-
Kado Teristimewa di Hari Ibu
Posted on December 22nd, 2011 No commentsKado Teristimewa di hari Ibu
( Rangkaian gempa literasi-mengguncang Timur Tengah)
Ditulis oleh Julaeha, salah satu peserta workshop.
Editor; lawangbagja
Foto: peserta workshop
Penulis populer Gol A gong akhirnya mampir ke Ruwais Abudhabi, Jika sebelumnya para ibu hanya bisa menikmati rangkaian serta gelegar gempa literasi lewat berita-berita di Antaranews atau Kompas.com, kini tiba-tiba “Balada si Roy” hadir dalam rangka kegiatan workshop be a writer yang dikelola oleh Linkkita dengan dukungan KBRI Abu Dhabi, Garuda Indonesia dan Bank Mandiri perwakilan timur tengah.Sungguh!, sebuah obat mujarab nan ajaib dengan hadirnya “Si Roy” di tengah-tengah kami. Pastinya ia tidak membawakan lagi cerita balada akan tetapi lagu-lagu ceria yang membahagiakan kami semua lewat huruf dan kata.
Kado Teristimewa di hari Ibu
Sudah lama kegiatan seperti ini dinantikan. Jaya Komarudin, penangung jawab kegiatan memaparkan bahwa gempa literasi dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur Tengah” adalah sebuah momentum untuk mengubah wajah Indonesia di timur tengah. Sebuah langkah kecil untuk mengubah dunia. Gempa literasi sudah menjadi bola salju yang bukan sekedar think global, act local akan tetapi think global-act global!.
Bahwa membaca akan mengakselerasi para manusia Indonesia menjadi manusia-manusia unggulan dari desa hingga ke kota. Jika gempa literasi ini mampu menjungkirbalikan kebodohan maka tidak akan ada lagi manusia Indonesia yang harus menjadi tenaga kerja tidak terdidik di timur tengah dan seluruh dunia. Manusia Indonesia unggulan dan bermartabat akan menyerbu belahan dunia lain lewat literasi..
Kegiatan ini dibagi dua sesi, tanggal 20-21 Desember untuk para ibu dan remaja putri, Kegiatan yang dilaksanakn menjelang perayaan hari ibu ini membuat hati kami berbunga. Ini sebuah kado teristimewa yang pernah kami terima sebagai ibu dengan menerima sebuah enlighment, yang kemudian akan kami declare kan pada dunia bahwa para ibu mampu bersuara menyampaikan hak dan suara hatinya agar didengar oleh dunia.
Ibu-Ibu menulis?
Kesempatan langka ini di pergunakan dengan baik oleh warga Ruwais, terutama untuk ibu-ibu dan remaja putri, Ruangan selalu penuh sesak dari 2 hari kegiatan. Mereka bersemangat mengikuti workshop ini walaupun sibuk dengan anak-anaknya yang masih balita. Tentunya di tengah kesibukan rutinitas, antusiasme para peserta ini sungguh di luar dugaan.Pertemuan ke-2 workshop berpindah ke Recreation Centre (RC), sebuah pusat kegiatan bagi para warga di Ruwais. Ibu-ibu dan remaja putri yang hadir di hari ke-2 ini ternyata lebih banyak dari hari pertama. Tampil lebih kritis dan tanpa segan bertanya kepada Gol A gong.
Ruangan memang penuh sesak dan riuh rendah oleh anak-anak yang bermain di dalam ruangan workshop. Mereka seperti merayakan kegembiraan bahwa kelak ibu-ibu akan membuat anak-anaknya tumbuh dan besar oleh literasi yang dimulai dari setiap keluarga.
Hal yang menarik adalah ketika para ibu ditantang untuk mampu melahirkan sebuah buku. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ditengah belitan aktifitas keseharian di dapur dan mengasuh anak, SWaktu serta pernikahan sepertinya tidak memberikan harapan karena semuanya habis dilahap dengan urusan keluarga.
Saat Gol A gong memberikan pemaparan yang mudah di cerna oleh para peserta, ternyata menulis buku begitu mudah!. Kami bersemangat untuk mampu menghadirkan suara hati kami di negeri ini. Bayangkan, dari sebuah tema sederhana tentang curhat para ibu mampu melahirkan warna baru serta letupan semangat yang menghadirkan oase di ceruk-ceruk jiwa para pembaca dari cerita sederhana di meja makan, di ruang tivi, di dapur dan di antara semilir angin yang menelisik jendela-jendela rumah kami. Maka kelak dunia akan menyadari bahwa para ibu mampu menjadi sebuah direktur, pengusaha, pendidik, penulis dan lain sebagainya. Super talented! Bukankah itu yang dibutuhkan oleh para ibu masa kini?
