<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indo-Emirates &#187; Indo-Sehat</title>
	<atom:link href="http://www.indo-emirates.org/category/indo-sehat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indo-emirates.org</link>
	<description>Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais - Abu Dhabi - UAE</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 16:08:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>test</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/07/28/test-4/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/07/28/test-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 23:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[sdsdsds
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sdsdsds<br /><span id="more-461"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/07/28/test-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Debate: Ban Smoking in Public Place</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/06/17/the-debate-ban-smoking-in-public-place/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/06/17/the-debate-ban-smoking-in-public-place/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 15:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[{mosimage}Like it or not, smoking will be banned in all public indoor spaces in Dubai by September 2007. We asked our newsletter readers if they think that smoking should be banned in public places. 
Only a small minority is against the ban of smoking in public places (11%). Although most of them admit that it [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>{mosimage}Like it or not, smoking will be banned in all public indoor spaces in Dubai by September 2007. We asked our newsletter readers if they think that smoking should be banned in public places. </p>
<p><strong>Only a small minority is against the ban of smoking in public places (11%)</strong>. Although most of them admit that it would be better to have some assigned places where smokers can smoke freely without bothering non-smokers, it should not be prohibited in all public places. </p>
<p><strong>That leaves us with almost nine out of ten</strong> people (89%) who are completely <strong>against smoking in public places</strong>. And surprisingly, smokers also share that opinion! Two main reasons are given. One reason is that it is harmful for non-smokers, and another reason is that smoking is a cause of pollution. Some of our readers&rsquo; views: </p>
<p><span id="more-460"></span>
<p><em>&quot;Everybody has the right to a clean and healthy environment. A public place is meant for everyone and no one should ha</em><em>ve the right to pollute it to satisfy their nicotine craving. If they wish to smoke and harm themselves, they should do that in their own space (e.g. their homes).&quot; </p>
<p>&quot;We should stop polluting our environment and maintain it clean.&quot; </p>
<p>&quot;All the people around the smoker are passive smokers, and they acquire the same risks of the smoker.&quot; </p>
<p>&quot;I am an occasional smoker. I believe that it is harmful for others when we smoke, and I do not smoke when I am with non-smokers. It would be good if it was banned in public enclosed places, such as shopping malls, movie theatres&#8230;, but it should not be banned in open areas, such as beaches, parks, on the road, etc., as in certain countries there are those restrictions too.&quot; </p>
<p>&quot;Smoking should be banned in public places, cause it affects the health of passive smokers from all age groups, it gives bad ideas for children and teens, and it will force smokers to stop smoking.&quot; </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/06/17/the-debate-ban-smoking-in-public-place/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerokan Dalam Perspektif Kesehatan</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/06/15/kerokan-dalam-perspektif-kesehatan/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/06/15/kerokan-dalam-perspektif-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 20:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[&#160;&#34;JADI, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin  dengan&#160;peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori  kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara  &#34;mengeluarkan angin&#34;. Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat  pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan  pencernaan.&#34;
&#160;
MASUK angin? Kerok saja! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>&nbsp;<font face="Arial" size="2">&quot;JADI, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin  dengan&nbsp;peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori  kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai <br />cara  &quot;mengeluarkan angin&quot;. Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat  pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan  pencernaan.&quot;</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">MASUK angin? Kerok saja! Anjuran &quot;tradisional&quot;  semacam itu cukup sering mampir di telinga kita. Secara faktual, memang banyak  orang merasa ketergantungan pada kerokan. Jadi, ketika pening menyerang dan  meriang datang, penderita lebih memilih kerokan ketimbang pergi ke dokter atau  puskesmas, misalnya. Lebih murah, praktis, dan lumayan cespleng.</font></div>
<p><span id="more-459"></span>
<div><font face="Arial" size="2">Meskipun istilah masuk angin tidak terdaftar dalam  kamus medis, namun ia merupakan penyakit umum. Gejalanya, antara lain meriang,  kepala pening, leher dan persendian pegal-pegal.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Sementara, kerokan yang menggunakan minyak kelapa  plus balsam dengan perangkat sekeping uang logam, merupakan salah satu cara  untuk menghangatkan bagian tubuh yang dikerok. Ketika orang masuk angin, atau  istilah kedokterannya commond cold suhu tubuh bagian belakang turun. Gejala ini  terjadi akibat kekurangan energi panas. Kerokan dipercaya bisa menetralisasi  suhu tubuh di bagian itu.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Tapi, dari sisi kesehatan, amankah cara  ini?</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">**</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">ISTILAH masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa  angin benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan  suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur tubuh  turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, meriang, atau pegal-pegal  tadi.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin  yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu  udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan angin  umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian itu saja yang turun  suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya masuk angin.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena  biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk  angin tidak disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit  kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-gara  AC.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung  karena di bagian belakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan  dengan&nbsp;organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ  dalam ikut kena.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Kerokan merupakan salah satu usaha untuk  menyeimbangkan suhu tubuh. Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep  dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang)  dan bagian tubuh dingin (yin).</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian  belakang. Sementara yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin  yang, orang terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau  tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, ya sakit  juga.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh  menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan  (konstriksi) . Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi <br />reaksi  dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian  belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh  tidak dingin.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada  permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur  badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan  bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">**</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><font face="Arial" size="2">DASAR pengobatan tradisional bersumber pada  penyeimbangan empat pola penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip  penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang. Kalau  terlalu kuat dilemahan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas didinginkan, terlalu  dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi energi yang seimbang.</font></div>
<div>&nbsp;</div>
<p><font face="Arial" size="2"> </font>
