<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indo-Emirates &#187; Kolom Lawang Bagja</title>
	<atom:link href="http://www.indo-emirates.org/category/lawang-bagja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indo-emirates.org</link>
	<description>Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais - Abu Dhabi - UAE</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 16:08:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2010/01/08/generasi-indonesia-baru/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2010/01/08/generasi-indonesia-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 04:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Emirates]]></category>
		<category><![CDATA[Indo-Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Lawang Bagja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.org/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru
Refleksi 9 Tahun Indo-Emirates
Sebuah Esay dari Lawangbagja; Sie Anak-remaja Indo-Emirate
Flash Back; Perjalanan Founding Fathers
Meretas perjalanan di hamparan gurun kosong 9 tahun silam adalah sebuah tonggak perjalanan anak bangsa yang boleh dibilang seperti merambah hutan perawan tanpa ada jalan setapak. Perjalanan yang tentu menarik dan penuh liku dan cerita. Era tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah Gagasan untuk Generasi Indonesia Baru<br />
Refleksi 9 Tahun Indo-Emirates<br />
Sebuah Esay dari Lawangbagja; Sie Anak-remaja Indo-Emirate</strong></p>
<blockquote><p>Flash Back; Perjalanan Founding Fathers</p></blockquote>
<p><a href="null"><img class="alignleft" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs153.snc3/18043_249433450512_546650512_3231224_120816_a.jpg" alt="" width="180" height="270" /></a>Meretas perjalanan di hamparan gurun kosong 9 tahun silam adalah sebuah tonggak perjalanan anak bangsa yang boleh dibilang seperti merambah hutan perawan tanpa ada jalan setapak. Perjalanan yang tentu menarik dan penuh liku dan cerita. Era tahun 2 ribuan bisa dicatat sebagai era migrasi massif para tenaga kerja terdidik Indonesia khususnya dari industri oil and gas untuk merambah wilayah timur tengah (Qatar, UAE, Saudi, Kuwait). Semangat migrasi lebih memberikan nuansa semangat/ emosi massa dimana keberanian untuk bekerja di wilayah yang konon tandus, asing dan mungkin tidak ramah hanya karena rame-rame. Ini pula yang menyebabkan tidak ada rencana pasti kapan akan berkarir, bagaimana ke depan, seperti apa bekerja di lingkungan multi nasional, dlsb.</p>
<p><span id="more-1068"></span></p>
<p>Seperti itu pula Indo-Emirates, sebuah paguyuban yang saat ini (tak terasa) sudah berusia 9 tahun. Paguyuban yang lahir dari rasa senasib seperjalanan yang hadir untuk mengisi ruang besar kesepian karena tinggal di remote area. Indo-Emirate yang sepertinya dahulu mempunyai moto &#8220;Gak ada Loe, Gak rame!&#8221; ini terbukti bisa menambah hangat dan mempererat persaudaraan dan menguatkan percaya diri untuk eksis di negeri bedouin ini. Satu persatu keberanian sebagai individu tumbuh dan sepertinya remote area ini menjadi rumah kedua bagi warga Indonesia. Saya tidak tahu kapan tanggal dibentuknya, apa misi dan visinya, manfaat apa yang bisa &#8216;dikeruk&#8217; dengan kehadiran paguyuban ini, dan tentu masih banyak lagi pertanyaan yang berjubel saat ini dibenak saya dan anda atau mungkin ‘khalli walli..saja. .karena masih banyak hal penting yang sedang dipikirkan. Namun yang pasti komunitas Indo-Emirate telah menjalani periode natural sebuah paguyuban dimana telah melewati proses ujian dari hal yang tidak mengenakan (baca; konflik) sampai ke hal yang manis (baca; kebersamaan dan persaudaraan) .</p>
<blockquote><p>Perubahan Besar yang Terjadi</p></blockquote>
<p>Jika berkeliling Ruwais saat ini saya sudah merasakan sebuah projek besar dan dahsyat yang sedang dibangun. Dimulai dari ekspansi semua perusahaan yang berlokasi di Ruwais dari mulai Takreer (oil), Gasco (gas), Fertil (pupuk), dan Borouge (petrokimia) yang sedang berusaha meningkatkan kapasitas produksinya. Ini artinya tenaga kerja baru akan terus berdatangan. Masing-masing perusahaan akan merekrut dari ratusan hingga ribuan keryawan. Dan peluang besar kemungkinan tenaga terdidik Indonesia juga akan banyak direkrut kembali. Jika 8 tahun hanya seratusan orang Indonesia yang bermukim di Ruwais maka 5-10 tahun ke depan projeksinya beranjak hingga ke 500-an kepala rumah tangga. Asumsi ini didapatkan selain dari pekerja regular juga dari medis, perhotelan dan sektor jasa lainnya.</p>