Literasi di hari ibu memang benar-benar kado teristimewa untuk kami. Terimakasih untuk semuanya..terimakasih untuk memberikan satu hari kepada kami sekedar mengingat-ingat bahwa tanpa ibu tak ada kata huruf untuk sebuah makna kebahagiaan.
-
Free Ticket Garuda Indonesia, Workshop ‘Be A Writer’ by Gol A Gong dan Konsuler KBRI
Posted on December 21st, 2011 No commentsAssalamu’alaikum wr. wb.
Salam Sejahtera,
Rekan-rekan, Indo-Emirates akan mengadakan acara yang harus bersamaan waktunya yaitu seremonial Workshop ‘Be A Writer’ by Gol A Gong untuk semua dan Layanan Konsuler yang disertai dengan layanan pembuatan ID online. Acaranya kita lakukan di dua tempat berbeda tetapi dekat yaitu ADNOC Beach Hall dan Danat Resort .
Acara seremonial dan Workshop ‘Be A Writer’ by Gol A Gong akan diselenggarakan pada:
Hari dan tanggal: Sabtu, 24 Desember 2011 dari jam 09.00 – 17.00.
Tempat : ADNOC Beach Hall.Acara Layanan Konsuler KBRI akan diselenggarakan dua hari pada,
Hari dan tanggal: Jum’at, 23 Desember 2011 dari jam 14.00 – 22.00 dan Sabtu, 24 Desember 2011 dari jam 09.00 – 18.00.Tempat : Danat Hotel and Resort, Jabal Dana.
Acara ini tidak statis ditempat bagi yang perlu bisa memilih waktu yang tepat terutama bisa akan ikutan Workshop ‘Be A Writer’.
Panitia Borouge International Day 2011 akhirnya memberikan kesempatan kepada anggota Indo-Emirates yang belum mengambil nomor undian raffle tiket sewaktu acara BID dan juga untuk semua perusahaan tidak hanya Borouge. Silahkan datang ikut dalam acara Workshop ‘Be A Writer’ by Gol A Gong dan kita akan undi pemenang dua tiket gratis Garuda Indonesia, Dubai – Jakarta – Dubai.
Jadi undian raffle tiket untuk semua warga Indo-Emirates. Ikuti acara workshop dan dapatkan tiket gratisnya……
Salam,
Mardian
-
LELAKI SUNDEL BOLONG DAN LITERASI DI EMPTY QUARTER
Posted on December 20th, 2011 No commentsRangkaian Gempa Literasi di Tepian Teluk persia
LELAKI SUNDEL BOLONG DAN LITERASI DI EMPTY QUARTER
Tidak mudah menarik massa untuk masuk ke pusaran literasi. Budaya baca dan tulis apalagi menjadi seorang penulis masih merupakan hal yang asing bagi kita, orang Indonesia. Namun tentu minat dan kepedulian ini sedang terus dipompa dan dibakar oleh orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk ini.
Sekali lagi, mengapa harus ada Indonesia membaca? Mengapa mesti ada workshop be a writer? Toh semua baik-baik saja bukan? Hidup kita sudah terlalu jenuh membicarakan buku, buku, buku, karena pada saat yang sama mulut para pembual mengoceh tentang nasib negeri yang setiap harinya dijejali masalah yang sebentar lagi tutup tahun maka tutup pula kisahnya. Oh iya, soal pertanyaan diawal paragraf tadi. Ya, Pertanyaan degil ini memang selalu muncul dimanapun dan kapanpun. Seolah kebutuhan manusia dibatasi oleh syahwat dan isi perut belaka. Seperti cara berpikir penguasa yang gemar memperlakukan rakyatnya seperti kerbau. Sediakan rumput hijau dan seketikan berhenti berpikir karena siang- malam memamah biak.
