extra hati-hati berkendara, tentu kalau tidak ingin kena seruduk mobil lain.</p>
<p>Demi melihat wilayah Mekkah yang berbatu, masyarakat yang keras watak dan tingkah polahnya dan daerah yang tandus dan panas ini, satu hal yang menjadikan saya semakin takjub kepada Nabi kita SAW. Ya Rosulullah SAW, bagaimana daerah yang keras dan panas ini dapat membangun sifat-sifat luhur dan mulia sebagaimana yang engkau tampakkan? <em>Subhanallah wallahu akbar</em>.</p>
<p><em>Tribute</em> untuk keluarga pak Samsudin yang telah menemani perjalanan umrah keluaga saya.</p>
<p>Ruwais, Abu Dhabi-menjelang fajar 07 April 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2011/04/07/tamasya-ke-taman-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Kang Jaya Komarodin Cholic Akan Terbit &#8211;  TAMASYA KE MASJID</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 07:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/?p=1235</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang-Banten, satu lagi buruh migran asal Banten &#8211; Bogor (Indonesia) menulis buku. Penulis bekerja sebagai buruh migrant di Persatuan Emirat Arab. Jaya Komarodin Cholic alias Lawang Bagja, namanya. Dia menulis buku TAMSYA KE MASJID. Kata Jaya, &#8220;Buku Ini adalah bagian dari gerakan mengepung masjid! Di Banten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setelah Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang-Banten, satu lagi buruh migran asal Banten &#8211; Bogor (Indonesia) menulis buku. Penulis bekerja sebagai buruh migrant di Persatuan Emirat Arab. Jaya Komarodin Cholic alias Lawang Bagja, namanya.</p></blockquote>
<blockquote><p>Dia menulis buku TAMSYA KE MASJID. Kata Jaya, &#8220;Buku Ini adalah bagian dari gerakan mengepung masjid! Di Banten dan Indonesia pada umumnya, masjid sepi. Di Dubai, masjid begitu ramai. Orang seperti bertamasya menghadap Allah!&#8221; Bagi saya, buku ini menyodorkan fakta, bahwa sholat berjamaah di mesjid-mesjid di Dubai seolah sedang tamasya menuju rumah-Nya, selalu penuh sesak. Berbeda dengan di kota-kota Indonesia yang sepi. Saya juga mersa bahagia setelah membaca buku ini, karena teringat saat Bapak mengajak saya berjamaah di mesjid kampung. Saya juga berlarian ke sana-kemari seolah sedang tamasya, persis seperti yang penulis alami di buku ini! .</p></blockquote>
<blockquote><p><strong><em>(Gol A Gong,  Majelis Penulis Forum Lingkar Pena)</em></strong></p></blockquote>
<p><a class="highslide img_2" href="http://www.indo-emirates.org/wp-content/uploads/2010/06/jaya.jpg" onclick="return hs.expand(this)"><img class="alignleft size-full wp-image-1236" title="jaya" src="http://www.indo-emirates.org/wp-content/uploads/2010/06/jaya.jpg" alt="" width="461" height="679" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2010/06/04/buku-kang-jaya-komarodin-cholic-akan-terbit-tamsya-ke-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musafir Padang Pasir</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 18:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ali alfarisi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Ali Alfarisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/2009/06/musafir-padang-pasir/</guid>
		<description><![CDATA[Rombongan musafir memenuhi langit melesat deras bagai anak panah meninggalkan busur terbang tinggi bersama burung-burung raksasa menembus gumpalan kapas putih di atas hamparan permadani biru meretas jarak secepat buraq* Arakan musafir semakin banyak mendarat di bumi tandus, bumi pasir dan angin bergerombol satu sama lain berharap ada telaga kautsar di sana agar segera lenyap haus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rombongan musafir memenuhi langit<br />
melesat deras bagai anak panah meninggalkan busur<br />
terbang tinggi bersama burung-burung raksasa<br />
menembus gumpalan kapas putih di atas hamparan permadani biru<br />
meretas jarak secepat buraq*</p>
<p>Arakan musafir semakin banyak<br />
mendarat di bumi tandus, bumi pasir dan angin<br />
bergerombol satu sama lain<br />
berharap ada telaga kautsar di sana<br />
agar segera lenyap haus dan dahaga</p>
<p>Di pinggiran teluk parsia Musafir tercekat,<br />
tercengang ditampar panas membara di bulan agustus<br />
matahari seakan turun beberapa centi<br />
seolah ingin segera menghanguskan bumi<br />
yang memang sudah semakin panas<br />
ulah tangan-tangan setan</p>
<p>Musafir berada di persimpangan<br />
akankah kembali ke muasal<br />
atau terbiarkan semakin terpanggang matahari<br />
yang siap menyambut di bulan-bulan berikutnya<br />
**</p>
<p>Memory Royal Camp-Ruwais<br />