<p>Boleh dibilang pertambahan jumlah pekerja professional ini bagian dari ‘sukses’ para pendahulu kita..rekan- rekan angkatan pertama yang datang ke hutan perawan ini. Mereka adalah para founding fathers..kerja keras mereka memberikan dorongan kuat kepada pihak pengambil keputusan untuk merekrut kembali dan menawarkan sebuah kepercayaan yang lebih tinggi lagi kepada para generasi berikutnya.Berkah itu dirasakan saat ini, tak terbilang berapa tenaga enginer, supervisor yang langsung direkrut tanpa perlu pengalaman dari luar negeri. Dahulu itu &#8216;mustahil&#8217; dan sangat sulit terjadi karena wajar saja mereka, para pemilik perusahaan masih ragu terhadap kualitas para pekerja kita. Posisi itu masih diberikan kepada warga India yang sudah lebih dulu merambah dinar dan dirham di Gulf ini.</p>
<blockquote><p>Indo-Emirate Baru? (Reloaded ala &#8216;Matrix&#8217;)</p></blockquote>
<p>Jika Ruwais berkembang, perusahaan berkembang, toko-toko baru bermunculan, rumah sakit besar sedang dibangun, berikutnya tinggal sekolahan, mall dan seterusnya lalu pertanyaannya bagaimana dengan INDO-EMIRAT? Akankah ia stagnan disitu-situ saja? Jika boleh saya mengkritik dan memprovokasi, Indo-Emirat tidak mengalami kepekaan dengan perubahan besar yang sedang terjadi saat ini di Ruwais. Perubahan yang sudah disimbolkan dengan infrastruktur, gaya hidup, tuntutan, kebutuhan dan masih banyak lagi. Semua sedang berlari menuju sebuah perubahan yang bersifat massif. Gaya Indo-Emirate yang dipersepsikan sebagai paguyuban kelas &#8216;gelar tikar&#8217;, berkumpul dan kemudian bubar mungkin perlu ditingkatkan menjadi sebuah komunitas yang cerdas dengan diskusi yang menghadirkan para pakar serta lebih serius memikirkan dan membuat kanal-kanal yang akan menjadi saluran minat dan bakat anak-anak kita, generasi Indonesia baru ke depan.</p>
<p>Saya khawatir jika perubahan ini tidak direspon selayaknya akan mengakibatkan disfungsi komunitas dalam bahasa pribuminya disebut ‘mafih faedah’. Padahal segudang potensi sudah tersedia, infrastruktur begitu mendukung plus fulus. Kesempatan membangun peradaban dan melahirkan INDONESIA BARU di tempat ini sangat memungkinkan. Saya memang manusia pemimpi dan tidak peduli jika ditertawakan tentang tulisan saya saat ini. Saya mempunyai gagasan bahwa Indo-Emirat harus didefinisikan ulang sesuai kebutuhan saat ini. Pos-pos struktur organisasi yang lamban dan mandul harus disegarkan kembali sesuai komitmen awal bahwa komunitas adalah wadah yang menyediakan PELAYANAN bagi para anggota yang berhimpun di dalamnya. Bahwa tugas MELAYANI adalah sebuah tugas yang LUHUR dan MULIA dan pertama kali hanya diberikan kepada para NABI saja.</p>
<p>Mereloaded ala film Matrix dengan mendeklarasikan Indo-Emirat baru menurut saya sebuah tuntutan sesuai perkembangan yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Gaya hidup dan kepercayaan untuk mendiri bisa kita lihat dari masyarakat Indonesia di Ruwais. Seiring dengan perubahan kota kecil Ruwais yang sedang berevolusi menjadi sebuah kota besar di wilayah barat. Jika Indo-Emirat dahulu hadir sebagai pengikat dan tempat kita bertemu di atas tikar mingguan dengan konsumsi yang amboiy.. masih menjadi daya tarik di dalamnya maka ke depan Indo-Emirat adalah sebuah gagasan tentang masyarakat maju, mandiri, dinamis, cerdas, dan ikut andil dalam membangun ‘civil society’ baik di kota Ruwais juga bagi negeri tercinta, Indonesia Raya.</p>
<blockquote><p>Melahirkan Generasi Indonesia baru?</p></blockquote>
<p><img class="alignleft" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs153.snc3/18043_249434920512_546650512_3231232_2702557_a.jpg" alt="" width="180" height="119" />Kemarin ketika sie Anak dan Remaja menggelar Liga Bola Anak Indonesia terkumpul kurang lebih 70 anak dengan perbedaan usia 1-3 tahun saja. Ini anak lelaki belum dengan anak-anak perempuan. Saya sumsikan total semua anak-anak usia dibawah 11 tahun hingga 120 anak. Ini belum ditambah dengan keluarga -kelaurga baru yang akan terus berdatangan. Jika di atas asumsi saya 5-10 tahun ke depan hanya terpenuhi 60 persen, artinya akan hadir sekitar 300 an kepala keluarga maka dengan asumsi perkeluarga 2 anak akan hadir sekitar 600 anak Indonesia!</p>
<p>Pernahkah kita membayangkan 300 -600 anak Indonesia bermain di lingkungan Ruwais, tumbuh dan berkembang secara bersamaan? Apakah komunitas, dalam hal Indo-Emirate pernah memprojeksikan masa depan komunitas warganya? Apa yang akan kita perbuat dengan semua ini? Bagaimana memenuhi kebutuhan mereka tentang keIndonesiaan? minat dan bakat? potensi yang masih banyak harus digali pada usia &#8216;golden age&#8217;? Saya sendiri takut ini menjadi mimpi buruk bagi anak-anak saya. Mereka tumbuh dan besar seperti anak ayam dalam lumbung padi namun kehilangan bobot dan kualitasnya. Jika para orang tua sebagai individu dan komunitas sebagai wadah dan simpul masyarakat mau bekerja sama dengan komitmen yang tinggi ini dapat diatasi dan kita semua tidak perlu takut menghadapi ini semua. Kebersamaan bisa mengalahkan kesulitan bahkan tsunami sekalipun.</p>