Lelaki Sundel Bolong
Kelas literasi yang dimulai dari tanggal 16 hingga 19 yang bertempat di KBRI Abu Dhabi berjalan dengan lancar. Gong bertutur semula ia tidak menduga peserta akan terisi sampai 25 orang tapi ternyata antusias cukup tinggi melebihi 30 peserta. Belum ditambah dengan pelatihan yang diberikan kepada para nakerwan yang berada dipenampungan. Jumlah mereka sekitar 60an orang. Jumlah yang setiap bulan bisa bertambah tapi jangan pernah berpikir untuk berkurang. Mereka umumnya para nakerwan yang sedang menjalani proses untuk kemudian dipulangkan ke tanah air. Biasanya mereka lari dari majikan karena tidak tahan dengan kondisi yang mereka hadapi. Para nakerwan yang umumnya para wanita Indonesia itu harus menerima kenyataan bernasib tragis pergi jauh tanpa perlindungan suami, kakak lelaki, bapak, paman, ke tempat yang bisa diibaratkan penjara terbuka. Tinggal di tempat asing, budaya asing, orang-orang asing dan bahasa asing.
Dan yang lebih ‘asing’ lagi adalah kebiasaan para lelaki Indonesia yang melepaskan istri, anak perempuan, bibi, menantu perempuan, mertua perempuan, sepupu perempuan, keponakan perempuan dan nenek mereka untuk pergi jauh di luar jangkauan perlindungan dan sistem hukum yang dapat memberikan jaminan berapa jam kerjanya setiap hari, hari liburnya, overtimenya, dan lain sebagainya. Kebanyakan para lelaki ini adalah lelaki ‘sundel bolong’ yang hati dan perasaan (baca; dada) mereka sudah lenyap. Bagaimana mereka tega melepaskan dengan menggantungkan ketidakjelasannasib pada seorang perempuan?. Padahal agama yang mereka anut sudah melarang tegas para perempuan pergi hingga bertahun lamanya apalagi ditambah tanpa perlindungan hukum yang jelas.
Lupakan! ! Saat ini yang ingin saya sampaikan adalah mereka para nakerwan sedang berbahagia karena telah mengikuti kelas menulis yang disampaikan oleh Gola Gong selama 2 hari dari tanggal 18-19 Desember 2011. Semua yang mereka simpan atau mereka menjadi gagu alias bisu karenanya menjadi Byar!! Jebol!.. Kata-kata melimpah ruah di 3 lembar kertas folio yang dengan susah payah mereka menguraikannya. Ini bukan persoalan mudah men-decode dan re-code setiap kata-kata yang hampir hilang dalam ingatan mereka karena sudah terlanjur menganggap sebagai bahwa apa yang terlah terjadi sudah diputuskan oleh pedang takdir yang tajam hingga terasa menakutkan untuk diingat dan dituangkan dalam tulisan. Para perempuan tangguh itu mengurai kata demi kata di lembaran putih yang kemudian menjadi sumpek dengan perasaan yang menghimpit , menekan beban rasa.
Para nakerwan kemudian asik berkelana lewat kata dan berserapah tentang para lelaki sundel bolong yang rela melepaskannya pergi menyusuri pepasir yang tak berbekas jejaknya. Atau kemudian mereka menemukan cinta dari para anak bangsa. Mereka berbahagia hingga ada yang tumpah haru. Ya..kata, membuat kita berbahagia.
Tibalah saatnya Gola Gong pamit hendak meneruskan pelatihan ke tepian empty quarter. Gong meminta izin. Sesaat suasana hening. Mereka seperti direnggut kebahagiaannya kembali. Gola Gong menyadari bahwa saat mereka bahagia karena dipandu menemukan ‘kata’ tetapi kemudian seperti merasa kehilangan karena sang pemandu petualangan kata itu pergi. Demi memuaskan dahaga mereka, Gola Gong menawarkan alamat rumah dunia dan nomor telepon maka berebutanlah para nakerwan untuk mendapatkannya.
“Semua boleh tulis alamat dan nomor telepon saya tetapi syaratnya jangan ada yang mengaku pacar ya!”,semua tertawa berhagia.
Gempa Literasi di Empty Quarter
Perjalanan dilanjutkan menuju empty quarter. Di sini terdapat sebuah koloni kecil yang halaman depannya teluk Persia dan halaman belakangnya salah satu gurun terganas di dunia, empty quarter. Bersama Lawangbagja dan Sabar Riyanto membelah malam . Menyusuri perjalanan sejauh 250 km dari Abu Dhabi-Ruwais. Sepanjang perjalanan Kami bertukar kisah, gagasan serta ide-ide yang mengasyikan. Tentang sebuah komunitas yang bermimpi mempunyai kegiatan budaya literasi yang tidak terhenti hingga sebatas workshop saja.