Abu Dhabi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2009/06/11/musafir-padang-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Hati Sudah Terluka</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 00:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/10/23/ketika-hati-sudah-terluka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERSETAN DENGAN EMANSIPASI!!!!!!!!!!</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2007 11:28:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. 2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.Jarak antara kelahiran keduanya memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">{mosimage} Dalam 22 tahun hidup saya sampai saat ini, ada dua hari yang paling saya kenang. 2 hari itu sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari hari ketika saya lulus SPMB, atau hari ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2 hari itu adalah hari ketika saya melahirkan Air dan Bumi.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Jarak antara kelahiran keduanya memang hanya satu tahun, tapi betapa mencengangkan karena ketika melahirkan Bumi, saya baru sadar bahwa saya lupa bagaimana rasanya melahirkan. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya lupa bahwa sebelum melahirkan itu ada &quot;ritual&quot; rasa panas yang sangat di bagian punggung, rasa melilit yang timbul tenggelam di perut,dan semakin sering saat waktu kelahirannya semakin&nbsp;dekat,&nbsp;orang bilang itu mulas, tapi saya tidak setuju, karena sakitnya 10 x lipat. Entah bagaimana tubuh saya tiba-tiba berkeringat dingin, rasa ngilu yang bahkan sampai ke tulang, memiringkan badan atau telentang, atau berjalan-jalan rasanya tak membantu, saat itu saya merasa sudah tak sanggup lagi mengendalikan kesadaran, ingin menjerit sekeras-kerasnya, atau bahkan ingin berlari?, melarikan diri dari deraan rasa sakit, yang datang bertubi-tubi dan tak dapat lagi ditolerir. </span></p>
<p><span id="more-825"></span>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Sejauh mana tubuh ini dapat menahan rasa sakit?. Saya tidak tahu, karena tiba-tiba saja, saat saya merasa disitulah batas akhir saya, saat saya hampir menyerah menyongsong kegelapan, pandangan mata saya terang lagi, mendengar gumam hamdallah, dan tangis bayi yang sangat keras.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Subhanallah. &#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Semua sakit tadi sirna seketika, meski dengan tangan gemetaran karena tubuh ini luar biasa lemas, kekhawatiran tadi ternyata belum usai, bagaimana kondisi bayi saya?, sempurnakah. Dan kelegaan luar biasa saat saya lihat, si bayi merah itu memiliki semua properti lengkap untuk jadi manusia normal.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya belum tentu sanggup jika dihadapkan pada prosedur yang sama dalam waktu dekat ini, tapi harus saya akui bahwa rasanya sangat menakjubkan. It&#39;s so&#8230;.exciting, saya bahagia untuk makhluk mungil yang bahkan belum mampu mengerakkan tangan, saya jatuh hati padanya. Sampai saya ingin menangis, melihat ia tertidur dalam damai. Bibir mungilnya membentuk huruf O, sementara kedua matanya yang masih bengkak karena baru beberapa saat terkena udara bebas tertutup rapat-rapat. Ada saat dalam tidurnya ia membentuk senyum ompong, lain kali ia seolah meringis, berikutnya ia membuat gerakan seperti menyusu. Ada bau yang menggelitik saat saya mencium kepala mungilnya, perpaduan dari aroma minyak telon, bedak dan bau alami seorang bayi, aroma yang sangat menyejukkan hati. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Aroma yang mengirimkan getaran-getaran halus, yang seolah menyadarkanku bahwa mulai saat itu saya akan rela mati untuknya, bahwa mulai saat itu pusat&nbsp;gravitasi hidup saya adalah dia, bahwa mulai saat itu bahkan pria yang menyebabkan kelahirannya harus siap dinomorduakan.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Ingin rasanya memberitahu semua orang, lihat ini anakku. Bayi mungil tapi calon orang besar, cakep kan. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hatiku luar biasa bangga, sensasi yang belum pernah kurasakan seumur hidup. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hari berikutnya dihabiskan berkutat dengan popok dan bedak. Perasaan ingin melindunginya setiap saat, tapi&nbsp;tempat &nbsp;untukku bukan disitu, karena satu minggu kemudian, saya sudah harus kuliah lagi&#8230;&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya menangis dalam&nbsp;setiap detik&nbsp; perjalanan menuju kampus, hanya tangis dalam hati (karena jika sampai berurai air mata, orang-orang akan menganggap saya&nbsp;korban kekerasan dalam rumah tangga, &nbsp;menangis sepanjang jalan), tapi aneh sekali karena ternyata rasanya jauh lebih pilu dari tangis yang sesenggukan. