-
ADA SURGA DI RUMAH KITA
Posted on March 24th, 2007 No comments{mosimage}Rumah Kita Di perapian manakah kan kau temukan kehangatan cinta,
Di puncak manalakah kau rasakan sejuknya hawa kasih dan sayang,
Dari oase manakah dahaga dan kegersangan hatimu terobati,
Di indah mimpi yang manakah pelangi harmoni kan kau jumpai,
Segalanya kan menyapamu di sini…
Di rumah kita, sayang…
(Tias Tatanka)***
Rumah adalah bentuk fisik bangunan yang lazim sederhananya terdiri dari pintu, dinding, dan atap.
-
Banjir
Posted on March 11th, 2007 No commentsRARA terbangun ketika air mulai menggenangi kasur. Mulanya ia mengira, tanpa disengaja karena terlalu jauh berjalan kaki siang tadi, kencing di celana. Apalagi ia bermimpi buang air kecil di sungai. Ah, ternyata air terus masuk dan meninggi. Barulah ia sadar. Ini banjir?
Di luar rumah, terdengar gaduh. Orang-orang mulai berteriak-teriak seperti mengingatkan yang lain yang masih terlelap. "Banjir! Banjir!" berulang-ulang suara itu. Amatlah gaduh. Rara bangkit dari tempat tidurnya. Mengintip dari jendela. Ia ternganga: seratusan, barangkali seribuan warga berlarian menyelamatkan diri sambil membawa beberapa barang yang dapat diangkut. Mencari tempat tinggi, tempat pengungsian.
Read the rest of this entry » -
Menantu Baru
Posted on March 3rd, 2007 No commentsSudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? "Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang," keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.
-
SEBULAN MENJADI KELUARGA IMIGRAN
Posted on March 3rd, 2007 No comments{mosimage}Bulan seperti potongan semangka. Menggantung di atas kota kecil yang terendam dalam butiran pasir yang berubah seperti koloid. Cahayanya redup seperti lampu badai. Warna cahayanya agak kemerahan. Mungkin badai pasir yang menjadikan cahaya bulan terserap dalam setiap butir pasir yang menggantung di langit kota Ruwais. Angin begitu kencang bertiup. Dari balkon kulihat udara semakin pekat oleh Bulir-bulir pasir. Sambil menggendong si kecil yang demam aku kembali memeriksa barangkali ada jendela yang kurang rapat. Debu pasir biasanya mudah menyelusup ke sela-sela
-
Melihat
Posted on February 19th, 2007 No comments"Memang kenapa?"
"Sebelah kakiku kejeblos lubang, ya air comberan ketelanlah paling tidak secangkir."
"Ada tahinya?'
Kaciran ketawa.
"Kok ketawa. Ada nggak?"
"Ada kali. Habis dua hari perut jadi mules terus. Tiap kali makan keluar lagi, keluar lagi."
Tetangga Kaciran sekarang yang ketawa.
"Eee sekarang lhu yang ketawa."
"Habis, kali yang kamu telan itu bekas punya kita."









Komentar Pengunjung