Manusia Indonesia dimanapun berhak mendapatkan pencerahan dan mengejar ketertinggalan mereka. Entahlah, saya sendiri merasa tinggal di negeri yang budaya membacanya jauh dari harapan. Kami setiap hari hanya dijejali, discount, summer offering, winter session, half price, futher cut, dan seterusnya. Kapan kita akan menghargai hidup dengan kemuliaan sebagai manusia yang tidak terus digelayuti oleh topeng pakaian dan penampilan.
Kami beristirahat sejenak di Tariff, kota kecil yang tepat berada diantara Abu Dhabi-Ruwais. Menemani Gola Gong yang sedang keranjingan makan nasi biryani. Setengah ayam bakar habis. Udara dingin, nasi biryani dengan saffron dilengkapi rempah-rempah khas Asia tengah dan ayam bakar memang nikmat bukann kepalang. Persoalannya adalah karena nasi biryani tidak memakai santan tetapi masih gurih karena rempah-rempahnya. Sedangkan Gong memang sudah lama libur makan santan karena sakit yang sedang dideritanya.
Workshop yang diberikan untuk para ibu dan remaja putri memang sedianya di laksanakan dibalai pertemuan tetapi berhubung bangunannya sedang dipugar maka terpaksa hari pertama di rumah salah satu warga, Pak Agus Kurniawan. Walhasil…! Viola!…membludak, tidak cukup. Panitia berusaha hari kedua, (21 Desember 2011) bisa digelar di hall yang masih tersedia. Ya, gempa lietrasi Indonesia membaca, workshop be a writer terasa hingga ke tepian teluk Persia. Dan tetap semangaatt!
-
Diary (Copy Paste dari tulisannya si AA-My boy)
Posted on December 16th, 2011 No comments
At the first day of school I was nervous. About not having a new bag and a new shoes. At Thursday the school starts. When we go to the grocery market there are many poster named’ school starts’. So preparing things for school is hard enough.Thursday had finally come so I am ready to see who’s sitting next to me. But, it was a Pakistan boy named sameer. How bad luck it was. I see irfan was in my class so I felt happy about it last year at grade 4, I was stuck with all Arabic boys.
The next day I see many people was absent. I have no idea about it, but now today we have P.E(physical education). Then my boring period was math. But then it’s time to go home. I don’t have any snacks now, but the important thing that I have fun at school. The teacher for French was ms. Rafika. But in French we call it”Madame rafika” but I don’t know how to say it. I say “ kesherikonkinhgf. Can you read it? Of course no. I cannot speak French. The only language that I can speak is English an my country(INDONESIA).
-
WORKSHOP BE WRITER, MENGUBAH WAJAH INDONESIA, DAN SEKARUNG MIMPI
Posted on December 16th, 2011 No commentsGempa Literasi dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur tengah”
WORKHOP BE WRITER, MENGUBAH WAJAH INDONESIA, DAN SEKARUNG MIMPI
(ditulis oleh: Jaya Komarudin Cholik*)
Saya sering tergelitik rasa penasaran untuk tahu wahyu pertama apa yang diberikan Tuhan pada setiap utusan-Nya. Ketika nabi Adam pertama kali diciptakan, Tuhan membanggakannya di hadapan Malaikat, Jin dan Iblis dengan meminta Adam menyebutkan nama-nama. Tetapi setelah itu tidak diketahui apa wahyu yang diterima Adam saat pertama kali diturunkan ke bumi masih berkutat soal ‘nama-nama’? (dalam artian membaca). Bagaimana dengan Ibrahim? Yusuf? Moses (Musa)? Solomon (Sulaiman)? Hingga Yesus (Isa) ‘alaihissalam. Adakah sebuah kebetulan atau keistimewaan saat kemudian di era Muhammad SAW wahyu yang pertama turun adalah “Iqra!”, “bacalah..!”. bukan “Sembahlah..” atau “Bertasbihlah..!’ atau lainnya. Tetapi “Bacalah!” (Think, proclaim, declaim, etc)Sejarah kehidupan manusia secara umum dibagi dua. Sebelum manusia mengenal baca dan tulis dan setelah manusia mengenal baca dan tulis. Satu perbedaan yang sangat besar adalah saat kebudayaan baca dan tulis ditemukan pertamakali oleh bangsa Sumeria hingga abad 21 saat ini, bukan hanya bumi tetapi tata surya mampu dijelajah oleh manusia. Daratan menjadi terasa sempit dan datar seolah tak memiliki border, dunia memiliki jendela dimana-mana. Disudut kampung, gang-gang, jalan raya, rumah, pasar, mall, tak terhitung semua begitu mudah saling menyapa dan berserapah. Teknologi seperti kian tak terkejar dan menjadi sesuatu yang sangat gandrung akan tetapi tetap saja menjadi asing bagi manusia-manusia yang bebal dan malas membaca.