<p>Perjalanan selama 9 tahun sudah cukup untuk menjadi modal agar komunitas ini dapat menjelma menjadi sebuah kekuatan dan tekad yang membaja bahwa kita memang eksis di tanah yang kita pijak saat ini. Kita ingin mengikis rasa khawatir tentang pertumbuhan anak pada usia &#8216;golden age&#8217; yang tidak tereksplorasi dengan baik. Saya bermimpi ke depan Indo-Emirate mampu mendatangkan para ahli untuk mendidik dan membuat &#8217;short course&#8217; sebagai upaya mengasah bakat anak-anak Indonesia. Komunitas mampu menghadirkan seniman, cendekiawan, penulis, olahragawan dll untuk memberikan ilmunya kepada anak-anak dan warganya. Kita pun bisa menyaksikan bersama sebuah konser musik dari anak-anak dan remaja Ruwais. Masyarakat cerdas yang tidak alergi dengan diskusi yang membangun. Orientasi materi harus digeser menjadi keilmuwan. Itupun jika kita semua memimpikan masyarakat maju yang akan melahirkan generasi Indonesia Baru! bukan sekumpulan orang Indonesia yang selalu dicitrakan mengalami sindrom &#8216;Inferior Kompleks&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2010/01/08/generasi-indonesia-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANITA PELARIAN</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 May 2007 21:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Lawang Bagja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Panas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei&#160;menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Panas siang ini begitu menyengat. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Tak peduli setan atau genderowo gurun yang muncul siang hari sekalipun, yang jelas tak kuat diriku berdiri menahan panas seterik ini. Sesekali angin musim panas di bulan Mei&nbsp;menyapu kerudungku. Pasir yang menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai terasa sekali membuat kulit perih. Namun tak ada pilihan aku harus meneruskan pelarian ini.</div>
<div></div>
<div>Sebuah truk gandengan lewat dan menyembunyikan klakson di depanku. &ldquo;Ton..ton..!&rdquo;. Aku diam tak bergeming. Kulirik&nbsp;truk menepi. Aku tahu sang supirnya menawarkan tumpangan. Sesaat ada keraguan dalam hati. Biasanya supir-supir di negeri ini dari Pakistani. Tampangnya lumayan cakep dengan postur tubuh tinggi besar. &ldquo;Tapi.., ah! biasanya mereka memanfaatkan wanita sendirian sepertiku saat ini untuk melepaskan nafsu birahi&rdquo;. </div>
<div>Terdengar kembali bunyi klakson berungkali. Aku berusaha berpikir cepat. &ldquo;Toh, sekalipun polisi yang lewat mereka pun pasti akan memperkosaku sebelum mengirimku ke penjara atau kemajikanku. Itu artinya usaha pelarianku sia-sia. Aku harus bisa sampai lebih cepat&nbsp;ke embassy!&rdquo;.&nbsp;</div>
<div>****</div>
<p><span id="more-824"></span>
<div id="ygrp-text">
<div>Dari tadi kulihat supir truk&nbsp;seyum-senyum melihatku.&nbsp;&nbsp;Mencuri pandang lewat kaca spion. Bau badan khas imigran Asia Tengah beraroma biryani membuat nafasku terasa pengap. Kucoba membuka cadar sesaat.</div>
<div>&rdquo; <em>wein ruh binti Hawa</em>?&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;<em><span style="background: 0% 50%; cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial">Jeddah</span></em>!&rdquo; Jawabku sambil memalingkan muka.</div>
<div>Sepertinya ia tahu&nbsp;kalau aku sedang mencoba melarikan diri. &ldquo;Embassy ha?..&rdquo; ia kembali bertanya. &ldquo;Sialan!&rdquo; rutukku dalam hati. Biasanya kalau sudah ketahuan bisa terbaca langkah selanjutnya. aku mencoba&nbsp;mengumpulkan strategi jangan sampai di tengah gurun ini ia memperkosaku kemudian&nbsp;mencampakkanku di gurun.&nbsp;</div>
<div>Kubuka cadar hitam penutup wajahku dan kukembangkan senyum.&nbsp;Ku dekati&nbsp;Supir Pakistani ini.&nbsp;Aku mencoba mengajukan penawaran kalau ia boleh menjamahku asal tidak di tengah gurun.&nbsp;Aku minta&nbsp;sampai&nbsp;kota terdekat,&nbsp;tunggu setelah aku makan dan mengumpulkan tenaga setelah capek melarikan diri dari rumah majikan. Aku bilang perutku keroncongan sekali tak bisa melayani sepenuh hati. Kulihat supir pakistani ini mengangguk senang.</div>
<div>Di depan ada deretan bangunan&nbsp;mirip restoran. Kulihat beberapa kendaraan berhenti di depan. Truk&nbsp;pun kemudian&nbsp;berhenti untuk&nbsp;parkir. Supir&nbsp;<span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Pakistan</span> ini begitu bersemangat. Mungkin ia pikir sebentar lagi akan melepaskan hajat. Biasanya para supir seperti ini hidup bertahun-tahun tanpa keluarga. Hidup&nbsp;dalam&nbsp;kondisi alam dan sosial yang keras.&nbsp;Nafsu sek mereka memang sudah sampai ke ubun-ubun.</div>
<div>Sambil turun&nbsp;aku berdoa, &ldquo;Gusti Allah, tolong&nbsp;selamatkan aku. Tak mungkin kuserahkan mahkota suci ini selain kepada kang Radik. Suamiku di Serang.&rdquo;&nbsp;di dalam restoran supir&nbsp;Pakistani tadi sudah terlebih dahulu menyantap makanan di depan meja. Aku permisi sebentar dengan alasan ke toilet.&nbsp;</div>
<div>Supir Pakistani ini mencak-mencak kepada pemilik restoran.</div>