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">saya menangisi bayi yang harus saya tinggalkan, saya menangisi air susu&nbsp; yang tumpah membasahi baju saya, saya menangisi kebodohan saya mengambil kuliah di teknik sipil, saya menangisi&nbsp;semuanya&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Bahkan suami yang terus mendukung saya untuk tetap kuliah.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Setinggi apa pendidikan yang saya tempuh, sejauh apa saya berjalan untuk menempuh cita-cita, pada akhirnya saya akan kembali kesana. Pada anak-anak saya.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hari ini saya pergi, menitipkan mereka pada pengasuh yang saya harapkan memberi cinta yang tak bisa saya berikan. Tapi betapa mirisnya, saya takut ketika pulang mendapati saya sudah terlambat untuk mendapat cinta mereka.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Untuk apa saya kuliah? Agar dapat berkarir cemerlang, untuk apa berkarir cemerlang? agar dapat uang banyak, untuk apa uang banyak ? agar anakmu dapat makan dengan layak, dapat sekolah di tempat yang bagus, dan tak perlu merasakan pahitnya kekurangan.. .</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan perdebatan itu pun mulai lagi&#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &quot;Raka, bolehkah saya&nbsp;jadi ibu rumah tangga?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEbaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;(termenung)&#038;quo</p>
<p>t; Yakin?, mau taruhan nggak kamu nggak akan kuat sebulan&nbsp;jadi&nbsp;ibu rumah tangga?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &quot;Nu, menyayangi anak itu bukan berarti harus ada di samping mereka sepanjang&nbsp;waktu, untuk apa kamu menemani mereka setiap detik tapi ketika mereka ingin sesuatu kita tidak bisa memberikannya, kamu pikir mudah melihat mereka&nbsp;&nbsp;kecewa, saat ingin sekolah kita tidak punya biaya, atau kita kekurangan saat&nbsp;&nbsp;mereka&nbsp;&nbsp;sedang masa-masanya perlu uang. Berpikirlah panjang. Gaji saya&nbsp;&nbsp;mungkin cukup jika untuk sekedar hidup, tapi hidup yang bagaimana&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Itu kan urusan Raka&#8230;., enu kan gak pernah minta macem-macem, minta buat &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; beli kosmetik aja gak pernah&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaj&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Saya tidak sudi melihat kamu pake lipstik, mau ngebadut?&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;:(sebal)&quot;masalah kita kan bukan itu&quot;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&quot; Masalahnya bukan cuma uang Nu, kalau hanya ingin uang, udah aja saya suruh&nbsp;kamu jualan di pasar, masalahnya saya lihat kamu itu berpotensi, sayang jika hanya jadi ibu rumah tangga, saya akan jadi orang paling biadab jika membunuh&nbsp;&nbsp;potensi kamu&#8230;.&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Bla..bla&#8230;. saya mulai merasa perdebatan itu bodoh dan menyebalkan. ..</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Keterangan:</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">IyRA = Istri yang rindu anaknya</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SyEBaJ= Suami yang Entah Baik atau Jahat</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Lagi-lagi, saya membuat daftar itu:</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Alasan jadi ibu rumah tangga:</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">1. Anak-anak saya sedang butuh perhatian.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2. Ingin jadi ibu yang baik.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">3. Lihat ke atas</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">4. Lihat ke atas.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">5. Mungkin saya akan belajar memasak.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">6. Jam terbang kuliah yang sudah seperti kerja rodi. Malemnya tetap harus begadang. &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; Tugas besar, kuis mingguan, asistensi, &nbsp;&nbsp;&nbsp; praktikum&#8230; .tambahan kuliah di luar &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; jadwal&#8230;..ingin muntah&#8230;., </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">7. Ipk yang parah&#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Alasan&nbsp;tetap &nbsp;kuliah</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">1. Tinggal satu tahun lagi, tanggung, jika keluar sekarang saya menyia-nyiakan perjuangan &nbsp;&nbsp;&nbsp; tahun-tahun sebelumnya</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">2. Nama besar ITB terlalu sayang untuk disia-siakan</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">3. Mungkin suatu hari anak saya akan mengerti alasan saya meninggalkan mereka, siapa &nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; tahu mereka akan bangga punya ibu seorang engineer, halah&#8230;&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Sekian tahun pergumulan batin, saya masih tetap di ITB.