WORKSHOP BE WRTER
Gerakan “Indonesia Membaca” sebuah mahar untuk menjadi bangsa maju, memang terus tak lekang dikampanyekan oleh para penggiat literasi. Rumah-rumah baca kian menjangkau hingga ke pelosok. Program Internet masuk desa menyapa wajah-wajah polos yang haus akan kabar pesatnya zaman. Sebuah mimpi besar yang ingin diraih sekalipun bangsa ini masih lusuh dan hampir tak punya malu dengan terus mengirimkan anak-anak perempuannya menjadi buruh rumah tangga di negeri-negeri orang. Lucunya, para penggede menyebutnya ‘Duta Bangsa”. Dari penyebutan ‘Duta Bangsa” saja saya mengenal betapa kacaunya cara berpikir para tuan itu. Jika ‘duta’ sebuah utusan terhormat maka kenapa kirim ‘pembantu’ sebagai duta?Satu hal yang bisa dijelaskan adalah karena malasnya orang Indonesia untuk membaca. Jika rajin membaca tentu tidak bodoh. Jika tidak bodoh tentu tidak akan mengirimkan seorang pembantu sebagai ‘duta’ atau tidak akan ada seorang pun wanita Indonesia yang mulia menjadi pembantu di negeri orang. Sejalan dengan gerakan Indonesia Membaca yang digelorakan di tanah air lewat beragam workshop kepenulisan, sosialisasi taman bacaan yang dikenal dengan ‘clue’ Gempa Literasi maka hal yang sama terjadi juga di negeri Teluk.
Kegiatan ini berupa “Workshop Be Writer” dalam rangkaian kegiatan “Gempa Literasi” dengan tema “Membaca Indonesia dari Timur Tengah”. Sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai dari kota Abu Dhabi kemudian ke kota Ruwais Uni Emirat Arab. Sedianya Hal yang sama pun akan dilaksanakan di Dubai tapi sayangnya tidak jadi karena alasan teknis yang bukan hak saya menjelaskan. Kegiatan ini bukan hanya ditujukan bagi para pekerja profesional dan pelajar yang bermukim di Negara Persatuan Emirat Arab saja akan tetapi juga bagi para nakerwan yang saat ini berada di penampungan di KBRI Abu Dhabi. Semangat literasi ini mendapat dukungan sangat baik dari Kedutaan besar Republik Indonesia di Abudhabi, Garuda Indonesia serta Bank Mandiri perwakilan PEA dengan menghadirkan pahlawan literasi Indonesia yang baru saja mendapatkan penghargaan Presiden lewat IKAPi awardnya yaitu GOLA GONG-Balada Si Roy.
MENGUBAH WAJAH INDONESIA
Mengubah wajah Indonesia di Negara kaya minyak memang bukan pekerjaan membalikan telapak tangan. Satu juta lebih warga negara Indonesia yang mengadukan nasibnya di negara-negara teluk yang kaya minyak masih didominasi oleh tenaga kerja ‘unskilled labour’ yang diatas saya singgung sebagai ‘Duta Bangsa’. Belum lagi anak-anak bangsa yang meremahkan harga dirinya menjadi warga haram dan tersebar tak terlacak bagai makhluk jejadian hampir di setiap negara. Mantan Duta Besar Indonesia untuk PEA (2009-2011), Bapak Wahid Supriyadi pernah menyampaikan betapa beliau merasa ‘terhina’ saat pertama kali menginjakkan kakinya di negeri tempat ia bertugas saat itu. Persoalannya adalah pekerjaan rumah yang masih tidak banyak berubah yaitu membangun nama besar bangsa di tengah realitas yang begitu terpuruk. Namun dalam waktu 3 tahun dengan dedikasi yang luar biasa sebuah lompatan besar telah terjadi. Indikasinya adalah nilai kerjasama ekonomi yang dulu hanya berkutat di hitungan angka-angka sempoa saat ini sudah mencapai milyaran dollar.