<div>&ldquo;<em>Suhada anta?&nbsp;La ma&rsquo;lum binti hawa</em>!&rdquo;.</div>
<div>Rupanya ia marah karena membiarkan wanita yang duduk memakai abaya hitam dengannya telah kabur lewat pintu belakang.&nbsp;Pemilik restoran tadi rupanya tidak menerima perlakuan sang supir. Hampir saja terjadi <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">baku</span> hantam kalau saja tidak dilerai oleh kawannya. Musnah sudah impian supir Pakistani.&nbsp;Rasa penyesalan muncul,&nbsp; <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">coba</span> ia melahap wanita tadi di tengah gurun tanpa memperdulikan permintaannya.</div>
<div>****</div>
<div>Aku masih meringkuk di sebuah taksi kosong. Sambil menahan lapar dan&nbsp;panas terkurung di dalam mobil.&nbsp;Saat keluar pintu belakang aku&nbsp;periksa setiap kendaraan yang parkir barangkali ada yang tidak terkunci.&nbsp;Beruntung&nbsp;ada taksi yang mungkin akan kembali ke kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span> setelah&nbsp;mengantarkan penumpang&nbsp;ke <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Dammam</span> dan mungkin&nbsp;lupa mengunci pintu belakang.&nbsp;Kira-kira setengah jam lebih aku&nbsp;meringkuk di jok belakang. </div>
<div>Semoga saja tidak ada penumpang yang akan ikut naik.&nbsp;Tidak lama kemudian,&nbsp;sang supir taksi rupanya datang.&nbsp;Aku tak berani menatap siapa dan warga negara apa yang membawa. Bisa jadi masih Pakistani, Afghanistani, atau bisa juga pinoy dan Indonesian. Biarkan mobil ini melaju.&nbsp;Aku harus bisa lepas dari Supir Pakistani tadi. Kini, hanya&nbsp;abaya&nbsp;yang melekat dalam tubuhku menyertai pelarian ini.</div>
<div>****</div>
<div>Terdengar bunyi <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">HP</span> berdering, &ldquo;Halo, assalamu&rsquo;alaikum!&rdquo; , &ldquo;Alhamdulilah baik-baik pak!&rdquo;. Aku terkejut ketika mendengar suara supir taksi. Alhamdulilah, ia Indonesian. Paling tidak aku harus menunggu sampai ia menyelesaikan pembicaraannya.</div>
<div>&ldquo;Astagfirullah. .!&rdquo; sesaat mobil oleng supir taksi&nbsp;sangat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. kemudian mobil menepi.</div>
<div>Ia berbalik,&rdquo;&nbsp;Sejak kapan mbak sudah duduk di mobil saya? saya kira kuntilanak gurun!&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;Maaf mas, tolong saya mas..saya terpaksa naik diam-diam..saya kabur&hellip;.&rdquo; dan cerita mengalir dari mulutku.&nbsp;</div>
<div>Mungkin doaku dikabulkan.&nbsp;Hamdan mau menerima alasanku. Ia berjanji akan mengantarkanku sampai embassy.</div>
<div>&ldquo;Makanya mbak, jangan mudah tergiur tawaran agen. Hukum perlindungan untuk para TKW masih rendah. Salah-salah, mbak hanya jadi budak pemuas nafsu majikan. Beruntung mbak bisa kabur. banyak kok yang gak bisa kabur. ujung-ujungnya&nbsp;pasrah terima nasib jadi pemuas nafsu. Banyak yang pulang dalam keadaan bunting transit di Singapur untuk melahirkan, Jual bayinya trus balik lagi ke sini. Sampai kapan hidup terus seperti itu? Mending tinggal di gunung tapi deket sama gusti Allah daripada deket ka&rsquo;bah malah jadi hamba pemuas nafsu!&rdquo;&nbsp;</div>
<div>Aku hanya terdiam mendengarkan Hamdan memberi nasehat. Terbayang cita-cita serta harapanku bekerja di Timur Tengah. Aku ingin seperti Sarikah yang bisa membangun rumah baru. Pulang dengan membawa hp dan emas perhiasan. kulihat suaminya juga bisa dikreditkan bebek untuk mengojek. Kang Radik suamiku, hanya buruh bangunan. Rencananya uang hasil keringatku akan dibuatkan warung makan mirip warteg. Prospek bisnis ini menjanjikan. Kata kang Radik banyak buruh di Serang Timur yang butuh warung makan murah. Yang peting kenyang dan sehat.&nbsp;Ya, Kami memang sedang berjuang memperbaiki kesejahteraan.</div>
<div>&ldquo;<em>Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">wis</span> ane warung makan kien sire balik maning</em>!&rdquo;.&nbsp;Begitu kata kang radik.&nbsp;&nbsp;</div>
<div>Di perjalanan, Hamdan mencarikanku&nbsp;makanan untuk mengganjal perut.&nbsp; Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku lewat tangan Hamdan.</div>
<div><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Dammam</span> &#8211; <span style="background: 0% 50%; cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-b</p>
<p>ackground-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial">Jeddah</span>&nbsp;memakan waktu lebih dari 24 jam. Menjelang subuh mobil yang&nbsp;aku tumpangi akan mencapai <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>.&nbsp;&rdquo;Mbak, kayaknya ada pemeriksaan di depan! Ada&nbsp;<em>Syarthoh</em>! berdoa saja mbak..!&rdquo;.&nbsp; Kerlap-kerlip&nbsp;lampu patroli mobil&nbsp;begitu menyilaukan.&nbsp;Taksi melaju perlahan.</div>
<div>&ldquo;kok di tempat sepi begini ada operasi sih mas?&rdquo;</div>
<div>&nbsp;&rdquo;biasa mbak.., di sini polisi juga cari tambahan&rdquo;.&nbsp;</div>