<div><font face="Arial" size="2"><br />Demikian <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em">pula</span> yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya,  tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu caranya dengan  menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang bisa jadi seimbang, namun  tidak berada pada posisi normal.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum  Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau  permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan meningkat. Panas yang cukup tinggi  berefek melebarkan pembuluh darah dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi  lancar dan oksigenasi lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang.  Ujung-ujungnya, <br />timbul <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial">pula</span> reaksi otonomik (sistem parasimpatik) . Saraf  otonom pada bagian belakang tubuh jadi seimbang.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan  panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam,  memang kerokan sering dipahami sebagai cara &quot;mengeluarkan angin&quot;. Padahal, angin  atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau  keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. Cukup  berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh. Sedangkan masuk angin  kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi <br />sudah sampai ke dalam otot. Jadi,  perlu pemanasan dalam sampai kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak  mungkin dicapai dengan kerokan.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Cara kerokan paling efektif adalah &quot;menggarap&quot; daerah belakang tubuh,  kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari  atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-ruang tulang belakang ataupun  pada leher bagian belakang. Itu bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat  sekira 360 titik akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu  pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan  organ dalam tubuh (organ viscera).</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi kiri  kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah kiri dan kanan,  reaksi optimal dapat dic</p>
<p>apai. Gosokan-gosokan itu <br />mungkin secara tidak  sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu di tubuh bagian belakang.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan kulit dan  daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang terbiasa dikerok  sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok dalam-dalam sampai merah padam.  Sebenarnya, tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah darah.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">**</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">SAMPAI saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini  bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi  jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal  terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat  dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak  sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan  enkepalin).</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa  nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar.  B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung,  sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih  baik.</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin).  Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena  kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. Nah, masih ingin bertahan dengan cara  tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja!</font></div>
<div><font face="Arial" size="2">&nbsp;</font></div>
<div><font face="Arial" size="2"><strong>(dr. Prasanthi)** *</strong></font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/06/15/kerokan-dalam-perspektif-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Sembilan Senti</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/05/16/tuhan-sembilan-senti/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/05/16/tuhan-sembilan-senti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 07:30:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[{mosimage}Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, 
Di sawah petani merokok,di pabrik pekerja merokok,di kantor pegawai merokok,di kabinet menteri merokok,di reses parlemen anggota DPR merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok,di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>{mosimage}Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,<br />tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, </p>
<p>Di sawah petani merokok,<br />di pabrik pekerja merokok,<br />di kantor pegawai merokok,<br />di kabinet menteri merokok,<br />di reses parlemen anggota DPR merokok,</p>
<p>Di angkot Kijang penumpang merokok,<br />di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, <br />di loket penjualan karcis orang merokok,<br />di kereta api penuh sesak orang festival merokok,<br />di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,<br />di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta <br />diajari pula merokok,</p>
<p><span id="more-458"></span>
<p>Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,<br />tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai <br />kita, </p>
<p>Di pasar orang merokok,<br />di warung Tegal pengunjung merokok,<br />di restoran, di toko buku orang merokok,<br />di kafe di diskotik para pengunjung merokok,</p>
<p>Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, <br />bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur<br />ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak <br />rokok,</p>
<p>Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling <br />menularkan HIV-AIDS sesamanya,<br />tapi kita tidak ketularan penyakitnya.<br />Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok<br />di kantor atau di stopan bus,<br />kita ketularan penyakitnya.<br />Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS, </p>
<p>Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur <br />di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap <br />tembakau itu, bisa ketularan kena,</p>
<p>Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, <br />di apotik yang antri obat merokok,<br />di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,<br />di ruang tunggu dokter pasien merokok,<br />dan ada juga dokter-dokter merokok,</p>
<p>Istirahat main tenis orang merokok,<br />di pinggir lapangan voli orang merokok, <br />menyandang raket badminton orang merokok,<br />pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,<br />panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen<br />sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok, </p>
<p>Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil &#39;ek-&#39;ek orang goblok merokok,<br />di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,<br />di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-<br />orang goblok merokok,</p>
<p>Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na&#39;im sangat ramah bagi <br />orang perokok,<br />tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai <br />kita, </p>
<p>Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat<br />merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.<br />Mereka ulama ahli hisap.<br />Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.<br />Bukan ahli hisab ilmu falak, <br />tapi ahli hisap rokok.</p>
<p>Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-<br />berhala kecil,<br />sembilan senti panjangnya,<br />putih warnanya,<br />kemana-mana dibawa dengan setia,<br />satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, </p>
<p>Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,<br />tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,<br />cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.<br />Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan <br />yang sedikit golongan ashabus syimaal?</p>
<p>Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.<br />Mamnu&#39;ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.<br />Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.<br />Haadzihi al ghurfati malii&#39;atun bi mukayyafi al hawwa&#39;i. <br />Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.<br />Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.<br />25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.<br />15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir <br />diharamkan. <br />4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok <br />diapakan?</p>
<p>Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu &#39;alayhimul <br />khabaaith.<br />Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah <br />dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.</p>
<p>Jadi ini PR untuk para ulama.<br />Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,<br />lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,</p>
<p>Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. <br />Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya <br />berapi itu,<br />yaitu ujung rokok mereka.<br />Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.<br />Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai <br />terbatuk-batuk,</p>
<p>Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,<br />sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit <br />rokok.<br />Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu<br />lintas,</p>
<p>lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,<br />cuma setingkat di bawah korban narkoba,</p>
<p>Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat<br />berkuasa di negara kita,<br />jutaan jumlahnya,<br />bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,<br />dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,<br />diiklankan dengan indah dan cerdasnya,</p>
<p>Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,<br />tidak perlu ruku&#39; dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, <br />karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara <br />menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,</p>
<p>Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/05/16/tuhan-sembilan-senti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Sehat</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/05/14/makanan-sehat/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/05/14/makanan-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 20:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[{mosimage}
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>{mosimage}<br /><span id="more-457"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/05/14/makanan-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