Mengapa begitu penting mengubah wajah ini di kancah internasional khususnya di timur tengah? Suka atau tidak suka disaat gonjang-ganjing ekonomi melanda negara-negara maju di eropa sana, justru timur tengah menjadi primadona karena surplus kapital dengan minyak hitamnya. Semua mata dunia nanar melihat uang begitu mudah dihambur-hamburkan dengan aneka proyek berskala dunia. Timur tengah menjadi gerbang yang menjanjikan bagi pasar Afrika, Asia Tengah dan sekitarnya. Infrastruktur serta mesin-mesin uang dalam bentuk industri-industri besar dari hulu sampai hilir dibangun dengan kapasitas jutaan ton seolah siap mencaplok dunia dan seisinya. Lalu di tengah kompetisi serta kesibukan yang massif ini dimana wajah Indonesia?
Sejalan dengan semangat yang pernah disampaikan oleh pak Wahid Supriyadi mantan Dubes RI untuk persatuan Emirat Arab (PEA) bahwa usaha yang telah beliau rintis harus dilanjutkan. Mengubah wajah Indonesia di pentas internasional khususnya di negara yang didiami 200 lebih warga Negara asing dari berbagai suku bangsa tidak hanya sebatas pada tataran diplomatik dan ekonomi semata tetapi pada pembangunan kualitas manusia Indonesia dimanapun berada. Jika semua warga Indonesia yang tersebar di belahan dunia menulis dan menyampaikan gagasan serta ide-ide positifnya maka bukan hanya satu orang yang membaca tetapi seluruh dunia ikut membaca. Wajah baru Indonesia ini penting sekali digaris bawahi tanpa pernah lagi mengirimkan tenaga kerja yang tidak terdidik ke negeri orang, dimanapun dan sampai kapanpun. Dan tugas mengubah wajah Indonesia adalah kewajiban yang diemban setiap anak bangsa.
SEKARUNG MIMPI
“Think Global, Act Global!”, Begitu saat ini jargon baru diucapkan oleh Gola Gong pendiri komunitas baca Rumah Dunia. Jika dulu, ketika pertama kali dirintis masih terbatas pada “Think Global, Act Local” dengan mendidik anak-anak kampung agar mampu menggenggam dunia maka saat ini bukan hanya anak-anak kampung Ciloang saja yang bisa menikmati gurihnya dunia literasi tetapi warga Indonesia di belahan dunia lain pun dapat merasakan hal yang sama.
Memang diakui, para penulis yang lahir dari para tenaga kerja di timur tengah masih dibilang miskin karya. Sebenarnya banyak potensi tetapi masih malu-malu untuk tampil dan melahirkan buku-buku yang ikut mewarnai kancah kepenulisan nasional. Selama ini baru Eni Kusuma (Anda Luar biasa) dkk. dari para pekerja migrant di Hongkong atau Yenni (Gadis buka Perawan) dkk dari Taiwan yang baru dikenal. Meskipun begitu usaha melahirkan karya-karya sudah perlahan dimulai oleh lahirnya buku “Tamasya ke Masjid’ (Jaya Komarudin Cholik-Gong Media Cakrawala) yang pertengahan tahun lalu diluncurkan.
Sekarung mimpi yang akan diraup dan diwujudkan oleh Link-Kita, organizer kegiatan ini adalah lahirnya para penulis baru yang akan mewarnai kancah kepenulisan yang bukan hanya nasional tetapi juga internasional. Semua menjadi serba mungkin jika hal tersebut sungguh-sungguh diupayakan. Sekarung mimpi itu saat ini tengah diupayakan dengan hadirnya kegiatan workshop ini. Terlebih dengan keberadaan dua komunitas warga Indonesia yang mengelola para profesional di negeri PEA ini yaitu KMMI Abu Dhabi dan Indo-emirates yang bahu membahu agar kegiatan ini berjalan dengan baik. Dalam sekarung mimpi itu tentu saya bermimpi wajah Indonesia yang teringat bukan wajah-wajah lusuh anak bangsa di penampungan tetapi wajah-wajah berseri menyambut Indonesia maju dan gemilang di kancah dunia sampai berakhirnya masa.
- Aktifis penggerak literasi, ambassador rumahdunia untuk PEA. Penanggungjawabkegiatan, penulis buku “Tamasya ke masjid”- Gong Media Cakrawala. Bermukim di timur tengah bekerja di sebuah perusahaan multinasional.












Komentar Pengunjung