<div>Seorang polisi melambaikan tangan meminta mobil kami untuk menepi.</div>
<div>&ldquo;Assalamu&rsquo;alaikum kapten!&rdquo;&nbsp;Polisi tadi tidak menjawab salam Hamdan. Matanya memeriksa&nbsp;jok belakang.</div>
<div>Hamdan diborgol. Aku&nbsp;berdiri menatapnya. Ia dituduh&nbsp;membawa pelarian TKW. Hamdan menatapku.</div>
<div>&ldquo;Gak apa-apa mbak! ini sudah nasib saya. kalau ada kesempatan, mbak kabur dari mereka.&nbsp;Jangan mau dikembalikan kemajikan lagi. Bisa-bisa mbak disiksa dan diperkosa!&rdquo;.</div>
<div>Aku tercekat saat salah satu polisi menamparnya berulang kali.</div>
<div>&nbsp;&rdquo;<em>Uskut, la tatakallam</em>!!&rdquo;.</div>
<div>&nbsp;Sepertinya&nbsp;Hamdan tak peduli. Ia terus bicara.&nbsp;&rdquo;Mbak, dibawah jok mobil saya ada uang beberapa real. Ambil saja&nbsp;buat jaga-jaga. jangan sampai ketahuan, nanti bisa diambil sama mereka!&rdquo;.</div>
<div>&nbsp;Kali ini Salah satu <em>syarthah</em> menendangnya. Rambut Hamdan dijambak.&nbsp;</div>
<div>Kudekati salah satu polisi yang sedang berbicara lewat pesawat HT. Setelah berbicara sebentar polisi tadi menghampiri temannya. kemudian mereka berbicara dalam dialeg lokal. Tidak lama kemudian mereka memasukan saya ke dalam mobil polisi&nbsp;bersama polisi dan temannya.</div>
<div>Hamdan menatap mobil polisi yang bergoyang berulangkali.&nbsp;Tak kuat hatinya menatap kebiadaban&nbsp;terjadi di depan mata.&nbsp;</div>
<div>Digigit bibirnya sampai berdarah.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</div>
<div>****</div>
<div>Fajar menyingsing di muka kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>. Tak ada pembicaraan antara aku dan Hamdan. Aku sendiri diam seribu basa. Seolah tidak ada yang terjadi.</div>
<div>&nbsp;&rdquo;Di depan embassynya Mbak!&rdquo;. Ujar Hamdan tanpa menoleh.</div>
<div>&ldquo;Terimakasih mas sudah menyelamatkan saya&nbsp;sampai embassy!&rdquo;.</div>
<div>&ldquo;Ndak, saya yang mesti terimakasih mestinya saya sudah meringkuk di penjara, sampai&nbsp;akhirnya mbak mesti&nbsp;berkorban&rdquo;.</div>
<div>Aku tersenyum letih. Ada perasaan lega usaha pelarianku membuahkan hasil. Akhirnya kedua syarthah melepaskanku dan Hamdan&nbsp;setelah mereka melampiaskan nafsunya padaku di dalam mobil.</div>
<div>&ldquo;Ini uang beberapa real,&nbsp;untuk jaga-jaga&rdquo;.&nbsp;Aku ragu untuk menerima tapi&nbsp;aku memang butuh.&nbsp;Akhirnya kuambil dengan berat hati.</div>
<div>&nbsp;Sampai di depan gerbang embassy&nbsp;Hamdan mengantarkanku. Ketika pintu gerbang di buka aku tersentak. Kulihat Walid majikanku sedang berbicara&nbsp;akrab sekali dengan petugas embassy&hellip;</div>
<div><strong>glosary:</strong></div>
<div><em>Wein ruh binti Hawa: mau pergi kemana binti&nbsp; hawa (panggilan untuk wanita)</em></div>
<div><em><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span> : kota <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Jeddah</span>, Saudi.</em></div>
<div><em>uskut La tatakallam: Diam jangan bicara kamu</em></div>
<div><em>Suhada anta?&nbsp;La ma&rsquo;lum binti hawa : Bagaimana kamu ini, gak tahu kemana perginya wanita tadi.</em></div>
<div><em><span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">Wis</span> lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Mengko <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">wis</span> ane warung makan kien sire balik maning: sudahlah, gak apa-apa kamu kerja di Arab sebentar. Nnati kalau warungnya sudah jadi kamu balik lagi.</em></div>
<div><em>Syarthah : Polisi</em></div>
<div><em>abaya; baju hitam khas lokal untuk wanita</em></div>
<div><em>Dammam : nama salah satu kota di Saudi</em></div>
<div></div>
<div><em>Nama Penulis cerita: Lawang Bagja. penulis sebelumnya volunteer rumah dunia dan pernah menjadi pj Audio Visual. Beberapa karya film pendeknya: hari-hari Adi, BelokKiri Dilarang langsung, Rin..!, Jejak Multatuli, Ode Kampung, dll. Saat ini Penulis bekerja di <span style="cursor: pointer; border-bottom: #0066cc 1px dashed; height: 1em">UAE</span> di sebuah perusahaan swasta.</em></div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span style="color: white">__._,_.___</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/05/28/wanita-pelarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAMBAH ATAU KURANG?</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/05/19/tambah-atau-kurang/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/05/19/tambah-atau-kurang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 19:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-News]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Lawang Bagja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[
Essay 
TAMBAH ATAU KURANG?







Sebuah potret kekinian manusia
Lawang Bagja Al-Boghori
Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa.







TAMBAH ATAU KURANG?







