-
Disability is not inability
Posted on April 22nd, 2010 No commentsSejak dulu saya sering sekali dibuat terkagum-kagum oleh orang-orang yang notabenenya memiliki banyak keterbatasan tapi prestasinya bisa melejit melampoi orang-orang yang terlahir dengan berbagai kemudahan. Sebut saja bocah cacad berusia 7 tahun yang menguasai banyak cabang olahraga, Cody McCasland. Alam Drumber profesional Tuna Netra pertama yang dimiliki negeri kita yang berhasil memenangkan berbagai lomba di tingkat nasional maupun internasional. Lena Maria seorang atlet nasional Swedia, terlahir tanpa tangan dengan hanya satu kaki yang tumbuh normal mampu menyabet 4 medali emas dan bisa hidup mandiri seperti orang normal (Footnotes: Hidup Tanpa Batas, Dastan, Jakarta, Mei 2009). Read the rest of this entry »
-
Tembok ke 3: Loba/Serakah yang tak terkendali
Posted on April 13th, 2010 No commentsPagi itu begitu cerah, sinar mentari menyapu sang rau, angin sejuk pegunungan berhempus dengan lembut seakan menyapa siapapun yang datang bertamu, burung-burung berkicau riang beterbangan dari satu dahan ke dahan yang lain, tak mau kalah, kupu-kupupun bercengkrama mesra menari riang di atas bunga-bunga yang mekar berwarna-warni menghiasi taman di depan pesraman sang Pandita. Tampak Sang Pandita bersama murid-muridnya sedang asyik berdiskusi dibawah pohon rindang di pinggir kolam dengan airnya yang jernih dihiasi oleh bunga teratai beraneka warna membuat takjub siapapun yang menyaksikan karya agung Tuhan Maha Esa.
Seorang murid yang bertubuh jangkung berpakaian warna biru tiba-tiba berdiri diantara kerumunan kawan-kawannya. Dengan mencakupkan kedua tangannya di dada sang pemuda mengucapkan salam hormat sambil berkata “Semoga semua mahluk berbahagia dan sejahtera, Guru terimakasih atas penjelasan guru tentang Tembok:1 Keinginan yang terkendali, Tembok:2 Marah yang tak terkendali, sungguh semua penjelasan guru telah membuka mata hamba yang bodoh ini. Ternyata tanpa hamba sadari selama ini hamba sering diperbudak oleh kedua tembok itu. Pabila Guru berkenan sudilah kiranya Guru menjelaskan tembok berikutnya..” Read the rest of this entry »
-
Tembok 2: Marah yang tak terkendali
Posted on January 9th, 2010 No comments
Anakku sekalian…, keinginan yang tak terkendali akan mengarah pada pemborosan sumber daya, artinya sumber daya terbatas yang dimiliki tidak diaplikasikan tepat guna. Pada akhirnya hajatan utama untuk meraih cita-cita terbentur karena kurangnya sumber daya, ibarat sebuah tembok yang sangat tebal terbuat dari besi baja, membendung laju kehidupan kita.“Nafsu keinginan tak pernah terpuaskan dengan menikmati objek keinginan itu, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bahan baker” demikian dinyatakan dalam Manusmerti II.94
“Guru, terimakasih banyak dengan penjelasan guru yang sangat gamblang, kini kami mengerti kenapa keinginan yang tak terkendali itu bisa menjadi sebuah penghalang yang hebat, bagaimana dengan tembok penghalang berikutnya…?
“Ananda.. tembok berikutnya adalah marah/krodha yang tidak terkendali, kemarahan adalah nafsu yang terbentuk dari guna rajas yang sangat merusak dan berdosa, oleh karenanya mereka sering disetarakan dengan musuh dalam diri manusia” Read the rest of this entry »
-
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan
Posted on November 2nd, 2009 No commentsTembok 1: Keinginan yang tak terkendali
Seperti biasa pagi itu setelah melakukan sembahyang/meditasi bersama, Sang Guru Jati berkumpul bersama para muridnya di Bale Gede yang terbuat dari kayu berukir indah sekali, ornamen ukiran yang dihiasi dengan motif bunga-bunga yang sedang mekar, berpadu dengan motif dedaunan yang dikombinasikan dengan warna-warna alami. Disetiap pilar tampak ukiran tumbuhan rambat dimana beberapa burung bertengger mesra bersama kawan-kawannya,tampak sangat sedap dipandang mata. Read the rest of this entry »
-
Ketergesaan memperlambat hasil
Posted on September 1st, 2009 No commentsAl kisah seorang pemuda yang gagah berani berkeinginan untuk menuntut ilmu silat pada guru yang sangat tersohor pada jamannya. Pemuda ini sangat bersemangat untuk menjadi seorang pendekar mumpuni. Guru itu bertempat tinggal disebuah gubuk di lereng gunung Agung. Untuk mencapai tempat sang maestro dibutuhkan usaha kerja keras yang tidak mudah, lereng-lereng yang curam dengan jurang yang sangat dalam menghiasi disepanjang jalan, seakan siap menelan siapa saja yang terpelset ke dalamnya. Read the rest of this entry »











Komentar Pengunjung