-
Melihat
Posted on February 19th, 2007 No comments"Memang kenapa?"
"Sebelah kakiku kejeblos lubang, ya air comberan ketelanlah paling tidak secangkir."
"Ada tahinya?'
Kaciran ketawa.
"Kok ketawa. Ada nggak?"
"Ada kali. Habis dua hari perut jadi mules terus. Tiap kali makan keluar lagi, keluar lagi."
Tetangga Kaciran sekarang yang ketawa.
"Eee sekarang lhu yang ketawa."
"Habis, kali yang kamu telan itu bekas punya kita."
-
SUDAH SEJAK LAMA MEREKA KALAH
Posted on February 13th, 2007 No commentsPada saat anak-anak Yahudi
berebut masuk Yale, Berkley, dan MIT,
anak-anak Syek dan Emir Kuwait, Oman, Bahrain,
dan Arab Saudi berebut masuk hotel di London,
New York, Paris, Pattaya, dan Jakarta.
Sementara anak muda Yahudi sibuk main saham di WTC,
anak-anak Syekh dan Emir itu menghabiskan duit
Moyangnya di meja judi.
Sementara para istri diplomat Yahudi ikut bekerja,
para istri Syekh itu rajin berbelanja.
Sementara pengusaha Yahudi kasak-kusuk melobi,
para Syekh dan Emir itu asyik berendam di bak mandi.
Sementara masyarakat Yahudi rajin mengumpulkan dana,
para Syekh dan Emir itu berpesta dengan para harimnya.
Sementara orang Yahudi berjuang meluaskan wilayah
di jalur Gaza, para Syekh dan Emir itu
membuka pintu bagi Cowboy Amerika.Jelas, sudah lama mereka kalah.
Saat wilayahnya belum ditemukan minyak mentah,
predator Anglo-Saxon sudah menguasai Timur Tengah.
Apa mereka menyangka sudah bebas dan kaya?
Padahal, sampai sekarang nasib mereka
tidak pernah berubah
Tetap dijajah oleh para Baron perambah
yang sejak dulu sampai sekarang
pun selalu hadir
dan pelan-pelan menjerat leher kita.Maret 2003-2004
-
Kalung Tasbih dari Makkah
Posted on February 13th, 2007 No comments{mosimage}Aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan…. Suamiku mengalami gegar otak berat, kakinya patah, dan tulang belakangnya remuk.
Sepulang naik haji, ayah memberiku kalung tasbih yang katanya dibelinya di Makkah dan pernah dibawanya memasuki Masjid Nabawi dan di depan Makam Rasulullah SAW ayah berdoa semoga aku menjadi perempuan salehah yang bahagia di dunia dan akherat.
''Setiap habis shalat, gunakan kalung tasbih ini untuk berdzikir,'' pesan ayah ketika menyerahkan kalung tasbih yang kini selalu menemaniku ke mana pun aku berada. Aku pun selalu menggunakan kalung tasbih itu untuk menghitung kalimat-kalimat thoyibah yang kubaca sehabis shalat.
-
Rumah di Dalam Surau
Posted on February 13th, 2007 No comments{mosimage}ORANG-ORANG kampung kami tak henti-henti membangun surau. Tak pernah lelah mereka mengumpulkan wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Menggalang dana untuk mendirikan surau. Setiap musim Lebaran, para perantau yang berdatangan dimintai bantuan. Ada yang berderma dalam bentuk bahan bangunan, ada pula yang menyumbang uang tunai. Untuk apa lagi kalau bukan buat pembangunan surau? Memang, hampir tiap sudut kampung kami, surau sudah berdiri. Tapi, itu belum cukup. Bagi kami, surau bukan saja tempat salat, wiridan, majelis taklim dan belajar mengaji, tapi juga tempat tinggal bagi semua anak laki-laki kampung kami yang sudah akil balig. Tengoklah! Rumah-rumah yang tampak berdiri kukuh itu memang rata-rata berukuran besar, pekarangannya luas.










Komentar Pengunjung