Sebuah potret kekinian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="wpcombar" style="z-index: 1001">
<p class="menupop"><strong>Essay </strong></p>
<p class="menupop"><strong><span style="font-size: x-small; color: #ff0000;"><a class="highslide img_2" title="profil-jaya-poto.jpg" href="https://213.42.175.51/exchweb/bin/redir.asp?URL=http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/05/profil-jaya-poto.jpg" target="_blank" onclick="return hs.expand(this)"><img src="https://213.42.175.51/exchweb/img/clear1x1.gif" alt="profil-jaya-poto.jpg" width="1" height="1" /></a></span></strong><strong><span style="color: #ff0000;">TAMBAH ATAU KURANG?</span></strong></p>
</div>
<div id="page">
<div id="frame">
<div id="content">
<div id="post-92" class="post">
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><strong><span style="color: #00ccff;">Sebuah potret kekinian manusia</span></strong></p>
<p><strong>Lawang Bagja Al-Boghori</strong></p>
<p>Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa.</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p><span id="more-587"></span></p>
<div id="wpcombar" style="z-index: 1001">
<p class="menupop"><strong><span style="color: #ff0000;">TAMBAH ATAU KURANG?</span></strong></p>
</div>
<div id="page">
<div id="frame">
<div id="content">
<div id="post-92" class="post">
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><strong><span style="color: #00ccff;">Sebuah potret kekinian manusia</span></strong></p>
<p><strong>Lawang Bagja Al-Boghori</strong></p>
<p>Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa. Evolusi tentu meyakini terjadinya perubahan fisik disebabkan rangkaian peristiwa mulai dari adaptasi, survival dan seleksi alam. Dari situlah makhluk mengalami perubahan diam-diam. Seperti sebuah reaksi paralel dimana makhluk yang ada merupakan hasil ‘jelmaan’ makhluk sebelumnya. Contohnya pada manusia yang menurut Darwin berasal dari monyet. Kemudian berkembang menjadi monyet yang agak berdiri, monyet yang berdiri tegak, monyet doyan nasi hingga akhirnya monyet yang sudah bisa mikir en’ bisa bikin handphone. Seandainya Darwin benar maka manusia atau monyet menurutnya itu tentu masih berkembang bukan? Mengalami proses adaptasi, survival, dan seleksi alam.</p>
<p>Saya masih mereka-reka ‘monyet’ abad mendatang seperti apa. Apa kepalanya besar, jari tangan besar, mata belo, badan dan kaki mengecil. Kepala besar karena terus dipaksa mikir. Trilyunan impuls saraf kita dipaksa berpikir mulai dari urusan kerja, keluarga, anak, bisnis, hobi, ekonomi, politik, dan seabreg lainnya. Manusia sekarang memang cenderung banyak pikiran tapi tidak berbuat. Jari tangan besar karena era sekarang serba era tombol, remote, keyboard seperti laptop yang saya pakai sekarang. Pokoknya tinggal ‘klick’ saja!. Sehingga menjadi wajar kemudian diapresiasi ke dalam sebuah film. karena film memang produk budaya. Selanjutnya mata belo, badan dan kaki mengecil. Karena manusia sekarang memang dimanjakan indera penglihatan dan pendengarannya. Lihat saja nanti era TV plasma dan layar monitor ke depan mungkin muncul yang lebih gress. Terakhir badan dan kaki mengecil karena manusia semakin males. Di sini nanti muncul dua jenis. Yang males diet dan yang rajin diet atau ngirit. Tentunya dengan memakai alasan Darwin sendiri bahwa penyimpangan jenis pasti selalu ada. Biasalah..teori kan tidak ada yang sempurna. mungkin begitu katanya.</p>
<p>MANUSIA <em>&#8216;SEMESTA&#8217;</em></p>
<p>Tapi lupakan yang diatas! saya dan anda tentu tidak setuju dengan si Darwin bukan?. yang setuju silahkan membayangkan keturunannya ke depan mengalami proses seperti di atas. Yang tidak, mari kita menyelami potret ‘kekinian’ manusia saat ini. Sebuah potret ekosistem dimana bumi yang menjadi sentral kehidupan semesta. Dimana jagat raya dan seisinya dengan milyaran atau bahkan trilyunan galaksi yang berada di dalamnya sedang menunggu kepastian ‘kelangsungan cerita dari sebuah planet kecil bernama bumi. Saat bumi hancur maka hancur pula semesta!. Mengapa? karena manusia adalah project akhir yang paripurna dari sekian trilyun hingga tak terhingga makhluk tuhan. Anda jangan berpikir tentang E.T. atau makhluk planet lain yang ’similarly’ seperti manusia. Mengolah, memproduksi, mendistribusi, semua makhluk tuhan yang ada. Lupakan tentang film-film planet serta proyek luar angkasa yang meracuni fikiran kita. Pastikan hanya manusia adalah ‘the last product’ and nothing else…!</p>
<p>Allah menciptakan manusia dalam kapasitas yang luarr biasa. Space memori dan processornya masih belum optimal dipakai hingga saat ini. Hanya baru 1% (satu persen) yang digunakan dan itu sudah mampu mengantarkan manusia ke bulan. Kita memang ‘disiapkan’ untuk mengelola semesta. Mengelola bukan berarti menghancurkan. Mengelola juga bukan berarti memanipulasi apalagi menjadi biang kerok kehancuran semesta dan seisinya. Ya!, manakala dunia hancur maka ‘ekosistem’ semesta akan hancur pula. Tidak ada kehidupan lagi. Bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa manusia produk terakhir yang Ia ciptakan di atas semesta. Di mana sudah ‘dipersembahkan’ alam beserta isinya?. Apa yang kurang jika kita mau berfikir anugerah ang diberikan Sang Pencipta? gas dengan komposisinya yang ideal dimana nitrogen yang <em>mendominasi</em> bukan oksigen. Air yang Ia ciptakan sudah sedemikian rupa bentuk dan jumlahnya. Yang diporos bumi sengaja Ia padatkan menjadi es agar masih tersisa daratan untuk manusia. Di dalam bumi ia jadikan api sebagai inti. Bayangkan, di dalam bumi ada api yang menggelora dan di atasnya permukaan air!. Kita masih bisa hidup dengan nikmat di atasnya. Semuaaa… yang ada memang untuk melayani manusia. Ya!, kita adalah aktor utama.</p>