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Di kampus saya memikirkan anak saya, di rumah saya memikirkan tugas&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Oke, kaum laki-laki jangan dulu protes dengan mengatakan saya tidak bisa <em>memanage</em></span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">pikiran saya. Kalau masih bilang juga gua jitak pala lu, saat seorang&nbsp;lelaki pekerja&nbsp;pulang cepat karena alasan ingin menunggui anaknya yang sakit, semua spontan memuji mengatakan ia ayah teladan, tapi saat seorang ibu bekerja ingin pulang cepat karena anaknya sakit, ia malah mendapat cibiran tak dapat membagi waktu. Jangan sanggah karena saya SANGAT TAHU kondisi seperti itu.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dunia tak pernah berpihak pada ibu yang berperan ganda, karena itu saya muak pada yang namanya kesetaraan gender. Wanita tak akan pernah siap untuk setara. Tapi tentu tak adil juga mengungkung mereka.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">(Ibu Kartini, dengar, kebebasan yang Ibu perjuangkan dahulu malah saya ratapi, mungkin ada baiknya dahulu Ibu diam saja)</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Seorang ibu yang bekerja, ia masih akan tetap disalahkan ketika anaknya sakit, ketika kuku anaknya tampak seperti macan, ketika ia tak bisa mengingat dimana meletakkan map suaminya, ketika celana suaminya belum rapi disetrika.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;se</p>
<p>rif&#39;">Bukankah laki-laki lebih butuh wanita, daripada wanita butuh lelaki.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">{mosimage} Hentikan dulu perdebatan tentang para wanita yang bekerja di luar sana untuk menghindari rumah,&nbsp;untuk mengejar uang yang&nbsp;sebenarnya uang&nbsp;suaminya pun&nbsp;&nbsp;tak kan habis, karena pada suatu hari sepulang kuliah saya seangkot dengan ibu-ibu yang baru bubar kerja di pabrik tekstil.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Aroma bau keringat dan sayuran, untuk dimasak setiba di rumah&#8230;.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&quot; Saya sebenarnya tidak mau bekerja, udah mah gajinya kecil, si bungsu jadi harus ditinggal-tinggal, tapi gimana, ngandelin gaji suami seminggu juga abis&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dengar, dan dimanakah kalian kaum macho?, mau bilang bahwa si istri tak qanaah, tak bisa mengelola uang dengan baik, padahal tahu bahwa jumlah yang kau berikan memang kecil.&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Tidak, tentu saja saya juga tidak pantas menyalahkan para suami yang bergaji kecil, padahal udah kerja kaya kuda.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya akan salahkan KAPITALIS, saya akan salahkan SISTEM. </span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yang membuat kemiskinan ini seolah belenggu yang tak mudah dilepaskan, yang membuat bayi saya baru lahir sudah berutang pada orang asing yang bahkan sebagian besar bangsa ini tak kenal, yang membuat jutaan ibu harus keluar dari sarangnya yang nyaman, untuk menyambung kehidupan anak-anaknya. &#8230;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan akhirnya, saya lelah&#8230;..</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Saya jadi seperti kelelawar yang menabrak-nabrak dinding,&nbsp;frustasi mendengar suara-suaranya sendiri dalam gua yang gelap.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dulu sekali, saya pernah lihat sebuah selebaran, bunyinya: &quot;SUDAH SAATNYA KAUM KAPITALIS UNTUK MUNDUR DARI ARENA PERCATURAN DUNIA, DAN MEMBERI KESEMPATAN PADA KEKHALIFAHAN ISLAM&quot;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yah bunyinya kurang lebih seperti itu, saya hanya bisa nyengir kuda&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Mana mempan mereka digertak kayak gitu, sama seperti bilang &quot;Permisi Om, saya mau lewat&quot;,&nbsp;pada banteng yang lagi kalap. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Naif sekali</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Yang kita perlu bukan gertakan, bukan spanduk, bukan seminar, tapi bagaimana si yahudi pemegang modal itu bertekuk lutut.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Dan lagi-lagi kita memang perlu duit.</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">SHIT!!!!!!!!</span><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; color: #4bacc6; font-family: &#39;Times New Roman&#39;,&#39;serif&#39;">Hei, bukankah tulisan ini sangat berantakan.. ..</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/06/13/persetan-dengan-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