<p>TAMBAH ATAU KURANG?</p>
<p>Tanpa disadari fitrah kita sebagai manusia berusaha untuk mengingatkan diri kita sendiri. Seperti film hasil kreasi manusia. Sang sutradara dengan penulis skenarionya bersepakat, aktor utama adalah yang menentukan jalan cerita. Karena ia maka cerita itu ada. Jika aktor utama mati maka habislah cerita. Jadi ia akan terus dijaga agar tetap hidup. Dalam film, sutradara dan penulis skenario pun bersepakat bahwa ending adalah keniscayaan. Durasi membatasi gerak cerita. Tinggal bagaimana menentukan sebuah akhir cerita? bahagia? sedih? tercapaikah tujuannya?. dalam skenario sekarang sudah tidak lagi dikenal alur cerita 3 babak. Sekarang sudah menjadi alur 9 babak. Sedemikian mirip dengan kisah nyata sesungguhnya dengan lakon yang kita jalani sekarang.</p>
<p>Kesalahan manusia yang utama adalah mis persepsi dengan konsep waktu. Kita selalu menghitung maju untuk waktu yang akan datang. besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dekade akan datang, dst. Semua dianggap sebagai masa pertambahan. Bahwa umur kita nambah, harta kita nambah, anak nambah, pokoknya bicara ke depan semua harus nambah!. Di tempat kerja, produksi harus nambah!, di toko, penjualan harus nambah. Gaya hidup juga ikut nambah. Kita memang asik menambah. Dengan asik menambah itulah maka kedengkian, kebencian, rakus dan tamak menjadi lahir. Siapapun tak ada yang mau dikurangi. Negara tak mau berkurang luas wilayahnya, Provisi tak mau berkurang pendapatannya, dst. Sehingga dari persoalan ’sepele’ tambah dan kurang’ inilah gejolak kita lihat dimana-mana. Israel ingin bertambah luas wilayahnya, Palestina tidak mau dikurangi hak miliknya. Amerika ingin bertambah pasokan minyaknya maka mereka kirim pasukan ke Irak, dan masih banyak lagi. Anda bisa mengambil contoh masing-masing.  </p>
<p>Lalu seperti apa konsep sebenarnya tentang waktu? waktu </p>
<p>itu selalu berjalan mundur alias berkurang. Seperti saya ibaratkan tentang film tadi, Sang Sutradara sudah menentukan durasi film. Tapi Ia memberi pilihan kepada pemeran utama, akhir cerita apa yang kau inginkan?. Kita saat ini mungkin ada disuatu <em>scene</em> atau bagian dari akhir dari cerita dimana jam tayang sebentar lagi akan habis. Artinya masa depan adalah masa akhir. Ke depan, umur berarti berkurang, kekuatan berkurang, harta kita? berkurang! apakah ada orang mati yang menikmati kekayaan?, semua berkurang.  Maka kurangilah nafsu yang menggelora di dadamu. Buanglah kebencian dan kedengkian di hatimu. Ternyata keharmonisan hidup serta kenikmatannya makanala kita memahami hidup bukan untuk saling menguasai (baca; menambah). Justru dengan saling memberi (baca; mengurangi). Saat semua ingin saling memberi (mengurangi) maka tak ada kekacauan serta hiruk pikuk ketidakpuasan. Ingat!, kita adalah aktor utama. Jika keserakahan dan kedengkian menguasai penduduk bumi serta isinya maka ending cerita dari planet ini sudah demikian dekat. Tak ada lakon utama, cerita pun habis.</p>
<p>Bahwa film ada endingnya itu tentu. Tapi siapa yang tahu ending cerita dari semesta? itulah mengapa Rasul Muhammad yang mulia memberikan tanda-tandanya. Jika kerusakan merajalela, manusia seperti binatang, membunuh dan menguasai, saling menipu dan mencurangi, dst. maka ending sudah dekat. Dan jagat raya menunggu kepastian lakon cerita manusia…</p>
<p>Wallahu a’lam</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/05/19/tambah-atau-kurang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TPI, PANADOL &amp; TKW, HIJRAH</title>
		<link>http://www.indo-emirates.org/2007/01/18/tpi-panadol-tkw-hijrah/</link>
		<comments>http://www.indo-emirates.org/2007/01/18/tpi-panadol-tkw-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2007 05:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indo-Resonansi]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom Lawang Bagja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indo-emirates.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Saat dunia semakin menyempit dengan kemajuan teknologi maka apalah artinya jarak ribuan kilometer. Kemarin sebelumnya saya masih menikmati hangatnya chay di Gayathi dengan Boim Baang &#38; mantan presiden dan sekarang malah asik belah duren. Durennya asli! Duren Padarincang. Ada si Kunir, yang dagingnya kuning dan manis, ada si kancil, kecil-kecil isinya wow! mantep. Musim kemarau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Saat dunia semakin menyempit dengan kemajuan teknologi maka apalah artinya jarak ribuan kilometer. Kemarin sebelumnya saya masih menikmati hangatnya chay di Gayathi dengan Boim Baang &amp; mantan presiden dan sekarang malah asik belah duren. Durennya asli! Duren Padarincang. Ada si Kunir, yang dagingnya kuning dan manis, ada si kancil, kecil-kecil isinya wow! mantep. Musim kemarau di Banten membawa berkah pada buah Duren. Begitulah sang Pencipta. Tiada satu pun yang tidak memberi manfaat. Mungkin makan duren kali ini akan lebih mantap kalau nongkrongnya depan TPI. <img src='http://www.indo-emirates.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-746"></span><br /> 
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">TPI<br />Ada kabar TPI sudah masuk Ruwais. &quot;Saya merasa seperti di Indonesia! Minum kopi sambil lihat TPI!&quot;, ujar seorang warga berseloroh. Saya tidak ingin mengajak ke wilayah pro dan kontra mengenai TV. Semua pendapat masing-masing sudah dipertanggungjawabk an. Saya ingin melihat dari kacamata bahwa diakomodirnya TPI oleh Ruwais Housing sebagai bentuk pengakuan adanya komunitas warga indoemirat. TPI sebagai entitas sebuah bangsa terlepas dari isinya yang masih diperdebatkan. Selanjutnya pihak housing pun&nbsp;sebaiknya&nbsp;segera merilis TV Manila, Thailand, dll. Artinya mereka sadar betul bahwa yang berhak hidup dan menikmati hiburan dengan bahasa ibu dari masing-masing negara mesti diakomodir. Mungkin saya terkesan cari identitas, tapi YA! jujur saya katakan bahwa setiap kali saya ke bandara Internasional Abu Dhabi dan melihat TKW yang digiring seperti (maaf) budak, saya merasa perih dan identitas Indonesia saya di mata warga dunia menjadi sebuah tanda tanya besar!.</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;PANADOL&nbsp; &amp; TKW</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Bagi sesama pekerja imigran di kawasan timteng cerita kelam para TKW mungkin sudah tidak menimbulkan empati. Mungkin karena sudah biasa dan basi, sementara lainnya berujar &quot;emang TKW kitanya suka cari masalah&quot;, atau alasan lainnya. Sementara warna kulit dan ras seperti sebuah stempel yang tidak bisa dibohongi bahwa kita adalah bagian dari mereka. Tak perlu malu dengan memisahkan barisan saat kita antri di imigrasi kala bertemu rombongan TKW. Bagi saya, mereka pejuang hidup yang rela mencampakkan diri di tengah belantara kehidupan. Keberanian para lelaki Indonesia tak seberapa dibanding nyali mereka. Sayangnya semua tidak didukung secara patut oleh negara. Namun ke depan mestinya digantikan oleh para lelaki yang merantau dan wanita bisa tinggal dirumah. Bukan bermaksud bias gender. Tetapi selama persoalan masih belum bisa teratasi dan rentannya nasib bekerja sebagai pembantu sebaiknya semua dihindari. </p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Ada yang menarik ketika saya tanya sana sini mengenai persoalan kesehatan. Umumnya mereka memberikan jawaban yang sama bahwa berobat dimanapun pasti obatnya PANADOL. &quot;Ya mas.., wong namanya pembantu! obatnya cukup Panadol saja&quot;, Ujar istiqomah wanita imut mirip cina asli dari Kendal ini menjawab. Ada lagi sebut saja Tuti, yang menurut saya tak pantas jadi pembantu. &quot;Muhun, dicandak ka rumah sakit ge, dipasihanna Panadol wungkul&quot; (Iya, dibawa ke rumah sakit juga obatnya panadol saja). Saya masih berpikir ada apa dengan Panadol? sebegitu dekatnya dengan mereka. Saya tidak mempersoalkan merek hanya saya menduga perlakuan yang diberikan memang seadanya. Hal itu tersirat dari cerita selanjutnya. Kalo para pemimpin Indonesia sedang sibuk dengan politik pencitraan mungkin setelah mereka tahu bahwa Panadol obat yang biasa diberikan untuk para TKW apapun sakitnya, hmm&#8230;pasti mereka cari obat merek lain.</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;HIJRAH</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Tahun baru masehi lewat. Diskusi soal waktu akan memakan waktu panjang yang sama halnya dengan umur waktu itu sendiri. Tidak ada jeda sepersejuta detik pun ruang kosong untuk waktu karena semua akan mengakibatkan berakhirnya kehidupan. Semua hanya berganti angka. Dalam Islam penandaan waktu tahun dihitung dengan peristiwa Hijrah. Sebuah peristiwa yang mengubah jalan cerita sejarah. Dan Sabtu lusa, kembali angka tahun hijrah kembali berganti.</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Sebenarnya setiap bulan berganti tahun pun tidak masalah! atau bahkan setiap minggu dan lebih ekstrim lagi setiap hari!. Semua hanya penanggalan untuk kebutuhan admistrasi normatif belaka. Eksistensinya justru terletak pada makna sebenarnya dari cara pandang kita terhadap waktu. kemarin, hari ini, dan esok adalah sebuah goresan akan nilai diri kita sebagai manusia. Saya masih mencoba memahami nilai kemanusiaan saya sendiri. Sebuah perbuatan yang memang teramat membosakan. Akan tetapi akan lebih membosankan lagi memahami manusia yang tidak mau mengenal nilai kemanusiaanya sendiri. </p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Hijrah sebuah pesan untuk memaknai berbagai peristiwa hari ini dan kemarin. Hijrah saat lorong waktu masih belum terlihat ujung serta pangkalnya.</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">so, hijrah yuk..!</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Serang, 18 jan 07</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">Wassalam</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;Howgh!</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">lawang Bagja; Mensos. Indoemirat</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indo-emirates.org/2007/01/18/tpi-panadol-tkw-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
